
Tuhan Mahakuasa, ya. Padahal hari-hariku setelah malam itu tidak baik-baik saja bersama Mas Farhan. Kehampaanlah yang mengisi detik demi detik yang kulalui di rumah ini, diikuti perasaan sedih, nelangsa dan gundah tidak berkesudahan. Setiap hari dihidangi 'makanan hati'; diinjak-injak bak kerikil di tanah tanpa perasaan; ditusuk-tusuk oleh belati ucapan yang terasa sangat menyakitkan dan secara tidak langsung membunuhku perlahan-lahan. Harusnya aku sudah hancur, 'kan? Bahkan lebur, musnah sekaligus. Akan tetapi aku masih diberi kekuatan untuk bertahan sampai detik ini. Aku masih bernapas hingga hari ketiga puluh dari pernikahan kami, dan tetap melakukan aktivitas di rumah ini.
Belakangan ini, aku sudah mulai aktivitas baru, sehingga aku tidak begitu bosan di rumah sendirian. Aku diam-diam berbisnis online, yakni menjual obat-obatan herbal dan hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan bersama temanku di Bangkalan. Jadi, aku tidak usah susah-susah keluar rumah. Pekerjaan ini aku rahasiakan dari keluargaku. Entahlah, aku bingung. Makanya aku memilih melakukan apa-apa sendiri, karena takut malah berimbas pada terbongkarnya hubungan tidak baikku dengan Mas Farhan. Aku masih ingin berjuang.
Sedangkan Mas Farhan bekerja seperti biasa, dan suka pulang larut. Ternyata dia bekerja di studio foto miliknya sendiri, serta membuka usaha jual-beli alat-alat elektronik seperti ponsel, laptop, tablet dan segala yang ada sangkut pautnya dengan benda itu, televisi, DVD player dan yang berhubungan dengan dunia fotografi. Aku tahu karena pernah tidak sengaja melihat poster-poster di laptopnya, serta sempat mengikutinya ke sana.
Hubungan kami jelas tidak ada perkembangan ke arah yang lebih baik. Malah makin buruk. Tidak ada komunikasi yang terjalin di antara kami, sehingga membuatku merasa seperti hidup sebatang kara. Hanya satu hal yang masih bertahan, aku masih diizinkan menjadi makmum salatnya. Aku bersyukur untuk itu. Satu lagi, aku tetap tinggal di kamar yang sama dengan Mas Farhan jika malam hari, dengan aturan-aturan yang diberlakukannya. Sungguh, aku masih tidak bisa beristirahat sendirian. Jiwa parnoku sulit menghilang. Namun, jika siang hari, aku sering menghabiskan waktu di kamar sebelahnya lagi. Bukan di kamar yang waktu itu. Dan di sanalah seolah-olah aku menciptakan duniaku sendiri. Dunia di mana hanya aku dan Tuhan yang tahu dengan apa yang ada di sana. Bahkan barang-barangku pun sudah berpindah ke sana. Mas Farhan tidak pernah ke kamar tersebut, apalagi setelah tahu aku tinggal di sana.
"As-salamu 'alaikum."
Konsentrasiku yang sejak tadi berfokus pada layar ponsel, membicarakan seputar pekerjaan dengan Winda--teman bisnisku--terpecah. Segera, aku meletakkan ponsel dan keluar dari kamar untuk membukakan pintu seraya menjawab salam orang tersebut.
Aku tertegun begitu melihat siapa yang sudah berdiri di depanku seraya memamerkan senyum manis di bibirnya. Aku bahkan seperti lupa untuk menyapa dan menyalaminya.
"Najwa, kenapa diam?"
Seketika aku terkejut. Aku mengusap wajah kasar seraya merutuk dalam hati. Bisa-bisanya aku melamun di saat seperti ini.
"Bu-bunda? Kok enggak bilang-bilang kalau mau ke sini? 'Kan bisa dijemput sama Najwa kalau tahu gitu."
Mati aku. Mana Mas Farhan sejak pagi tadi tidak ada di rumah lagi. Mau bersikap seperti apa nanti aku di hadapan Bunda?
"Kejutan, Najwa." Bunda lagi-lagi menyunggingkan senyum.
Aku diam-diam menarik napas dalam. Ini sih bukan kejutan lagi, lebih daripada kejutan. Aku sampai tidak bisa berkata-kata tadi, saking syoknya.
Tidak ingin dicap menantu tidak peka, aku segera mengajak Bunda untuk masuk. Untung aku rajin bersih-bersih rumah pagi-pagi sekali. Kalau tidak, tamatlah pamorku di mata Bunda. Nanti dikatai menantu tidak becus, mengurus rumah saja tidak bisa.
Duh, maafkan aku. Kenapa malah menarik kesimpulan begini, padahal Bunda belum menunjukkan sikap apa pun sih. Tidak patut ditiru.
__ADS_1
“Najwa, ini kok ada bantal dan selimut di sofa, siapa yang tidur di sini?”
Ya ampun. Aku merutuk dalam hati karena lupa untuk segera membereskan bantal dan selimut Mas Farhan yang digunakannya beristirahat tadi malam. Kenapa bisa terlewat membereskan dua barang itu, sih? Aku tergeragap.
Bagaimana ini? Apa yang harus kukatakan kepada Bunda?
Karena tidak ada satu pun jawaban terlintas di otakku, aku memilih menghindar dari Bunda dengan membereskan barang-barang itu ke kamar.
Maaf, Bunda. Maaf karena malah mengabaikan Bunda.
"Oh, iya. Farhan mana? Kenapa Bunda tidak melihatnya?"
Aku terdiam sebentar. Pertanyaan ini yang kutakutkan sejak tadi. Aku tidak tahu kalau Mas Farhan keluar ke mana. Mau menjawab, jika nanti salah sasaran bisa gawat. Tidak menjawab pun pasti akan bermasalah.
"Tadi keluar, Bunda."
"Coba telepon, Naj. Kasih tahu kalau bundanya ada di rumah. Ke mana saja itu anak?" Bunda terlihat kesal. Berarti kebiasaannya keluar entah ke mana bukan saat bersamaku saja. Pasti kebiasaannya dari dahulu.
Cepat, aku membekap mulut saat sadar dengan kalimat apa yang aku lontarkan barusan. Bisa-bisanya aku keceplosan. Kegugupan mulai menyergap, apalagi saat melihat ekspresi Bunda yang penuh curiga. Wanita paruh baya itu menatapku cukup intens.
"Apa maksud kamu? Sebulan menikah dan kamu belum punya kontak suamimu? Bagaimana bisa?" selidik Bunda.
Lagi-lagi aku seperti disambar petir di siang bolong. Pertanyaan Bunda benar-benar membuat detak jantung tidak normal. Jangan sampai aku tiba-tiba stroke karena selalu mendapat kejutan tidak terduga dari Bunda. Apa sih, Najwa.
Berdeham pelan agar tidak ketahuan gugup, aku menyingkirkan tangan di mulut, lalu tersenyum ke arah Bunda. "Em, kemarin Najwa ganti nomor baru, Bunda. Nomor yang lama mati dan kontaknya kebetulan disimpan di simcard semua. Belum sempat minta lagi sama Mas Farhan."
Aku menghela napas samar setelah mengucapkan kalimat itu. Tidak lupa istigfar yang menyusul setelahnya, juga rasa bersalah karena membohongi Bunda. Kulihat guratan cemas yang sempat tercetak di wajah ibu mertuaku itu menghilang, berganti raut lega.
"Benar begitu?" Bunda pasti tidak akan mudah percaya, makanya beliau melontarkan pertanyaan itu. Aku mengangguk tegas untuk meyakinkan Bunda. Dan, helaan napas lega meski samar pun bisa kulakukan karena Bunda tidak mengejar topik itu lagi.
__ADS_1
"Ya sudah, Bunda duduk dulu. Atau mau beristirahat, biar Najwa siapkan kamar?" tawarku.
"Tidak. Bunda di sini saja. Sekalian mau nunggu Farhan."
"Oh, iya, Bunda. Najwa buat minum untuk Bunda dulu, ya?"
Saat hendak melangkah ke dapur, panggilan Bunda menghentikanku. Segera, aku menoleh dan menyambut panggilannya.
"Tidak usah repot-repot. Bunda ada riwayat diabetes, ambilkan air hangat saja."
Bibirku sedikit terbuka mendengarnya. Aku tidak pernah tahu kalau Bunda punya riwayat sakit seperti itu. Apa ini alasan Mas Farhan menerima perjodohan kami dahulu? Apa dia terpaksa karena permintaan ibunya yang sakit? Mengabaikan pertanyaan yang tiba-tiba terlintas, aku segera mengangguki ucapan Bunda dan meneruskan langkah ke dapur.
Begitu kembali ke ruang depan, kulihat Mas Farhan datang. Seperti biasa dengan ekspresi yang datar mengalahi tripleks. Sepertinya dia tidak menyadari kehadiran bundanya, karena main menyelonong saja.
"Kamu dari mana, Han?" tanya Bunda tiba-tiba. Kulihat dia segera menoleh cepat. Raut yang tercetak di wajahnya jelas menunjukkan kekagetan. Dugaanku jika dia tidak menyadari keberadaan Bunda benar. "Pagi-pagi sudah enggak di rumah. Enggak kasian istrinya ditinggal sendirian? Masih suka keluyuran?"
Kulihat Mas Farhan menggaruk kepala, bibirnya bergerak, tetapi tidak ada satu pun kata yang keluar. Mas Farhan kalau dihadapkan sama Bunda mati kutu. Hebat sekali bundaku itu, bisa menaklukkan lelaki berhati batu seperti Mas Farhan bagai badak dicucuk culanya. Coba saja ketika bersamaku.
Mas Farhan tidak menjawab pertanyaan Bunda tersebut.
"Terus tadi pas Bunda masuk rumah, kenapa ada bantal dan selimut di sofa? Siapa yang tidur di luar? Selama sebulan lebih menikah, kalian pisah ranjang?"
Amazing! Bunda benar-benar bisa banget membuat kami bak disambar petir secara tiba-tiba. Kekuatan firasat wanita itu sangat kuat, sepertinya. Padahal ini baru pertama kali beliau melihat keanehan di rumah kami. Jangankan aku, Mas Farhan saja yang pasti terbiasa dengan sikap ibunya yang suka mengejutkan itu, tampak pias. Raut wajahnya terlihat memutih, bibirnya bergetar. Andai Mas Farhan berdiri tepat di hadapan Bunda, dan tidak menundukkan kepala, beliau pasti menyadari perubahan raut wajah putra semata wayangnya.
"Farhan, kenapa diam?"
...***...
Salam manis dari orang manis. Hehe. Bodo amatlah kalau aku kepedean. Wkwk. Jangan lupa bantu tulisanku dengan like, vote dan kasih komentar, Kawan. Jika ada yang mau merekomendasikan untuk teman-temannya, boleh banget.
__ADS_1
Sumenep, Madura, Jawa Timur
Selasa, 15 Juni 2021