Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Bagai Disuguhi Api


__ADS_3

Menyandarkan punggung ke sandaran dipan seraya memejamkan mata, aku terus-menerus mengembuskan napas panjang. Baru membaca separuh saja rasanya sudah tidak sanggup untuk melanjutkan. Mengetahui fakta menyakitkan akibat ulah sendiri kepada Najwa lewat tulisan sudah membuatku merasa bersalah tak keruan. Bagaimana caranya selama ini Najwa bertahan? Teringat kembali masa-masa kelam yang sudah kuciptakan dalam hubungan rumah tangga kami beberapa waktu yang lalu ternyata memicu perasaan bersalah itu makin membesar. Kupegang erat buku diary di genggaman, seolah-olah meluapkan semua emosi terhadap benda itu.


“Sialan, kamu, Farhan!” Sekali lagi, umpatan itu yang terlontar dari bibir ini.


Setelah beberapa waktu, kubuka mata kembali, lalu melanjutkan bacaan yang tersisa. Meski rasanya tak sanggup karena tahu isinya pasti semua tentang penderitaan Najwa, rasa penasaran lebih mendominasi.


Bagaimana jika ayahku tahu? Atau saudara-saudaraku, terutama Mas Reza? Apa mereka bisa menerima perlakuanmu atasku? Pasti enggak akan. Apalagi Mas Reza. Itu alasannya kenapa aku memilih bungkam, Mas. Aku takut mereka malah memisahkan kita, padahal aku masih ingin berjuang lebih keras. Aku menyayangi dan mencintaimu. Itu alasanku berjuang.


Kalian tahu apa yang aku rasakan? Kecewa. Ya, kecewa pada diri sendiri karena telah menyia-nyiakan perempuan sebaik dan setulus Najwa.


“Dan sekarang para saudaramu sudah tahu, Najwa. Saya harus bagaimana? Apakah kamu akan tetap berjuang?”


Aku mengacak rambut sebentar saat kata-kata gugat cerai yang Najwa ucapkan sebelum dia pergi. Kusandarkan tubuh ke kepala dipan, menatap buku itu lekat-lekat. "Kamu tidak sungguh-sungguh ingin pisah dari saya kan, Najwa? Saya akan membersamai langkahmu untuk memperjuangkan pernikahan kita, Najwa. Saya akan datang untuk kamu.”


Ini adalah keputusan yang kuambil. Siap tidak siap, aku memang harus melepas salah satunya. Dan yang paling utama adalah mengambil keputusan yang seharusnya aku ambil dari awal. Kutatap kembali buku diary Najwa itu. “Tapi saya tidak tahu entah kapan akan memulai semuanya, Najwa. Saya butuh waktu, kamu pun pasti butuh waktu untuk memulihkan kesehatan kamu.”


Kesal, aku melemparkan buku itu ke sembarang tempat. Bisa-bisa gila aku kalau begini terus. Emosi negatif yang terus meluap serta ketakutan-ketakutan yang menghantui selalu berhasil menciptakan kekacauan dalam diri. Sudah kubaringkan tubuh dengan telentang di tempat tidur, mata juga sudah terpejam, tapi gagal. Kekacauan yang mendominasi membuat tidak bisa terlelap. Frustrasi, aku bangkit kembali dari tempat tidur. Celingak-celinguk sebentar ke sekitar kamar, akhirnya tatapan ini kembali tertuju pada buku diary Najwa yang tergeletak di lantai. Terdiam sejenak seraya memandangi buku itu, akhirnya aku menurunkan kaki lalu meraih buku itu lagi, dan ya ... aku kembali melanjutkan bacaan itu.

__ADS_1


Aku enggak tahu sampai kapan kamu akan bertahan dengan sikap pemarah dan dinginmu itu kepadaku. Satu harapanku, Mas. Semoga aku ditakdirkan menaklukkan hatimu. Sungguh, aku sangat mencintaimu dan berharap kita bisa menjalani pernikahan ini sampai akhir. Sampai kita dipisahkan oleh ajal. Entah aku yang dipanggil terlebih dahulu, ataupun kamu. Jika boleh meminta, aku ingin akulah yang pergi terlebih dahulu. Kenapa? Karena aku takut tidak kuat ditinggalkan olehmu, Mas. Tapi ... jika memang kita tak ditakdirkan bersama sampai akhir, aku bisa apa?


Perasaan tak rela melepas Najwa kembali merasuki hati usai membaca kalimat terakhir. Kutatap lekat buku itu seolah-olah sedang berahdapan dengan Najwa. “Tidak, Najwa. Kita harus bersama sampai akhir. Saya akan melakukan apa pun untuk mempertahankanmu.” Jari telunjuk menuding buku itu. “Kamu dengar ‘kan tadi saya bilang apa? Saya akan datang, untuk kamu, Najwa. Saya akan mengakui semuanya sama orang tua kita dan menebus semua penderitaan yang kamu alami selama ini. Catat itu!”


Tatapan ini terus menyorot tajam buku itu. Meski rasanya tubuh mulai terbakar karena sejak pertama membaca buku itu sudah seperti disuguhi api pada setiap kalimat-kalimatnya, aku masih mencoba menekankan pada diri untuk menyelesaikan bacaan itu.


Entah tulisan ini bisa dibaca atau tidak olehmu, enggak apa-apa, Mas. Lagipula, ini hanya sarana peluapan emosi saja. Karena selain aku yakin enggak bakal bisa kamu baca, jika emosi enggak diluapkan, aku khawatir diriku drop. Aku enggak mau itu terjadi.


Ternyata, setiap orang mempunyai caranya masing-masing untuk meringankan beban masalahnya. Kamu memang benar-benar kuat, Najwa. Kamu sanggup bertahan sampai sejauh ini, hanya dibantu oleh cara sederhana ini. Ya meskipun aku tahu ini semua tidak lepas dari pengawasan-Nya. Bodoh sekali aku, kan? Betapa beruntungnya aku diberikan istri yang kuat seperti Najwa. Andai bukan dia yang menjadi istriku, mungkin dia sudah menggugat cerai sejak awal, kan? Baktinya kepada orang tua, sampai mengorbankan perasaan dan hidupnya, itu benar-benar mengagumkan. Aku baru sadar sekarang, setiap orang pasti memiliki sisi kurang dan lebihnya masing-masing.


Oh, iya. Kamu tahu, Mas? Saat kamu marah dan memasang raut dingin di wajahmu, kamu terlihat lebih tampan. Ah, percaya enggak? Terserah kamu, sih. Mau percaya tidak apa-apa, tidak pun tidak masalah.


Cinta memang kadang gila. Bisa-bisanya dia jatuh pada orang yang salah. Ah, tidak. Bukan cintanya yang gila, tapi orang yang punya cinta itu yang gila. Sudah tahu akan menderita dengan mencintai, malah tidak mau berhenti. Eh, tunggu. Sama saja dengan aku mengatakan diriku gila dong?


“Astaga. Heran banget sama kamu, Han.”


Apa aku sanggup menghadapimu lebih lama lagi, Mas?

__ADS_1


Aku sempat tertegun membacanya. “Kamu pasti sanggup, Najwa. Saya tahu kamu perempuan tangguh.”


Sebenarnya, kamu baik, Mas. Meskipun terkesan dingin, ada perhatian yang tersirat dalam ucapan maupun tindakanmu. Itu yang membuatku yakin untuk memperjuangkanmu. Maaf, ya. Aku banyak protes sama kamu. Bahkan kamu mengecapku cerewet. Tapi tidak apa-apalah. Kuterima. Lagipula aku cerewet juga demi kamu, Mas. Aku ingin kamu mengeluarkan suaramu untukku. Daripada diam-diam saja, 'kan?


Selamat beristirahat, Suamiku tercinta. Semoga mimpi indah, ya. Maaf, aku mencuri ciuman di keningmu. Karena aku tahu kamu tidak akan mengizinkan jika kamu tidak terlelap.


Aku sedikit membeku membaca kalimat itu. Beberapa waktu kemudian, sebelah tangan ini meraba kening, bahkan sempat terlintas bagaimana waktu itu dia melakukannya? Najwa, ternyata ....


“Farhan!”


***


Halo, siapa yang nungguin Mas Farhan? Maaf, ya. Kemarin Mas Farhan lagi jalan-jalan, refreshing dia, gara-gara stress ditinggal Najwa. 😂😂😂


Komen kuy. Bentar lagi bakalan seru. Mas Farhan sebentar lagi menemui ayahnya Najwa, Genks.


Sumenep, Madura, Jawa Timur

__ADS_1


Jumat, 24 September 2021


__ADS_2