Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Apa Aku Menyerah Saja?


__ADS_3

Usai melaksanakan salat Subuh, aku memilih berdiam diri sebentar untuk menghubungi Winda. Sehari kemarin waktuku tersita oleh berbagai hal, sampai terlupa dengan pekerjaanku. Untung sebelum berangkat aku sempat memberi tahunya kalau akan pulang. Setelah menanggapi beberapa pesan berisi pesanan dari pelanggan, mengkonfirmasi pengiriman paket kepada pemesan, dan beberapa chat dari teman yang lain, kuletakkan ponsel di nakas.


"Lagi apa?"


Pandangan yang semula tertuju pada lukisan-lukisan tangan Mas Reza di dinding dekat meja hias, perlahan teralihkan ke arah Mas Farhan yang melangkah ke arahku.


"Enggak ada, sih, Mas. Cuma lihat-lihat lukisannya Mas Reza."


Dia ikut menatap beberapa lukisan wajahku yang sengaja dibuat oleh Mas Reza.


"Jadi ini semua Mas Reza yang buat?" Aku mengangguki saja. "Saudara-saudara yang lain dibuatin juga?"


"Iya. Tapi enggak sebanyak punyaku. Karena aku enggak begitu suka difoto, makanya Mas Reza memilih melukis wajahku saja, Mas." Dia hanya manggut-manggut seraya mengamati setiap lukisan itu.


Ada sekitar lima belas lukisan karya Mas Reza dengan berbagai ukuran; mulai dari kecil, sedang, dan besar, terpajang di dinding sebelah timur kamarku. Kakakku yang satu itu suka menggambar sejak kecil. Ketika masuk SMP kemudian mendalami seni lukis. Nah, sejak mendalami seni lukis itulah, dia suka memberi kado lukisan wajahku saat ulang tahun. Meskipun, ada juga yang bukan kado, murni kemauan Mas Reza untuk melukisnya.


"Saya baru tahu kalau Mas Reza bisa melukis." Aku bingung harus merespons apa. "Saya punya banyak koleksi lukisan saya sendiri di studio. Ada juga yang belum rampung karena kehabisan ide. Mau lihat?"


Aku mengerjapkan mata sebentar. "Mas Farhan izinin aku ke studio Mas?"


Mas Farhan menoleh ke arahku. "Kenapa tidak?" Dia juga menatapku cukup lekat. "Bukankah kamu ingin tahu tempat kerja suami kamu?"


Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam? Ini benar-benar Mas Farhan, 'kan, yang bilang? Aku terharu, lo, Mas.


"Kemarin saya juga bilang pas ngobrol sama Rifka kalau akan bawa kamu ke sana, 'kan?"


Ah, hatiku mendadak bimbang kembali. Apa Mas Farhan makin berubah hanya demi Rifka?


“Kenapa ngelihatin saya seperti itu?”


Aku tergagap saat tanpa sengaja tepergok menatap Mas Farhan dengan cukup lama. Segera kupalingkan wajah darinya. “E-enggak, Mas.”


“Sepertinya ada yang ingin kamu tanyakan? Apa?”


Aduh, aku jadi kikuk sendiri. Mana Mas Farhan malah membalikkan badan, hingga berhadapan langsung denganku.


Tangan ini bergerak menggaruk-garuk pelipis, serta sedikit senyum dipaksakan. “Enggak, kok, Mas. Enggak ada.”


“Najwa!” Dan tatapan tajam serta suara datar itu kembali membuatku cukup bergidik.

__ADS_1


Lidahku tiba-tiba terasa kelu, tetapi kupaksakan untuk bersuara. “Itu ... pertanyaannya masih sama, Mas.”


Alis Mas Farhan menukik. “Pertanyaan yang mana?”


“Aku akan tanya, asal Mas Farhan jangan marah—”


“Jadi saya terkesan pemarah di mata kamu?”


Seketika mulutku bungkam. Lagipula jawaban apa yang harus kuberi, sementara kenyataannya memang begitu? Mas Farhan tidak sadar kalau dirinya pemarah apa bagaimana, sih? Kenapa dia masih bertanya? Tidak tahukah dia kalau dia marah, sudah mengalahi harimau yang akan menerkam mangsanya? Aih.


“Tanya saja, Najwa.”


Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya terlebih dahulu. “Maaf sebelumnya, Mas." Tanpa diminta, kalimatku terjeda sendiri. Seperti ada hal yang sengaja menghentikannya. Mas Farhan masih setia berdiri di hadapanku. "Aku enggak tahu kenapa Mas Farhan tiba-tiba berubah baik sama aku. Tapi makasih, makasih banyak, Mas. Karena jujur, aku bahagia. Lalu ... apa yang Mas Farhan lakukan ... em.”


Duh, sulit amat ngomongnya, ya Allah.


Tatapan Mas Farhan makin lekat, membuat detak jantungku makin tidak keruan saja. Keringat-keringat dingin pun perlahan membasahi setiap inci tubuh. Aku masih takut jika sewaktu-waktu Mas Farhan marah.


“Mas Farhan tu—apa yang Mas lakukan ini murni dari hati Mas Farhan?”


Segera kutundukkan kepala, untuk menghindari tatapan Mas Farhan yang terus menajam melihatku. Penyesalan pun perlahan menghampiri, andai saja tadi aku tidak bertanya.


“Kamu tahu siapa saya?”


Aku sedikit mengerutkan kening. “Mas Farhan suamiku, siapa lagi?”


“Itu kamu tahu.”


Aku mendesah pelan, kemudian memutar bola mata. Mas Farhan ngomongnya singkat amat. Saking singkatnya, aku sampai tidak paham.


Masih sama dengan posisi semula, Mas Farhan menangkup wajahku, dia lantas kembai berkata, “Kamu tahu apa yang seharusnya dilakukan seorang istri kepada suaminya?”


“Apa?”


“Yakin tidak tahu?”


Aku mengangguk kecil karena memang tidak ada satu jawaban pun yang tergambar dalam otak. Aku bingung mau menjawab apa, dan lagi, sejak pertama Mas Farhan menyentuh daguku, hingga detik ini berada dalam keadaan yang lebih intim dari biasanya, membuat detak jantungku makin tidak keruan--kacau. Saking tidak biasanya perlakuan Mas Farhan yang satu ini, aku sampai ... blank, rasanya.


“Dengan kamu bertanya begitu, seolah-olah kamu tidak percaya sama saya.”

__ADS_1


Ah, itu ya. Bagaimana caranya aku menjelaskan kepadamu, Mas? Padahal yang kutahu dari Ibu dan Ayah, kunci utama dalam awetnya sebuah pernikahan itu adalah adanya rasa saling percaya antarmasing-masing pasangannya. Namun, untuk orang sepertiku, yang seringkali dijatuhkan ekspektasi, pasti akan selalu muncul pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Apalagi, perubahan sikap Mas Farhan tanpa ada angin atau hujan terlebih dahulu.


“Bukan begitu, Mas.”


Aku benci diriku sendiri yang mendadak melankolis pada saat-saat begini. Saat Mas Farhan kembali menyorot mataku, ada cairan bening yang ingin sekali menetes, tetapi berusaha kutahan.


“Bukan, begitu. Tapi apa?”


“Aku takut dikecewakan ekspektasiku, Mas.” Dan pada akhirnya, jawaban yang selama ini coba kupendam sendiri pun tidak tertahankan. Dia terucap dengan enteng dari lisan ini, padahal dari tadi pikiran sudah mewanti-wanti untuk tidak berkata apa-apa. “Apalagi tidak ada pernyataan apa pun dari Mas Farhan.”


“Apa sebuah pernyataan itu masih penting?”


Aku menganggukinya dengan begitu yakin. “Mungkin bagi orang lain itu enggak penting, Mas. Tapi buat aku, terlebih berkaca pada hubungan yang terjalin di antara kita sebelumnya, aku sangat membutuhkan hal itu.”


Ya Tuhan, apakah saat ini adalah waktu yang Engkau takdirkan untuk Mas Farhan menyatakan semua perasaannya? Apa pada saat inilah dia akan mengatakan kalau dia mulai peduli kepada hamba?


Hati ini mulai ketar-ketir, menunggu jawaban dari Mas Farhan. Pikiran pun tidak kalah sibuk, saling bertentangan, tumpang-tindih pandangan masing-masing antara positif dan negatif. Perlahan, melihat keterdiaman Mas Farhan, bibir ini mulai kugigit. Kedua tangan sudah mulai bertaut resah, tidak lupa keringat-keringat yang juga terus membasahi setiap bagian tubuh. Bahkan aku yakin Mas Farhan akan dengan jelas melihat keringat di pelipisku.


“Jadi?”


“Lupakan yang tadi. Saya mau keluar sebentar.”


Lihat, 'kan? Ini yang aku takutkan, dan Mas Farhan kembali mengulanginya. Jika dia benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaanku tadi, kenapa dia harus keberatan saat aku mengatakan kalau aku tidak memercayainya?


“Mas, mau ke mana?” Aku sedikit berteriak begitu sadar dia sudah tidak lagi berada di sini.


“Keluar bentar. Tolong chas-kan HP, ya. Tadi pas lihat baterainya low.”


Kupikir aku akan mendapat jawabannya hari ini. Ternyata belum. Harapanku masih jauh sekali. Aku merasa lelah.


Apa sebaiknya aku menyerah saja?


...***...


Hayo, siapa yang menunggu Mas Farhan? Ini Mas Farhan datang. Yeay. Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. Aku lagi malas cuap-cuap. He-he.


Salam manis dari author manis


Sumenep, Madura, Jawa Timur

__ADS_1


Sabtu, 7 Agustus 2021


__ADS_2