
“Dari tadi kamu tidak tidur?”
Mendengar suara berat yang khas dan familier di telinga, sontak, aku menoleh ke arah pintu. Mengetahui keberadaan Mas Farhan, segera aku bangkit dari tempat tidur. Sadar kalau kepala ini tidak tertutupi kerudung, aku sempat kelabakan sebentar. Saking kagetnya, cepat, kuraih sehelai selimut yang terlipat di sudut tempat tidur, kemudian membalutkannya ke kepala. Entah mengapa, terbiasa menutup diri selama bersama Mas Farhan meski dia suamiku, membuatku merasa canggung saja ketika tidak sengaja terperangkap dalam keadaan seperti ini.
“Enggak bisa tidur, Mas.”
"Kenapa?"
Ya mana bisa tidur, orang melamun terus dari tadi. Hadeh. Kebiasaan melamunku akhir-akhir ini makin meresahkan.
Mas Farhan melangkah masuk, kemudian mendekat ke arahku yang sudah bersandar di sandaran dipan. Detak jantungku pun terasa dipacu lebih cepat dari biasanya. Mendapati sikap tidak biasa Mas Farhan sejak tiba di rumah ini membuatku seperti senam jantung mendadak.
Duh, jangan sampai aku tiba-tiba kena serangan jantung gara-gara sikap Mas Farhan. Ya Allah, apa yang kupikirkan? Geser beneran kayaknya nih, otakku.
Makin dekat langkah Mas Farhan ke arahku, membuatku makin deg-degan. Apalagi tatapannya yang tajam bak elang mengincar mangsanya. Mata Mas Farhan memang bulat, dan setiap menatap terlihat tajam, seperti memang sudah khas dia banget.
Duh, Mas Farhan mau ngapain, sih?
Masih menebak-nebak akan apa yang mau dilakukan Mas Farhan dengan segala kemungkinan yang muncul begitu saja di otak, lagi-lagi aku dibuat terperanjat saat suamiku itu menyentuh kepala, dan berusaha membuka selimut tadi.
Refleks, kueratkan pegangan tangan di selimut itu. “Eh, Mas Farhan mau apa?”
Karena jujur aku bingung kenapa dia tiba-tiba melakukan itu. Bibirku makin terbuka lebar saat mendengar jawabannya.
“Buka saja selimutnya.”
Masih dengan posisi kedua tangan mengeratkan selimut agar tidak ditarik oleh tangan Mas Farhan yang masih sama dengan posisi semula, kutadahkan kepala menatap wajahnya yang menunduk, juga menatap mataku. Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Kupalingkan pandangan saat rasa canggung perlahan menyelinap. Posisi kami sangat dekat, bahkan tadi saat kutadahkan wajah, aku bisa melihat dengan jelas wajah Mas Farhan di atasku. Aku juga jadi tidak tahu mau berbicara apa.
Seperti paham dengan kebingunganku, dan mungkin dia juga teringat peraturan apa yang dia berlakukan selama kami berada dalam satu kamar, dia kemudian kembali berkata, “Tidak apa-apa, Najwa. Tidak ada siapa-siapa juga di sini.”
Aku masih bergeming. Sungguh, aku merasa tidak nyaman. Entahlah, aku tidak tahu kenapa malah merasa begitu.
“Mulai sekarang, tidak usah pakai kerudung lagi selama di kamar, sekalipun ada saya.”
Ini beneran, ‘kan?
Saking speechless-nya, aku sampai tidak tahu mau menanggapi apa kalimat Mas Farhan barusan. Otak rasanya kosong seketika. Apa yang Mas Farhan katakan benar-benar seperti mantra sihir yang mampu membuatku lupa akan apa yang ingin kutanyakan. Aku hanya bisa mangap seraya menelisik ekspresi yang tampak di wajah hitam manisnya. Katakanlah aku lebay. Akan tetapi, bagi seorang istri yang tidak pernah dianggap oleh suaminya sepertiku, ini benar-benar hal luar biasa sekali, dan juga sangat patut disyukuri.
Sikap Mas Farhan perlahan membaik, dia juga menghapus peraturan yang dia berlakukan secara bertahap. Ibarat mau makan roti tawar, tanpa disangka-sangka dapat dengan susunya juga.
Siapa yang tidak senang kalau begitu?
__ADS_1
Ibu, apa ini pertanda Mas Farhan akan menerimaku?
“Kenapa nangis?” Aku menggeragap. Aku bahkan tidak sadar jika ada air mata yang melintasi pipi. Buru-buru kuusap air mata itu, kemudian memaksakan diri untuk tersenyum ke arah Mas Farhan.
Duh, kenapa bisa kelepasan begini sih? Nanti Mas Farhan bakal mikir apa ya soal aku? Pastilah dia akan mengatakan aku cengeng.
“Eng-enggak apa-apa, kok, Mas.”
Dia hanya menatapku sebentar, seperti tidak khawatir kenapa aku tiba-tiba menangis. Padahal air mata ini menetes gara-gara dirinya.
“Sudah azan Asar. Masih punya wudhu’?”
Bola mataku seketika membulat.
Duh, seberapa lama sih tadi aku melamunnya? Perasaan hanya lima menit, deh. Kok sudah azan saja.
Kulirik jam dinding lagi, ternyata memang sudah masuk waktu Asar.
Aku kembali menoleh ke arah Mas Farhan. “Sudah batal, Mas.”
“Wudhu’ sana. Jemaah lagi. Saya tunggu di sini.”
Ya Allah, Mas Farhan. Ini beneran kamu, 'kan, Mas?
Wow. Kaget dong. Kalian kaget enggak sih dengar pertanyaan Mas Farhan. Kalau tidak ingat bagaimana hubungan yang tercipta antara kami selama ini, sudah pasti aku iyakan pertanyaannya barusan. Tapi pertanyaannya, kalau aku iyakan, Mas Farhan bakal gendong aku beneran apa enggak, ya?
Astaghfirullah, Najwa. Masih sempat-sempatnya berpikir macam-macam.
“Hah, eh ... eng—”
“Hah eh hah eh, buruan, Najwa.”
Aku mengerucutkan bibir.
Kenapa sifat Mas Farhan yang satu itu enggak hilang-hilang, sih? Menyebalkan.
Perlahan, kuturunkan kaki ke lantai, berdiri kemudian beranjak meraih handuk di belakang pintu, kemudian melangkah untuk ke kamar mandi. Namun sebelum itu, ketika aku sudah berada di ambang pintu, kusempatkan untuk melongok ke dalam kamar dan melihat apa yang dia lakukan. Ternyata dia menggelar dua sajadah—miliknya dan ... milikku.
Eh, tapi ini aneh. Mas Farhan makin ke belakang kayaknya makin berubah. Ya walaupun masih suka jutek mendadak sih. Apa ini ....
Ya Allah, jika benar ini adalah jawaban dari setiap doa-doa hamba selama ini, lalu alasan apa yang akan hamba gunakan untuk berkelit dari karunia-Mu? Engkau pemberi kejutan tidak terduga, ya Allah. Ketika hamba mulai putus asa dengan sikap Mas Farhan, Engkau kemudian menunjukkan sisi baik dari suami hamba agar hamba tetap mau berjuang.
__ADS_1
Kutatap lekat lelaki yang membersamai langkahku selama hampir dua bulan ini.
Aku akan berusaha untuk lebih sabar dan tetap kuat untuk memperjuangkanmu, Mas. Semoga teriring rido dari Allah, ya. Aku mencintaimu.
Saat kulihat Mas Farhan sudah mulai duduk di sajadahnya seraya menghadap kiblat, cepat-cepat aku ke kamar mandi, tidak mau membuatnya makin menunggu terlalu lama.
...***...
Langkah kakiku seperti tiba-tiba terpancang di tempatku berdiri. Karena saat memasuki kamar, aku mendapati Mas Farhan membaca Al-Qur’an dengan suara yang agak nyaring. Handuk yang hendak kugunakan untuk mengusap sisa air wudu di wajah, tiba-tiba terhenti dan melayang begitu saja di depan wajah. Aku tidak menyangka sisi lain dari suamiku seperti ini. Suara mengajinya sangat bagus, enak didengar. Tajwid makhrajnya kuyakin lebih baik Mas Farhan, deh, daripada aku.
Melihat itu, satu keyakinan tumbuh dalam hati ini. Ayah tidak salah memilihkan jodoh untukku.
Ya, tidak ada yang salah, Ayah.
Sama seperti yang kukatakan tadi pagi kepada lelaki paruh baya yang berstatus ayahku itu. Sikap Mas Farhan sejak awal hanya sebagai bentuk ujian untuk rumah tangga kami, 'kan? Dia orang baik.
“Jangan diusap airnya, biarkan begitu saja. Lebih banyak pahalanya ketika salat dalam keadaan air wudhu' kita belum kering.”
Aku terperanjat dan sempat tergagap sebentar saat Mas Farhan tiba-tiba berbalik dengan tangan masih memegang Al-Qur’an.
Ya Allah, Mas.
“Sudah. Ayo salat.”
Meletakkan handuk di gantungan, aku lantas memasang mukena, kemudian beranjak ke sajadah dan mulai melaksanan ibadah bersama suami tercintaku ini.
...***...
“Siap-siap, ya.”
Lipatan sajadahku terhenti sebelum beres. Aku mendongak, menatap Mas Farhan yang ternyata sudah berdiri dengan menundukkan kepala kepadaku, sama seperti posisi tadi. Bola mataku sedikit membeliak, kaget. Segera kutundukkan pandangan saat tatapan tajam Mas Farhan kembali bersirobok denganku.
“Memangnya mau ke mana, Mas?”
...***...
As-salamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Halo, Genks. Maaf, ya, update-nya lama banget. Semoga kalian tidak bosan menunggu update ceritanya Mas Farhan dan Najwa.
Salam manis dariku. Jangan lupa tinggalkan jejak, ya.
Sumenep, Madura, Jawa Timur
__ADS_1
Rabu, 28 Juli 2021