
"Ayah sudah bangun?"
Suara berat yang sangat khas itu menginterupsi kegiatanku meluruhkan kesedihan dengan menangis di pangkuan Ayah. Segera kuangkat kepala, kemudian menoleh ke pintu. Tidak lupa kuseka air mata di pipi. Lelaki berkemeja liris putih biru yang disingsing sampai ke siku itu perlahan mendekat ke arah kami.
"Iya. Sudah dari tadi." Ayah menjawab seraya merangkul pundakku, kemudian menepuk-nepuknya perlahan.
"Lo, kamu kenapa, Sayang? Kok nangis?" Lelaki itu mendekat ke arahku, dan aku hanya diam saja seraya menggigit bibir, enggan memberikan jawaban. Biarlah siapa pun tahu kalau aku lelah untuk meladeninya saat ini. Karena setiap kalimat yang terucap dari mulutnya sama seperti pisau tajam yang selalu berhasil menyayat-nyayat hati. Menciptakan nyeri, pedih dan nestapa dalam waktu yang bersamaan. Membuat kekesalan kian membuncah melihat aktingnya yang begitu memuakkan.
Andai saja kami sedang tidak bersama dengan seseorang yang harus dijaga perasaannya, sudah pasti aku menjauh. Bosan menyakiti hati dengan berpura-pura menerima perlakuan yang tidak sampai hati dilakukannya.
Tidak mendapat jawaban, dia kemudian menoleh ke arah Ayah. "Najwa kenapa, Yah?"
Tangan Ayah beralih mengelus-elus kepalaku sebentar, kemudian tertawa pelan. "Tidak apa-apa, Farhan. Istrimu ini hanya kangen bermanja-manja sama Ayah."
Raut lega yang terpancar di wajahnya setelah mendengar kalimat Ayah membuatku harus menarik napas panjang dalam samar.
Andai itu bukan sandiwara, dan tulus dari hatimu, Mas.
Namun, sekali lagi harus kupertegas kepada diri sendiri. Ingat, itu hanya asa semata. Ia sudah menguap, dan sulit untuk digapai.
Mencoba meneguhkan hati yang mulai terusik, aku menjauhkan tubuh dari Ayah, kemudian menarik kursi dari kayu jati tidak jauh dari tempat tidurnya.
"Duduk, Mas."
Tanpa mengucapkan apa pun, dia menuruti ucapanku.
"Penyakit Ayah kambuh lagi, ya?" Suara Mas Farhan terdengar lembut. Membuat rasa tidak menyangka menguar dalam dada. Kutatap lekat wajahnya yang menghadap tepat ke arah Ayah, dari samping. Raut yang ditampakkannya siang ini benar-benar bukan raut Mas Farhan. Aku bahkan seperti melihat orang lain. Bagaimana tidak? Selama hampir dua bulan tinggal bersama, hanya kedinginan yang kudapat. Tidak jarang diikuti emosi dan amarah yang kuat.
Sudah seperti sayur dalam kulkas saja. Ditemani kedinginan setiap hari, giliran layu, malah sayurnya yang disalahkan. Jadi sayur enggak tahan lama segarnya. Ih, apa sih? Tapi benar, 'kan? Itu kalau kulkas. Tujuannya membuat sesuatu segar dalam jangka waktu yang lama. Lah, kalau hati? Tidak usah dijawab pun tidak apa-apa. Aku tidak menuntut jawaban, kok.
Uh, abaikan kebiasanku yang suka ngawur belakangan ini, ya. Entahlah. Aku bingung sendiri kenapa bisa begitu.
Balik ke Ayah dan Mas Farhan.
Ayah terlihat menyandarkan punggung kembali di kepala dipan. Beliau mengambil napas sejenak, lalu kembali bersuara. "Namanya juga sudah tua, Han. Maklumlah."
"Ayah harus pandai-pandai jaga pikiran. Prioritas Ayah sekarang ya diri Ayah sendiri. Anak-anak Ayah 'kan sudah ada yang menanggung."
Siapa sebenarnya kamu, Mas? Aku terharu, lo, sama perhatian Mas ini. Makin ke sini, aku makin dibuat penasaran dengan karakter aslimu. Kamu seperti orang berkepribadian ganda yang bisa berubah-ubah kapan saja. Tahu enggak, Mas?
Aku hanya diam saja, bak patung, menyaksikan interaksi antara suami dan ayahku ini. Kalau diteliti, tidak ada gap di antara keduanya. Mas Farhan tampak seperti orang ramah yang memang mudah beradaptasi dengan lingkungan.
Ayah terdiam sejenak. "Iya. Ayah lagi berusaha untuk itu. Kemarin Dokter Alfa menyarankan begitu memang. Tapi, ya mau bagaimana. Namanya orang hidup, pasti berpikir lah."
Mas Farhan tergelak. Lesung di pipinya tampak, membuatku lagi dan lagi terpesona terhadap lelaki yang duduk tidak jauh dariku ini. Satu hal yang harus kusyukuri saat aku bisa menikmati wajah tampan suamiku dihiasi senyum. Eh, bukan senyum, dia tertawa malah.
"Bagaimana kabar cucu Ayah?"
Aku menggigit bibir.
__ADS_1
Pertanyaan itu lagi, astaga.
"Belum ada kabar, Yah. Cucu Ayah masih traveling kali."
Demi apa, Mas Farhan bisa bercanda seperti ini? Ini benar-benar Mas Farhan, 'kan?
Meski samar, aku menganga takjub melihat ekspresi suami dingin dan pemarahku ini. Katakanlah aku lebay. Tidak masalah, sih. Memang selama ini aku belum pernah melihat ekspresi itu darinya. Jadi, wajar 'kan jika aku heran?
Lagi, Ayah dan Mas Farhan serempak terbahak-bahak. Andai ketakutan ini tidak mendominasi, ingin rasanya aku ikut tertawa seperti mereka. Namun, saat kucoba untuk bergabung, bibir ini terasa kaku, hingga yang bisa kulakukan hanya tersenyum tipis. Itu pun sangat kupaksakan.
"Ayah benar-benar titip Najwa, ya, Han."
Tawa yang semula menggema, memenuhi ruangan berukuran tiga kali empat meter ini, tiba-tiba lenyap seketika. Ucapan Ayah seolah-olah menghentikan mesin waktu. Suasana lengang beberapa saat. Hatiku juga mulai tidak tenang karena obrolan Ayah perlahan mengarah pada hubungan kami. Berada dalam satu ruangan bersama Mas Farhan di mana ada Ayah di dalamnya, membuatku seperti dalam kejaran hantu. Selalu saja ada ketakutan-ketakutan yang membayangi. Entahlah. Aku takut, dan ... paham, 'kan? Aku sampai bingung mencari kata yang pas.
Mas Farhan berdeham, kemudian menatap fokus Ayah yang sudah menatap intens dirinya. "Ayah, Ayah tidak perlu khawatir. Untuk itu ... insyaallah, Yah."
Insyaallah apa, Mas?
Cukup lama menunggu kelanjutannya, tetapi tidak ada. Dia malah mengalihkan pembicaraan.
"Oh, iya. Mas Reza tadi sempat bilang Ayah sering kepikiran Najwa dan aku, ya? Apa itu alasan kata-kata Ayah barusan?"
Tubuhku tersentak kala Mas Farhan malah membawa pembicaraan serius itu. Apa-apaan coba? Kenapa dia membawa pembahasan itu?
Menggeram dalam diam, aku berusaha untuk tetap tenang dan tidak terpancing emosi. Yang ada urusannya kacau, jika aku baper.
"Ya, seperti biasalah, Han. Namanya juga baru melepas anak." Ayah menatapku sekilas, mengusap lembut kepala, kemudian kembali menatap Mas Farhan. "Ayah paling khawatir sama dia, soalnya suka memendam apa-apa sendiri."
Astaga, Ayah.
Aku menghela napas pelan, kemudian menatapnya penuh harap beliau menyadari kode dari tatapanku, seraya memanyunkan bibir.
"Yah, Najwa udah enggak gitu lagi, kok."
Namun, Ayah seperti tidak peduli, atau beliau tidak menyadari?
Ayah terkekeh. "Iya, sudah enggak. Karena sekarang sudah ada yang mau dengerin kamu, 'kan? Sudah punya pengganti Mas Reza."
Hei, apa yang harus kujawabkan?
Aduh, aku jadi kikuk sendiri. Kalimat yang semula kumaksudkan untuk mencegah Ayah menceritakan tentangku kepada Mas Farhan, malah menjadi begini. Kuangkat sebelah tangan untuk menggaruk tengkuk, seraya mengalihkan pandangan dari kedua lelaki tercintaku ini.
Diam-diam aku juga mengamati raut Mas Farhan. Aku ingin tahu bagaimana reaksinya. Namun, jam terbang sandiwara suamiku itu tinggi sekali. Dia tidak tampak kaget sama sekali. Tidak ada raut kikuk layaknya maling tertangkap basah. Malah aku yang seperti mati kutu. Meskipun tadi sempat bungkam, sih. Akan tetapi, dia hebat sekali. Bisa menetralkan raut wajahnya dalam sekejap.
"Oh, iya. Selain pemikir, dia satu-satunya anak Ayah yang paling pemalu, Han. Dua saudara perempuannya pecicilan."
"Ya ampun, Ayah. Belum selesai nih acara gibahin Najwa?" protesku.
"Ini bukan gibah, Sayang. 'Kan kamu ada di sini."
__ADS_1
Sayang lagi. Lama-lama aku masukkan kata itu ke list kata yang kubenci. Suer. Bukan tersanjung, aku makin gedek sama suamiku yang sok romantis ini.
"Tuh, dengerin suami kamu."
Baiklah. Aku menyerah. Mau dihentikan pun, keduanya seperti sengaja melanjutkan perbincangan dengan terus menjadikanku bahan ledekan. Mas Farhan pun terlihat makin antusias. Netra pekatnya yang selalu tampak gelap, tajam dan menakutkan, kini terlihat berbinar-binar.
Bukan apa aku ingin menghentikan. Apa yang Mas Farhan lakukan sekarang ini hanya bagian dari akting, dan aku yakin apa yang dibahas saat ini tidak akan sampai ke hatinya. Jadi, untuk apa menceritakan tentangku? Sia-sia tahu.
"Yang tadi beneran, Yah?"
Membiarkan mereka membahasku, aku memilih menyandarkan punggung di kepala dipan.
"Iya. Sedari kecil, kalau dua adiknya yang suka usil itu berulah, dia pasti kabur ke samping rumah."
Ternyata Ayah hafal betul siapa aku. Namun wajar, sih. Namanya orang tua, pasti mengenali setiap karakter anak-anaknya.
"Kenapa kalau sama aku dia enggak gitu, ya, Yah? Dia beda, lo, sama apa yang Ayah bilang."
Kamu menyindirku apa bagaimana, Mas?
"Nah, itu dia. Ayah baru tahu kalau dia sudah mulai cerewet dan bisa protes tadi."
Baiklah, baiklah. Silakan lanjutkan aksi meledekku ini, Mas, Yah. Astaga. Mau ditaruh di mana mukaku sekarang?
Segera, kutenggelamkan wajah di balik punggung Ayah. Dan kedua lelaki terkasihku itu kompak mentertawakan aku.
"Tapi Ayah senang, Han. Terima kasih, ya, karena kamu mampu mengubah sikap anak Ayah yang satu ini."
Ayah .... Iya, Mas Farhan memang mengubah hidup Najwa, Yah. Tapi ....
"Ini, nih. Karakter pemalunya mulai menguar," ledek Ayah.
Teruskan, Ayah. Astaga.
"Kenapa ngumpetnya malah di belakang Ayah, sih, Yang. Mas cemburu ini, lo."
...***...
Hayo, siapa yang kangen Mas Farhan? Yang kangen Najwa siapa?
Maaf, ya, aku enggak update kemarin. Aku lagi kurang sehat, paketan juga habis. Doakan aku semoga lekas sehat, ya. Agar bisa lancar update-nya.
Jangan bosan sama kisah Mas Farhan dan Najwa. Tetap ikuti cerita ini di sini, ya. Jangan lupa untuk mendukung keduanya dengan like, vote dan komentar. Hehe.
Salam manis dari author manis.
Sumenep, Madura, Jawa Timur
Selasa, 29 Juni 2021
__ADS_1