Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Tetaplah Kuat, Najwa


__ADS_3

Masih berada dalam kamar, aku mendudukkan diri di tempat tidur. Kusandarkan punggung di sandaran dipan, kemudian menumpu dagu di atas lutut yang kulipat di depan dada. Mendesah pelan kemudian memejamkan mata sejenak, aku mengurut pelipis karena terasa pening.


Sungguh melelahkan hidupku. Hidup sama Mas Farhan benar-benar menguras emosi.


Kadang, aku sempat berpikir untuk mundur saja dari perjuangan ini. Bagaimanapun, aku ini manusia biasa. Bisa lelah saat apa yang diperjuangkan tidak kunjung terwujud. Namun, saat rasa itu menyelinap, bayangan wajah Ayah, Bunda dan Bapak yang terlihat gembira sekali pascapernikahan kami digelar ikut mengisi ruang otak. Mengingat bagaimana cerianya mereka, bagaimana bersemangatnya mereka menanyakan calon generasi penerus mereka di masa depan, apa aku bisa tega kepada mereka?


Lalu kesadaran bahwa pasti bukan hanya aku saja yang pernah berada di fase ini pun membantu menguatkan. Keyakinan bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian ini untukku jika aku tidak mampu pun ikut berperan memberi suntikan semangat. Lagi pula, ada hal-hal yang harus kusyukuri dari sikap Mas Farhan. Sekalipun dia tidak menerimaku dari awal, tetapi makin ke belakang, sikapnya perlahan berangsur membaik. Dia bisa menempatkan posisi. Aku menyadari itu saat dia bersama Ayah dan Mas Reza. Dan aku benar-benar berharap itu akan menjadi salah satu indikasi kalau suatu saat dia akan berubah. Semoga saja.


"As-salamu 'alaikum."


Panggilan salam dari luar rumah mengalihkanku dari segala macam pemikiran yang bertebaran dalam otak sejak kepergian Mas Farhan.


Membenarkan posisi kerudung kembali, lalu menilik sebentar raut wajah di cermin kecil di samping tempat tidur, aku lantas beranjak untuk keluar kamar. Tidak ada tanda-tanda seseorang yang muncul sesaat setelah panggilan salam itu terdengar. Mas Reza pasti sedang beristirahat. Karena saat kulihat jam dinding di depan kamar, sudah menunjukkan pukul 13.00. Pantas saja. Ayah pun pasti sama. Dan Mas Farhan, aku tidak tahu.


Menarik napas panjang sebentar, aku lantas melangkah cukup cepat untuk membuka pintu, karena mengenali suara siapa yang datang. Itu suara Mas Gibran, kakakku yang pertama. Seraya menjawab salam itu dari dalam, aku membukakan pintu rumah.


Wajahku perlahan berseri-seri saat pertama membuka pintu, wajah Mbak Diva yang kudapati.


"Hei, kapan sampai di sini, Dik?"


Senyumku merekah saat pertama kakak iparku itu menyambut dengan sapaan hangat. Perempuan berusia tiga puluh lima tahunan itu lantas memelukku beberapa waktu, seperti yang kami lakukan ketika bertemu.


"Baru aja sampai, Mbak."


"Owalah. Tadi pagi Mbak telpon Reza, katanya kamu belum berangkat."


"Perjalanan ke sini kan enggak terlalu jauh, Mbak. Mas Farhan juga berangkatnya awal banget biar enggak kejebak macet."


Mbak Diva hanya manggut-manggut menanggapi kalimatku barusan.


"Oh, iya. Mas Gibran di mana, Mbak? Mbak Diva sama Mas Gibran bawa Nayla dan Syeila?"


"Iya, Dik. Masmu lagi di mobil, bangunin mereka sama ambil barang-barang juga."

__ADS_1


"Yang, bantuin dong. Berat ini!" Suara itu bersumber dari Mas Gibran. Pandanganku pun beralih menatap kakakku yang berdiri di dekat bagasi mobilnya. Lelaki berkulit kehitaman dengan sedikit jenggot di dagunya itu terlihat kesusahan membawa barang-barang bawaan mereka.


"Nah, tuh. Orangnya sudah teriak-teriak."


Aku dan Mbak Diva serempak tertawa pelan. Mas Gibran itu tipe lelaki yang mandiri sedari kecil. Meskipun sama sih dengan Mas Reza. Namun, semenjak menikah, ada saja kelakuannya yang kata Mbak Diva suka bikin naik darah dan terkesan usil. Seperti sekarang ini, manja. Padahal bisa angkat sendiri barang-barangnya.


"Mas, jangan lebay, deh," sahut Mbak Diva.


"Bukan lebay, Yang. Ini beneran, lo. Bantuin, ya, Sayangku."


Tawaku makin pecah melihat interaksi mereka berdua. Apalagi melihat ekspresi Mbak Diva yang memanyunkan bibir, saat Mas Gibran malah mengedip-ngedipkan mata ke arah istrinya itu seperti lelaki hidung belang. Eh. Meski begitu, kakak iparku itu melangkah mendekati kakakku yang satu itu kemudian meraih satu tas yang ditenteng oleh Mas Gibran.


"Mas udah dari tadi nyetir, masa masih disuruh bawa ini, sih, Yang?"


Kakak iparku itu mendesah pelan. "Mas, sudah menjadi tugas suami siap siaga untuk istrinya."


Dan aku hanya bisa menggigit bibir bawah, dan tediam bak patung pajangan menyaksikan keuwuan kedua orang yang saling mencintai itu. Keduanya sangat harmonis. Bahkan saat usia pernikahan mereka tidak lagi baru. Sudah ada dua anak yang hadir di tengah-tengah keduanya. Akan tetapi keadaan rumah tangga Mbak Diva dan Mas Gibran tampak makin harmonis.


Aku masih berdiri di depan pintu, menyaksikan adegan romantis yang sukses membakar ubun-ubun.


"Manja." Mbak Diva memutar bola mata.


"Manja sama istri sendiri enggak dosa, Yang."


Lagi-lagi aku menggigit bibir bawah melihat adegan mesra itu. Bisa-bisa meleleh aku nih, kalau terus-terusan dipanasi begini. Ingin pergi saja, tetapi tidak enak. Nanti yang ada aku dikira enggan menyambut kedatangan mereka. Ish, apa sih.


Barang-barang bawaan mereka--satu koper, satu tas jinjing dan dua kardus yang entah apa isinya itu--sudah bertengger di dekatku. Akan tetapi aku malah masih asyik menyaksikan kegiatan Mbak Diva dan Mas Gibran yang mau membangunkan Nayla dan Syeila di mobil.


"Aw!"


Aku membeliakkan mata mendengar teriakan Mbak Diva. Buru-buru aku menghampiri perempuan itu. Mas Gibran yang beranjak menuju pintu samping kiri pun buru-buru menghampiri istrinya.


"Kenapa, Yang?"

__ADS_1


Wajah Mas Gibran terlihat panik. Sigap, dia meraih tangan Mbak Diva yang ternyata tidak sengaja terjepit pintu saat akan membangunkan Syeila yang tidur di bangku sisi kanan.


"Makanya hati-hati, Yang." Mas Gibran meniup-niup pelan jemari Mbak Diva, seraya mengusap-usapnya perlahan. Mungkin sebagian dari kalian akan berpendapat bahwa sikap Mas Gibran berlebihan, lebay dan segala macam. Akan tetapi untukku yang tidak terbiasa dengan adegan-adegan semacam itu ....


Uh, betapa perhatiannya kakakku yang satu itu, ya Tuhan. Andai Mas Farhan melakukan hal yang sama dengan Mas Gibran ....


Seketika aku mendesah pelan. Jangankan pada hal-hal kecil seperti tidak sengaja terjepit pintu, hal yang cukup krusial seperti perasaanku saja, Mas Farhan seperti tidak peduli. Dan pada akhirnya kembali pada ratapan itu kembali. Sungguh mengenaskan.


"Udah enggak sakit?" Suara Mas Gibran mengalihkanku dari pemikiran tentang suamiku itu. Kulihat dia mendongak, menatap Mbak Diva.


"Sudah enggak, Mas." Raut lega yang terpancar dari wajah Mas Gibran juga menghadirkan lega dalam hatiku.


"Syeila sudah bangun belum, Yang?"


"Belum. Itu aku sudah bangunin dari tadi, malah makin nyaman tidurnya sama si Mbak."


Mbak yang dimaksud kakak iparku itu Nayla. Jadi, Nayla anak tertua dan Syeila itu adiknya. Kenapa malah bahas itu, sih. Akan tetapi, tidak masalah, sih. Sekadar informasi saja. Siapa tahu ada yang penasaran. Duh, otakku ya Allah. Makin tidak keruan. Ini pasti gara-gara iri melihat kemesraan kakak dan kakak iparku.


Em ... sabar, Najwa. Tetaplah kuat, dan teruslah berjuang. Semoga suatu saat kamu bisa merasakan diperhatikan oleh orang yang benar-benar kamu cintai.


Mas Gibran begitu telaten. Dia membangunkan kedua anak-anaknya dengan lembut.


"Lo, Mas Gibran sudah sampai?"


...***...


As-salamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Apa kabar kalian semua? Maaf, ya. Sudah lama sekali aku enggak update. Hiks. Aku sakit, suka kurang fokus juga dalam menulis. Maafkan, ya. Doakan semoga aku cepat sehat, sehingga bisa meneruskan cerita ini lagi. Terima kasih.


Jangan lupa like, vote dan komentarnya, ya.


Salam manis dari author manis.


Sumenep, Madura, Jawa Timur

__ADS_1


Kamis, 8 Juli 2021


__ADS_2