
Begitu lama aku menunggu kedatangan Mas Farhan, tetapi tetap saja tidak ada tanda-tanda dia akan datang. Sekalipun dia tidak memperlakukanku dengan baik, perasaan khawatirku sebagai istri pasti akan selalu ada. Takut terjadi sesuatu di luar kepadanya, takut dia sedang dalam masalah atau apa pun. Kulirik jam dinding, ternyata sudah menunjukkan pukul 19.55. Teringat belum salat, aku masuk ke kamar untuk salat terlebih dahulu. Siapa tahu Mas Farhan sebentar lagi pulang.
Usai dengan ritual ibadah, aku segera berganti pakaian. Saat hendak menyisir rambut dan becermin, aku tercenung saat melihat deretan alat-alat make-up yang entah apa fungsinya. Yang kukenali hanya bedak dan body lotion. Pasti Bu Rasti yang menyediakan ini semua.
Kududukkan diri di kursi depan cermin. Kutatap wajah yang tampak tidak bercahaya dan lebih kurus, tentunya jelek. Wajah yang kulihat di cermin itu seperti bukan diriku. Kuyu; garis hitam melingkari kedua bola mata, hingga membuatnya seperti mata panda; dan tatapan yang sayu membuatku seperti mayat saja. Bagaimana tidak? Aku adalah tipe pemikir berat dari dahulu. Ada masalah sedikit, pasti dipikirkan. Ini juga yang sempat diberatkan oleh Mas Reza sebelum keputusan menikah aku ambil. Dia yang paham betul dengan karakterku, makanya dia sangat resah.
Meskipun saat acara pernikahan kami dilangsungkan dia tampak biasa-biasa saja, bahkan terkesan tidak punya beban apa pun, kakak keduaku itu sejatinya cemas. Dia berpura-pura baik-baik saja di hadapan keluarga. Aku mengetahuinya saat tidak sengaja melihat Mas Reza terduduk sendiri di teras rumah. Saat kuhampiri, dia malah memelukku erat, kemudian menangis. Ya, Mas Reza menangisi diriku yang akan berstatus istri orang waktu itu.
Aku meraba kedua pipi, dan menelisiknya di cermin. Ya Tuhan, padahal baru sehari aku sudah seperti ini.
Saat asyik dengan dunia sendiri, dering ponselku menginterupsi. Segera, aku bangkit dan meraih benda elektronik itu di nakas samping tempat tidur. Siapa tahu ada kabar dari Mas Farhan. Namun, seketika tanganku berhenti bergerak, urung menggeser ikon hijau di sana saat menyadari siapa si penelepon. Apa yang akan kujawabkan kepadanya? Kubiarkan layar ponsel menyala, dengan nada dering panggilan yang terus terdengar dan nama yang sama masih tertera di sana, karena aku bingung. Namun, rupanya sang penelepon tidak mudah menyerah. Dia mengulangi panggilan untuk kesekian kali. Terpaksa kuusap ikon hijau di ponselku dan menerima panggilannya.
"Najwa, kalian baik-baik saja, 'kan? Kenapa Bunda telepon tidak kunjung diangkat?"
Aku menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan karena syok dengan todongan pertanyaan dari ibu mertuaku tersebut. Kupegang erat-erat ponsel yang menempel di telinga.
"Maaf, Bunda. Najwa tadi tidak mendengar dering ponselnya."
Ya Allah, ampuni hamba yang sudah berbohong kepada Bunda.
Kudengar helaan napas lega dari Bunda. Bagaimana jika Bunda tahu dengan keadaan yang sebenarnya, ya?
"Bunda ada apa telepon malam-malam? Tumben?" Semoga saja bundaku ini bisa dialihkan ke topik perbincangan lain.
"Tidak apa-apa, Nak. Bunda hanya ingin tahu keadaan kalian. Baik-baik saja, 'kan?"
"Iya, Bunda. Mas Farhan baik, Najwa juga baik." Kugigit bibir bawah setelah mengucapkan kalimat itu. Rasanya, ada beribu jarum yang tiba-tiba menyerbu dada menciptakan nyeri karena kenyataan yang sebenarnya berbanding terbalik dengan apa yang kukatakan.
"Ya, sudah. Kapan-kapan Bunda ke sana, ya. Bunda titip salam ke Farhan. Selamat beristirahat. Bunda tidak mau mengganggu agenda malam kalian berdua."
Aku tersenyum tipis mendengar pernyataan Bunda. Agenda malam, ya? Agenda malam yang menguras emosi karena sikap menyebalkan dan kejam putra semata wayangnya.
"Siap, Bunda."
Aku meluruhkan tubuh di lantai, dengan mengusap dada karena lega begitu Bunda mengakhiri panggilannya. Perbincangan dengan Bunda berakhir bagai keluar dari ruangan pengap yang tidak beroksigen. Makanya, aku buru-buru menghirup napas sebanyak-banyaknya. Untung beliau tidak bertanya keberadaan putranya atau menyuruh memanggilnya, bisa mati kutu aku. Bahkan sampai detik ini pun dia belum juga pulang.
__ADS_1
Setelah cukup rileks, aku kembali ke aktivitas awal, menatap pantulan diri di cermin. Siapa pun pasti akan jemu dan enggan menatap wajahku. Sangat jelek sekali. Saat kutatap deretan kosmetik di meja depanku ini, entah kemauan dari mana, aku yang semula tidak pernah menyentuh kosmetik apa pun selain bedak tabur, perlahan ingin memoles wajah dengan alat-alat itu.
Mungkin dengan mengubah penampilan, Mas Farhan bisa lebih simpati dan respect dengan kehadiranku. Katanya, rupa yang menyenangkan ketika dipandang bisa menarik perhatian suami. Terlepas dari cantik dan tidaknya, karena keduanya relatif. Aku mulai menengok-nengok peralatan kosmetik itu dan membaca keterangannya untuk apa saja. Karena awam soal kosmetik, aku hanya mengambil tiga barang yang kupahami cara memakainya, yaitu bedak yang berbentuk krim dan serbuk, serta celak bubuk.
Kumulai aksiku untuk memoles wajah, dengan memasang krim di terlebih dahulu kemudian dilapisi bedak serbuknya, terakhir kusapukan celak itu di sekitar mata. Senyum manis mulai terpatri di bibir saat kulihat hasil karya malam ini. Tidak terlalu jelek untuk orang yang baru belajar memakai kosmetik. Setidaknya tampilan wajahku tidak menyeramkan seperti tadi.
Atensiku teralih saat mendengar pintu kamar dibuka dengan kasar. Kutolehkan kepala, ternyata Mas Farhan sudah berdiri di sana dengan raut lelah. Cepat, kupakai kerudung instan karena teringat peraturannya malam kemarin. Setelah itu, aku beranjak untuk menyambut kedatangannya.
"Mas, sudah pulang? Kamu dari mana? Aku khawatir."
Dia menoleh cepat ke arahku, membuatku lagi-lagi tidak punya nyali untuk membalas tatapannya. Aku menundukkan kepala. Degup jantung pun berdebar lebih cepat dari biasanya, antara takut dan gugup. Ya, entah mengapa aku tiba-tiba gugup saat menyadari Mas Farhan cukup lama menatap wajahku tadi. Apa karena aku memakai kosmetik, ya?
"Saya sudah bilang, kan, jangan urusi saya!"
"Tapi, Mas--"
"Kamu tidak paham bahasa manusia apa bagaimana, hah?" Seketika, ada air mata yang meluncur bebas dari kelopakku saat dia membentak. Sebegitu marahkah? Padahal aku hanya ingin memberikan perhatian kepadanya. "Lama-lama saya muak dengan sikap kamu yang selalu mencampuri urusan saya. Pindah dari kamar ini. Saya tidak sudi satu kamar lagi dengan kamu."
Tubuhku berjingkat kaget saat dia membanting pintu dengan cukup kasar, kemudian masuk ke kamar mandi. Engsel lututku seolah-olah patah tiba-tiba sehingga aku tidak bisa menumpu tubuh. Ia luruh ke lantai bersamaan dengan mengalirnya buliran-buliran bening dari sudut mata. Aku benci tangisan ini, tangisan yang malah membuatku terlihat lemah di hadapan Mas Farhan. Namun, bagaimana caranya aku menghentikan, sementera sesak di dada mendongkrak air mata untuk tetap mengalir?
Segera kuusap air mata dan mendongak, menatap Mas Farhan yang sudah berganti pakaian santai.
"Butuh pengusiran lagi?"
Malas meladeni ocehan menyakitkannya lagi, aku segera bangkit dan meninggalkan kamar itu, kemudian masuk ke kamar sebelah. Langsung kehempaskan tubuh ke atas kasur dengan keadaan tengkurap. Kuluapkan tangis di balik bantal yang sengaja kuletakkan di atas kepala agar suaranya tidak terdengar keluar.
Karena terlalu lama menangis, kantuk pun menyerang. Perlahan, kupejamkan mata berharap malam ini bisa terlelap dan tidak bermimpi buruk seperti tadi malam. Namun, baru beberapa menit aku memejam dan belum sepenuhnya masuk ke alam mimpi, aku dikejutkan dengan suara aneh yang terdengar dari samping rumah.
Jangan bilang itu suara penjaga rumah ini? Astaga, Najwa. Apa yang kamu pikirkan? Sekadar informasi, aku cukup penakut orangnya.
Mencoba memberanikan diri, aku menyingkirkan bantal di kepala, kemudian bangkit dari tempat tidur. Aku menyingkap gorden hijau jendela setengah badan yang ada di sebelah selatan kamar itu. Sontak, aku menutup cepat gorden itu karena perasaan takut tiba-tiba mendominasi. Aku baru tahu jika rumah yang ditempati Mas Farhan ini berdekatan dengan pemakaman yang cukup luas. Paling sekitar enam meter jarak dari rumah ini. Aku tidak akan bisa tidur malam ini jika hanya sendirian.
Duh, apa aku ke kamar Mas Farhan saja, ya? Marah enggak, ya? Pasti marah. Orang itu 'kan tempramennya parah. Namun, daripada tidak tidur semalaman dan dihantui rasa takut terus, kupaksakan diri melangkah menuju kamar Mas Farhan lagi.
Sesampainya di sana, ternyata Mas Farhan sudah terlelap dengan memeluk guling. Pelan-pelan, kulangkahkan kaki, kemudian naik ke tempat tidur dan memosisikan diri di sampingnya.
__ADS_1
Kamu selalu tampan di mataku, Mas. Selamat beristirahat dan mimpi indah. Maaf, ya. Aku enggak bisa tinggal sendirian.
Baru saja membaca doa dan akan menutup mata, Mas Farhan tiba-tiba terbangun dan melotot ke arahku. Sontak, aku terkesiap dan ikut bangkit tiba-tiba. Ini lebih menyeramkan daripada bertemu hantu. Bayangkan saja, kamar yang tidak begitu terang hanya disinari lampu LED kecil di nakas samping tempat tidur, lalu orang yang di samping kalian tiba-tiba bangun seraya melotot tajam. Jantung tidak copot, alhamdulillah.
"Mas, kenapa bangun? Aku kaget, lo," ucapku seraya menetralkan detak jantung.
"Kenapa tidur di sini? Kurang jelas kalimat saya tadi?"
"Mas, aku takut sendirian. Kamar sebelah berdekatan dengan makam. Kumohon izinkan aku di sini."
"Deritamu kenapa jadi orang penakut."
Benar-benar 'menakjubkan' suamiku ini.
"Mas," mohonku.
"Boleh, tapi tidak di tempat tidur ini."
Keningku mengerut, bingung dengan pernyataannya.
"Terus kalau bukan di ranjang ini, aku tidur di mana, Mas?"
"Terserah. Lantai masih luas, tuh."
Speechless.
Jangan tanyakan keadaan hatiku. Berulang kali dikecewakan realitas, membuatku seperti kayu bakar yang hangus dilahap api. Daripada tidur sendirian tetapi tidak nyenyak tidur, aku pun beranjak turun dari ranjang dan tidur di lantai.
...***...
Salam manis dari orang manis. Haha. Jangan lupa dukung tulisanku ini, Kawan. Agar aku semangat mengunggah bab selanjutnya. Semoga menghibur, ya. Tentunya dapat dipetik manfaatnya.
Sumenep, Madura, Jawa Timur
Selasa, 15 Juni 2021
__ADS_1