
"Perempuan sepertimu tidak pantas bersanding dengan saya, Najwa."
Aku yang semula asyik menikmati pemandangan luar rumah lewat jendela kamar segera menoleh mendengar suara itu. Aku terkesiap begitu mendengar kalimat super datar dan dingin itu, apalagi menyadari siapa si pengucap. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi setiap inci tubuh saat melihat Mas Farhan mendekat ke arahku dengan menampakkan seringai jahat di wajahnya. Aura seram layaknya monster yang terpatri di wajah tampannya membuatku bergidik. Ingin menghindar, tetapi tubuh seperti dipancang di tempat berdiri. Tenggorokan terasa kering bak gurun pasir yang gersang. Bibir tergerak untuk berkata-kata, tetapi lidah terasa kelu. Tenaga yang ingin kukerahkan untuk berteriak pun seolah-olah raib entah karena apa. Adrenalin seakan-akan terus dipacu dengan cepat bak orang berkuda yang tidak bisa mengendalikan kuda yang ditumpanginya.
Ketakutan dalam diri ini makin menjadi-jadi ketika Mas Farhan terus mendekat. Yang lebih mengejutkan adalah saat dia mengeluarkan sebuah pisau lipat dari balik badannya.
"Sepertinya asyik kalau kita bermain-main dengan pisau kesayangan saya ini, ya?" Dia membuka pisau itu, kemudian menatapnya lekat-lekat, lalu beralih menatapku dengan seringai yang makin tercetak di bibirnya.
"Ja-ja ... ja-" Suaraku, astaga. Aku menatap penuh harap ke arah suamiku itu dengan mata berkaca-kaca. Tidak ada yang bisa kulakukan selain mengggeleng pelan, sebagai isyarat permohonan agar dia tidak melakukannya.
"Jangan takut, Sayang. Ini tidak akan menyakitkan, kok. Percayalah, suamimu ini tidak akan tega menyiksamu."
Bulir-bulir air mata yang menggumpal di pelupuk mata perlahan jatuh setitik demi setitik, hingga berderai dengan deras saat Mas Farhan sudah berdiri di hadapan. Kupalingkan pandangan demi menghindari tatapan tajamnya yang seolah-olah menembus mata. Andai kata-kata sayang itu tidak dia ungkapkan dalam keadaan seperti ini, betapa bahagianya aku.
Perlahan, sebelah tangannya merangkul pundakku dari samping. Membuat tubuh makin bergetar karena takut. Sebelah tangannya itu memaksaku untuk menghadap ke depan, ke arah di mana dia mengacungkan pisau lipatnya.
"Rileks, Najwa Sayang. Jangan menangis. Saya berjanji, ini tidak akan menyakitkan. Tidak akan terjadi apa-apa, Sayang." Dia terkekeh setelahnya. Kekehan yang terdengar meremehkan itu menghadirkan nyeri dalam dada.
Sungguh, aku tidak menyangka kenapa suamiku bersikap layaknya psikopat begini? Bagaimana bisa dia berbicara seringan itu? Tidak tahukah dirinya bahwa membayangkan tubuhku disayat-sayat, bahkan dicincang-cincang layaknya daging sapi dengan pisau di tangannya itu sudah membuatku merasakan sakit tidak terhingga? Apalagi jika itu benar-benar terjadi?
"Kamu cantik, Najwa. Tapi ... suamimu ini kurang puas dengan kecantikanmu. Bagaimana kalau saya dandani kamu dengan pisau ini?"
Tangisku makin pecah. Aku seperti mati terlebih dahulu sebelum dihabisi.
Apa yang ada dalam pikiranmu, Mas?
Kupejamkan mataku erat-erat, karena hanya itu yang bisa kulakukan. Sedikit saja aku bergerak, maka pisau yang sudah bertengger di pipi kanan ini pasti melukaiku. Rapalan doa dalam hati terus kulantunkan, memohon perlindungan dari sifat kejam suamiku ini.
Dia lalu tertawa terbahak-bahak. Sebahagia itu dia melihatku menderita?
"Ah, pasti menyenangkan." Dia berbisik dengan suara yang benar-benar membuatku ngeri. "Saya akan buat kamu menjadi perempuan paling beruntung karena saya sendiri yang melakukannya, Najwa."
Beruntung dari mana, Mas? Ya Tuhan, keluarkan suaraku.
"Kita mulai dari mana permainan ini, Sayang? Oh, sepertinya dari kedua pipimu ini bagus, ya?" Dia menggerakkan tangan, memindah pisau yang semula berada di pipi kanan, beralih ke pipi kiri. Bahkan pisau itu baru menyentuh pipi, mulut sudah mendesis ngeri. Bayangan akan seperti apa rasa sakit yang akan kualami saat benda itu berhasil menggores pipi ini membuatku terus mengeratkan pejaman mata.
"Ja-ja ... jangan, Mas," lirihku diikuti isak tangis. Akhirnya suaraku keluar juga.
__ADS_1
"Apa, Sayang? Mas tidak dengar?"
Apa yang harus kulakukan? Bagaimana cara menghentikan Mas Farhan?
Kupaksa lidah untuk kembali berkata-kata. "Ma-Mas, kumohon hentikan." Suaraku masih bergetar.
Dia tertawa terlebih dahulu. "Tidak semudah itu, Sayang. Saya tidak puas jika apa yang saya inginkan belum terlaksana."
"Ma-Mas Farhan mau apa?"
Dia terbahak-bahak sesaat setelah mendengar pertanyaanku. Dia kemudian menurunkan pisaunya dari pipi, lantas mengarahkannya ke arah perut. Dia menghadapkan tubuhku ke arahnya dan menatap tajam.
"Tentu saja saya ingin mengirimmu ke alam lain agar tidak bisa mengusik kehidupan saya."
Bola mataku melebar.
"Apa salahku, Mas?"
"Oh, kamu ingin tahu? Baiklah. Karena saya sedang baik, saya kasih tahu. Saya membencimu, Najwa. Karena kamu menyetujui perjodohan itu."
Aku terlonjak saat benda tajam itu menembus perut. Saking terkejutnya dengan tindakan Mas Farhan aku hanya bisa merintih kesakitan seraya menatapnya lamat-lamat dengan air mata terus berlinang. Perlahan aku merasa lemas, pandangan buram dan tubuhku tiba-tiba ambruk.
"Kamu pantas mati, Najwa!"
...***...
"Astaghfirullahal azim!" teriakku. Segera kubuka mata kemudian terduduk seketika. Kuraba pelipis ternyata sudah basah oleh keringat. Ada tetesan air mata yang juga membasahi pipi. Kuedarkan pandangan ke sekeliling kamar baruku ini. Deru napas yang semula memburu karena ketakutan yang masih terasa, berangsur ringan. Kupegangi kepala seraya menyandarkan tubuh di kepala ranjang, karena masih syok.
Ya Allah, ternyata hanya mimpi. Aku tidak bisa membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi.
Setelah merasa cukup tenang, dan mengusap keringat itu dengan sebelah tangan, kulirik sisi ranjang di sebelahku. Ternyata kosong.
Di mana Mas Farhan?
Dengan isakan yang masih tersisa, aku menyingkap selimut tebal yang membalut tubuh, kemudian turun dari tempat tidur berniat mencari keberadaan Mas Farhan.
Aku tertegun begitu melihatnya tidur meringkuk di lantai ruang depan rumah kami dengan beralaskan selembar selimut tipis, dan lengan yang dijadikan bantalan kepala. Kulihat televisi di sana serta laptopnya masih menyala. Ada beberapa berkas yang berserakan di samping laptop itu. Mungkin dia ketiduran saat menonton televisi, dan belum menyelesaikan pekerjaannya. Pantas saja dia buru-buru memboyongku ke sini tadi sore.
__ADS_1
Kasihan sekali, sih, suamiku ini. Dia kerja di mana, sih? Kerja apa? Masa tidak ada jatah libur sehari saja? Harusnya pengantin baru dikasih jadwal libur, 'kan?
Aku menggeleng pelan, tidak habis pikir dengan diriku. Bagaimana bisa aku tidak tahu pekerjaan suamiku sendiri? Tidak masalah jika kalian mau memprotesku. Aku terima, karena memang itu kenyataannya. Aku tahu tentangnya dari Ayah. Namun, setiap apa yang diceritakan orang pasti berbeda dengan ketika kita sendiri yang mengenalnya, 'kan?
Kulirik jam dinding, menunjukkan pukul 00.00. Kutatap wajah Mas Farhan sebentar, kemudian beranjak memasuki kamar untuk mengambil selimut juga bantal untuknya. Setelah mengganti lengannya dengan bantal yang kubawa dan membalutkan selimut tebal itu pada tubuhnya yang terlihat kedinginan, aku memilih untuk tidur di sampingnya. Tentu saja menghadap ke arahnya. Ini adalah hal yang harus kusyukuri. Bisa menikmati wajahnya yang rupawan dalam jangka waktu yang lama, walaupun dia dalam keadaan tertidur.
"Selamat malam, Mas. Selamat beristirahat, dan mimpi indah, ya."
Ironis, bukan? Pada saat seharusnya kalimat itu kuucapkan saat dia akan beristirahat dan dalam keadaan sadar, aku malah mengucapkannya saat dia terlelap begini. Sikap yang dia tunjukkan tadi menumbuhkan keyakinan dalam diri bahwa dia tidak akan menerima ucapan seperti itu jika dia tahu.
...***...
Sayup-sayup kudengar azan Subuh berkumandang. Meski sedikit kesulitan untuk membuka mata, aku memaksanya. Pemandangan pertama yang aku lihat adalah wajah Mas Farhan yang masih terlelap dalam tidurnya. Aku menyunggingkan senyum melihat wajahnya yang tenang. Senyum itu makin merekah karena bahagia ketika mendapati lengan kekarnya melilit pinggangku. Posisi kami masih sama dengan semalam, itu artinya Mas Farhan memang belum terbangun sama sekali. Aku memilih berdiam diri saja, demi menunggunya terbangun.
Lagi-lagi senyum manis pun tidak bisa luput dari bibir saat aku melihat Mas Farhan menguap. Dia mengucek-ngucek matanya terlebih dahulu untuk mengumpulkan kesadaran.
Allah, betapa indahnya nikmat-Mu yang satu ini.
"Najwa, apa yang kamu lakukan?" Dalam sekejap, lengan yang semula melilit pinggang terlepas. Mas Farhan segera bangkit kemudian menatap tajam, membuatku sedikit takut. Aku menyusulnya bangkit dari tempat tidur.
"Mas Farhan kenapa kaget gitu? Aku nakutin, ya, Mas?" tanyaku takut-takut.
"Semalam kamu tidur di sini?" Malah bukan jawaban yang aku dapatkan. Aku memutar bola mata malas atas tanggapan Mas Farhan.
"Iya, Mas. Kenapa?" Aku bertanya dengan memasang raut wajah lugu. Padahal aku bisa menebak kalau Mas Farhan pasti kesal dengan kelakuanku yang satu ini. "Lagian Mas aneh-aneh aja. Sudah disediain kamar untuk tidur, malah tidur di luar. Aku nggak tega lah. Masa suami aku tidur di luar, tanpa alas dan bantal juga selimut, istrinya enak-enakan tidur di dalam, di atas kasur lagi, lengkap sama bantal dan selimutnya." Aku mencoba mengeluarkan pendapat. Meski takut, aku harus terbiasa begini. Jika tidak, aku akan kesulitan untuk meluluhkan Mas Farhan. Cukup lama aku menunggu responsnya, tetapi tidak ada. Menyebalkan, bukan?
Mas Farhan bangkit dengan agak kasar, meninggalkanku yang lagi-lagi tercenung meratapi nasib menjadi istri tidak dianggap ini.
...***...
Salam manis dari orang manis.
Khairotin Najmah
Sumenep, Madura, Jawa Timur
Minggu, 13 Juni 2021
__ADS_1