Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Sanggupkah Aku Melihatnya Bersedih?


__ADS_3

Setetes air mata kembali melintas di pipi saat pertama aku membuka pintu kamar Ayah. Kesedihan seolah-olah terus memengaruhi, menimbulkan nyeri kembali dalam dada. Padahal sebelum tiba di kamar ini, aku sudah mencuci muka agar keadaanku yang tidak baik-baik saja tidak disadari oleh pria itu. Namun, ... bagaimana caranya aku mengontrolnya, bahkan ia hadir tanpa aku minta?


Masih mematung di depan pintu, kucoba untuk merileksasi diri dengan mengambil napas kuat-kuat, lalu membuangnya pelan-pelan. Kuhapus rintik air mata itu perlahan, kemudian menadahkan wajah untuk menghalau bulir-bulir cairan bening yang seolah-olah terus mendongkrak mata untuk luruh. Aku tidak mau menambah beban pikiran Ayah dengan menampakkan keadaan yang sebenarnya.


Gontai, kulangkahkan kaki mendekati tempat Ayah tertidur. Kutatap lekat-lekat wajah pria idaman pertamaku ini yang tampak tenang. Meskipun di wajahnya yang tidak lagi muda itu tercetak raut pucat. Tubuh tegapnya terlihat ringkih. Sangat jauh berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Beliau terpejam dengan begitu nyaman, meski deru napasnya terdengar gusar.


Pasti keadaan jantung Ayah kembali terganggu.


Kulihat dari obat-obatan yang ada di nakas samping tempatnya terlelap pun, jelas menunjukkan hal itu. Ayah punya riwayat sakit jantung akibat syok akan kepergian Ibu lima tahun yang lalu. Hampir setahun Ayah tidak bisa beraktivitas seperti orang-orang pada umumnya. Sejak itu juga, aku makin susah untuk bercerita kepada Ayah. Kata dokter, beliau tidak boleh berpikir berat.


Karena sedari kecil Mas Reza satu-satunya orang yang paling kupercaya untuk bercerita, akhirnya dia yang menjadi tempat curhatku.


Ya Tuhan, kenapa aku bisa tidak menyadari kondisi ayahku?


Tubuhku luruh di samping tempat di mana Ayah tertidur dengan telentang--di sisi ranjang. Isakan pun tidak lagi bisa dibendung saat perlahan ingatan demi ingatan tentang perjuangan pahlawanku ini demi membuatku, kami semua--anak-anaknya, bahagia. Air mata itu kian mengucur dengan deras tanpa aba-aba. Kugerakkan tangan untuk menyentuh tangan kanan Ayah. Kuciumi tangan yang mulai berkeriput itu berkali-kali, seraya membiarkan bayangan masa lalu kembali menyapa.


"Kak Najwa pelit, ih." Satu kalimat yang sangat menohok itu terucap dari bibir adikku yang pertama. Rifka mencebikkan bibir, tetapi aku mencoba bodo amat.


"Jahat."


Aku hanya menatapnya sekilas tanpa menyahut apa pun, kemudian kembali beralih membaca buku bacaanku.


Berawal dari aku tidak mengizinkannya meminjam buku Mas Gibran yang sedang kubaca, dia merajuk hingga mengeluarkan kata-kata itu. Meski usiaku sudah tujuh belas tahun, tetapi ... ya, biasa, sih, menurutku jika ada sedikit pertengkaran di antara kami. Toh, nanti ujung-ujungnya berbaikan lagi.


Heran, sih, kenapa aku masih suka meladeni Rifka.


Aku menatap nanar serta jengkel ke arah bocah berusia empat belas tahun itu. Dia memang suka usil. Berbeda dengan Weny, adikku yang kedua. Maklumlah, dia masih duduk di bangku SD. Eh, mereka sama-sama usil, sih. Akan tetapi, lebih usil Rifka daripada Weny.


"Kak Najwa 'kan juga baru pinjam sama Mas Gibran, Dek. Masa udah mau dipinjam kamu?"


"Kak, kata Ayah, yang lebih tua itu mengalah sama yang lebih muda."


Astaga, adikku memang drama banget, ya. Heran. Kenapa bisa aku punya adik kayak dia?


"Iya, tahu. Kak Najwa 'kan bilang gantian tadi. Bukan enggak ngizinin sama sekali. Ini buku juga belum ada sepuluh menit di tangan Kakak."

__ADS_1


"Ayolah, Kak."


Kutatap tajam adikku itu. "Rifka, masa Kakak belum selesai ba--"


"Ada apa ini?" Tiba-tiba suara Mas Gibran menginterupsi. Membuat atensi kami teralih, kemudian segera menoleh ke arah kakak pertama kami itu. Cepat, Rifka mendekati Mas Gibran yang sudah berdiri di antara kami.


"Rifka mau pinjam bukunya Mas Gibran, boleh, ya?"


Aku mendesah pelan melihat tingkah Rifka. Perlahan, kupijit pangkal hidung. Adikku yang satu itu masyaallah. Menyebalkan sekali. Mas Gibran juga sering memanjakan dia. Jadilah dia seperti sekarang.


Tanpa menunggu jawaban Mas Gibran, aku langsung menyodorkan buku itu ke arah Rifka.


Aku tuh malas banget untuk memperpanjang masalah. Apalagi akhirnya jika Rifka marah, bikin Ibu mengomel.


Belum selesai dengan tingkah Rifka, Weny berulah. Saat aku asyik menyendiri di samping rumah, dia malah rusuh bersama teman-temannya. Dia memang sering kedatangan teman-temannya untuk main bersama.


Menyebalkan. Aku kalau lagi kesal, pasti menyendiri. Malas banget lihat orang-orang.


Mengabaikan Weny dan teman-temannya, aku mulai bercerita di buku kecil pemberian Ayah saat aku ulang tahun yang ketiga belas. Kata Ayah, karena aku tidak suka berinteraksi secara verbal, jadi Ayah membelikan buku itu agar aku bebas mengekspresikan apa pun di sana.


Jadi ceritanya, dahulu Ayah punya dua HP. Yang satu, khusus Ayah dan rekan bisnisnya. Satu lagi itu dibuat gantian antara aku, Weny dan Rifka. Mas Reza dan Mas Gibran sama-sama pegang HP masing-masing. Akan tetapi, karena mereka sudah kuliah dan sibuk mengurus pendidikannya lewat benda elektronik itu, Ayah meminta kami bertiga untuk tidak meminjam ponsel keduanya. Sebagai gantinya beliau membeli HP itu.


Ah, aku ingin sekali punya HP sendiri.


Ada begitu banyak keinginan dalam hati. Namun, sadar akan keadaan keluarga kami, aku memilih bungkam dan menuliskannya dalam buku itu hingga menjadi beberapa daftar impian. Aku mulai bercita-cita untuk bisa mandiri dan mempunyai pekerjaan tetap agar apa yang kuinginkan bisa kuraih tanpa membebani Ayah dan Ibu. Masih ada Rifka dan Weny yang juga dipikirkan oleh mereka.


Pekerjaan Ayah sama seperti penduduk setempat pada umumnya, yakni bertani. Bekerja di bawah terik sinar matahari yang menyengat; mengandalkan seluruh tenaga untuk menggarap sawah, sebelum adanya alat canggih bernama traktor, demi bisa menafkahi kami dan mewujudkan keinginan kami secara bergantian.


Kata Ibu, Ayah sempat bekerja sebagai tukang mebel di daerah Sumenep. Akan tetapi, Ayah hanya bertahan sampai satu tahun di sana. Ayah kembali ke Bangkalan dan meneruskan usaha taninya bersama Ibu.


Kutatap wajah tenang Ayah yang masih terlelap, seperti tidak terusik sama sekali akan tangisku yang kian menjadi-jadi. Membuat bayangan masa lalu tentangnya terus melintasi otak. Dalam diam dan tangis yang masih merebak kubiarkan memori itu kembali terkenang. Mengulang kembali reply kejadian demi kejadian di masa lampau.


Mungkin memang takdirnya Ayah, setelah lima tahun lebih tidak berurusan dengan dunia mebel, beliau akhirnya terjun lagi ke dunia pekerjaan itu. Bukan sebagai pekerja, tetapi pembeli dan menjualnya lagi di wilayah tempat tinggal kami, bahkan ke luar kota. Karena banyak dari masyarakat sekitar kami tertarik dengan barang-barang mebel dari tempat bos Ayah itu, yang khas sekali dengan ukiran Sumenep.


Kata Ayah, itu awal beliau bertemu dengan keluarganya Mas Farhan. Waktu itu Ayah sedang bepergian ke Surabaya. Sampai di sana, Ayah tidak sengaja bertemu dengan orang tuanya Mas Farhan yang sedang kebingungan mencari dipan khas Madura.

__ADS_1


Teringat bos di tempatnya bekerja dahulu, beliau kemudian menyarankan Bu Rasti dan Pak Faridzi untuk melihat-lihat koleksi mebel di sana. Mereka senang sekali karena bisa menemukan barang yang sesuai harapannya.


Mereka bertiga pun memulai bisnis mebel sejak itu. Tempat Pak Ahmad--bos Ayah yang di Sumenep--sebagai pihak produksi, Ayah dan orang tuanya Mas Farhan sebagai pihak pembeli yang kemudian memasarkan. Ayah di Bangkalan, Bu Rasti dan Pak Faridzi di Surabaya. Bahkan tidak jarang ada pemesan yang lintas kabupaten dan provinsi.


Dan, ya ... alhamdulillah. Usaha mereka berjalan lancar. Tentunya berkat kerja keras ketiga belah pihak, teriring takdir dari Sang Mahakuasa. Salah satu buktinya adalah Ayah. Semenjak bekerja sama dengan orang tuanya Mas Farhan dan Pak Ahmad, beliau sering bolak-balik Sumenep-Bangkalan, Bangkalan-Surabaya, bahkan ke luar kota demi mengais rezeki untuk menafkahi kami. Sungguh, pengorbanan Ayah begitu besar.


"Ayah, Ayah enggak capek bolak-balik terus?" tanyaku begitu ada kesempatan mengobrol berdua dengannya.


Ayah tersenyum lembut ke arahku. Tatapannya selalu meneduhkan. Pria itu menatapku penuh kasih sayang. "Senyum yang terbit di bibir anak-anak Ayah saat apa yang diinginkan terwujud, membayar semua lelah Ayah, Nak."


Aku terdiam menyimak ucapan Ayah. Padahal waktu itu aku menyadari raut kelelahan di wajah Ayah, tetapi beliau masih bisa menampakkan senyum dan tidak menampakkan kepayahannya di hadapan kami.


"Selagi Ayah bisa bekerja, Ayah akan berusaha keras untuk kalian. Terutama kamu."


"Kenapa begitu, Ayah?"


"Kamu beda dari saudara-saudaramu yang lain. Di saat mereka banyak menuntut sama Ayah, kamu memilih diam. Padahal kamu punya banyak keinginan juga."


"Ayah akan melakukan apa pun buat anak-anak Ayah."


Tangisku makin tidak terkontrol kala ingatanku berhenti pada pernyataan Ayah tersebut. Kutatap wajahnya yang masih tampak tenang dalam istirahatnya.


Ya Allah, sanggupkah aku melihatnya bersedih? Bagaimana kondisi beliau saat tahu keadaan rumah tangga anaknya yang satu ini tidak sehat dari awal?


...***...


Alhamdulillah, akhirnya update juga. Maaf, ya. Agak telat. Dua hari kemarin ada beberapa kendala yang membuatku tidak bisa update. Tapi tenang. Aku sudah ada beberapa draf untuk mengganti yang kemarin. Jangan bosan menunggu cerita ini, ya.


Jangan lupa like, vote dan komentarnya. Aku senang, dan terima kasih kepada yang sudah men-support-ku dengan memberi like, vote dan komentar. 💙💙


Salam manis dari author manis. Hehe.


Sumenep, Madura, Jawa Timur


Jumat, 25 Juni 2021

__ADS_1


__ADS_2