Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Panik


__ADS_3

Dasar Kinan keras kepala. Dia enggak tahu saja aku sudah kelimpungan seharian ini mencari Najwa. Eh, enggak seharian juga ding. Dari setelah Asar aku malah ketiduran di tempat salat.


“Mau cari ke mana, Nan? Ini sudah jam berapa? Aku butuh istirahat juga.”


“Kalau kamu memang mau berjuang buat Najwa, harusnya enggak ada kata putus asa, bingung, atau apa pun itu, Han. Ada banyak cara yang bisa kamu lakukan, kamunya saja yang enggak mau berusaha.”


Tetap tidak akan menang jika berhadapan dengan Kinan. Ah, sial! Aku jadi membayangkan posisi Najwa ketika berdebat denganku. Apa hal seperti ini juga yang dirasakan Najwa? Mengingat aku yang selalu mendominasi perdebatan.


“Argh! Enggak nyangka seorang Najwa bisa buat aku sekacau ini!” teriakku, yang kemudian dihadiahi suara tawa keras dari Kinan. Benar-benar teman kurang ajar. Temannya lagi kesusahan malah ditertawakan.


"Kena karma, kan, kamu? Kualat, tuh. Makanya jangan suka nyiksa istri sendiri," ledek Kinan.


"Iya, kualat kalau nyiksa istri sendiri. Tapi enggak ada karma kalau nyiksa kamu, kan?"


Aku benar-benar kesal dengan Kinan kali ini. Dia malah makin tertawa. Ya ampun, bisa-bisanya aku punya teman seperti Kinan? Tidak pengertian sekali sama temannya.


"Coba aja kalau bisa, Han. Memang kamu mau nyiksa aku dengan perlakuan apa, hem?" tantang Kinan.


"Aku pecat jadi teman dan pekerja di studio baru tahu rasa kamu."


"Itu doang? Kecil. Tinggal buka usaha studio sendiri, ajak teman-teman anak fotografi di kampus."


"Astaga, ini anak kenapa bisa berdebat kayak gini sih? Sejak kapan coba? Perasaan pas kuliah kalem-kalem aja."


“Kinan gitu lo. Pasti beda dong antara zaman kuliah dan udah lulus." Aku mulai mengeratkan pegangan di ponsel. Kinan kadang menyebalkan seperti ini memang. Tapi, kalau dia benar-benar aku pecat, bisa kacau usahaku. Salah satu penggerak RKF itu kan Kinan.


"Udah, ah. Maaf malah ngajak debat kamu." Adem rasanya pas Kinan ngomong begitu. Tapi--- "Sengaja sih, biar kamu makin panas dan mendidih." Aku sudah menggemeretakkan gigi. Lama-lama Kinan bikin emosi, ingin menceburkannya ke laut.


"Kali ini aku serius, Han. Kamu sudah telepon Najwa belum?” tanya Kinan kemudian setelah cukup lama membuatku dongkol. “Eh, tapi aku enggak yakin kalau kamu punya nomornya Najwa.” Aku termenung mendengar itu. Jangankan nomor telepon, ngomong saja sangat terbatas.


Tapi .... “Nan, udah dulu, ya. Terima kasih udah kayak emak-emak rempong yang gertak aku dari tadi siang.” Aku segera memutuskan sambungan telepon dengan Kinan tanpa menunggu persetujuan dari lelaki itu. Aku teringat saat HP-ku tertinggal di taman samping rumah Ayah. Waktu itu kan Najwa bantu cari HP-ku dengan memanggilnya. Segera kucek log panggilan. Ada beberapa nomor baru yang tertera di sana.

__ADS_1


Semoga ada nomor Najwa salah satunya.


Satu-dua panggilan pada nomor pertama, telepon sudah terhubung tetapi belum terjawab. Kucoba untuk lebih menyabarkan diri lagi dan menunggu nomor yang mendendangkan lagu Alamat Palsu milik Ayu Ting-ting sebagai nada dering panggilannya. Namun, tetap tidak mendapat jawaban. Kuputuskan untuk menelepon nomor tak dikenal yang kedua, nomor itu malah punya salah satu pelanggan toko. Begitu juga dengan nomor baru yang ketiga, empat dan lima. Semuanya nomor para pelanggan toko dan studio yang entah mengapa malah tidak tersimpan di kontakku. Tinggal satu nomor terakhir yang belum kuhubungi.


“Ya Allah, semoga ini benar nomor Najwa.” Perlahan, kutekan tombol panggilan di sana. Satu-dua kali, panggilan belum terjawab. Baru pada panggilan ketiga, terdengar suara seorang lelaki dari seberang sana.


“Halo, ini siapa?” Tubuhku seketika menegang begitu mengenali suara siapa itu. Bibir ini spontan mengatup. “Halo. Ada perlu apa dengan Najwa? Najwa lagi istirahat. Ini siapa, ya?”


Mas Reza! Aku yakin Najwa menghilang adalah ulah Mas Reza. Tidak mungkin kan dia yang mengangkat telepon Najwa kalau dia tidak sedang bersama adiknya tersebut?


Perlahan, tangan ini mencengkeram erat ponsel. Kupikir Najwa tidak akan melibatkan keluarganya mengenai urusan ini. Tapi ternyata ... “Sialan!” teriakku setelah sebelumnya memutuskan panggilan tanpa satu kata pun yang terucap.


Entah kenapa aku malah merasa marah dengan hal ini. Kenapa Najwa segegabah itu dengan langsung mengadu kepada kakaknya? Langsung kubanting ponsel ke tempat tidur, dan ikut melemparkan diri ke sana. Niat hati langsung memejanmkan mata, teringat diri ini belum menunaikan kewajiban. Meski berat, aku bangkit kembali untuk menunaikan ibadah.


Usai salat, aku langsung merebahkan tubuh kembali di tempat tidur. Biarlah kalian mengatakan aku egois saat ini. Aku butuh istirahat. Kepala yang sejak tadi pagi dipaksa berpikir keras terasa mendidih hingga mengepul. Akan kupikirkan lagi bagaimana menyelesaikan masalah ini besok.


***


“Farhan! Bangun! Sudah jam berapa ini? Kamu sudah salat Subuh?” Bukan suara Najwa yang terdengar pagi ini, tapi teriakan Bunda yang sontak mengejutkanku. Aku langsung bangkit mendengar teriakan itu dengan mata masih merem melek, menahan kantuk.


“Pagi kamu bilang?! Sudah jam sembilan, kamu bilang masih pagi?!”


Bagai disiram air es, seketika rasa kantuk menghilang begitu saja. Mata yang masih susah dibuka langsung melotot. Kulirik jam dinding, ternyata benar apa yang dikatakan Bunda.


“Maaf, Bunda. Aku ngantuk banget. Tadi udah salat Subuh, kok.”


“Kamu ini kenapa? Tumben-tumbenan begini? Kinan dan Reyhan bilang dari tadi pagi nelponin kamu, tapi enggak diangkat-angkat. Makanya Bunda langsung ke sini.”


Astaga. Dua anak itu sukanya ngadu ke Bunda kalau aku malas-malasan ke studio.


“Kemarin baru pulang dari rumah Ayah. Aku capek nyetir.” Dan abis perang dunia dengan menantu kesayangan Bunda.

__ADS_1


“Najwa ke mana? Kenapa jam segini rumah masih berantakan? Di dapur juga tidak ada sarapan.”


Detak jantungku tiba-tiba berpacu lebih cepat dari biasanya. Bunda memang benar-benar peka dengan segala sesuatu. Kepanikan kembali melanda, membuat kepala tetasa berdenyut nyeri kembali.


Aku harus jawab apa? Bagaimana reaksi Bunda nantinya kalau menantunya kabur dari rumah?


“Farhan!”


Spontan, kututup dua telinga dengan tangan saat Bunda kembali berteriak. Suara bundaku cukup nyaring juga ternyata.


Aku masih terdiam, bingung mau menjelaskan seperti apa kepada Bunda. Lalu, ponsel tiba-tiba berdering. Segera kucari keberadaan benda elektronik itu, ternyata ada di bawah bantal. Aduh, untung saja tidak tertindih orangnya. Kalau tidak, sudah tidak bisa dipakai lagi. Aku mengernyit begitu melihat nama sang pengirim pesan singkat di WhastApp-ku itu.


Mas Gibran


Farhan, hari ini sibuk? Kalau tidak, saya mau bertemu denganmu. Ada sesuatu yang ingin saya katakan.


Lagi-lagi jantung berdetak kencang. Kepanikan terus bertambah. Bukan hanya soal Bunda, tapi ini kakak pertamanya Najwa. Ini pertama kali Mas Gibran mengirimiku pesan selama kenal dengannya usai lamaran waktu itu. Pertanyaan dengan apa yang ingin dibahas dan dikatakan oleh kakak ipar pertamaku itu mulai melintasi otak.


“Farhan, pesan dari siapa?” Suara Bunda kembali terdengar.


Aku mendongak, menatap Bunda sejenak. “Bunda, nanti ... aku mau ketemu Mas Gibran dulu, ya. Bunda masih mau di sini?”


“Enggak. Bunda ke sini hanya mau ngecek keadaan kamu. Bunda mau pulang, Bapak bilang mau balik hari ini dari Sumenep.”


Aku mengangguki saja ucapan Bunda. Kucium dengan takzim tangan wanita yang telah melahirkanku itu saat beliau pamit pulang. Rumah yang kutinggali sebenarnya tidak terlalu jauh dengan Bunda. Cuma ya gitu, beliau sering sibuk, makanya ke sini hanya sesekali.


Setelah kepergian Bunda, aku langsung bersiap-siap untuk menemui Mas Gibran di tempat yang sudah disetujui tadi di WhatsApp.


***


Hayo loh. Ini bukan Mas Reza, lo. Kira-kira apa yang bakal Mas Gibran lakukan? Komen kuy. 💙

__ADS_1


Sumenep, Madura, Jawa Timur


Jumat, 17 September 2021


__ADS_2