Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Ada Rasa Tak Rela


__ADS_3

“Apa kabar, Han?” Mas Gibran yang menyapa dengan ramah serta mengulurkan tangan kepadaku itu malah mencipta kegugupan. Mungkin karena jarang berinteraksi dengannya sejak kenal pascalamaran waktu itu, aku masih merasa canggung.


Kakak ipar pertamaku itu bahkan tersenyum cukup lebar, seperti tidak tahu apa-apa tentang perkara yang terjadi antara aku dan Najwa. Melihat itu, aku mengangguk kaku. “Baik, Mas,” jawabku, kemudian mempersilakannya untuk duduk di kursi seberang mejaku. Tempat yang kami setujui untuk bertemu adalah di kafe tidak jauh dari studio.


Mas Gibran memanggil pelayan kafe, kemudian menyebutkan minuman yang mau dipesan. Dia juga menanyaiku mau pesan apa, dan aku bilang agar disamakan saja.


“Saya pikir kamu akan kelimpungan mencari Najwa,” ucap Mas Gibran kala sang pelayan tadi sudah pergi untuk mengambilkan minuman pesanan kami. Dia menoleh ke arahku, lalu menatap cukup lekat. “Ternyata saya salah. Buktinya kamu terlihat sangat rileks, tidak ada yang berbeda.”


Bagai disambar petir di siang bolong, aku melotot sebentar; detak jantung makin tidak keruan mendengar kalimat itu; diam-diam tangan ini juga bergetar di bawah meja. Namun segera berusaha menetralkannya dengan menarik napas pelan.


“Tidak usah kaget begitulah, Han. Santai saja kali.” Sekali lagi aku dibuat meneguk ludah diam-diam. Sebegitu kentaranya sikapku? Mas Gibran malah terkekeh, sedangkan aku makin berkeringat dingin.


Astaga, santai banget ngomongnya, Mas. Bagaimana tidak kaget coba? Dengan bertanya begitu, itu artinya Mas Gibran mengetahui sesuatu soal Najwa. Ah, iya. Tadi malam pas aku telepon nomor dia, Mas Reza yang angkat, kan? Apa mungkin Mas Reza sudah bilang juga ke Mas Gibran? Aduh, mati aku kalau begini ceritanya!


“Ini tujuan saya mengajakmu bertemu, Farhan.” Hatiku makin ketar-ketir. Melihat raut serius yang mulai tercetak di wajah Mas Gibran, membuat kepanikan makin menjadi-jadi. Ternyata begini rasanya berhadapan dengan orang yang disegani dan dalam keadaan diri bersalah.


“Langsung saja, ya.” Tak ada yang bisa kulakukan selain mengangguki saja ucapan Mas Gibran. “Kamu sendiri tahu, selama ini yang dengan terang-terangan protektif dan posesif kepada Najwa dengan memberi ultimatum-ultimatum adalah Reza. Tapi ... saya diam, bukan berarti tidak tahu apa-apa.”


Kepala mulai tertunduk dengan sendirinya. Perasaan malu kepada kakak ipar yang duduk di hadapan mulai merasuki hati. Cukup lama waktu berlalu dengan keheningan. Entah apa yang Mas Gibran lakukan.

__ADS_1


“Awalnya saya mewanti-wanti Reza untuk tidak terlalu ikut campur urusan kalian, karena adik lelaki saya itu memang cukup keras kepala kalau menyangkut Najwa. Alasan saya adalah, Najwa sudah punya suami. Dia juga sudah dewasa dan memang seharusnya tidak selalu bergantung kepada Reza dalam situasi-situasi tertentu. Di samping itu, saya yakin suaminya bisa membantunya menyelesaikan masalah.” Mas Gibran melanjutkan penjelasannya, aku makin merasa kerdil. Jemari mulai saling bertaut. Keresahan dalam hati, serta kemungkinan-kemungkinan tentang tindakan yang akan dilakukan oleh kakak pertama Najwa ini, saling berkolaborasi mengacaukan pikiran.


“Tapi akhirnya saya tahu kenapa Reza begitu protektif terhadap Najwa. Mendengar semua kisah lengkap yang diceritakan Najwa tadi malam—tentunya sebab paksaan dari saya, Reza dan Diva karena dia masih bersikeras membela suaminya yang jelas-jelas sangat keterlaluan—saya jadi ikutan kecewa sama kamu.”


Tidak ada yang bisa kulakukan sekarang. Aku sudah seperti kehilangan wajah di hadapan Mas Gibran. Dia menjeda kalimatnya sebentar. Terdengar jelas deru napasnya yang memburu. Meski perawakannya terlihat tenang, sejatinya aku tahu kalau kakak iparku ini sedang menahan amarah. Lagipula siapa yang tidak akan marah besar ketika mengetahui salah satu keluarganya disakiti?


“Jangan menunduk, Farhan. Pada saat menghadapi seorang Najwa saja kamu bisa angkuh, kenapa dengan saya tidak?” Suara Mas Gibran kembali terdengar. Kali ini juga terdengar penuh penekanan. Mau tidak mau aku mengangkat wajah dan menatap wajah Mas Gibran yang masih serius, bahkan sangat serius. “Ini yang dibilang laki-laki? Beraninya sama perempuan saja.”


Jleb banget! Tidak menyangka, sih, seorang Gibran bisa bersikap seperti ini. Suaranya pelan, tapi kata-katanya serasa bikin tubuh remuk.


“Saya tidak menyangka jika kamu akan sejauh itu menyakiti Najwa, dan yang lebih mengejutkan saya dan istri saya adalah kenyataan bahwa kamu memiliki hubungan dengan Rifka, adik saya yang sudah bersuami dan beranak satu.”


“Saya dan Rif—”


“Saya heran, apa sih istimewanya kamu, sampai Rifka bahkan Najwa yang jelas-jelas tidak pernah diharapkan sama kamu malah jatuh cinta pada orang yang sama?”


Ternyata sindiran-sindiran halus ini belum berakhir juga. Ada sedikit kemarahan yang menuntut untuk berontak dalam hati. Namun, aku berusaha menahannya. Aku masih sedikit waras. Kalau makin bertingkah, yang ada Mas Gibran makin ngamuk.


“Buat orang yang dekat dengan kamu nyaman? Tapi Najwa sama sekali tidak bahagia bersama kamu. Bisa buat orang yang dekat dengan kamu bahagia? Nyatanya Najwa lebih bahagia dengan Reza.” Mas Gibran melekatkan tatapan, seperti sedang menilaiku. “Mau dibilang bertanggung jawab, kamu tidak amanah dengan janji suci pernikahan kalian. Pada saat istri kamu terluka, malah orang lain yang ada di sisinya. Parahnya, kamu yang malah makin melukai. Kalau dibandingkan, antara kamu dan Reza itu ibaratnya sembilan puluh sembilan persen dan satu persen. Tahu?”

__ADS_1


Di mana keistimewaan seorang Farhan? Tidak ada!


“Saya yakin kamu pasti berpikiran kalau saya mau membalas perlakuan kamu ke Najwa melalui kata-kata tadi. Bisa jadi. Biar kamu tahu rasanya terluka tanpa sakit fisik. Tapi itu tidak akan sebanding dengan apa yang diderita Najwa selama ini.”


Mungkin sudah haus atau sekadar untuk menetralkan emosi, Mas Gibran menyeruput minuman kaleng yang dia pesan tadi. Dia juga terdiam dalam beberapa saat.


“Saya datang ke sini bukan untuk menyalahkan kamu atau siapa pun. Yang saya mau adalah, tegaskan kemauan kamu apa, Han. Khusus saya pribadi, jika kamu berniat memperbaiki hubungan kalian, silakan dan buktikan. Tapi kalau ujung-ujungnya kamu akan menyakiti Najwa lagi, demi Allah saya tidak rela. Ceraikan dia, mumpung pernikahan kalian juga baru mau dua bulan, kan? Saya juga tidak rela jika kehidupan Rizqun menderita di masa depan akibat perbuatan ibu dan omnya.”


Tubuhku terasa bergetar seiring terlontarnya kalimat demi kalimat dari lisan Mas Gibran, seolah-olah suara itu mengandung muatan listrik yang begitu kuat.


“Saya bisa mencarikan pendamping yang lebih baik daripada kamu untuk Najwa.”


Entah apa yang terjadi, kemarahan yang sejak tadi berusaha kutahan, seolah-olah kembali membludak mendengar kalimat Mas Gibran yang ini. Entah apa alasannya, ada perasaan tidak rela dalam hati jika suatu saat Najwa benar-benar bersanding dengan orang lain.


Tidak. Najwa tidak boleh menikah dengan siapa pun. Sial! Perasaan apa ini? Apa benar aku sudah jatuh cinta kepada Najwa? Tapi ....


***


Hayo, siapa yang nungguin ini? Maaf, ya. Baru bisa unggah. Tadi masih ada beberapa kesibukan. Komen kuy. 😂

__ADS_1


Sumenep, Madura, Jawa Timur


Selasa, 21 September 2021


__ADS_2