
Farhan Point of View
***
"Kacau! Brengsek!"
Kupukul cukup keras kepala ini ketika ingatan tentang pertengkaran hebat dengan Najwa tadi kembali terputar. Deru napas mulai memburu karena emosi begitu menguasai.
"Sialan! Bisa-bisanya lepas kendali seperti tadi!" Sekali lagi, tangan ini berhasil mendaratkan pukulan di kepala.
"Farhan, kamu kenapa?" Pertanyaan yang tiba-tiba terdengar itu menginterupsi kegiatanku. Aku segera mengangkat wajah untuk melihat orang tersebut, ternyata Kinan. Tercetak jelas raut kepanikan di wajah teman semasa kuliah yang sampai detik ini menjadi teman kerjaku.
"Kamu ngapain di sini?" sinisku.
Kening Kinan mengerut sejenak. "Santai aja kali ngomongnya. Kayak cewek lagi PMS aja.”
“Jangan mancing emosiku, Kinan.”
“Oke deh. Terserah. Tapi maksudnya apa tanya kenapa aku di sini? Emang seharusnya aku di sini, kan?" Kinan berhenti sejenak. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar, entah apa yang dia cari. "Kamu enggak lupa kalau ini studio, ‘kan, Han?"
Bola mataku membeliak bersamaan dengan rasa kaget dan tidak percaya yang muncul di hati. Segera kuedarkan pandangan ke sekitar. Benar saja. Aku yang tidak sadar dengan keberadaanku saat ini. Ternyata aku sudah berada di studio, parahnya sudah duduk di kursi biasa aku bekerja.
"Astaghfirullahal azim."
Kuusap kasar seluruh sisi wajah seraya mengembuskan napas gusar. Setan apa yang sudah merasuki sampai mengendarai mobil saja, aku dalam keadaan setengah tidak sadar? Ya Tuhan, untung enggak tabrakan dan sampai dengan selamat di tempat ini. Heran tidak? Ke mana saja jiwaku selama perjalanan tadi?
Aku menumpu dagu di meja, berhadapan langsung dengan laptop yang ternyata sudah menyala. Astaga, parah sekali.
“Han, kenapa?” ulang Kinan seraya beranjak dari kursinya, berpindah duduk di kursi depan mejaku. "Dari tadi pas baru sampai juga udah kayak orang kesetanan aja. Disapa enggak nyaut."
__ADS_1
Gimana mau nyaut? Sampai di sini aja enggak sadar.
Namun, aku masih membisu, lebih tepatnya berusaha menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. Dalam keheningan—karena Kinan tak lagi bertanya setelah tidak mendapat jawaban—otak mulai mengabsen memori tentang apa yang sudah terjadi hari ini; mulai dari kejadian Najwa hampir mati gara-gara aku, kemarahan Mas Reza, dan ... "Brengsek memang," desisku seraya kembali memukul-mukul kepala.
Suami macam apa yang tidak tahu tentang istrinya?
"Han, kamu kenapa, sih? Dari tadi desis-desis enggak jelas," gerutu Kinan lagi. Aku masih belum mau menjawab pertanyaannya. Perasaan kesal dengan kelakuan diri sendiri lebih mendominasi. Aku sudah salah memilih langkah karena terlalu mengedepankan amarah.
Bodoh. Ya, benar kata Najwa tadi, Farhan Fuadi adalah laki-laki bodoh yang tidak tahu diri.
Entah setan apa yang merasuki, saat ini aku tiba-tiba merasa bersalah dan menyesali perbuatanku sejak tadi pagi. Kata-kata yang Najwa ucapkan selama pertengkaran kami berlangsung, sepertinya benar-benar membuka mata hati. Dari sana aku menyadari kalau aku memang lelaki brengsek yang bisanya membuat orang menderita.
Kalian sudah pasti tahu dengan kelakuan bejatku terhadap Najwa selama ini. Kalian pun sudah tahu alasan kenapa selama ini aku sangat membenci perempuan yang berstatus istriku itu. Terserah kalian mau menghujatku; bahkan menyumpahi kena karma seumur hidup akibat perbuatanku selama ini, silakan. Aku tidak akan mengelak, sesuai yang aku katakan barusan, aku mulai sadar kalau yang bersalah di sini adalah aku, bukan Najwa.
Ya Allah, apa yang harus kulakukan sekarang? Apa yang akan Bunda lakukan jika semuanya terungkap? Bagaimana dengan Pak Ahmad, dan keluarga Najwa yang lain? Satu lagi, Mas Reza. Apa yang akan dia lakukan kalau tahu adiknya begitu menderita selama bersamaku?
Tapi, itu semua adalah konsekuensi. Setiap apa yang sudah kutanam, pasti akan tertuai, kan? Aku yang mulai membuat masalah, dan aku yang harus menyelesaikan.
"Han?" Tepukan pelan di pundak yang dilakukan Kinan kembali menyentakku dari lamunan.
"Kamu kenapa? Enggak biasanya banget kayak gini."
Kutatap wajh Kinan cukup lama. Lagi-lagi, embusan napas lelah terdengar sebelum aku menjawab pertanyaan itu. "Aku ... Najwa sudah tahu semuanya."
"Terus kenapa kacau gitu? Bukannya ini yang kamu mau? Dari awal kamu enggak pernah peduli dengan Najwa. Tapi kenapa sekarang malah mikirin dia?"
Sejak pertama menikah, Kinan adalah satu-satunya orang yang tahu kalau aku belum bisa move on dari Rifka. Itu bermula karena dia sempat tidak sengaja mengangkat telepon Rifka pada saat aku ke kamar mandi dan menitip ponsel ke dia serta menyuruh angkat kalau ada yang telepon. Jadi, ya begitu. Gara-gara telepon itu Kinan menginterogasi aku dan sering marah-marah, tapi selalu aku tulikan. Dari dulu juga aku tidak bisa banyak menyembunyikan sesuatu dari Kinan, mungkin karena sudah lama berteman, dia sampai hafal karakterku. Dan ya, akhirnya dia pun tahu semua rencana busukku kepada Najwa. Dia sering memberi ultimatum soal karma, sama seperti Mas Reza yang terang-terangan protektif terhadap adiknya. Tapi ya itu tadi, saking larutnya dalam masa lalu, aku tidak mau mendengarkan apa pun, padahal kehidupan yang aku jalani bukan lagi soal masa lalu.
Mendengar kalimat Kinan yang serupa ejekan barusan, membuatku seperti kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan itu. Jika dipikir-pikir memang untuk apa aku sampai sebegininya. Harusnya aku tenang-tenang saja, kan? Tapi ....
__ADS_1
"Sebenarnya aku bingung dengan perasaanku sendiri sekarang, Nan." Aku mulai bersuara, sepertinya aku butuh masukan sekarang. Aku tidak bisa terus-terusan diam dan membiarkan semuanya tidak terselesaikan.
"Bingung kenapa?" Kinan membenarkan posisi duduknya. Mungkin sudah merasa tidak nyaman karena tidak berubah posisi sejak tadi. Lagi-lagi aku terdiam, bimbang antara bercerita atau tidak kepada Kinan.
“Kamu kayak enggak tahu aku aja, sih, Han. Dari dulu-dulu juga sering cerita, kenapa sekarang sulit? Mungkin aku enggak bisa ngasih solusi, tapi setidaknya aku bisa bantu ringanin beban pikiran kamu dengan ajak sharing.”
Benar-benar laki-laki baik dan idaman. Kinan dengan pikiran positifnya dan jiwanya yang tenang, membuatku sedikit minder. Namun, mengingat betapa kacaunya aku, aku tidak bisa memendam semuanya sendirian. Baiklah.
"Jadi, seperti yang kamu tahu dari awal, satu-dua minggu pertama kami menikah, aku bisa tidak peduli sama sekali dengan Najwa.” Ada jeda setelah kalimat itu.
Kinan masih diam, sepertinya memberiku ruang untuk menceritakan semua kegundahan dan kebingungan yang seolah-olah membuatku kelimpungan akhir-akhir ini.
Merasa pegal dengan keadaan duduk sedikit membungkuk karena menumpu dagu di meja, kuubah posisi menjadi bersandar di kursi, tapi tetap tidak melepaskan kontak mata dengan Kinan.
"Dari awal, Najwa tuh suka ngerecokin aku dengan segala tingkahnya yang menyebalkan. Kayak banyak tanya ini dan itu, pokoknya selalu bikin aku emosi. Makanya aku jarang berada di rumah, pagi-pagi banget berangkat, malam baru pulang.”
Kalau mengingat masa-masa itu, kesal banget aku tuh. Katanya Najwa pendiam dan kalem, tapi sikap yang dia tunjukkan di depan aku malah sebaliknya. Dia malah terkesan agresif dan barbar. Siapa yang enggak kesal coba? Membuat ilfeel saja.
“Di samping itu, kamu tahu kan kalau sekali otak belakang merasa enggak suka dengan seseorang atau sesuatu, pasti enggak akan bisa melihatnya dari pandangan positif."
***
Hai, siapa yang nungguin? Sehari tadi aku ada urusan ke kampus, ngurus skripsi. Abis itu tepar. 🙈 Makanya agak lama update-nya.
Gantian, ya. Mulai dari part ini kita pakai perspektifnya Mas Farhan. Silakan berkomentar. Wkwkwk.
Sumenep, Madura, Jawa Timur
Kamis, 16 September 2021
__ADS_1