Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Tentang Ibu 2 #Serasa Kiamat


__ADS_3

"Dek." Dengan keadaan mata terpejam, aku terkaget karena telinga ini mendengar sayup-sayup panggilan Mas Reza.


Ya Allah, aku baru tertidur beberapa menit yang lalu, lo.


"Najwa, bangun."


Mas Reza, ih. Aku masih ngantuk.


"Najwa, hei."


Entah mengapa, rasanya aku kesulitan membuka mata. Mungkin saking ngantuknya kali, ya.


"Ya Allah, Najwa. Bangun, Dek. Tumben banget tidurnya kayak kebo begini. Biasanya juga langsung bangun."


Jelas aku dongkol dengan kalimat terakhir Mas Reza. Ini pertama kalinya aku mendengar dia mengataiku.


"Mas Reza, ih. Apaan sih?" Kupaksakan diri untuk bangkit. Kusandarkan tubuh di sandaran sofa karena tiba-tiba pusing. Ini pasti karena dibangunkan tiba-tiba. Tangan kananku bergerak mengucek-ngucek mata untuk mengumpulkan kesadaran.


"Kita ke Puskesmas Kamal sekarang. Mas Gibran sama Mbak Diva dan Weny sudah ke sana."


Begitu selesai berkata begitu, Mas Reza langsung menarik tanganku. Aku yang masih setengah sadar sampai terhuyung dan akhirnya terjerembap. Untung tidak sampai jatuh ke lantai karena Mas Reza langsung menangkap.


"Duh, maafin Mas Reza, Dek. Abis kita mesti buru-buru ke sana." Yang tertangkap di telingaku, suara Mas Reza terdengar panik. Karena kesadaranku mulai terkumpul, aku mulai bertanya-tanya ada apa sebenarnya?


"Mas, ngapain kita ke puskesmas? Siapa yang sakit?" Aku menahan tangan Mas Reza. Sontak, dia menghentikan langkah, kemudian berbalik ke arahku.


"Jangan banyak tanya. Kita enggak punya banyak waktu."


Dia kembali menggiring langkahku keluar dari rumah. Begitu keluar dari pintu, dia langsung menguncinya dan langsung menaiki mobil yang ternyata sudah menyala.


"Mas--"


"Apalagi Najwa? Kita mesti cepat sampai ke sana."


"Rifka mana? Tadi Mas Reza bilang hanya Weny yang ikut Mas Gibran, 'kan?"


Kakak keduaku itu mengusap wajah. Tebakan kalau Rifka tidak ikut sepertinya benar, karena Mas Reza tiba-tiba turun dari mobil. Dia melangkah cepat kembali ke pintu rumah. Mungkin karena saking paniknya, dia bahkan kesulitan membuka pintu rumah, padahal aslinya mudah.


Paham dengan situasi yang mengharuskan aku tidak banyak bicara agar tidak memicu kepanikan lagi, aku lantas mengambil alih kunci di tangan Mas Reza. Baru sekali putar, pintu rumah kami kembali terbuka. Mas Reza berlari kencang menuju kamar Rifka, dan aku ikut berlari menyusulnya.


"Ya Allah, Rifka. Bangun." Mas Reza menyingkap selimut yang membungkus seluruh tubuh Rifka di tempat tidur. Adik pertamaku itu mengerang cukup keras, mungkin kesal karena tiba-tiba dibangunkan.


"Apaan, sih, Mas. Aku ngantuk."

__ADS_1


Jawaban yang diberikan Rifka membuat Mas Reza beranjak ke sisi ranjang adikku itu, kemudian memaksanya bangun dengan menarik kedua lengannya.


"Mas Reza apaan, sih. Enggak jelas banget. Ngapain main tarik-tarik segala," sungut Rifka, kemudian kembali menidurkan diri pada kasur.


"Rifka bangun."


"Enggak. Aku ngantuk!"


Aku berjingkat kaget saat mendengar teriakan Rifka. Mas Reza kemudian menjauh dari sisi tempat tidur Rifka.


"Oke. Tidur aja terus. Tapi kalau ada apa-apa sama Ibu, jangan salahkan Mas Reza atau siapa pun."


Kalimat yang Mas Reza ucapkan tidak hanya membuat Rifka langsung bangkit dari kasur, tetapi juga membuat tubuhku bergetar hebat. Pertanyaan tentang apa yang terjadi kepada ibuku itu pun mulai terlintas di otak. Melihat raut kacau dan putus asa di wajah Mas Reza membuat kecemasan makin menguasai hati.


"Ibu kenapa, Mas?" tanya Rifka.


"Ambil kerudung kamu. Jangan banyak tanya. Kita segera ke Puskesmas Kamal."


Rifka yang biasanya heboh mau cuci muka terlebih dahulu ketika diajak keluar rumah pun tidak menghiraukan hal itu lagi. Dia segera mengambil kerudung instan di gantungan baju, kemudian menggandeng Mas Reza untuk segera berangkat. Rifka juga terlihat panik sekarang.


Sepanjang perjalanan kami lalui dengan keheningan, tentunya dengan doa yang pasti dipanjatkan, meminta kepada Tuhan agar orang tua kami baik-baik saja. Meski tidak bisa dimungkiri kecemasan terus menghantui. Rifka yang biasanya protes kalau Mas Reza mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, hanya diam saja.


Beberapa waktu berlalu, kami pun tiba di Puskesmas Kamal. Begitu mobil terparkir, Mas Reza langsung keluar, kemudian menggandeng aku dan Rifka menuju ruang UGD. Jujur, aku makin khawatir.


"Ibu masih ditangani dokter di dalam, Dik." Mbak Diva yang menjawab.


"Ibu akan baik-baik saja, Ayah." Meski khawatir, kucoba untuk membuat ayahku ini tenang. Lelaki paruh baya itu hanya mengangguk tanpa mengucapkan apa-apa.


"Mas, Ibu kenapa?" Rifka yang sejak tadi diam saja--mungkin karena masih syok, sampai tidak tahu mau berbicara apa pun--perlahan membuka suara. Kutadahkan wajah untuk melihatnya. Tatapan mata Rifka mulai terlihat sendu. Ada cairan bening yang juga mulai merebak di sudut matanya.


"Kata Ayah, Ibu tertabrak pikep lain saat akan menyebrang jalan sehabis membeli cemilan di toko sebelah pom bensin."


Tangis Rifka pun pecah. Cepat, Mas Gibran beranjak merangkulnya.


"Tenang, Rifka," kata Mas Gibran.


"Gimana aku bisa tenang, Mas? Ibu aku ... Ibu ... Mas."


"Iya, Mas tahu. Bukan hanya kamu yang panik, khawatir, dan sedih. Kita semua sama, Dek." Mas Gibran mengajak Rifka untuk duduk di kursi samping Ayah. Mbak Diva yang menggendong Nayla pun ikut menyusul duduk di sebelahnya, sedangkan Mas Gibran bersimpuh di hadapannya.


"Lebih baik kita berdoa untuk keselamatan Ibu." Mas Gibran menggenggam tangan Rifka.


"Wen? Ngomong, Dek." Atensiku yang semula berfokus pada Mas Gibran dan Rifka, perlahan beralih kepada Mas Reza dan Weny. Adikku yang satu itu tampak diam saja. Tatapannya kosong dan tidak ada setitik air mata pun yang tampak di matanya. Aku jadi khawatir. Takut mentalnya down.

__ADS_1


"Ibu enggak akan ke mana-mana, 'kan, Mas?" Weny mendongak, menatap Mas Reza.


"Iya. Ibu enggak akan ke mana-mana. Ayo, Weny doakan Ibu."


Perputaran waktu seolah-olah melambat. Menunggu hal-hal seperti ini benar-benar membuat hati ketar-ketir. Kulihat Mas Reza mondar-mandir, Mas Gibran sibuk menenangkan Rifka yang masih terus menangis, dan Weny masih diam saja. Bedanya, dia juga sudah terduduk di kursi depan UGD ini. Mbak Diva sibuk menenangkan Nayla yang ikutan rewel. Beruntungnya ada Bu Maira--ibu Mbak Diva--yang baru datang bersama adiknya. Dan aku, aku sibuk menenangkan Ayah yang sedari tadi menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa Ibu.


"Ya Allah, andai tadi hamba tidak usah menyuruh Aminah beli cemilan itu, dia tidak akan masuk ke sini." Suara Ayah terdengar parau.


"Ayah, Ayah enggak boleh ngomong gitu."


Ayah menoleh. "Tapi bener, 'kan, Wa? Ibu tidak akan tertabrak pikep itu kalau saja--"


"Ayah, Ayah tidak salah. Ini hanya ketidaksengajaan, Yah." Mas Reza ikut menenangkan.


"Iya, Mas Ahmad. Saya yakin Mbak Aminah akan baik-baik saja. Doakan dia, Mas." Bu Maira juga ikut berempati. Semua orang pasti khawatir dan cemas akan keadaan Ibu. Menyalahkan diri sendiri atau siapa pun itu, tidak akan ada gunanya, karena ini memang sudah ketentuan dari-Nya. Tugas kami saat ini adalah mendoakan Ibu.


"Dengan keluarganya Ibu Aminah?"


Ayah, Mas Gibran dan Mas Reza segera mendekat ke arah dokter lelaki yang baru saja keluar dari ruang UGD.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" tanya Ayah. Mendengar suaranya yang lemah, aku beranjak maju kemudian berdiri di sampingnya.


"Iya, Dok. Ibu kami baik-baik saja, 'kan, Dok?" Mas Gibran ikut bertanya.


Keterdiaman dokter itu menciptakan kekhawatiran yang makin menjadi-jadi.


"Mohon maaf, Pak, Mas, semuanya. Sepertinya Ibu Aminah sudah berpulang sebelum tiba di sini."


Duniaku serasa kiamat. Tangis Rifka dan Weny yang langsung menggema, memancing air mataku untuk ikutan mengucur dengan deras. Tubuhku bergetar hebat. Saking hebatnya, aku sampai merasa tidak kuat menumpunya dan berakhir terduduk lemas di lantai. Kedua adikku itu saling berpelukan, berbagi kesedihan dalam dekapan. Nayla pun ikut menangis kejer. Entah dia paham dengan situasi yang terjadi saat ini atau bagaimana aku tidak tahu.


Belum selesai dengan kekagetan akibat kabar yang diberitakan oleh dokter tadi, kepanikan baru tercipta.


"Ayah!"


...***...


Hai, aku update lagi. Seneng enggak? Seneng dong. Ya kali enggak. Eh, canda.


Seperti biasa, aku meminta apresiasi kalian pada ceritaku ini, ya. Jangan bosan menunggu. Love you.


Salam manis dari author manis.


Sumenep, Madura, Jawa Timur

__ADS_1


Jumat, 30 Juli 2021


__ADS_2