
“Cengeng banget, sih, Najwa,” desisku pada diri sendiri. Cepat-cepat kuusap air mata itu, takut-takut ada orang lewat, kemudian mencurigaiku. Apalagi jika itu Ayah atau Mas Reza. Bisa gawat dan panjang urusannya kalau mereka yang memergoki.
“Halo? Mbak Najwa. Ini aku lagi jagain Rizqun, Mbak. Mbak yang mau ambil ke kamar aku?”
Ya Allah, ternyata sambungan teleponnya juga masih terhubung. Dodol memang. Duh, ini orang dengar apa enggak, ya, tadi aku berdesis apa?
Berdeham sebentar, aku lantas menjawab. “Langsung kasih saja ke orangnya. Mbak mau bantuin Mbak Diva di dapur.” Usai menjawab begitu, langsung kututup sambungan teleponnya. Sejenak, aku terdiam seraya menatap layar ponsel yang masih menampilkan nomor Mas Farhan yang baru saja kuhubungi.
Uh, andai sudah hilang kewarasan beneran, sudah kubanting ini ponsel. Untungnya masih sadar.
“Astaghfirullahal azim!” Cepat, kutepuk jidatku saat teringat tujuan awal aku ke kamar. Tadi aku berniat mengambil gunting untuk membuka kemasan santan sebagai campuran kuah lodeh, karena kata Mbak Diva gunting di sana raib, entah ke mana. Lalu tiba di kamar, malah disuguhi keadaan Mas Farhan yang kehilangan itu. Barusan juga aku pakai alasan mau membantu Mbak Diva di dapur, 'kan? Malah tidak terpikirkan sama tujuan itu.
Parah, nih, otakku.
“Waduh, Mbak Diva bakal mikir aku melipir ke mana, nih? Ambil gunting kok lama banget.” Tidak ingin membuat istri tercintanya Mas Gibran itu menunggu terlalu lama, makin kupercepat langkahku menuju kamar.
“Ketemu tidak?”
Ya Tuhan, hampir saja aku terkena serangan jantung. Bagaimana tidak? Mas Farhan tiba-tiba berdiri di hadapanku saat pertama kali membuka pintu kamar. Kuelus pelan dadaku seraya terus mengembuskan napas panjang. Ah, melihat wajahnya, membuatku teringat akan kejadian barusan.
“I-iya. Ketemu, Mas. Mas Farhan aja yang lupa kali, karena keasyikan ngobrol.”
"Maksudnya apa?" Dia menatapku dengan raut wajah yang kentara heran, lalu mengulurkan tangan ke hadapanku. “Terus mana HP-nya?”
“A-anu, itu—”
Mas Farhan berdecak. “Kamu kenapa, sih? Katanya ketemu? Mana HP-nya sekarang? Saya mau menghubungi Kinan dan orang toko.”
Napasku sudah mulai memburu.
__ADS_1
Tenang, Najwa. Jangan sampai emosi. Kuat, Najwa! Kamu bisa!
Saat aku masih bergeming dan diam-diam mencoba menenangkan diri, Mas Farhan tiba-tiba kembali bertanya, “Kamu kenapa, Najwa? Wajah kamu terlihat sembap. Kamu menangis? Mata kamu merah juga, tuh.”
Aku mengembuskan napas panjang. Wajahku payah sekali, ya. Padahal baru menangis sebentar, tidak sampai lima menit, sudah ketahuan kalau habis menangis. Aku masih belum menjawab pertanyaan Mas Farhan, karena merelaksasi diri dalam keadaan seperti ini terasa sangat sulit. Satu sisi ingin meluapkan semua emosi yang muncul di dalam dada, satu sisi tidak ingin menampakkan kelemahan lagi dengan tiba-tiba menangis di hadapan Mas Farhan.
Terus kupaksa diriku agar merasa rileks, karena jujur, mengingat kejadian barusan bikin aku emosi dan ingin marah-marah sama dia. Namun, aku tidak bisa, dan tidak seharusnya begitu. Untuk apa juga aku keberatan, ‘kan? Mas Farhan belum tentu peduli juga.
“Nanti akan ada orang yang ngasih HP-nya sama kamu, Mas. Katanya dia yang mau kasih langsung ke kamu.”
"Siapa?"
"Yakin Mas tidak tahu? Pura-pura lupa atau bagaimana?"
"Kamu ini jawabnya berbelit-belit, tahu? Kenapa enggak to the pointsaja?"
Aku beranjak ke sisi kanan pintu untuk masuk. Aku tidak mau berlama-lama berada di dekat Mas Farhan. Namun Mas Farhan malah menghadang jalanku. Membuatku sedikit dongkol.
Aku mendongak, menatap wajahnya--matanya--yang masih menyiratkan kecurigaan. "Apa lagi, Mas? Tadi aku 'kan sudah bantuin kamu, ponselnya sudah ketemu juga. Tinggal nunggu orangnya ngasih ke kamu, 'kan?"
Kedua tangan Mas Farhan bergerak menyentuh pundakku, membuat detak jantung kembali tidak keruan. Tatapan tajamnya yang kembali menyorot mataku, lagi-lagi membuatku tidak sanggup menatapnya. “Kamu tidak bodoh, Najwa. Kamu pasti tahu kalau bukan jawaban itu yang saya mau. Yang saya tanyakan itu, kamu kenapa? Kenapa kamu menangis?”
Ah, Mas Farhan kenapa, sih? Apa dia tidak tahu kalau aku enggak kuat bersikap baik-baik saja kalau dia pura-pura peduli lagi seperti ini? Rasanya aku kembali ingin menangis dan memarahinya tanpa ampun. Dengan seenaknya dia bertingkah. Dia pikir hatiku ini apa? Batu?! Ingat, Najwa. Mulai sekarang harus terbiasa cuek sama kebaikan-kebaikan dia, karena dia tidak akan pernah bisa membuka hatinya untukmu.
“Siapa yang nangis, sih, Mas? Enggak ada yang nangis, kok. Aku enggak apa-apa.” Kucoba kembali memberanikan diri membalas tatapannya, kemudian kuturunkan tangannya dari kedua pundakku. “Udah, ya. Aku mau lewat, Mas. Mau ambil gunting, takut ditunggu sama Mbak Diva di dapur.”
Begitu Mas Farhan menggeser tubuhnya, memberi celah untukku agar segara masuk, cepat, aku melangkah ke dalam kamar. Setelah mengambil gunting di laci nakas, aku kemudian beranjak untuk kembali ke dapur lagi. Namun sebelum itu aku sempat berkata, “Kalau mau sarapan, langsung ke dapur, Mas. Aku enggak mau bawa makanan ke kamar seperti tadi malam.”
...***...
__ADS_1
“Ya Allah, Dik. Kamu cari gunting ke Jerman, ya?” Begitu protesan Mbak Diva saat pertama kali aku masuk dapur, dan aku hanya bisa tersenyum lebar menanggapinya. Ya mau apa lagi? Aku sangat sadar kalau aku terlalu lama menghilang dari dapur. “Untung tadi ada masmu yang bantuin buka kemasan santannya.”
Aku mendesah berat seraya menatap gunting di tangan kananku. “Yah, telat.”
Mbak Diva cekikikan, meskipun dia sedang sibuk menyalin kuah lodeh yang ternyata sudah matang ke dalam wadah cukup besar. “Makanya kalau disuruh-suruh, tuh, jangan melipir dulu." Aku memanyunkan bibir. Orang tadi aku tidak sengaja juga. "Sudah, jangan cemberut. Ayo bantu Mbak bawa ini ke ruang makan, terus sarapan.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, aku langsung membantu kakak iparku itu. Dari tadi yang memasak untuk sarapan memang dia. Rifka dan Weny entah ke mana.
“Wah, masakannya enak-enak, nih.” Mas Reza masuk ruang makan, diikuti Weny dan Wildan di belakangnya.
“Apalagi enggak ikut masak, ya, Mas? Enak banget,” cibirku. Kalau bukan Mas Reza, aku mana berani bilang begitu.
Kakak keduaku itu hanya terkekeh, kemudian mengambil posisi untuk duduk di tikar yang sudah digelar untuk makan bersama. Weny dan Wildan pun mengikuti. Kami memang terbiasa makan dengan cara lesehan dan menggelar tikar sebagai alasnya. Di samping tempatnya yang tidak begitu luas untuk dimasuki kursi dan meja makan, kalau lagi kedatangan keluarga besar begini, lebih nikmat makan dengan lesehan dan membentuk lingkaran.
“Jangan ledekin masmu, Wa. Kasihan. Jarang-jarang, lo, dia libur masak seperti ini,” kata Ayah yang juga kemudian memasuki ruang makan.
“Memang yang masak selama ini Mas Reza, Yah?”
...***...
Hai, aku update. Sudah tahu siapa yang angkat telepon Mas Farhan? Belum, ya? Berarti harus baca bab selanjutnya. He-he. Ayo semangatin Mas Farhan dan Najwa. Tuh, Najwa-nya sudah tidak nangis lagi. Senang, 'kan? Iya dong. Ya kali enggak. Eh.
Jangan lupa vote, like dan komentarnya.
Miss you all.
Sumenep, Madura, Jawa Timur
Senin, 9 Agustus 2021
__ADS_1