
"Kamu lucu kalau lagi ngomel begitu." Sontak, kepalaku kembali menoleh ke arahnya. Tatapan ini menyorot tajam dirinya yang malah terkekeh. Ah, ralat. Dia tertawa malah. Meskipun pelan.
Aku berdecak. "Mas, please deh. Kalau mau miring, jangan ajak-ajak aku. Apa yang lucu coba? Ini aku lagi kesal, kesalnya sama Mas Farhan pula, tapi Mas Farhan masih bisa santai-santai, ketawa ha-ha hi-hi seperti itu? Mas sehat?"
Cepat-cepat kubekap mulutku saat tersadar akan kalimat apa yang kuucapkan barusan. Sorot mata tajam Mas Farhan menembus mataku. Yang membuatku sangat terkejut adalah, saat Mas Farhan tiba-tiba duduk tepat di sampingku. Dia terus menatapku tajam, membuatku diam-diam kembali gemetaran.
Ya Tuhan, dapat keberanian dari mana sih aku tadi? Bisa-bisanya aku bilang seperti itu sama Mas Farhan? Yang tadi itu seperti bukan aku banget. Ya enggak, sih?
Tatapan Mas Farhan yang kian tajam, membuatku makin tidak keruan. Ketakutan-ketakutan seperti hari-hari yang sudah berlalu saat Mas Farhan mulai marah, seolah-olah kembali merasuki hati. Aku merasa tidak mempunyai keberanian lagi sekarang. Bahkan untuk meminta maaf atas kelancanganku yang berani membalas kalimat Mas Farhan dengan ucapan yang seperti tadi, aku tidak berani.
Kutundukkan kepala seraya mengatupkan bibir rapat-rapat. Jemari tangan yang satu dan yang lain pun mulai saling bertaut, sebagai pertanda kegelisahan dalam hati makin menjadi-jadi.
"Mas, kamu ... apa yang kamu lakukan?" Jelas aku syok dong. Pada saat sebelum-sebelumnya Mas Farhan tidak mau bersentuhan sedikit pun denganku, lalu saat ini, dia tiba-tiba memelukku.
Ah, siapa pun tolong. Tolong bantu sadarkan aku. Ini bukan mimpi, 'kan? Ah, enggak. Ini beneran, Mas Farhan yang memelukku.
"Jangan takut. Harusnya saya yang takut, Najwa," ucapnya seraya mengelus lembut punggungku. Please, Mas. Kenapa tiba-tiba begini, sih? Ingin rasanya aku berkata begitu. Karena rasanya ada desiran aneh yang menjalari aliran darahku setelah tangan Mas Farhan mendarat di sana. Namun, entah mengapa lidahku tiba-tiba terasa kelu, sehingga yang bisa kulakukan hanya diam saja--tidak membalas dekapannya.
Tapi, tunggu! Harusnya Mas Farhan yang takut? Maksudnya apa?
"Saya minta maaf untuk kejadian kemarin, tadi pagi dan di ruang makan."
Jadi Mas Farhan tahu kalau kemarin aku diam-diam mengamatinya?
Aku masih membisu. Ini benar-benar di luar ekspektasi. Mas Farhan mengakui kesalahannya dan dia meminta maaf. Sungguh, ini benar-benar tidak kusangka.
Apakah ini pertanda kalau Mas Farhan mau memperbaiki hubungan kami?
Jangan lengah, Najwa! Bisa saja dia berusaha mengelabuimu. Jangan baper! Please!
__ADS_1
Dan entah mengapa, saat sisi baik dari dalam diri mulai muncul, sisi negatif pasti mengiringi.
Aku masih terdiam. Ah, ralat. Kami masih terdiam dalam dekapan yang tak bersambut, usai kalimat permintaan maafnya belum kurespons. Aku benar-benar bingung akan bagaimana menanggapinya.
"Najwa, kamu mau memaafkan saya, 'kan?"
Aku masih bergeming. Mungkin karena belum ada satu jawaban pun yang dia dapatkan, dia pun mengurai pelukannya, lantas menatapku cukup dalam.
"Kenapa harus minta maaf, Mas?"
"Karena saya tahu saya salah, dan seharusnya kalau orang salah itu minta maaf."
Ah, bijaksana sekali kata-katanya, ya. Aku jadi ingin tahu dia menyadari kesalahan yang mana saja. Namun, ada rasa enggan yang kemudian menghampiri hati. Ujung-ujungnya akan ada adegan flashback kisah tadi pagi. Oh, tidak. Aku tidak mau membakar hatiku dengan api cemburu.
"Udah, Mas. Enggak usah dibahas." Aku sedikit menggeser tubuh, menjauh dari Mas Farhan. Jangan lupa, berada dekat dengan Mas Farhan tuh bikin aku deg-degan tahu. Ups.
Ah, maunya Mas Farhan apa, sih? Sok manis banget tahu.
Masih menggenggam tanganku, Mas Farhan lantas berkata, "Tapi saya harus menjelaskan sama kamu, Najwa. Tadi pagi saya benar-benar tidak tahu kalau HP saya ada di Rifka." Nah, 'kan? Dia hanya ingat kesalahan dia yang itu, padahal sebelum-sebelumnya dia punya banyak kesalahan sama aku. "Tadi pagi tuh saya ke sini--"
Aku menarik tanganku, kemudian mengangkatnya ke hadapannya. "Tolong, Mas. Tadi aku 'kan udah bilang, enggak usah dibahas lagi. Yang udah lalu, biarlah berlalu."
Karena aku malas dengerin kalimat alibimu, Mas.
"Tapi saya tidak mau ada salah paham di antara kita. Saya mau menjelaskan se--"
"Apa? Kamu mau jelasin, kalau tadi pagi saking asyiknya ngobrol sama Rifka, sampai lupa segalanya. Kamu marah-marah sama aku karena aku ngilang gitu aja, padahal kamunya enggak tahu ada di mana saat aku mau pamit. HP pun sampai harus tertinggal di sini, biar bisa ketemuan lagi sama Rifka. Begitu, 'kan?"
Melihat Mas Farhan diam saja, sengaja kumanfaatkan untuk berbicara lagi. Jarang-jarang 'kan aku ada kesempatan menyampaikan uneg-uneg sama dia. Kali saja kalau aku mengomel, dia benar-benar bisa membuka matanya.
__ADS_1
"Kenapa hanya yang tadi? Kamu enggak pernah sadar 'kan dengan kesalahan-kesalahan kamu yang kemarin-kemarin?" Melihat wajah Mas Farhan malah buat aku makin kesal. Niat untuk merelaksasi diri malah menjadi kacau. Menyesal sekali aku mempersilakannya duduk tadi. Andai waktu bisa diulang.
Ya Allah, astaghfirullah. Jangan tiru kebiasaanku yang suka berandai-andai seperti ini, ya.
"Tolong banget, Mas. Ngapain juga minta maaf? Toh kamu enggak pernah sadar dengan apa yang kamu lakukan selama ini. Saat aku tanya kamu niat berubah atau enggak, kamu enggak jawab, 'kan? Malah pergi entah ke mana. Terus sekarang kamu kayak gini, seolah-olah kamu itu memang niat berubah. Aku capek, Mas. Berhenti bersikap seperti ini."
"Kenapa kamu begitu sulit untuk bisa percaya sama saya?"
Wow. Lihatlah respons suamiku. Hebat sekali, 'kan?
Aku terkekeh pelan. "Mas, Mas." Kepalaku bergerak--menggeleng--tidak habis pikir dengan kelakuan suamiku yang masyaallah sekali. "Jangan salahkan aku kalau aku enggak bisa percaya gitu aja sama kamu. Kamu sadar enggak, sih? Dari awal yang buat kepercayaan aku hancur itu kamu sendiri, Mas."
Aduh. Jika saja aku tidak ingat untuk tetap berlaku sopan di hadapannya, sudah pasti aku tertawa terpingkal-pingkal. Baiklah, niat untuk relaksasi di tempat ini sudah gagal, aku harus mencari sarana relaksasi diri yang lain. Aku bangkit dari tempat duduk, kemudian menoleh sebentar ke arah Mas Farhan.
"Udahlah, Mas. Enggak ada yang perlu dijelaskan selama apa yang Mas lakukan hanya sebagai alibi, dan berusaha membela diri agar tidak disalahkan. Enggak, aku enggak akan nyalahin Mas Farhan. Enggak usah takut." Karena yang salah adalah aku yang terlalu cepat menjatuhkan cintaku kepadamu.
"Najwa, saya mohon."
Kutatap lekat-lekat wajah Mas Farhan kali ini. Ya Allah, aku jadi bingung sendiri. Mas Farhan tulus apa tidak, sih, minta maafnya?
"Ya udah, intinya Mas Farhan minta maaf buat yang tadi, 'kan? Iya, aku maafin. Udah, 'kan? Aku mau ke kamar. Pusing, pengin istirahat."
...***...
Hai, aku datang lagi. Bagaimana dengan part ini? Komen dong. Jangan lupa like dan votenya, ya. Terima kasih.
Sumenep, Madura, Jawa Timur
Sabtu, 14 Agustus 2021
__ADS_1