Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Bingung


__ADS_3

"Hadeh. Enggak sadar apa, dirinya sedari tadi bahkan tidak mempersilakan aku untuk duduk."


Astaghfirullah. Sekarang aku sadar dengan tujuan ucapan Najwa. Aku langsung menepuk kening, merutuki kebodohanku.


"Ayo—"


"Suami macam apa itu?" potong Najwa tapi masih bisa kudengar dengan jelas. "Untung aku tidak manja. Tidak disuruh pun aku bakalan duduk." Dia melangkah pelan melewatiku yang masih mematung menuju tempat duduk yang lebih pantas dibilang tempat untuk tiduran di taman itu. Entah apa namanya kalau dalam bahasa Indonesia. Intinya itu semacam ranjang tapi terbuat dari bambu. Kalau di Madura namanya lencak.


Perempuan itu lantas duduk di sana seraya berselonjor seraya mengusap-usap wajah dengan ujung kerudungnya. Ya Allah, sepertinya benar-benar kelelahan. Bisa-bisanya aku sampai lupa untuk memperhatikan dia?


Tanpa banyak bicara, aku beranjak untuk mendekatinya, dan dia langsung menoleh dengan tatapan waspada ke arahku, seolah-olah aku ini musuh yang dalam sesaat bisa mencelakainya.


Sungguh ironis hidupmu, Han. Sekarang harus menerima tatapan tidak menyenangkan dari istrimu sendiri.


"Ngapain masih di sini?" Suaranya benar-benar berbeda sekarang.


"Kita belum selesai bicara, Najwa."


Dia melengos. "Dari tadi aku kan sudah bilang, tidak ada yang perlu dibahas lagi. Jadi tolong, tinggalkan aku sendiri. Aku capek ngadepin orang-orang yang menguras emosi hari ini."


Dia dengan santai menelentangkan tubuh di atas lencak itu, kemudian memejamkan mata. Benar-benar menganggap aku seperti makhluk tidak kasatmata.


"Pulang, Mas."


Mataku seketika membeliak. Astaghfirullah, tidak adakah kalimat pengusiran yang lebih bagus daripada itu?


"Aku tidak mau diganggu siapa pun. Kamu mau aku drop dan—"


"Berhentilah ngomong macam-macam."


"Ya sudah, kalau kamu tidak ingin aku ngomong macam-macam, pulanglah."


Bukan Farhan namanya kalau langsung menyerah begitu saja. Dengan kondisi Najwa masih terpejam, bahkan sekarang dia menggunakan tangan kanannya untuk menutup mata, aku langsung duduk di sisi kirinya yang kosong.

__ADS_1


Dia tampak terkejut. Itu terlihat dari gera-geriknya yang langsung bangkit dan menatap ke arahku dengan tatapan tajam.


"Mas Farhan kenapa keras kepala sekali, sih? Enggak paham bahasa manusia atau gimana?"


Aku hanya menyunggingkan senyum untuk menanggapinya saat ini. Entah kenapa, sikap Najwa yang seperti ini terlihat manis di mataku saat ini. Padahal aku masih ingat betul, salah satu hal yang paling menjengkelkan dari seorang Najwa pada awal-awal pernikahan kami adalah sikapnya yang seperti ini.


"Malah senyum-senyum sendiri. Sudah mulai kurang sehat? Akan kuberi tahu Bapak dan Bunda biar anaknya ini sudah mulai miring dan perlu dibawa ke rumah sakit jiwa."


Ah, aku suka dengan sikapmu yang begini, Sayang.


Andai aku punya keberanian lebih, sudah pasti kalimat itu tidak hanya terlontar dalam hati. Tapi aku harus bisa lebih bersabar demi menaklukkan hati perempuan yang telah berhasil menawan hatiku dengan kesederhanaannya ini.


"Untuk apa ke rumah sakit jiwa? Toh dokternya ada di sini." Aku ingin melihat bagaimana responsnya. Mungkin dengan hal-hal begini, dia mau berubah pikiran dan mengurungkan permintaannya kepada Ayah.


Parah. Kamu pikir hati istrimu itu apa, Farhan?


Dia melotot ke arahku. "Kan benar? Hanya kamu yang bisa mengobati sakit saya ini."


"Enggak lucu, Mas."


"Oh, kurang lucu, ya? Baiklah, suamimu ini akan dengan senang hati mencarikan hal-hal lucu yang bisa membuat istriku tersenyum."


"Mas, kalau kamu bersikap begini hanya untuk mengambil hatiku agar membatalkan permintaan gugat ceraiku, maaf, aku enggak akan pernah berubah pikiran. Aku sudah memikirkan ini dari jauh-jauh hari. Kurasa perpisahan adalah yang terbaik untuk kita."


Sadar, Farhan! Perasaan istrimu seperti kaca, yang sekali retak, tidak akan utuh kembali.


Aku hanya bisa mengesah, meratapi nasib. Najwa bahkan sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraanku. Aku tidak tahu lagi harus dengan sikap bagaimana untuk membujuk Najwa. Aku sudah seperti kehabisan kata-kata untuk menanggapi. Sehingga saat Najwa memilih bangkit dari tempat duduknya lalu menurunkan kaki, siap pergi dari taman, aku hanya bisa menatapnya dengan nanar.


Najwa mulai melangkah meninggalkanku yang masih terpekur sendiri di atas lencak itu. Tapi, entah inisiatif dari mana, sekitar tiga langkah dia beranjak, aku memanggilnya. Saat dia berhenti, meskipun tidak menoleh, aku tahu bahwa itu isyarat dia menyambut panggilanku.


Aku langsung turun dari atas lencak untuk menghampirinya dengan antusias karena aku merasa mendapat suntikan semangat yang baru.


Kutatap dia sebentar, lalu berujar, "Kalau memang perpisahan akan menjamin kamu bahagia, mungkin saya akan berusaha untuk merelakan hubungan kita berakhir."

__ADS_1


Mungkin aku memang perlu memberinya jeda sebentar untuk memikirkan semuanya. Seperti Rifki yang tidak serta merta menghakimi Rifka, aku akan berusaha memberinya kesempatan itu.


"Walaupun saya tidak yakin akan bisa hidup dengan baik-baik saja jika benar-benar berpisah denganmu."


Aku menundukkan wajah karena merasa tidak sanggup harus kehilangan pemandangan asri di wajah perempuan ini.


Najwa masih diam. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini.


"Saya tahu saya banyak salah sama kamu, dan kata maaf saja tidak akan memulihkan perasaan kamu yang mungkin sudah sangat retak." Aku memejam sebentar, kemudian membuka mata, lalu kembali mengangkat kepala. "Tapi saya mohon, berikan saya kesempatan untuk membuktikan bahwa saya serius dengan apa yang saya katakan."


Tatapannya seketika menajam. Membuat aku sedikit tertegun dan meneguk ludah dalam beberapa saat.


"Biarkan saya yang kali ini berjuang untuk kamu, untuk meraih cintamu." Aku menghela napas sebentar. "Dan jika pada akhirnya kamu tetap akan memilih berpisah, mungkin itulah yang terbaik. Saya akan berusaha menerimanya."


Inilah keputusanku. Meski harus merasakan sakit yang tiada terkira, aku harus menerimanya karena ini memang konsekuensi dari perbuatanku.


Harapanku hanya satu, semoga apa yang aku lakukan ini benar dan tidak akan menyakiti siapa pun nantinya.


Masih dalam posisi canggung karena setelah aku mengatakan hal itu, tiba-tiba aku dikejutkan oleh sikap Najwa. Aku hampir saja terjungkal saat tanpa diduga dia memelukku. Ya, istri yang kurindukan ini yang datang memelukku. Entah atas dasar apa.


"Aku capek, Mas," lirihnya. Kurasakan pundakku basah, pasti itu air mata Najwa.


Kugerakkan tanganku untuk mengelus punggungnya. "Saya ada di sini, Najwa. Jika memang ingin menangis, menangislah. Saya siap menjadi tempatmu bersandar."


Dia tidak lagi menahan tangisnya. Dia bahkan tidak sungkan sama sekali. Padahal hubungan di antara kami sampai detik sebelum dia memelukku, dia masih terlihat tidak mau dekat-dekat denganku.


"Aku juga minta maaf jika selama menjadi istrimu, aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu, tentunya yang kamu inginkan. Mungkin kita memang perlu sendiri-sendiri dulu." Kalimat itu menjadi pemungkas percakapan antara aku dan Najwa. Dia mengurai pelukan, lalu menghapus jejak air mata di pipinya dan langsung melenggang tanpa menoleh sedikit pun ke arahku yang masih terpaku—lebih tepatnya, bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya.


Apa yang sebenarnya Najwa inginkan? Dia terlihat begitu kukuh untuk berpisah denganku, bahkan kalimat-kalimat panjangku sama sekali tidak mendapat respons baik. Lalu barusan, dia tiba-tiba memelukku dan ....


"Farhan."


***

__ADS_1


Hai, aku update lagi, lo. Ayo ramaikan. Kalau ramai, authornya bakal semangat buat lanjut ceritanya. Karena memang apalah penulis tanpa pembaca. 😥


Pelan-pelan, kita buat Mas Farhan sedikit tersiksa dulu yes. Siapa suruh dia jahat sama istrinya. Ha-ha-ha.


__ADS_2