
"Najwa, ayo ngomong, Dek," pinta Mas Gibran lembut. Najwa tidak lantas mau menjawab. Dia masih berusaha meredakan tangis di pelukan Mbak Diva.
"Ayo, bicara sebisa kamu," pelan Mbak Diva seraya mengelus kepalanya yang terbalut kerudung. Cukup lama waktu berlalu, Najwa akhirnya mengurai pelukan dari Mbak Diva. Dia usap jejak air mata di pipinya dengan punggung tangan. Orang pertama yang dia tuju adalah Rifka.
"Ka, dengan sadar sesadar-sadarnya, Mbak minta maaf sama kamu," ucapnya dengan suara parau. "Maaf karena keberadaan Mbak selalu memicu rasa iri dalam diri kamu."
Bahkan setelah Rifka menyakitinya berulang kali, Najwa masih sempat meminta maaf. Ya Allah.
"Tapi Tolong, kamu sudah dewasa. Tolong kurangi sikap seperti itu. Jangan suka memandang apa-apa dari yang tampak di luar saja. Karena kamu enggak akan tahu bagaimana rasanya berada di posisi Mbak, atau siapa pun itu. Mau ke Mas Reza, Mas Gibran, bahkan Weny sekalipun."
Karena tidak mendapat respons dari orang yang dituju, dia lantas berbalik kepada Ayah. Kulihat ada air mata yang kembali meluncur dari sudut matanya. Dia kemudian menelungkupkan kepala di pangkuan Ayah dan mulai menangis kembali.
"Maaf, Ayah. Maafkan Najwa yang belum bisa benar-benar membahahagiakan Ayah." Pundaknya bergetar, tangisnya menjadi-jadi.
"Sudah, Najwa. Kamu tidak perlu meminta maaf."
"Tapi Najwa udah buat Ayah kecewa. Maaf, Ayah."
"Tidak, Nak. Sejauh ini kamu sudah berjuang dan itu sudah cukup buat Ayah. Ayo bangun." Ayah mengangkat kepala Najwa, kemudian menatapnya dalam.
Beliau memberi isyarat agar melanjutkan kata-katanya agar dia bisa segera beristirahat. Dia pun menurut.
Dia menoleh ke arah Ayah, Bapak, dan Bunda, secara bergantian. "Ayah, Bapak, dan Bunda, aku minta maaf karena menyembunyikan hal ini. Tapi jujur, aku melakukan semua ini buat kalian." Kulihat dia mengusap air mata dengan kasar. "Mungkin dari awal aku terima Mas Farhan karena kalian. Karena memang aku tidak punya alasan selain itu.
__ADS_1
Tapi sejak menikah, aku punya alasan kenapa harus menerima dia, yaitu karena dia suamiku. Awalnya aku pikir Mas Farhan bakal berubah, makanya aku mencoba bertahan, meski harus tersakiti. Aku makin yakin dia akan berubah karena beberapa hari terakhir ini dia memang bisa dibilang mulai perhatian sama aku."
Aku hanya bisa diam dengan bibir mengatup. Tentunya dengan perasaan bersalah yang meletup-letup karena telah menzalimi orang sebaik Najwa. Bahkan dia begitu optimistis meski kerap kusakiti selama ini. Dari sini, aku merasa sedikit mempunyai kesempatan untuk kembali dengan Najwa dan memperbaiki apa pun yang salah dalam hubungan kami sebelumnya. Hati kecilku mulai melangitkan doa-doa agar keinginan itu terwujud. Dan dengan hati ketar-ketir, aku terus menunggu kelanjutan ucapan Najwa.
Aku diam-diam menegang di tempat duduk saat Najwa tiba-tiba mengalihkan pandang ke arahku. Dalam sesaat tatapan kami bersirobok menciptakan getaran-getaran rindu kepada si penatap. Jujur, hari ini aku harus mengakui bahwa aku merindukannya—sangat merindukannya.
"Aku minta maaf karena udah buat kamu tersiksa dengan pernikahan kita, Mas." Suara Najwa mengalihkan aku dari wajahnya. "Maaf karena aku Mas enggak bisa meraih impian Mas."
Belum juga aku menjawab, Najwa tiba-tiba mengalihkan pandang lagi ke sisi lain. Apakah dia tidak betah berlama-lama bersitatap denganku? Padahal aku masih ingin bersuara.
"Ayah, Bapak, Bunda, aku rasa udah enggak akan sanggup melanjutkan pernikahan kami karena sampai saat ini Mas Farhan belum bisa terima aku."
Satu kalimat dari Najwa itu menyentakku. Dengan cepat aku menatap ke arahnya yang sama sekali tidak menatap ke arahku. Ingin aku menjawab bahwa apa yang dia katakan adalah salah. Tapi entah kenapa, suaraku terasa tercekat di tenggorokan. Aku hanya bisa menggeleng pelan, padahal Najwa tidak menatap ke arahku.
"Maaf, aku mau mundur dari pernikahan ini, Ayah."
Enggak. Itu enggak boleh terjadi!
Cepat, aku berpindah dari tempat duduk, dan beranjak ke sisi Najwa. Kuturunkan lutut di hadapannya.
"Najwa, saya mohon kasih saya satu kesempatan lagi untuk memperbaiki hubungan kita." Mataku sudah mulai berair. Entahlah. Mendengar keputusan Najwa terasa sangat menyesakkan. "Saya janji tidak akan berhubungan lagi dengan Rifka. Itu kan syarat yang kamu ajukan waktu itu di sini?"
Aku tidak peduli dengan suara tangis lain yang kuyakini adalah milik Rifka. Yang merupakan prioritasku saat ini adalah Najwa.
__ADS_1
Aku merasa frustrasi ketika Najwa malah diam saja. Apakah dia tidak mendengarku? Kehadiranku seolah-olah tidak ada di matanya.
Kuraih kedua tangannya untuk kugenggam. Meski awalnya berontak, akhirnya dia diam saja. Kutatap matanya yang berkaca-kaca itu lekat-lekat.
"Sayang, saya mohon. Saya akan berubah, Najwa. Saya akan menerima pernikahan kita. Tolong beri saya kesempatan untuk membuktikan sama kamu."
Dan respons menggeleng pelan yang diberikan Najwa benar-benar membuyarkan semua harapanku. Sudah tidak adakah kesempatan untuk aku memperbaiki diri? Benarkah?
"Saya telanjur kecewa sama kamu, Farhan. Cepat urus surat cerai untuk Najwa. Saya tidak rela anak saya lebih menderita lagi hidup bersama dengan laki-laki tidak bertanggung jawab sepertimu."
Aku menoleh ke arah Ayah yang masih menatapku dengan tajam. Sejenak aku menoleh ke arah Najwa, berharap dia akan membelaku di depan ayahnya. Tapi, sikap diamnya membuatku harus kembali menelan ludah kekecewaan.
Dengan masih mempertahankan genggaman di tangan Najwa, sementara tatapan mengarah kepada Ayah, aku menjawab, "Ayah, aku mohon, beri aku kesempatan untuk memperbaiki rumah tanggaku dengan Najwa."
Tatapan Ayah kian menajam. "Untuk apa, Farhan? Apa belum cukup waktu kamu menyiksa anak saya? Kamu tidak lihat seberapa besar dampak perbuatanmu terhadap anak saya? Bukan hanya sakit fisik, Farhan! Psikis dia terganggu! Menantu kurang ajar!" Bersamaan dengan itu, satu pukulan mengenai wajahku. Suara teriakan Bunda dan Rifka, dan Mbak Diva kembali terdengar memenuhi ruangan. Bahkan, Rifka sampai berpindah ke sisi ayahnya untuk mencegah beliau yang sepertinya belum puas meluapkan emosi hanya dengan sekali memukul.
"Sudah, Ayah! Tolong jangan pukul Mas Farhan lagi," ucap Rifka dengan suara parau. Karena aku yakin, dari tadi dia memang menangis.
"Sadar, Nak. Yang kamu bela itu suami mbakmu. Apa kamu tidak memikirkan perasaan kakak dan suami kamu yang terdiam di sana?"
Aku menunduk, menekuri dua tangan yang masih kugenggam ini—meratapi kesedihan dan kekecewaan karena orang yang kuharapkan untuk membela, malah diam saja. Apakah cinta yang dia miliki untukku sudah pudar sehingga dia enggan membelaku? Ah, memikirkan kemungkinan itu, membuatku terasa makin kacau.
"Bahkan setelah kalimat-kalimat permintaan maaf dari Rifki dan Najwa terlontar, kamu masih dengan keras kepalanya membela Farhan. Di mana nuranimu, Nak? Bahkan Farhan saja bilang bahwa dia sudah mengakhiri hubungan kalian. Apa yang mereka ucapkan dari tadi hanya angin lewat untukmu? Ayo sadar, Rifka."
__ADS_1
Ya Tuhan, kenapa Rifka keras kepala sekali, sih?
Kepalaku terasa pening memikirkan semuanya. Karena Ayah masih sibuk dengan Rifka, aku berinisiatif membawa Najwa pergi dari ruang tamu. Kami harus bicara.