
"Farhan, kenapa diam?" ulang Bunda.
Melihat keterdiaman Mas Farhan, aku jadi penasaran dengan jawaban apa yang akan dia berikan untuk Bunda. Kita lihat saja bagaimana respons si Tuan Es bin Tempramen ini memberi jawaban.
Bibir Mas Farhan terbuka. "Em ... itu, Bunda--"
Ternyata dia bisa tergagap juga. Kupikir dia hanya bisa marah dan jutek. Ingin rasanya aku tertawa melihat ekspresi itu. Namun kutahan, karena tidak mau memunculkan kecurigaan Bunda lagi. Mas Farhan juga pasti jaim di depan Bunda.
"Itu apa, Farhan? Ayo jawab. Kamu tidak akan tergagap begini kalau kamu tidak menyembunyikan sesuatu dari Bunda."
Salut, sih. Bunda benar-benar mengenal siapa putranya. Dalam diam dengan menundukkan kepala, aku menunggu jawaban apa yang akan Mas Farhan berikan. Andai Bunda tinggal bersama kami, betapa bahagianya aku karena Mas Farhan pasti bersikap manis kepadaku setiap hari. Bagaimana tidak? Bunda tampak sangat berharap pada pernikahan kami ini. Kalau dia menunjukkan sikap tidak baik saat sedang bersama Bunda, bukan tidak mungkin wanita itu kecewa. Sejauh pengamatanku, Mas Farhan selalu berusaha menjaga perasaan Bunda.
Ah, tetapi tidak. Bukan kebahagiaan sementera seperti itu yang kuinginkan. Perlakuan manis dan tulus dari hati Mas Farhan yang kuinginkan.
"Tadi malam Farhan dan Najwa tidur di luar, Bun. Soalnya di dalam tadi malam panas. Iya 'kan, Sayang?”
Aku menghela napas berat mendengar kalimat yang baru saja meluncur dari bibir tebal suamiku ini. Ternyata dia masih melibatkanku demi mengelabui ibunya sendiri. Benar-benar lelaki cerdas. Sayang, dia menggunakan kecerdasannya untuk hal-hal seperti ini. Tubuhku terasa kaku seketika, apalagi saat Mas Farhan merangkul pundak dan bersikap layaknya suami dan istri pada umumnya. Lidah pun terasa kelu hingga tidak mampu bersuara. Hanya anggukan kepala dan sedikit senyum terpaksa yang mampu kulakukan saat Bunda menatap kami dengan penuh selidik.
“Terus kok cuma satu bantalnya? Tikarnya mana? Kalian pakai alas apa? Enggak mungkin kalian tidur di sofa berdua, 'kan? Masa muat?”
Bundaku memang benar-benar hebat. Ada saja kalimatnya yang mampu menyudutkanku dan Mas Farhan. Jika bukan karena tekad untuk berjuang dari awal, rasa yang mulai tumbuh untuknya, serta keinginan Ayah yang berharap aku menikah sekali seumur hidup, mungkin aku sudah membongkar semuanya sekarang. Lagipula apa yang harus dipertahankan, sementara suamiku saja tidak menerimaku? Bahkan dari awal kami tinggal bersama, dia sudah menekankan hal itu. Cukup dengan aku jujur dan mengakhiri pernikahan ini, semua pasti kelar. Tidak akan ada lagi derai air mata karena meratapi nasib tidak beruntung seperti yang sudah-sudah. Tidak akan lagi nyeri di dada yang mengakibatkan sesak bak ditimpa beban beribu-ribu ton. Aku juga bisa bernapas lega dan bisa melakukan apa pun sesuai harapanku. Bukankah itu lebih mudah? Tentunya membahagiakan, 'kan?
Namun, itu adalah pemikiran sempit orang-orang yang pesimis. Dan aku, aku tidak akan memberi celah pesimis lagi dalam diriku. Aku akan mengikuti alur hidupku ini. Aku akan maju sampai batas akhir aku tidak bisa lagi berjuang. Karena entah dari mana, aku meyakini kalau aku bisa menaklukkan hati lelaki yang saat ini merangkul pundakku.
Semoga aku bisa bertahan lebih lama lagi di sisimu, Mas. Aku menyayangimu.
Kutatap lekat wajahnya yang merengut karena disudutkan oleh Bunda. Bukan kesal, aku malah tersenyum tipis melihat raut itu. Tidakkah dia tahu kalau dirinya tetap tampan di mataku, meski dalam keadaan marah sekalipun?
Ah, Najwa. Apa yang kamu pikirkan?
“Bunda ini kenapa sih? Masa pertanyaannya kayak gitu? Lagian apa salahnya sih kalau kita sebantal berdua?”
Ya Allah, Mas. Andai yang kamu katakan itu benar-benar terjadi di antara kita.
__ADS_1
Aku masih mematung, melihat sejauh mana Mas Farhan bertahan dengan perdebatan yang tanpa disadari mulai memasuki ruang obrolan kami pagi ini.
Dan Bunda sepertinya belum puas dengan jawaban Mas Farhan. Wanita paruh baya, tetapi masih terlihat muda itu berkata lagi, “Kenapa enggak pakai kipas aja? Di dalam juga ada AC, 'kan sayang kalau tidak dipakai?”
Jiwa berdebat Bunda patut kuacungi jempol. Nalar kritisnya pun dalam menanggapi hal-hal yang tidak sesuai dengan pikirannya sangat patut diapresiasi. Mengagumkan.
Kudengar Mas Farhan mendesah pelan. Dia tampak frustrasi dengan mengusap wajah dengan sebelah tangan yang tidak merangkul pundakku.
“Aduh, Bunda. Kenapa jadi masalah sih? Lagian yang ngelakuin kita berdua. Kenapa Bunda yang ribet tanya ini dan itu?”
Jika melihat interaksi Mas Farhan dan Bunda pagi ini, sepertinya karakter dingin dan juteknya terhadapku bukanlah karakter aslinya. Dia tidak cuek dan dingin seperti yang dilakukannya kepadaku.
Mungkinkah dia sengaja mengubah sikap demi membuatku tidak nyaman dan memilih mundur? Apa alasannya? Apakah karena alasan yang tadi? Karena tidak ingin Bunda kecewa jika dia yang memilih mundur terlebih dahulu? Dia mau mengorbankanku agar dirinya tidak dicap buruk oleh orang tuanya? Lama-lama aku lelah hidup dengan segala kemungkinan-kemungkinan yang tidak jelas.
Kulihat Bunda menarik napas. "Ya, Bunda ngerasa aneh saja dengan kelakuan kalian. Bunda khawatir kalau hubungan kalian tidak baik-baik saja.”
Aku menundukkan kepala mendengar kalimat Bunda. Perlahan, mataku dibasahi cairan-cairan bening saat perasaan bersalah kepada Bunda atas apa yang terjadi pagi ini kembali menyelinap ke dalam hati. Bagaimana jika suatu saat nanti Bunda tahu dengan keadaan sebenarnya?
"Sudah, 'kan, Bun? Farhan pamit, ya. Mau mandi, terus berangkat kerja."
Tanpa menunggu respons Bunda, Mas Farhan menarik lengannya di pundakku kemudian beranjak memasuki kamar.
“Ya sudah. Sana siap-siap berangkat kerja. Biar Bunda sama Najwa saja di rumah. Kamu tidak dipekerjakan, 'kan sama suamimu?”
Cepat, aku menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan Bunda. Aku memang tidak dipekerjakan oleh Mas Farhan, tetapi aku bekerja karena keinginanku sendiri. Ya, sudahlah. Bunda tidak perlu tahu. Aku beranjak duduk untuk menemani Bunda di ruang depan.
"Kamu belum hamil, Naj?"
Ya Allah, kuatkan jantung hamba atas sikap Bunda ini. Baru saja mendaratkan pantat di sofa, Bunda sudah mengejutkanku lagi. Meski masih syok, aku memaksakan senyum tipis ke arah Bunda.
"Belum ditakdirkan kali, Bunda. Kenapa?" Sebisa mungkin aku mencoba bersikap tenang.
"Buruan dong. Bunda enggak sabar ingin gendong cucu. Bunda gemas dengan ponakanmu itu, si Nayla. Anaknya Gibran itu lucu."
__ADS_1
Ah, cucu, ya? Seharusnya Bunda doakan putra Bunda dahulu biar pintu hatinya terbuka dan bisa menerima Najwa. Tidak akan ada sejarah keturunan di antara kami, jika dirinya saja tidak menganggapku. Namun, aku hanya bisa meratap dalam hati, dan tersenyum saja menanggapi ucapan Bunda.
“Kamu enggak sarapan dulu, Han?”
Aku menoleh ke arah Mas Farhan yang sudah siap dengan pakaian kerjanya. Sarapan? Tidak ada sejarahnya sarapan, makan siang dan malam di rumah ini, Bunda. Putra Bunda ini tidak pernah sekali pun menyantap hidangan yang Najwa masak.
Aku hanya bisa terdiam sambil menggigit bibir. Sungguh, rasanya aku ingin menghilang saja sekarang. Aku benar-benar muak dengan keadaan sama yang terus terulang. Aku lelah dengan kehidupan penuh topeng kepalsuan ini. Kepala juga mulai berdenyut nyeri karena berbagai macam pikiran masuk tanpa bisa dicegah.
“Tidak, Bunda. Farhan takut kesiangan. Nanti Farhan makan kok di studio."
“Kalian ini kenapa sih? Kalian punya masalah? Cerita sama, Bunda! Sikap kalian itu aneh sekali tahu.”
Nada suara Bunda terdengar jengkel sekali. Raut wajahnya menunjukkan perasaan itu. Sejenak, aku bersitatap dengan Mas Farhan. Sudah kukatakan kalau aku lelah, 'kan? Mari kita lihat sandiwara apa lagi yang akan dilakukan suamiku ini.
“Tidak kok, Bunda. Kita baik-baik saja. Ya, 'kan, Sayang?”
Baiklah, baiklah. Meski bosan dengan alur yang itu-itu saja, aku tidak punya pilihan lain sekarang.
“Iya, Bunda. Bunda tenang saja.” Aku menjawab ala kadarnya.
"Ya sudah. Sana berangkat. Cepat pulang kalau beres kerja. Jangan keluyuran."
Mas Farhan hanya mengangguk, lalu menyalami Bunda, kemudian mengulurkan tangannya ke hadapanku. Langsung kuraih tangan itu, kemudian menyalaminya penuh takzim. Kuantar dia sampai depan pintu rumah.
...***...
Guys, aku tidak akan pernah bosan meminta dukungan kalian. Jangan lupa like, vote dan komen, ya. Share ke teman-teman pun tidak masalah.
Salam manis dari orang manis.
Sumenep, Madura, Jawa Timur
Selasa, 15 Juni 2021
__ADS_1