
"Benar tidak apa-apa?"tanya Ayah saat sudah bersandar di sandaran dipan kamarnya.
Kupaksakan bibirku untuk menyunggingkan senyum. "Ayah tenang saja. Tadi Najwa tuh enggak sadar aja. Dari dulu 'kan suka kesal kalau Rifka usil. Mungkin terbawa perasaan itu, Yah."
Dan kalau diingat-ingat, aku sepertinya memang keterlaluan tadi, sih. Aku menjadi merasa bersalah sama Ayah.
"Tapi Ayah masih penasaran dengan nomor ponselmu yang tidak ada di HP Farhan. Bagaimana cara kalian berinteraksi selama ini kalau kalian tidak saling menyimpan nomor?"
Astaga, Ayah. Kupikir dengan mengalihkan topik bahasan dan mengantarnya kembali ke kamar, bisa benar-benar mengalihkan hal itu. Namun ternyata aku salah menerka.
Aku menarik napas panjang sebentar. "Enggak ada apa-apa, Ayah. Tadi Najwa udah bilang, 'kan? Najwa ganti nomor baru dan belum sempat kasih tahu Mas Farhan, Yah."
"Apa benar begitu?" Ayahku kembali menatapku intens. "Kamu tidak sedang menutupi sesuatu kepada Ayah, Wa?" Ah, Ayah. Aku jadi kikuk sendiri mendapat pertanyaan seperti itu. Buru-buru kualihkan pandangan darinya. Kalau lama-lama menatap wajah Ayah, bisa-bisa beliau menyadari apa yang sebenarnya terjadi kepadaku.
"Sudah, ya. Ayah istirahat lagi. Jangan terlalu dipikirkan, Ayah. Najwa sama Mas Farhan baik-baik aja." Aku kemudian bangkit dari sisi Ayah. "Najwa pamit, ya, Yah. Mau bantu Mbak Diva beresin dapur. Nanti insyaallah Najwa ke sini lagi kalau sudah selesai."
...***...
Begitu keluar dari kamar Ayah, aku segera kembali ke dapur. Namun, sesampai di sana, Mbak Diva sudah membereskan semuanya. Dia mengatakan kalau Mas Reza dan Mas Gibran ikut membantu. Bahkan, piring-piring kotor pun sudah bersih dan tertata rapi di rak piring. Saudara-saudaraku memang baik sekali, ya. Saling mengerti juga.
Karena urusan dapur sudah selesai, dan di sana sudah tidak ada siapa pun, kuputuskan untuk pergi ke taman samping rumah. Aku ingin sejenak saja mengistirahatkan pikiran yang terasa begitu penat, di sana. Kalau ke kamar, aku yakin pasti bertemu Mas Farhan.Tadi aku juga berpapasan dengan Weny. Dan adik bungsuku itu bilang Mas Farhan mengarah ke kamar tadi. Jadi, sementara waktu untuk menghindarinya adalah dengan pergi ke tempat lain. Aku sedang malas sekali untuk bertemu dengannya.
Ah, iya. Jangan bayangkan taman samping rumah itu sama dengan taman kota, ya. Tidak. Sebenarnya, itu adalah halaman samping rumah, sih. Hanya saja, karena disediakan beberapa tempat duduk sederhana yang terbuat dari bambu, tempat itu sering dipakai untuk bersantai. Makanya disebut taman. Di samping itu, pemandangan suasana alam dan pepohonan yang sengaja ditanam di sana, dapat memanjakan penglihatan. Jadi pas sekali dijadikan tempat ngadem.
Kuambil posisi yang nyaman untuk bersantai sejenak di kursi bambu yang berada di bawah pohon mangga. Kusandarkan tubuh, kemudian memejamkan mata, berusaha merileksasi diri. Ah, kembali duduk di sini mengingatkanku pada masa lalu. Biasanya ada Mas Reza yang datang untuk menghiburku ke sini.
__ADS_1
Ehem!
Mata yang semula terpejam, perlahan kubuka. Segera kutegakkan posisi dudukku, lantas menoleh ke sumber suara dehaman tadi. Rasa antusias yang mulai menghampiri hati karena kupikir itu Mas Reza, berganti rasa canggung, kesal dan kecewa yang bersatu padu. Bagaimana tidak? Orang yang ingin kuhindari malah datang ke tempat ini. Tidak usah kusebutkan, kalian pasti tahu.
Siapa sih yang kasih tahu dia kalau aku di sini?
"Boleh bergabung?" tanyanya dengan suara pelan. Dan aku masih bergeming. "Pemandangan di sini indah. Menyegarkan pandangan, tentu saja menyegarkan otak. Pantas saja kamu betah di sini."
Masih belum berani berhadapan langsung dengan Mas Farhan, aku hanya menyahut, "Kalau mau duduk, tinggal duduk aja, Mas. Enggak usah izin dari aku."
"Tapi kalau kehadiran saya hanya buat suasana hati istri saya makin kacau, saya akan mengalah dengan meninggalkan tempat ini."
Mendengar kalimat yang terucap dengan enteng dari bibir Mas Farhan barusan, membuatku refleks menoleh dan menatapnya tidak percaya. Bibir ini juga spontan berkata, "Dih. Sejak kapan mikirin perasaan aku? Eh, salah. Perasaan enggak ada istri Mas di sini."
"Ngomong apa sih. Enggak jelas," desisku. Entah dia mendengar atau tidak. Mendengar, tidak apa-apa. Tidak mendengar pun, alhamdulillah. Eh.
"Jangan ngambek begitu."
Aku hanya menatapnya sebentar, lalu memalingkan pandangan. Aku benar-benar lelah. Pikiranku seolah-olah terus dipaksa untuk berpikir keras karena sikap Mas Farhan makin sulit kutebak.
Jangan baper, Najwa! Mungkin saja dia hanya ingin mengelabui kamu dengan bersikap sok manis.
Baiklah. Sengaja kuedarkan pandangan ke sekitar taman, demi mengisi kehampaan yang terasa setelah Mas Farhan tidak lagi melanjutkan obrolan. Meski begitu, sesekali kulirik dirinya yang masih berdiri di dekat tempatku duduk.
Mas Farhan enggak pegal apa berdiri terus?
__ADS_1
Niatnya, aku mau cuek bebek. Mau melihat sejauh apa dia berusaha mencairkan suasana aneh yang tercipta setelah perbincangan singkat kami barusan. Kuteguhkan niat untuk pura-pura fokus pada suguhan pemandangan pagi yang cukup cerah ini. Namun, lama-lama aku menjadi dongkol sendiri melihat Mas Farhan masih tetap berdiri bak patung di tempat semula.
Memutar bola mata sebentar, aku lantas berbalik ke arahnya. "Mas, kuat berapa lama berdiri di sana?"
Dengan santai dia menjawab, "Sampai istri saya mau menyuruh saya untuk duduk, baru saya akan duduk."
Astaghfirullahal azim. Ini suaminya siapa, sih? Nyebelin banget. Maunya apa coba? Dikira aku ini apaan? Tadi pagi aja santai amat ngobrol sama Rifka, pakai enggak belain aku lagi di depan Ayah. Lalu sekarang dia bilang apa?
"Mas Farhan, enggak usah pakai acara ngedrama segala. Mau duduk, ya duduk aja. Sejak kapan suami mau duduk aja mesti izin ke istrinya? Tempat duduk banyak, tuh." Kutunjukkan beberapa tempat duduk yang masih kosong di sekitar taman. "Lagian memang istri Mas ada di sini? Dari dulu aja, Mas Farhan enggak pernah merasa punya istri 'kan."
Astaga, aku ngomong muter-muter, ya? Padahal tadi sudah bertanya dan dijawab pula sama dia. Hadeh. Maafkan aku. Aku lagi senewen memikirkan suamiku yang satu ini.
Coba kita lihat respons Mas Farhan seperti apa.
Cukup lama aku menunggu--serta menyiapkan hati, takut-takut Mas Farhan kembali marah--ternyata tidak ada balasan. Dia tetap berdiri, tetapi kali ini, dia malah menatapku cukup lekat.
Buru-buru kupalingkan pandangan ke sisi lain. Aku paling tidak bisa berkontak mata, dan Mas Farhan malah melakukan itu.
"Kamu lucu kalau lagi ngomel begitu." Sontak, kepalaku kembali menoleh ke arahnya. Tatapan ini menyorot tajam dirinya yang malah terkekeh. Ah, ralat. Dia tertawa malah. Meskipun pelan.
...***...
Hai, aku datang. Komen dong. Mata hati Mas Farhan udah mulai terbuka tuh. 😂
Jumat, 13 Agustus 2021
__ADS_1