
Rasanya sudah lama sekali, ya, aku enggak muncul di hadapan kalian. Sudah bisa kutebak pasti banyak yang kangen.
"Idih, sok iya banget kamu, Han."
"Enggak bakal ada yang kangen lelaki model lo. Beraninya sama perempuan aja."
"Tukang nyiksa batin orang sampai bikin stres berat."
"Ternyata masih hidup saja kamu. Kenapa enggak ke akhirat saja?"
Aku yakin kata-kata itu, kan, yang akan kalian komentarkan saat aku bilang ada yang kangen tadi?
Huft, iya. Aku memang lelaki dan suami yang buruk. Tanpa kalian koar-koar pun aku sudah sangat sadar sekarang. Tapi ... coba, deh, tenang sedikit. Aku tadi, tuh, mau bilang, pasti banyak yang kangen untuk menghujat aku. Kalian pasti ingin tahu seperti apa karma yang aku tuai dari perbuatanku selama ini kepada Najwa.
Pasti benar, kan, tebakan aku?
Nah, jadi sekarang tenang. Nikmati saja kisahku yang menurutku sangat mengenaskan saat ini. Tapi aku yakin pasti kalian senang. Secara, aku sudah menjalani karma dari perbuatanku di masa lalu. Dan pasti sesuai keinginan kalian, aku menderita karena enggak bisa sama-sama dengan orang yang aku cintai padahal dia masih ada di dunia ini.
Terhitung satu bulan dari kejadian di rumah Najwa waktu itu, aku sama sekali enggak tahu kabar dia. Setiap kali aku datang ke rumah Ayah, mau pagi, siang ataupun sore, bahkan malam, aku sama sekali enggak diberi kesempatan untuk bertemu dengannya. Jangankan ditemui, dibukakan pintu saja enggak. Aku sampai berpikir kok bisa keluarga dia setega itu sama aku. Padahal, meskipun jarak antara rumahku dengan Najwa enggak begitu jauh, kalau setiap hari bolak-balik ke sana pasti kebayang, kan, gimana rasanya?
Tapi, ya, gimana? Aku paham, mereka pasti masih sakit hati dan sulit buat bertemu denganku.
Kadang di satu sisi aku ingin melepaskan Najwa. Menurutku sudah cukup untuk membuatnya menderita selama pernikahan kami berlangsung. Tapi di sisi lain, masih ada secuil harapan di hati untuk bisa mempertahankan rumah tangga kami.
Kenapa? Pertama, aku mencintai Najwa dan ingin berusaha sekali lagi untuk menebus hari-hari penuh derita yang pernah dia alami di masa lalu. Yang kedua, ini sudah sebulan, tapi enggak ada pergerakan apa pun dari keluarga mertuaku. Padahal waktu sebulan itu sudah cukup lama kalau hanya dibuat untuk memikirkan keputusan. Apalagi dengan keputusan Najwa waktu itu, harusnya sudah ada surat panggilan dari pengadilan, kan, untuk sidang perceraian?
__ADS_1
"Kamu enggak kerja, Han?"
Aku menoleh ke arah pintu, ternyata Bunda sudah berdiri di sana. Beliau memang setiap hari datang ke rumahku dan Najwa, sekadar memastikan aku baik-baik saja katanya.
Apa yang Bunda lakukan ini menyadarkanku bahwa seburuk apa pun perangai dan sikap seorang anak, tak ada ceritanya orang tua akan berhenti peduli. Wajar kalau Bunda dan Bapak marah sampai mendiamkanku beberapa hari usai itu. Tapi, setelahnya mereka kembali datang kepadaku, membawa dukungan meski dengan cara yang berbeda. Bapak dengan sikapnya yang dingin tapi aku yakin dia peduli dan Bunda yang kembali perhatian kepadaku. Masih kuingat bagaimana sikap Bunda saat menegur Bapak saat aku menginap di rumah mereka usai dari rumah Najwa.
Waktu itu, ketika malam menjelang, badanku terasa tidak nyaman. Saat diraba, kulitku panas tapi terasa dingin. Ditambah lagi terasa lemas. Jadi aku hanya mendekam di dalam kamar. Sesekali Bunda datang dan menanyakan keadaanku. Bahkan, saat Bapak dengan terang-terangan melarang Bunda agar tidak terlalu memanjakan aku, beliau tidak mengindahkan.
"Bapak ini, ya. Ini anak sendiri, bukan anak orang lain." Itu kata-kata Bunda saat protes kepada Bapak yang memaksaku agar keluar kamar untuk membahas kelanjutan masalah kami. "Marah, sih, boleh. Tapi lihat juga kondisinya. Anak mau sakit begini masih mau dipaksa keluar. Pakai acara dibilang dimanja segala."
"Bapak hanya ingin masalah itu segera selesai, Bun. Gara-gara anak bermental pecundang itu Bapak sampai kehabisan kata, bingung mau ngomong apa sama Ahmad."
Aku yang sudah lelah dengan insiden yang cukup menguras tenaga dan emosi hari kemarin, hanya bisa diam di tempat tidur menyaksikan Bapak dan Bunda berdebat.
"Bikin malu Bapak saja ke dia."
Dengan mata melotot Bunda menyahut, "Jangan lupa kalau anak yang kamu sebut pecundang itu juga anakmu! Jangan hanya memikirkan harga diri sendiri, pikirkan juga anakmu. Bukan hanya kamu yang sakit hati dan kecewa sama Farhan. Aku pun sama.
Tapi coba koreksi dirimu sendiri, Farhan egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri saat bersama Najwa, dan lihatlah sikapmu saat ini. Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri, memikirkan egomu yang merasa malu kepada Pak Ahmad tanpa memikirkan apa yang aku rasakan saat melihat anakku terus-terusan dipojokkan bahkan oleh ayahnya sendiri. Apa bedanya kamu dengan Farhan?"
Bapak bungkam, ada semburat rasa sedih yang terlihat di wajahnya yang sempat kulihat sebelum menunduk. Dan aku, hanya bisa terus menyaksikan interaksi mereka. Keadaanku benar-benar lemah, sampai-sampai untuk bersuara pun rasanya sulit. Tapi dalam hati ada rasa sedih yang kian menjadi-jadi. Seumur-umur aku enggak pernah dengar Bunda menggunakan kata "aku-kamu" kepada Bapak. Dan waktu itu, pertama kali aku melihat bundaku begitu kecewa dengan Bapak.
"Kalau hanya mau bikin Farhan makin parah, lebih baik kamu pergi dari sini."
Dan berkat kemarahan Bunda itulah, sikap Bapak sedikit melunak kepadaku. Meski tak banyak bicara, setidaknya beliau enggak makin bikin aku tambah pusing.
__ADS_1
"Kerjaan melamun kamu enggak bakal menguntungkan, Farhan." Aku tersentak saat Bunda mulai menekan intonasi kata-katanya.
Aku menyunggingkan senyum kecil ke arah wanita kesayanganku itu. "Aku kerja, kok, Bun. Cuma lagi kangen aja sama pemilik kamar ini. Jadi, tinggal di sini sebentar. Masih jam setengah enam juga, Bun."
Aku memang sudah jujur ke Bapak dan Bunda soal kejadian sebenarnya dan perasaanku saat ini untuk siapa. Sedikit banyak aku belajar dari masa lalu bahwa enggak selamanya aku harus memendam perasaan sendiri. Harusnya aku ngomong dari awal, bukan malah menciptakan kesalahpahaman.
Dan begitu aku mengatakan rindu pada perempuan yang kamarnya sedang kutempati ini, kulihat mata Bunda mengembun. Aku yakin beliau juga pasti sedih kalau mengingat menantunya yang satu itu. Meski demikian, beliau masih bisa tersenyum lembut ke arahku. Bunda benar-benar hebat bisa menetralisasi perasaan itu dengan cepat.
Dengan langkah gontai, beliau beranjak ke tempatku duduk. Begitu sampai, beliau menarikku dalam dekapannya, sehingga pinggangnyalah yang kupeluk.
"Yang sabar, ya, Nak. Kalau kamu kangen istrimu, doakan dia, semoga dia baik-baik saja. Maafkan Bunda yang sampai saat ini belum bisa bantu kamu."
Masih dalam dekapan Bunda, aku menggeleng. "Bunda sangat membantu aku. Padahal harusnya Bunda sudah enggak peduli sama aku, karena akulah yang jadi sumber masalah, tapi Bunda mau ada di sisiku. Itu sangat kubutuhkan, Bun."
Bunda mengurai dekapannya, menunduk dan menatapku cukup lama. Setelah itu, beliau kemudian duduk di sampingku. Dua tangan ini digenggam dengan cukup erat. Cukup lama terdiam, senyum manis kembali merekah di bibirnya.
"Yang penting, saat ini kamu sudah mau berusaha untuk menyelesaikan masalah itu dan mau memperbaiki kesalahan kamu di masa lalu. Kamu ... apa yang akan kamu lakukan setelah ini, Nak? Ini bahkan sudah satu bulan dari kejadian itu."
Aku menghela napas berat.
"Aku bingung, Bun. Kondisinya serba salah. Satu sisi masih ingin lanjut, karena apa yang kualami saat ini mungkin belum ada apa-apanya dibanding Najwa. Di sisi lain, ingin mengikhlaskan dia. Tapi ... sejauh ini belum ada komunikasi antara kami. Takutnya malah dia anggap aku yang enggak ingin perjuangkan dia. Padahal ...."
...***...
Sumenep, 7 Agustus 2022
__ADS_1
Mohon maaf, ya, lama banget hilang kabar. Aku lagi enggak baik-baik aja kemarin-kemarin. Insyaallah akan kurutinkan unggah lagi ke depannya. Semoga bisa istikamah. Terima kasih untuk para pembaca yang masih setia di lapak ini dan bersedia memberi dukungan untuk aku, ya. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semua dengan sebaik-baik balasan. Sehat-sehat, ya, kalian. 😘