
“Apa maksud kamu, Najwa?” Kedua tangan Mas Farhan yang tiba-tiba mencengkeram erat lengan, membuat ringisan kecil lolos dari bibir ini. Derai tangis terus menjadi-jadi. Berbagai rasa, sedih, kecewa, takut, marah dan tidak menyangka bercampur aduk menjadi satu di balik dada.
“Kamu tahu, Mas? Tawaran perjodohan kata kamu?”
Ya Allah, kuatkan aku.
“Harusnya kamu cari tahu dulu, Mas. Apakah yang kamu katakan itu sama dengan kesepakatan orang tua kita?”
“Jangan berbelit-belit, Najwa!”
“Pada saat Ayah menyampaikan kabar perjodohan kita, beliau tidak bilang kalau itu tawaran, tapi pernyataan. Kata Ayah juga, Bu Rasti bilang anaknya setuju menikah denganku. Itu yang kamu bilang tawaran perjodohan? Terus aku bisa apa, sementara orang tuaku tinggal beliau satu-satunya. Kalau aku menolak, bagaimana perasaan Ayah?"
Karena kupikir dengan menerima permintaan Ayah, itu akan membuat beliau bahagia.
"Di dunia ini lelaki enggak hanya kamu, Mas. Aku menikah dengan kamu bukan karena aku enggak laku. Aku yakin di luar sana banyak laki-laki baik yang mau mencintaiku dengan segala kekurangan yang ada padaku, dan yang paling utama tidak membenciku mati-matian dengan dalih asumsinya sendiri yang salah. Dari awal, alasan aku mau menikah sama kamu itu Ayah.”
“Pokoknya kamu tetap salah, Najwa.”
“Terserah, Mas. Kamu bilang begini hanya ingin menyangkal kebenarannya, ‘kan? Kalau kamu menganggap aku hanya mengada-ngada, silakan tanyakan kepada Ayah dan orang tuamu bagaimana kesepakatan mereka dulu. Kamu menyalahkan aku saat pernikahan ini telanjur terjadi, padahal harusnya kamu yang salah. Maaf kalau aku harus mengatakan kamu tidak tahu diri.”
Mas Farhan tiba-tiba berteriak seraya menggusar rambutnya. Dia kelihatan frustrasi.
Bagai disetrum listrik tiba-tiba mendengar teriakan itu, tubuh seketika bergetar, gairah seolah-olah lenyap begitu saja, tulang-tulang di persendian sudah benar-benar patah sepertinya sehingga tidak bisa menumpu diri lagi. Aku ambruk diikuti derai tangis yang kembali menjadi-jadi.
Hancur, lebur dan ... ya Allah, kenyataan apa ini? Kutenggelamkan wajah di lutut dan membiarkan tangis yang belum reda. Ini benar-benar menyakitkan.
Pantas saja Mas Farhan menatap berbeda selama bersama Rfika. Ternyata suamiku masih mengharapkan perempuan lain, parahnya dia adikku. Bagaimana aku harus bersikap setelah ini?
__ADS_1
“Kamu kejam, Mas," ucapku di sela-sela isakanku. Entah inisiatif dari mana, aku berkata, "Kalau kamu memang mau memperjuangkan masa lalu kamu, ceraikan aku dan kamu bebas mau melakukan apa pun setelahnya. Aku enggak akan ikut campur urusan kamu lagi."
“Apa hanya segitu kemampuan berjuangmu, Najwa? Di mana sosok angkuh yang bilang kalau dia akan berjuang sampai di titik akhir?”
Mendengar kalimat itu, kemarahan kembali merasuki hati. Kuangkat wajah yang terbenam di lutut, kuusap kasar air mata, kemudian bangkit. Kembali kubalas tatapan tajamnya itu.
“Ada saatnya orang menyerah dengan perjuangannya. Memang ada banyak yang berhasil meraih apa yang mereka impikan, tapi itu enggak akan pernah terwujud dalam kamus hidupku. Untuk apa juga memperjuangkan orang yang tidak pernah mau menerimaku? Bukankah itu sama saja dengan membumbui burung terbang? Aku bisa hidup bahagia tanpa kamu. Aku juga bisa memberikan kebahagiaan lain untuk orang tuaku tanpa pernikahan ini. Jadi silakan urus surat cerai kita. Kalau enggak, aku sendiri yang akan menggugat cerai kamu.”
Maaf, aku enggak bisa memperjuangkan Mas Farhan lebih jauh lagi, Ayah. Mas Farhan memang sudah enggak waras. Dari tadi dia buat aku menyerah, dan sekarang secara tidak langsung memperjuangkannya? Gila.
Aku langsung masuk ke kamarku, meninggalkan Mas Farhan yang masih mematung.
***
Begitu tiba di kamar, langsung kurebahkan diri di tempat tidur dan kuluapkan semua emosi dengan menangis sejadi-jadinya. Persetan jika Mas Farhan mendengarnya. Rasanya seperti mimpi. Aku masih sulit memercayai apa yang terjadi hari ini, terlebih ketika mengingat keputusanku yang terakhir.
Di tengah-tengah kesendirian ditemani tangis pilu yang belum reda, kedengar ponsel berdering. Ingin mengabaikan, tetapi panggilan itu terulang beberapa kali. Segera aku bangkit dan meraih ponsel itu di tas. Aku sedikit terkejut melihat nama yang tertera di layar. Segera kuusap air mata dan mencoba menetralkan suara.
“Kenapa, Mas?”
“Kamu nangis?” Satu pertanyaan yang Mas Reza lontarkan lewat sambungan teleponnya itu membuatku tertegun. Kakakku peka sekali, padahal aku sudah berusaha agar suara ini tidak terdengar parau. Aku menggigit bibir cukup erat berusaha menahan lunjakan emosi di balik dada yang tiba-tiba saja kembali meluap. Mendengar suara Mas Reza, membuatku ingin menangis dalam dekapannya lagi. Aku enggak kuat menanggung luka ini sendirian.
“Mas ada di rumah kamu, tadi ketika baru sampai rumah dan Ayah bilang kamu pulang mendadak, Mas langsung ke nyusul kamu.” Kalimat itu sukses membuatku terkesiap.
“Dek? Kamu baik-baik saja, kan?”
“Ya ampun, Mas. Aku baik-baik aja.”
__ADS_1
“Ini yang kamu bilang baik-baik saja?”
Aku terlonjak begitu mendengar suara kakak keduaku itu di sekitar. Segera kutolehkan kepala ke pintu, betapa terkejutnya aku melihat Mas Reza sudah berdiri di sana dengan raut datar dan sebelah tangannya masih memegang ponsel yang menempel di telinganya.
“Ma-mas Reza? Ma-mas Reza udah dari tadi di sini?” Langsung kuturunkan ponsel dari telinga, meletakkan asal, aku lantas menghapus jejak-jejak air mata di pipi, dan berlari cepat menghampirinya.
“Kemasi barang-barang kamu sekarang, kita pulang ke Bangkalan.”
Jelas, aku sangat syok. Apa Mas Reza mendengar semua pertengkaranku dengan Mas Farhan tadi?
“Ayo, Najwa. Tunggu apa lagi? Untuk apa kamu masih menetap di rumah orang yang tidak pernah mengharapkanmu?”
Aku langsung melabuhkan tubuh di pelukan Mas Reza. Tangis yang ingin kubendung, tidak lagi bisa. Keinginanku untuk menangis di pelukan Mas Reza terwujud.
“Aku ... aku kecewa, Mas.”
Dengan sabar kakak tersayangku ini mengelus punggungku. Dia terus-menerus mengatakan kalimat-kalimat penenang, walaupun aku yakin dia begitu marah dengan kenyataan ini.
“Ayo ikut Mas Reza sekarang.”
***
Komen dong. Mau bilang apa buat Mas Reza? Mau bilang apa sama Najwa? Siapa yang setuju Najwa beneran menggugat cerai Mas Farhan? Yuk ramaikan lapak ini. Wkwkwk.
Abis ini, part versi Mas Farhan, ya. Selamat berpenasaran ria! Hu-huy.
Sumenep, Selasa, 14 September 2021
__ADS_1