
"Apa Ayah salah memilihkan jodoh untukmu?"
Seketika tubuhku membeku bak disimpan di fresher. Pertanyaan mengejutkan dari Ayah hampir saja membuatku terkena serangan jantung. Bagaimana tidak? Saat aku masih asyik dengan pemikiran-pemikiran yang bercabang entah ke mana, Ayah tiba-tiba melayangkan pertanyaan itu.
"Najwa?"
Entah apa yang harus kujawabkan kepada Ayah, aku hanya bisa menggigit bibir. Tautan tanganku dengan Ayah pun perlahan kulepas, karena tidak ingin beliau menyadari perubahan perasaanku. Biasanya tanganku akan dingin dan sedikit berkeringat jika sedang gelisah.
Menyugesti diri untuk tetap rileks dan tidak terbawa perasaan, aku mendongak lagi. Kupaksakan bibir menyunggingkan senyum manis untuknya. Kugenggam sebelah tangannya, seraya mengusap-usapnya dengan sebelah tanganku yang lain.
"Tidak ada yang salah, Ayah."
Dan Ayah malah menatapku penuh selidik. Membuatku diam-diam menelan saliva. Jujur, rasa tidak aman dalam hati terus menciptakan ketakutan-ketakutan tidak berdasar dalam benak. Dalam samar kuhela napas untuk menenangkan diri. Sesering mungkin aku menghindari tatapan Ayah saat beliau berusaha mencari-cari kebenaran akan jawabanku dari mata ini.
Lagi pula, memang benar, 'kan? Tidak ada yang salah jika Sang Mahakuasa yang berkehendak. Karena di balik sesuatu yang dianggap salah oleh kacamata mahluk-Nya, tentu ada hikmah dan alasan masing-masing. Dia Mahabijaksana. Tidak mungkin menciptakan sesuatu tanpa adanya sebab-akibat dan alasan yang tidak berguna. Bukankah yang dilakukan-Nya adalah bentuk kemahakuasaan-Nya?
Dan untuk perlakuan Mas Farhan, mungkin itu juga memang bagian dari ujianku untuk meraih kebahagiaan nanti. Ibarat tantangan dalam sebuah permainan. Jika aku bisa melewati semua ujian, aku pasti lolos, 'kan? Doakan saja. Doakan yang terbaik untukku dan Mas Farhan.
Aku masih duduk di samping Ayah, tetapi tatapanku tidak mengarah kepadanya. Hingga satu panggilannya membuatku kembali mengalihkan atensi ke arahnya.
"Jawab jujur pertanyaan Ayah, Wa."
Aku mengesah pelan mendengar jawaban Ayah yang sangat menuntut. Jawabanku tidak meyakinkan rupanya. Jawaban itu memang terlalu umum, sih. Pantas kalau Ayah belum puas. Duh, lagi-lagi karena jam terbang beraktingku rendah, aku malah kebingungan sendiri mencari alasan untuk berkelit. Namun, itu tidak akan kubiarkan.
Menggeleng tegas dengan tetap mempertahankan senyum, aku berujar, "Kalaupun kami ada masalah, bukankah itu wajar, Yah? Ayah sendiri sering bilang, bumbu dalam rumah tangga itu adanya masalah, 'kan?"
"Tapi Ayah selalu khawatir sama kamu, Nak. Kamu masih suka memikirkan masalah yang kamu hadapi?"
Senyumku merekah, meski miris dalam hati. Kutatap wajah pria yang masih bersandar di kepala dipan itu dengan sendu. "Terima kasih, karena Ayah selalu peduli sama Najwa."
"Tidak ada alasan bagi orang tua untuk tidak peduli terhadap anak-anaknya, Najwa. Di samping kewajiban orang tua, memang sudah kodratnya begitu."
"Najwa paham, Ayah. Tapi, untuk masalah yang sedang Najwa hadapi, ini adalah tahap pendewasaan Najwa, Yah, dan Najwa mesti menghadapinya."
__ADS_1
Ya, setiap orang memiliki masalahnya masing-masing. Termasuk diriku. Dan diri sendirilah yang bisa menyelesaikannya. Meskipun kadang ada beberapa di antara mereka yang masih membutuhkan bantuan orang lain untuk menemukan solusinya. Sejatinya mereka hanya menjadi perantara.
Keluar dari zona nyaman dan menghadapi masalah yang sedang dialami tentu akan membuahkan hasil dan sensasi yang berbeda dalam hidup. Pemikiran dewasa masing-masing orang kadang juga dipengaruhi faktor lingkungan dan tempaan masalah dalam hidup yang datang silih berganti. Ibarat anak sekolah, untuk mengasah kecerdasan mereka, ya dengan latihan-latihan, praktik langsung, ujian, dan lain-lain.
"Najwa bisa, dan Najwa yakin, selama ada keluarga di belakang Najwa."
"Baiklah. Ayah percaya." Perlahan, helaan napasku berangsur ringan mendengar jawaban Ayah.
"Terima kasih, Ayah. Dukungan seperti ini yang Najwa butuhkan."
"Iya, Nak. Tapi, jika masalah kamu tidak bisa ditoleransi, Ayah tidak akan segan-segan memisahkan kalian. Sesuai janji Ayah kepada almarhumah ibumu."
Dan Najwa tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Ayah. Najwa akan terus berusaha memperjuangkan Mas Farhan, hingga ketika suatu saat rahasia ini terungkap, Ayah atau siapa pun tidak bisa memisahkan kami. Aku akan mengikat Mas Farhan. Aku akan mewujudkan pernikahan impianku. Pernikahan yang tidak hanya sekadar ikatan. Semoga teriring rida Allah, ya.
Aku lalu mengangguki ucapan Ayah dengan mantap, meski ketakutan juga mengekor di belakangnya.
"Oh, iya. Ayah mau cerita."
Aku menyamankan posisi duduk di samping Ayah. Sebelum mulai bercerita, kusodorkan segelas air putih terlebih dahulu untuknya. Baru setelah itu, Ayah memulai cerita yang sangat membuatku penasaran.
Ada desiran dalam dada saat Ayah menyinggung soal Ibu. Kecemasan pun mulai kembali memasuki ruang hati, seperti tidak siap untuk mendengar kelanjutan ceritanya. Samar-samar, tubuh mulai bergetar. Ada tetesan keringat yang mengucur di balik pakaian. Apalagi saat melihat wajah Ayah tampak murung. Raut itu sama persis dengan ketika Ibu meninggal. Meski lima tahun berlalu, aku yakin Ayah tidak sepenuhnya mengikhlaskan kepergian Ibu. Hal itu karena rasa bersalah Ayah yang tidak bisa menyelematkan Ibu. Ibu meninggal karena tertabrak motor saat menyeberang jalan untuk menghampiri Ayah di salah satu toko untuk membeli camilan untuk teman perjalanan.
Ah, mengingat masa itu, membuatku rindu akan sosok wanita tangguh yang mendampingi Ayah menghadapi peliknya kehidupan itu. Aku teringat masa-masa awal beliau meninggalkan kami. Meskipun berkali-kali kami mencoba menenangkan Ayah dan meminta untuk mengikhlaskan Ibu, Ayah hanya diam saja. Beliau seperti kehilangan separuh jiwanya. Namun, maklumlah. Namanya juga istri. Siapa yang mau ditinggalkan oleh orang tersayang?
"Ibu kenapa, Yah?" Kutegakkan tubuh, kemudian mencari posisi yang nyaman lagi karena sudah merasa kram. "Ini juga yang melatarbelakangi sakit Ayah?"
Setitik air mata jatuh membasahi tanganku yang kembali menggenggam tangan Ayah. Menciptakan rasa khawatir yang kian membesar. Anggukan samar yang dilakukan Ayah membuatku terasa makin kacau. Kucoba menatap lekat-lekat wajahnya.
Sebenarnya apa yang Ayah alami? Mengapa dari sorot matanya beliau terlihat sangat sedih?
Namun, cukup lama Ayah terdiam. Bersamaan dengan itu, deru napasnya kembali menggusar. Membuat jiwa kepo-ku makin meronta-ronta. Kucoba bersuara untuk mengulik jawaban Ayah, tetapi tetap tidak ada jawaban, hingga akhirnya beliau pun mengatakan, "Ibumu datang kepada Ayah dengan menangis kencang sambil menyebut-nyebut namamu, Nak."
Kalimat Ayah membuatku terperanjat dan langsung berkaca-kaca.
__ADS_1
Ya Allah. Pasti Ibu datang untuk memberi tahu Ayah tentangku.
"Ayah kepikiran ... karena ibumu tidak berkata apa-apa selain menyebut namamu. Ada sirat kesedihan, kemarahan dan keputusasaan dari suara ibumu waktu itu, Nak."
Genangan cairan bening pun merebak di sudut mata. Lagi-lagi aku yang menjadi penyebab beban pikiran Ayah, 'kan? Ini alasanku tidak mau banyak bercerita kepada Ayah. Maklum, di samping riwayat sakit jantung Ayah, beliau juga makin tua. Pikirannya cenderung sensitif. Aku paham itu. Banyak hal-hal yang beliau pikirkan sekalipun anak-anaknya sudah berkeluarga.
"Makanya Ayah selalu menelponmu, memastikan kamu benar-benar bahagia sama Farhan, bahkan Ayah bertanya seperti tadi. Ayah takut kalau jodoh pilihan Ayah benar-benar salah untukmu, Nak."
Tangisku makin pecah. Niat hati tidak ingin membebani orang tua dengan tidak bercerita apa-apa, nyatanya aku masih menjadi beban mereka. Bahkan Ibu pun yang sudah lama tidak bersama kami, datang ke Ayah dengan alasan aku. Rasa bersalah itu makin besar, menimbulkan beban tersendiri dan terasa mengimpit dada, hingga seperti kesulitan bernapas.
Aku belum bisa apa-apa untuk membalas jasa kedua orang tuaku, dan sekarang ... aku kembali menjadi alasan kesedihan mereka. Mau sampai kapan aku begini? Apa yang bisa kulakukan selain bertahan dengan Mas Farhan saat ini? Menikah dengan Mas Farhan adalah hal yang sangat diharapkan oleh Ayah. Karena begitu dekatnya hubungan beliau dengan orang tua Mas Farhan. Mereka bukan sekadar teman bisnis, tetapi sudah seperti keluarga sendiri sedari awal. Dan, hanya itu yang bisa kulakukan untuk mereka semua.
"Ma-maaf, Ayah. Maaf karena Najwa selalu jadi beban buat Ayah."
Pria itu mengelus kepalaku yang sudah menelungkup di pangkuannya. Kubiarkan air mata menetes. Biarlah aku menjadi orang cengeng saat ini. Lesakan emosi dalam dada karena berbagai macam tekanan, tidak sanggup lagi kubendung.
"Tidak apa-apa, Nak. Memang sudah menjadi tugas Ayah untuk memastikan kebahagiaanmu."
Terima kasih, Tuhan. Terima kasih telah menghadirkan pahlawan paling berjasa dalam hidupku ini.
Ungkapan terima kasih pun tidak henti-hentinya terucap dari bibir yang masih bergetar karena tangis. Dan ayahku ... beliau terus mengucapkan kalimat-kalimat penenang untukku seraya terus mengelus kepala.
"Doakan Najwa, Ayah. Doakan Najwa semoga selalu kuat dan sabar."
"Tentu saja, Nak. Ayah berharap kamu bahagia dengan pilihanmu."
"Ayah sudah bangun?"
...***...
Akhirnya update lagi. Alhamdulillah. Jangan bosan menunggu update cerita ini, ya. Jangan lupa dukungan like, vote dan komentarnya. Dukungan kalian bagai suntikan semangat buat aku, lo. Kalau respons kalian antusias, aku juga antusias menulis. Hehe.
Salam manis dari author manis.
__ADS_1
Sumenep, Madura, Jawa Timur
Sabtu, 26 Juni 2021