Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Ketegasan


__ADS_3

"Ya udah, intinya Mas Farhan minta maaf buat yang tadi, 'kan? Iya, aku maafin. Udah, 'kan? Aku mau ke kamar. Pusing, pengin istirahat."


"Ikhlas tidak maafinnya?"


Aku menarik napas panjang. Lama-lama dongkol juga sama Mas Farhan. Aku lantas berbalik ke arahnya lagi. "Mas, kamu enggak bosan tanya itu? Kita dari tadi muter-muter terus ngomongnya, yang dibahas itu-itu aja. Yang baca ini pasti kesal, Mas."


Kedua alis suamiku itu menukik. "Yang baca? Baca apa?"


Rileks, Najwa!


Mas Farhan lola amat, sih. Aku saja bosan dengan topik bahasan yang belum ketemu ujungnya ini. Padahal dari awal aku juga sudah bilang, 'enggak usah dibahas lagi'. Masih saja memaksa buat membahasnya.


"Tahu, ah. Mas Farhan nyebelin."


Aku sudah berancang-ancang untuk pergi. Namun, Mas Farhan malah mencekal tanganku. Kuputar bola mata seraya mendengkus kesal.


"Apalagi, Mas? Aku pusing, mau istirahat."


Enggak pengertian banget sih, sama istrinya.


"Dimaafkan apa tidak?"


Aku menarik napas panjang. "Mas mau dimaafkan beneran?"


Anggukan mantap yang diberikan suamiku bukan membuatku langsung mengiyakan.


"Oke. Bakal aku maafin, asal ... aku boleh minta tolong?"


"Apa?"


Fast respond amat, Mas?


"Enggak usah bahas soal Rifka, jaga jarak sama dia, bisa?"


"Tapi, sa--"


"Ya udah." Kulepas paksa kembali genggamannya di tanganku. "Dari kemarin tingkah kamu merujuk pada sebuah perubahan baik dalam hubungan kita. Bahkan kamu merasa tersinggung saat aku tidak percaya sama kamu."


"Ya, memang apa susahnya buat percaya?"


Mas Farhan dodol banget, ya? Dia benar-benar enggak tahu apa hanya pura-pura?

__ADS_1


"Dengan adanya kata tapi di awal kalimat kamu barusan, itu sudah menunjukkan kalau kamu enggak pernah ada niat buat memperbaiki hubungan kita, Mas."


Aku melangkah mundur, bersiap langsung pergi usai berkata-kata. Kubalas tatapan tajamnya. "Jangan plinplan jadi orang. Enggak usah sok baik kalau ujung-ujungnya kamu bakalan nyakitin aku lagi. Kamu tahu enggak, sih? Aku lebih baik disakiti secara terang-terangan seperti yang udah berlalu, Mas. Daripada apa yang kamu lakukan sejak kemarin, itu secara tidak langsung kamu mau membunuhku secara perlahan."


"Saya--"


"Jangan ngomong apa pun sama aku selama kamu belum tahu dengan langkah apa yang akan kamu lakukan. Kalau kamu mau buat aku nangis lagi, mau buat aku sakit hati lagi, its okay, Mas. Tapi jangan di sini. Lakukan apa pun sepuas kamu, asal di rumah kamu. Udah, aku capek."


Tidak mau dicegat lagi, aku langsung melesat meninggalkan Mas Farhan. Biarlah. Aku tidak peduli dia mau apa sekarang.


Baru saja aku bernapas lega karena terbebas dari jeratan kelakuan tidak jelas Mas Farhan, aku kembali dibuat tidak tenang. Kepalaku juga terasa makin berdenyut-denyut nyeri. Saat akan memasuki rumah, aku melihat mobil Dokter Fadli--dokter langganan Ayah--terparkir di halaman rumah. Buru-buru aku melangkah masuk, khawatir terhadap kesehatan ayahku itu.


"Mas, Ayah kenapa?" tanyaku kepada Mas Reza yang berdiri di depan kamar Ayah. Heran, sih, kenapa dia tidak menunggu di dalam saja. Namun, kuabaikan hal itu, karena yang terpenting sekarang adalah aku tahu kabar Ayah.


Mas Reza menoleh. "Belum tahu, Dek. Tadi Ayah ngeluh dadanya sakit lagi. Ya udah Mas telponkan Dokter Fadli. Di dalam ada Mbak Diva, Mas Gibran, Weny dan suaminya. Rifka lagi nidurin Rizqun di kamarnya."


Aku menurunkan tubuh kemudian berjongkok di samping Mas Reza. Dua tangan ini bergerak memegangi kepala yang terus merasa pening. Mas Reza langsung menyusul, serta merangkul pundakku.


Kutolehkan kepala ke arah kakak keduaku itu. "Mas, penyakit Ayah pasti gara-gara aku, 'kan?"


Kening Mas Reza mengernyit. "Kenapa gitu?"


"Ya pasti Ayah kepikiran soal aku dan Rifka yang bertengkar tadi pagi, 'kan?"


"Kamu tuh kepedean banget tahu, Dek. Yang Ayah pikirin bukan kamu aja."


Aku memutar bola mata. "Mas, aku yakin Mas Reza paham dengan maksud aku. Please deh, jangan ikut-ikutan Mas Farhan bikin aku kesal. Aku pusing, sekarang cemas mikirin Ayah, terus masih mau ditambah dengan keusilan Mas? Mas juga, biasanya yang nenangin aku, malah berubah ngerecokin."


"Kayaknya kamu beneran mens ya, Dek? Sensitif amat perasaan dari tadi."


"Ya gimana enggak sensitif, Mas? Aku pusing ini. Pusing. Mas enggak paham kata pusing apa gimana, sih?"


Mas Reza terdiam sejenak. Sebelah tangannya kemudian meraih tanganku, sebelahnya lagi masih merangkul pundak dari samping. Dia usap-usap lembut pundakku, serta dia genggam erat tanganku. Tatapannya menyorot teduh mataku.


"Maafin Mas. Tadi tuh niatnya Mas mau hibur kamu." Aku mengangguk kecil. "Ya udah, Mas temenin kamu aja sambil nunggu Dokter Fadli meriksa Ayah, ya?"


Ah, menenteramkan sekali mempunyai kakak yang begitu perhatian dan pengertian seperti ini. Kalian jangan iri. Ha-ha.


Aku mengikuti langkah Mas Reza yang mengajakku beristirahat di sofa ruang depan rumah. Aku langsung membaringkan tubuh di sana, dan Mas Reza dengan sigap membantu memijat pelipisku.


"Gimana? Mendingan pusingnya?" Dengan mata mulai terpejam, aku hanya menganggukkan kepala sebagai tanggapan. "Tidur aja enggak apa-apa, Dek," kata Mas Reza lagi.

__ADS_1


Dengan mata masih terpejam aku menjawab, "Tapi aku mau tahu penjelasan Dokter Fadli soal Ayah, Mas."


"Tadi katanya pusing. Tidur aja dulu. Insyaallah Ayah baik-baik aja, kok." Pijatan tangan Mas Reza di pelipisku masih berlanjut. "Atau gini aja, Mas bangunin kalau Dokter Fadli keluar?"


Baiklah.


"Asal bangunin beneran, ya?"


"Iya, adikku."


"Oke."


Aku lantas berupaya untuk bisa tidur. Lagipula kepalaku memang benar-benar sakit. Tidak salah juga aku mengistirahatkan diri. Mungkin efek sakit di kepala serta pijatan Mas Reza, perlahan rasa kantuk menghampiri. Sesekali aku menguap. Aku menyamankan posisi tidur, dan mulai terlelap.


Belum juga benar-benar terlelap, sayup-sayup kudengar suara seseorang yang kuyakini adalah suara Dokter Fadli. Kucoba mengumpulkan kesadaran untuk mencuri dengar pembicaraan Mas Reza dengannya.


"Tidak apa-apa, Mas Reza. Pak Ahmad akan membaik, asal jangan buat beliau berpikir yang berat-berat. Kalau ada masalah, sebaiknya usahakan jangan sampai beliau tahu."


Diam-diam aku menghela napas lega mendengar jawaban itu. Niat untuk melanjutkan tidur lagi karena mendengar kabar Ayah yang baik-baik saja barusan, terinterupsi oleh suara lain yang mulai terdengar makin jelas di telingaku.


"Iya. Tadi bilang pusing. Aku bantu pijeti pelipisnya dan nyuruh tidur. Dia kayaknya mau sakit. Dari suaranya mulai beda." Itu sekelumit kalimat yang diucapkan Mas Reza.


"Tadi mau dibangunin pas Dokter Fadli keluar, tapi aku enggak tega. Dia kayaknya kecapean sekali."


Ya Allah, Mas. Kamu perhatian sekali sih sama adikmu ini.


Sebenarnya aku masih mengantuk dan terasa berat untuk membuka mata. Namun--


"Ya sudah, Mas. Biar saya yang pindahin Najwa ke kamar." Aku langsung bangkit dari pembaringan dan duduk tegak. Gara-gara bangun mendadak, aku merasakan pening hingga tanpa sadar tubuhku hampir jatuh dari sofa. Akan tetapi ada seseorang yang menyangga tubuhku.


...***...


Hai, aku datang. Ada yang kangen? Maaf, ya. Aku enggak update kemarin. Aku sakit. Kepala pening banget, pilek, flu dan lain-lain. Paket komplit pokoknya. Doain moga cepat sembuh, ya. He-he.


Hayo tebak, siapa yang bantuin Najwa?


Jangan lupa like, vote dan komentar. Share pun boleh. Ah, iya. Terima kasih buat kalian semua yang bersedia membaca cerita ini, mengapresiasi, memberikan dukungan dan semangat buatku. Terima kasih banyak, ya. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semua dengan sebaik-baik balasan. Aamiin.


Maaf juga jika ada komentar yang tidak terbalas. Seperti kataku tadi, aku lagi sakit dan susah konsentrasi. Enggak tahu apa saja yang masuk di notif.


Salam manis dariku.💙

__ADS_1


Sumenep, Madura, Jawa Timur


Selasa, 17 Agustus 2021


__ADS_2