
“Kamu pikir saya bisa untuk menyakiti bunda saya yang sudah telanjur bahagia karena kamu menerima tawaran perjodohan kita? Kamu pikir saya laki-laki macam apa yang mau merebut istri orang hah?”
“Terus kalau kamu enggak mau merebut Rifka dari Rifki, kenapa selama di rumah, kamu selalu sama-sama dia? Kamu sadar enggak, ucapan dan perbuatan kamu berbanding terbalik?”
Kuusap kasar air mata di pipi. Kutatap tajam dia yang masih mempertahankan raut merah padamnya di hadapan.
“Kamu bilang aku munafik, tapi kamu enggak sadar kalau kamu lebih parah dari aku. Memang, ya, kesalahan orang lain seujung kuku saja mudah terlihat, sedangkan kesalahan diri sendiri yang bahkan lebih besar dari gunung, tenggelam begitu aja. Kamu pernah mikirin perasaan Rifki enggak, sih, Mas? Pernah mikir apakah sempat terlintas di otak Rifki tentang kedekatan kalian? Pernah mikir bagaimana masa depan Rizqun misal terjadi apa-apa antara Rifka dan Rifki gara-gara masalah ini?”
“Kamu tid—”
“Hebat kamu, Mas. Kamu bisa memikirkan perasaan ibu kamu, tapi malah mengabaikan perasaan orang lain. Ada berapa banyak orang yang tanpa sadar kamu lukai? Bagaimana dengan perasaan ayahku, Mas? Bagaimana perasaan ibuku yang udah lama meninggal? Kamu bisa bayangin enggak kalau ibu kamu yang ada di posisi orang tuaku? Bagaimana perasaan kedua kakakku, terutama Mas Reza?”
Kenapa kenyataan semenyakitkan ini?
“Aku enggak tahu harus apa sekarang. Kamu nyalahin aku karena aku terima tawaran bunda kamu. Otak kamu masih normal enggak, sih, Mas? Aku menyetujui perjodohan kita itu setengah bulan sebelum kita nikah. Kita baru nikah dua bulan, dan aku kenal kamu belum ada tiga bulan. Terus di mana letak kesalahanku? Kenapa bisa aku yang bersalah di sini? Rifka nikah sama Rifki itu sudah lama banget. Jauh sebelum adanya tawaran perjodohan bodoh dari orang tua kamu. Kamu enggak lihat Rizqun udah umur berapa sekarang?”
Biarlah. Tidak usah sok baik lagi sama Mas Farhan. Dia sudah benar-benar keterlaluan. Enak saja menyalahkan aku, padahal aku saja tidak tahu apa-apa. Dia kira aku siapa?
“Yang Bunda inginkan adalah kamu, bukan Rifka. Itu yang buat saya dan Rifka memilih mundur dengan hubungan kami.”
__ADS_1
“Hubungan?”
“Iya. Kurang jelas kata-kata saya tadi? Saya suka sama Rifka dari awal kami kenal, tapi dia memilih menerima lamaran Rifki karena tahu bunda saya berharap sama kamu.”
“Terus aku yang salah gitu?” Kupegangi kepala yang makin berdenyut nyeri. “Selama aku kenal Bu Rasti, aku berusaha bersikap ramah itu murni karena menghargai beliau sebagai teman Ayah dan sebagai orang yang lebih tua. Aku enggak tahu kalau beliau sampai berharap aku menjadi menantunya.”
Ayah, Mas Reza ....
“Aku salah apa, Mas? Andai sebelumnya aku pernah menghasut bunda kamu untuk menjodohkan kamu dengan aku saja, bukan dengan Rifka, kalian pantas menyalahkan aku. Tapi ... sedetik pun aku enggak pernah ada pikiran untuk menjadi istri kamu dulu, Mas.”
Beberapa waktu berlalu dengan keheningan. Entah apa yang ada dalam pikiran Mas Farhan sekarang. Kugunakan waktu itu sebagai sarana merelaksasi diri dengan mengambil napas sebanyak-banyaknya. Ya Tuhan, tubuhku masih lemas sekali akibat alergi makanan tadi, sekarang malah disuguhi hal-hal seperti ini.
“Memangnya kalian sudah berjuang sejauh apa? Kamu pernah cerita ke bundamu kalau kamu suka dan ingin menikahi Rifka? Rifka juga, kalau dia tahu Bu Rasti berharap sama aku, mestinya dia berusaha menarik perhatiannya dan buat beliau jatuh hati sama dia. Apa pernah itu dilakukan sama Rifka? Mendengar alasan kamu tadi, itu menunjukkan Rifka sendiri yang salah dengan langsung mengambil kesimpulan kalau Bu Rasti enggak akan menyukainya, padahal dia belum apa-apa. Jangankan berusaha, malah menerima lamaran lelaki lain dan sekarang kalian malah menyalahkan aku?”
“Lucu! Dunia ini sangat lucu! Orang yang enggak bersalah dijadikan kambing hitam sampai-sampai dia tidak tahu bagaimana caranya membela diri!”
Lalu kalian tahu apa yang dilakukan oleh lelaki di hadapanku ini? Dia mengatupkan bibir serapat-rapatnya, layaknya kutu yang sudah dikasih kapur barus. Syukur kalau dia sudah bisa membuka mata hatinya dan menyadari kesalahannya.
“Kamu sadar enggak sih, Mas? Kamu adalah orang terbodoh dan teregois yang pernah aku kenal. Pada saat apa yang kamu inginkan tidak tercapai, dan malah dijodohkan dengan kakaknya Rifka, kamu seenaknya bersikap sama aku. Kamu pikir aku ini apa? Samsak?! Sehingga seenak jidat kamu perlakukan sesuka hati untuk melampiaskan kemarahan? Aku jadi tahu, ternyata ini alasan kamu sangat membenciku.”
__ADS_1
Tangan ini tidak bisa untuk tidak bertepuk tangan melihat hasil karya sangat luar biasa dari lelaki ini. Meskipun dalam waktu yang bersamaan, air mata kembali mengucur deras. Hebat, dia begitu hebat bisa menghancurkanku tanpa menyentuh fisik.
“Selamat, Mas. Kamu sangat berhasil membuatku hancur sehancur-hancurnya, bahkan dengan alasan kesalahan yang tidak pernah aku lakukan. Aku pikir kebaikan yang kamu berikan sama aku selama di rumah Ayah dan perubahan sikap kamu yang menjadi lebih baik adalah indikasi kalau kamu mau memperbaiki rumah tangga kita. Tapi ternyata aku salah. Itu adalah trik kamu buat mambuat aku terluka.”
Kutadahkan kepala seraya mengambil napas dengan mulut karena sesak terus mengimpit dada. Baru setelah merasa lebih enakan, aku kembali bersuara. “Bodohnya aku yang sudah menaruh harapan sama kamu, Mas. Sekarang aku sadar, betapa naifnya aku yang terlalu berbaik sangka kalau kamu memang beneran mau berubah. Karena pada kenyataannya kamu hanya ingin membuatku lebih hancur lagi.”
Saking tidak percayanya dengan kenyataan yang baru terungkap ini, aku sampai tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi sekarang.
“Tapi karena kamu terlalu meninggikan ego, lagi-lagi tanpa sadar kamu sudah menyiapkan toksik untuk orang tua kamu sendiri, Mas. Kalau saja kamu jujur dari awal, mungkin Bunda jelas akan marah, tapi lambat laun dia akan menerima. Lalu sekarang? Kamu bisa bayangkan apa yang akan terjadi sama bunda kamu kalau dia tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi di antara kita?”
Sungguh, aku benar-benar tidak menyangka jika masalah ini yang menjadi alasan dia sangat membenciku.
“Dan sepertinya, satu hal yang harus kuluruskan sama kamu. Kamu melampiaskan semua kemarahanmu kepadaku, padahal aku tidak tahu apa-apa. Harusnya kamu tanya orang tua kamu dulu, kamu juga enggak bener jadi lelaki. Kalau memang bukan aku yang kamu mau, kenapa enggak tegas dari awal?”
Kalian tahu, aku sudah telanjur jatuh cinta kepada Mas Farhan, dan sekarang aku harus dikejutkan dengan cinta yang tidak seharusnya terjadi. Ah, benarkah begitu?
“Apa maksud kamu, Najwa?”
***
__ADS_1
Hayo, komen kuy. Kasih saran sama Najwa, tuh. Dia bingung katanya. Wkwk. Aku nyesek banget pas nulis ini. 😢😢😢 Kasihan sama Najwa.
Sumenep, Selasa, 14 September 2021