Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Malah Kembali Bertemu


__ADS_3

Entah kapan aku terlelap, dan entah sudah berapa lama aku tertidur, perlahan kubuka mata saat mendengar sayup-sayup suara anak kecil di sekitarku.


"Hey, Nayla? Ada apa?" Aku bangkit dari tempat tidur, kemudian bersandar di sandaran dipan. Kutatap lekat-lekat wajah ponakanku itu.


"Tante Awa kenapa?" tanyanya. Raut yang ditampakkan ponakan pertamaku ini sangat menggemaskan. "Tante Awa sakit?"


Duh, anak sekecil Nayla sudah tahu bertanya begitu. Eh, tetapi usia Nayla sudah lima tahun. Maklumlah. Sudah mulai bisa berpikir.


Aku tersenyum sebentar. "Tante Awa cuma pusing, sakit kepalanya."


Nayla tampak mengangguk-angguk kecil. Entah paham beneran, aku tidak tahu.


"Sini naik, Sayang." Aku memberinya isyarat dengan lambaian tangan kemudian menunjuk sisi kosong tempat tidur. Betapa lucunya ponakanku ini. Dia langsung menuruti kata-kataku dan naik ke tempat tidur dengan caranya sendiri. Sesaat kemudian, dia sudah duduk bersila di depanku. Entah inisiatif dari mana, bocah lima tahun itu tiba-tiba meraba keningku.


"Sudah enggak panas. Berarti Tante Awa sudah sembuh, ya?"


Aku menjawil hidung ponakanku ini, seraya terkekeh pelan. "Hei, Nayla tahu dari mana kalau sudah tidak panas artinya sembuh?"


"Kata Papa." Aku mengerjap sebentar. Apa Mas Gibran ke sini tadi?


Aku sedikit menundukkan badan ke arah Nayla. Kutatap dia cukup lekat. "Oh, iya. Nayla ke sini sama siapa tadi, Sayang?"


"Sama Papa dan Om Reza. Tapi katanya Papa sama Om Reza mau ke kamar mandi dulu. Nayla suruh jagain Tante takut diculik orang."


Bibirku terbuka sedikit mendengar penjelasan Nayla. Maksudnya apa coba sampai bilang begitu sama Nayla? Ya kali ke kamar mandi janjian? Ada-ada saja.


Pasti Mas Reza dan Mas Gibran ke sini mau memastikan keadaanku. Pantas saja ada kompresan di nakas. Saking lelahnya aku sampai tidak merasakan air kompresan. Hadeh! Aku terbangun, malah karena terganggu oleh suara Nayla itu.


"Tante Awa kan sudah sembuh, main sama Nayla, yuk?"


Dasar anak kecil. Enggak tahu kepala pusing. Mau menolak, nanti Nayla ngambek. Kalau dituruti yang ada aku makin kelelahan. Aku makin dilema saat ponakanku ini memasang raut melas di wajahnya. Aduh, Nayla drama sekali, sih? Ini pasti sifat Weny atau Rifka yang menurun, nih.


"Mau, ya, Tante?" rengeknya.

__ADS_1


"Nayla, Tante masih butuh istirahat, Nak." Aku mencoba menjelaskan, siapa tahu Nayla mau mengerti.


"Tapi kan Tante udah enggak panas. Tante Awa udah sembuh, kan?"


Aku menghela napas berat. Bagaimana caranya membujuk Nayla? Kutolehkan kepala ke pintu, berharap ada Mas Reza atau Mas Gibran agar salah satu dari keduanya saja yang membawa Nayla untuk bermain. Namun, cukup lama aku menunggu, tidak ada tanda-tanda orang mau lewat.


"Ayo main, Tante!" teriak Nayla tiba-tiba. Kepalaku terasa pening kembali mendengar teriakan itu. Kupejamkan mata sejenak, dan Nayla terus merengek.


"Bagaimana kalau Nayla main sama Om Farhan saja?" Terdengar suara berat yang menginterupsi percakapanku dengan Nayla. Aku membuka mata, kemudian menoleh ke arah pintu bersamaan dengan Nayla. Aku menghela napas berat lagi melihat suamiku beranjak ke arah kami.


"Gimana? Mau main sama Om Farhan?"


Namanya anak kecil, Nayla dengan mudah mengiyakan kata-kata Mas Farhan. Dia lantas turun untuk mendekati omnya yang sudah berdiri di dekatnya. Begitu Nayla mengangguk setuju, keduanya malah langsung saling berpelukan. Sudah seperti drama sinetron saja.


"Uh, anak cantik ini anaknya siapa, sih?" kata Mas Farhan.


Sok perhatian.


"Anaknya Mama Diva dan Papa Gibran, dong, Om."


"Mainnya sama Tante Awa juga, kan, Om?"


"Nayla, main sama Om Farhan aja, ya, Sayang?" Menyebalkannya bocah kecil itu, dia malah mulai merengek kembali, bahkan menangis. Padahal kupikir dengan adanya Mas Farhan, dia tidak jadi mengajakku. Drama sekali.


"Hei, anak cantik enggak boleh nangis. Cup, Sayang."


Yang bicara sama Nayla itu suaminya siapa, sih? Bijak amat.


Jiwa keayahan sepertinya ada dalam diri Mas Farhan. Buktinya dia sedikit tahu soal membujuk anak yang sedang menangis.


"Nayla mau main sama Tante Najwa?" Bocah itu dengan cepat mengangguki pertanyaan Mas Farhan. "Tunggu di sini sebentar. Biar Om yang bujuk Tante biar mau main sama Nayla. Gimana?"


Nayla mengangguk. "Bilang, Om. Nanti dibeliin es krim kalau mau main sama Nayla."

__ADS_1


Astaga, dikira apaan coba?


"Iya, Sayang. Nayla tunggu sini, ya." Aku menatap nyalang ke arah Mas Farhan yang mulai mendekatiku.


"Saya tahu kamu masih marah sama saya. Tapi enggak gini juga, Wa. Kamu enggak kasihan sama ponakan kamu?"


"Mas, kamu ini tahu kalau aku lagi sakit, kan? Itu alasan aku enggak mau main sama Nayla. Aku pengin istirahat."


Dia terdiam sejenak, kemudian membalikkan badan. Dia lantas meninggalkanku dan kembali ke arah Nayla yang masih berdiri di dekat meja hias.


"Tante Najwa mau istirahat, katanya, Sayang." Sejujurnya aku tidak tega melihat ekspresi yang ditampakkan Nayla begitu mendengar ucapan Mas Farhan. "Ya udah, kita main sama Dek Rizqun dan Tante Rifka aja, yuk."


Aku langsung naik darah mendengar nama itu disebut lagi. "Nayla, ayo kalau mau main sama Tante."


Meski masih sedikit pusing, kuturunkan tubuh dari tempat tidur, mengambil kerudung dan memasangnya dengan cekatan. Entah mengapa, aku seperti tidak ingin Mas Farhan kembali berdekatan dengan Rifka.


"Yeay! Ayo kita ke taman samping rumah, Tante."


Ya Allah, Nayla. Kamu enggak tahu saja apa alasan tantemu ini mau main sama kamu, Nak.


Dengan langkah gontai, aku pun mengekor di belakang Nayla yang berjalan beriringan dengan Mas Farhan.


Andai kami yang mempunyai anak seperti Nayla.


Segera kutepis pikiran itu.


Niat hati menyetujui ajakan main Nayla agar Mas Farhan terhindar dari Rifka, tidak terealisasi. Begitu tiba di taman samping rumah, di sana ada Rifka yang sedang menemani Rizqun. Malah kembali bertemu. Entah di mana keberadaan Rifki.


"Hei, Mas Farhan, Nayla!"


***


Hai, lama sekali aku tidak update, ya. Maafkan aku. Aku sakit lagi. Baru mulai mendingan ini. Semoga masih ada yang menunggu kisah ini. Terima kasih.

__ADS_1


Sumenep, Madura, Jawa Timur


Senin, 30 Agustus 2021


__ADS_2