Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Jawaban dari Rifka


__ADS_3

"Hei, Mas Farhan, Nayla!"


Rifka enggak lihat apa kalau ada istri Mas Farhan di belakangnya?


Aku mendesah pelan. Sebelum Nayla melangkah untuk menyambut panggilan tantenya, aku menarik lengan bocah itu, kemudian mengatakan kalau aku mau ke kamar mandi terlebih dahulu. Untungnya bocah itu mengerti, dan Mas Farhan tidak mengatakan sesuatu. Aku segera menjauh.


Sekembalinya dari kamar mandi, aku melihat Rifka sudah duduk-duduk santai di kursi taman. Nayla dan Mas Farhan masih asyik bermain boneka di bawah pohon mangga. Oh, iya. Rizqun ke mana, ya?


Aku melangkah, mendekati Rifka yang terlihat mengamati kegiatan Mas Farhan dan Nayla. Mungkin menyadari keberadaan seseorang di sisinya, dia lantas menoleh. Tatapan kami beradu dalam beberapa saat.


“Mbak Najwa kenapa ngelihatin aku kayak gitu?” tanya Rifka kemudian.


Aku menarik napas pelan sebentar. Mengambil posisi duduk di samping Rifka. Cukup lama aku terdiam, mencoba mengatur emosi yang kembali meluap dalam dada.


“Rizqun ke mana?” Kumulai kesempatan berbicara berdua dengan adikku ini dengan pertanyaan itu. Tidak mungkin aku langsung melabraknya, ‘kan? Lagipula, aku belum benar-benar paham dengan apa yang terjadi antara dia dengan Mas Farhan. Siapa tahu aku hanya salah paham beneran.


“Dia bilang ngantuk, Mbak. Jadinya dibawa ke kamar sama Mas Rifki.”


"Dan kamu malah santai-santai di sini, biarin suami kamu ngurus Rizqun sendirian?"


Aku tidak paham dengan jalan pikiran adikku ini. Kenapa kesannya dia kurang peduli terhadap anaknya?


"Aku cuma istirahat bentaran, Mbak. Dari tadi aku kan jagain Rizqun."


"Gitu, ya?"


"Mbak Najwa kenapa, sih? Kenapa Mbak selalu sensitif sama aku? Dari tadi pagi juga gitu."


Aku berdeham pelan sebentar. “Enggak apa-apa, sih. Mungkin perasaan kamu saja. Mbak ke sini mau memperjelas sesuatu, dan Mbak harap kamu jujur.”


Meski sempat terlihat kesal barusan, Rifka tiba-tiba terkekeh, tetapi kekehan itu terdengar dipaksakan. Atau hanya pendengaranku yang salah. Raut wajah adikku jelas tidak baik-baik saja. Walaupun ada seutas senyum yang tersungging di bibirnya, tetapi entah mengapa aku menangkap raut panik di sana.


Apa kesimpulanku selama ini benar? Kalau memang di antara Rifka dan Mas Farhan tidak ada apa-apa, tentu dia tidak akan panik begini, ‘kan? Belum lagi, dia yang sering kali celingak-celinguk, entah memastikan apa.


“Kamu kenapa, Ka?” Kulekatkan tatapanku ke arahnya. Meski samar, aku menangkap gelagat kikuk dari Rifka. Aku jadi ingin tahu jawabannya.

__ADS_1


Mari kita lihat respons dari adikku yang satu ini.


“Mbak Najwa ini kenapa, sih? Dari tadi ngelihatinnya kayak gitu. Aku kenapa, Mbak?”


Aku menghela napas sebentar. Baiklah, sepertinya basa-basi sudah tidak berguna. “Kamu tahu siapa Mas Farhan, Dek?”


Dia mengangguk kaku. “Dia suami Mbak. Kakak ipar aku.”


Aku tersenyum mendengar jawabannya. Tercipta keheningan dalam beberapa saat. Jawaban yang diberikan Rifka barusan seperti langsung mendapat penangkalan otomatis dalam otak.


Kutatap kembali dengan lekat-lekat wajah Rifka. “Mbak rasa, ada hal yang belum terselesaikan antara kamu dan Mas Farhan. Dan Mbak ingin kamu segera menyelesaikan itu, demi keberlangsungan rumah tangga kita masing-masing.”


“Maksud Mbak Najwa apa?”


Aku terus mencoba menekan ego untuk tidak langsung naik darah menghadapi Rifka. Aku tidak mau memancing perhatian keluarga yang lain. “Jawab jujur, ada hubungan apa antara kamu sama Mas Farhan?”


“Mbak nuduh aku selingkuh sama Mas Farhan?” Tatapan Rifka menajam.


Aku menarik napas dalam. Kutatap balik tatapan tajamnya. “Ka, Mbak ngomong baik-baik sama kamu. Enggak ada yang nuduh kamu selingkuh sama Mas Farhan.”


“Ya tapi dengan bertanya begitu, aku menangkapnya Mbak nuduh aku!”


“Kalau memang di antara kalian tidak ada apa-apa, ya udah. Tinggal bilang baik-baik. Tidak usah emosi segala.”


“Siapa yang enggak emosi kalau Mbak datang-datang langsung menyudutkan aku seperti itu?”


Jawaban Rifka tidak bisa membuatku tidak tertawa. Betapa lucunya kamu, Dik.


“Bagaimana rasanya, Ka? Enak enggak disudutkan?” Bibir adikku tampak tebuka, tetapi tidak ada satu kata pun yang terlontar dari lisannya. “Itu yang Mbak rasakan sejak pertemuan kamu dan Mas Farhan kemarin. Siapa pun tidak akan terima jika dia disudutkan, terlebih di hadapan keluarganya sendiri. Coba ngerti sikonlah, Dek. Andai Mbak bisa tega, Mbak enggak akan mungkin ngajak kamu bicara berdua begini. Mbak akan ngomong di depan Ayah, Mas Reza dan Mas Gibran, bahkan suami kamu. Jika saja Mbak enggak ingat soal penyakit Ayah, sudah pasti aku labrak kamu sejak tadi pagi. Mbak hanya ingin kalian sadar dengan posisi kalian masing-masing, terutama kamu yang menjadi adik iparnya Mas Farhan.”


Rifka tampak celingak-celinguk lagi.


"Kenapa? Kamu takut Mas Farhan dengar?" tanyaku saat tatapan Rifka mengarah ke tempat Mas Farhan dan Nayla masih asyik bermain. "Mas Farhan enggak akan mendengar, Ka. Dia jauh dari tempat kita berada.


“Mbak Najwa enggak jelas, ih. Kemarin aku bilang, kan, aku kenal sama Mas Farhan udah dari dulu. Mbak menuduh aku punya hubungan sama Mas Farhan karena kejadian itu? Terus karena tadi pagi juga? Pada saat Mbak enggak ada di sisi Mas Farhan, malah aku yang ngobrol sama dia tadi pagi. Gitu?”

__ADS_1


Kepalan tangan mulai kulakukan, demi menahan emosi dalam dada yang terus membuncah. Aku tidak tahu siapa yang salah di sini. Aku tidak tahu apakah caraku ini benar atau tidak. Satu hal yang menjadi alasanku saat ini adalah memperjuangkan apa yang pantas kuperjuangkan. Jika memang Mas Farhan tidak pantas kuperjuangkan, aku akan mencoba melepaskannya.


“Iya. Oke. Kamu sudah kenal lama sama Mas Farhan. Tapi apakah pantas seorang kakak ipar dan adik iparnya selalu punya waktu bareng untuk bersama? Kalian asyik ngobrol tanpa memedulikan sekitar. Buatku, wajar kalau aku cemburu. Aku istrinya Mas Farhan. Coba kamu bayangkan, misal Rifki akrab sama aku melebihi batas seorang kakak dan adik iparnya. Apa yang kamu rasakan?"


Rifka diam saja. Entah apa yang dia pikirkan. Baiklah, kurasa memang tidak ada gunanya bicara dengan Rifka, karena aku tidak akan mendapatkan jawabannya. Aku bangkit dari tempat duduk, bersiap meninggalkannya.


“Mbak harap hal itu tidak terjadi lagi, Rifka. Andai kata antara kamu dan Mas Farhan memang ada apa-apa, Mbak enggak rela. Bukan hanya sebagai istrinya Mas Farhan, tapi sebagai kakak ipar Rifki dan tantenya Rizqun.”


Begitu satu langkah kakiku beranjak, Rifka tiba-tiba berkata, "Aku sama Mas Farhan enggak ada apa-apa, Mbak."


Aku langsung menoleh dan menatapnya intens. "Yakin itu jawaban dari hati kamu? Kamu suka sama Mas Farhan, Ka?"


Karena dari jawaban itu seperti ada hal yang disembunyikan.


Keterdiaman yang dilakukan oleh Rifka seolah-olah menjawab pertanyaanku. Raut sedih yang terpancar di wajahnya seperti menunjukkan kalau dia menyesal telah menikah dengan Rifki, karena orang yang dia suka adalah Mas Farhan.


"Ka?"


"Aku minta maaf, Mbak. Aku belum bisa berdamai dengan masa lalu."


Suara lirih Rifka, serta tundukan kepalanya usai mengatakan kalimat itu membuat tulang-tulangku seperti patah. Hampir saja aku luruh ke tanah, andai tidak berpegangan ke kursi taman. Lesakan emosi negatif yang tiba-tiba menyelinap ke dalam dada, membuatku sedikit sesak. Ada genangan air mata yang mulai ingin menetes, tetapi aku tahan. Kupejamkan mata sejenak seraya mengembuskan napas, mencoba merelaksasi diri.


Jadi?


"Mas Farhan tahu kalau kamu suka sama dia? Ah, salah. Sejak kapan Mas Farhan tahu kalau kamu suka sama dia?"


Karena aku yakin, Mas Farhan seakrab itu dengan Rifka, tidak mungkin kalau dia tidak tahu tentang perasaan adikku terhadapnya.


"Sayang, Mama nelpon, katanya kita disuruh balik ke Tuban hari ini." Aku terperanjat mendengar suara Rifki yang tiba-tiba menginterupsi. Segera kutolehkan kepala ke belakang, ternyata suami adikku itu sudah berdiri tidak jauh dari posisi kami.


Apa dia mendengar pembicaraan kami barusan?


Rifka juga langsung bangkit. Dia buru-buru mendekati Rifki. "Mas udah dari tadi di sini?"


Kulihat Rifki hanya diam, kemudian kembali mengatakan pesan mamanya itu, dan mengajak Rifka, untuk pulang.

__ADS_1


***


Jangan lupa tinggalkan jejk, ya.


__ADS_2