Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Makin Tersudut


__ADS_3

Menyaksikan kegiatan Bunda dengan berbagai ekpresi yang muncul secara bergantian di wajahnya, membuat hati tidak berhenti ketar-ketir. Ada kecemasan yang juga sudah mulai menyelinap. Aku rasa tidak akan ada yang baik-baik saja setelah ini.


Setelah sekian lama mengobrol, entah apa yang mereka obrolkan, Bunda akhirnya berkata, “Oh, begitu. Maafkan Tante, ya, Za. Tadi lagi emosi banget, makanya Tante langsung ngomel. Ya sudah, sampaikan salam ke Najwa dari bundanya gitu, ya, Za.” Bunda kemudian mengakhiri panggilan.


Tatapan tajam yang kembali beliau layangkan ke arahku sesaat setelah itu, membuatku kembali panik. Melihat Bunda makin mendekat ke tempat tidur, membuatku refleks mundur hingga saking paniknya dan tidak memperhatikan sekitar, aku jatuh dari ranjang.


“Astaghfirullah, ya Allah!” pekikku seraya memegangi kepala yang terasa berdenyut nyeri. Mata juga sampai berkunang-kunang. Mana jatuh dengan keadaan telentang. Ya Tuhan, rasanya begitu 'nikmat', encok semua badanku ini.


Dengan pelan, aku bangkit seraya menggeliat-geluat kecil untuk mengurangi rasa sakit. Dan Bunda, beliau memang sempat berteriak bersamaan dengan aku jatuh tadi, tapi kalian tahu apa yang bundaku itu lakukan? Sesaat setelah aku berhasil bangkit dan berjalan tertatih-tatih untuk kembali ke tempat tidur, Bunda malah menjewer telinga dengan cukup kasar.  “Aduh, Bunda!” Teriakan itu kembali terlontar.


“Istri dirawat di rumah sakit kamu malah santai-santai di sini?! Apa yang ada di otak kamu, Farhan?!” Aku tidak menjawab pertanyaan Bunda karena sibuk mengaduh kesakitan. Jeweran di telinga malah makin kencang.


“Bunda, Bunda tolong lepasin tangan Bunda. Telingaku sakit!”


“Biarin! Ini hukuman buat kamu. Ayo jawab, kenapa kamu enggak kasih tahu Bunda kalau Najwa sakit, dan kamu malah terkesan tidak peduli dengan istrimu? Atau kamu tidak tahu kalau dia sakit? Kenapa Mas Ahmad juga enggak tahu dengan apa yang terjadi kepada Najwa? Apa yang kalian sembunyikan dari kami, hah?”


Tangan ini masih berusaha melepaskan jeweran Bunda di telinga. Tapi, bukan berhenti, Bunda malah makin mengencangkan. Seperti memang tidak ada lelah sama sekali, padahal sudah lebih lima menit Bunda menjewer telingaku. Apa tidak pegal tangannya?


“Ayo jawab, Farhan.”


“Bunda, Bunda aku mohon, ini sangat sakit. Aku janji bakal kasih tahu, tapi lepasin dulu.” Suaraku sampai bergetar seperti orang mau nangis saking sakitnya jeweran Bunda.


“Janji enggak akan ada yang kamu sembunyikan dari Bunda?”

__ADS_1


Sudah frustrasi dengan rasa sakit di telinga, aku segera mengangguki kata-kata Bunda. “I-iya, Bunda. Farhan mau jawab, tapi lepasin dulu tangan Bunda. Seriusan, Bun, ini sakit banget. Telingaku kayak mau copot.” Persetan dengan suara yang sudah menyerupai rengekan bocah. Toh setelah itu Bunda benar-benar melepaskan jewerannya.


Duh, ya Allah, luar biasa sekali jeweran Bunda.


“Najwa dirawat di klinik Bangkalan, Bun. Dia sakit gara-gara sempat makan ayam sebelum kami pulang ke sini. Aku sudah datang ke sana tiga hari yang lalu, tapi enggak diizinkan ketemu Najwa sama Mas Reza dan Mas Gibran.”


Tatapan Bunda kembali mengintimidasi. “Kenapa bisa kedua kakaknya Najwa melarang kamu menemui istri kamu sendiri?”


Awalnya aku masih mau menyangkal karena merasa belum siap menceritakan semuanya kepada Bunda. Namun, kalian tahu sendiri bundaku sangat peka dengan hal-hal janggal di sekitarnya. “Oh, sepertinya Bunda tahu sesuatu.”


Nah, kan. Baru juga membatin dan belum menjawab, Bunda sudah bilang begitu.


“Pasti ini ada kaitannya dengan keanehan sikap kalian waktu Bunda nginap di sini. Reza dan Gibran bukan anak-anak yang akan mengambil keputusan dengan alasan tidak berdasar. Mereka pasti punya alasan kuat kenapa melarang kamu menemui Najwa.”


Kepalaku kembali menunduk. Lelah rasanya menghadapi masalah ini, padahal aku sendiri yang menciptakan. Aku makin tersudut. Tidak ada yang patut disalahkan kecuali aku.


Pada saat mulai bercerita, suara ponsel Bunda yang terdengar nyaring kembali menginterupsi. Wanita paruh baya itu menegakkan tubuh, kemudian meraih ponselnya di dalam tas. Lagi dan lagi, kerutan halus yang muncul di kening Bunda menciptakan tanya dalam benak. Siapa lagi yang menghubungi Bunda?


“Bun, telepon dari siapa?” tanyaku. Namun Bunda hanya melirik sekilas ke arahku, kemudian kembali menatap lekat layar ponselnya. Aku jadi makin penasaran. Di samping itu, Bunda yang tidak kunjung mengangkat telepon itu, padahal sudah berdering beberapa kali, membuat pikiran-pikiran mulai bergelayut di otak.


Beberapa waktu kemudian, dengan dering panggilan yang masih terdengar, Bunda memperlihatkan layar ponselnya ke arahku. Bagai disetrum listrik tiba-tiba, aku terkesiap melihat nama pemanggil itu.


“Mas Ahmad tiba-tiba menghubungi Bunda. Apa yang mau dia bahas?”

__ADS_1


Aku tergagap. Entah mengapa, keyakinan bahwa ayah mertuaku itu sudah mengetahui perihal apa yang terjadi antara aku dan Najwa melintasi hati. Namun, aku masih belum menjawab pertanyaan Bunda. “Farhan, jawab Bunda.”


Aku mendongak, menatap Bunda, kemudian menggeleng pelan. “Aku enggak tahu, Bunda.”


“Bohong kalau kamu tidak tahu apa-apa,” selidik Bunda.


“Seriusan, Bun. Aku enggak tahu kenapa Pak Ahmad tiba-tiba menelepon Bunda. Sebelum kami pulang, keadaannya masih baik-baik saja.”


Aku menelan ludah saat tatapan menginterupsi yang dilakukan Bunda makin intens. Kupalingkan kepala untuk menghindari tatapan itu. Tapi, Bunda memberi ultimatum akan menjewer telinga kembali, sehingga mau tidak mau aku kembali menatap ke arahnya.


“Bun, kenapa lihatin aku kayak gitu?”


“Apa tadi kamu bilang? Pak Ahmad? Apa selama ini kamu masih memanggil mertuamu dengan sebutan itu?”


Astaga, mati aku! Bisa-bisanya aku tidak sadar mengucapkan kalimat itu.


“Sikap kamu makin mencurigakan.”


“Bunda apaan, sih. Angkat tuh telepon Ayah. Nanti baru aku ngomong sama Bunda.”


***


Ayo dikomen, ges. Wkwkwk.

__ADS_1


Sumenep, Madura, Jawa Timur


Ahad, 26 September 2021


__ADS_2