Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Perlakuan Manis Yang Tak Disangka


__ADS_3

“Mau apa ke kamar Mas Reza?”


Hadeh. Berurusan sama orang misterius seperti Mas Farhan bikin pusing tujuh keliling.


Sejenak, aku terdiam seraya menggaruk tengkuk. Aku bingung menjelaskannya bagaimana. Karena aku merasa lagi kacau, jadi aku butuh sarana penenang. Aku tidak mau terus-terusan berlarut-larut dalam pikiran-pikiran negatif yang nantinya malah menenggelamkan aku dalam kehancuran. Aku tidak mau itu terjadi. Dan satu-satunya orang yang paling bisa kuandalkan saat ini, ya, Mas Reza.


“Enggak apa-apa, sih, Mas. Pengin aja ke kamar Mas Reza.”


“Tapi ini sudah malam, Wa. Siapa tahu Mas Reza sudah tidur.”


Ya Allah, pikiranku malah terasa makin kacau setelah berinteraksi denganmu, Mas. Sikap kamu yang berubah-ubah begini yang buat aku semrawut. Sayangnya, aku hanya bisa mengatakannya dalam hati.


Aku tersenyum ke arahnya. “Aku hafal jam tidur kakakku, Mas.” Mas Farhan tampak diam saja. “Udah, ya, Mas. Aku pamit. Lanjutin tuh makannya. Maaf, aku enggak bisa nemenin kamu makan.” Karena aku sudah tidak kuat untuk menahan air mataku, Mas.


Aku pun membalik badan, kemudian melangkah untuk ke kamar Ayah.


“Berhenti melangkah, Najwa.” Namun, aku sengaja menulikan kata-kata Mas Farhan. Kupercepat langkahku menuju pintu. “Selangkah saja seorang istri keluar tanpa izin suaminya, sekalipun untuk kebaikan, seperti menjenguk ayahnya yang sakit, akan dihitung dosa. Apalagi kalau berpuluh-puluh langkah.”


Tubuhku seketika mengkaku di dekat pintu. Tangan yang sudah akan memutar knop pintu langsung berhenti. Bagaimana aku akan tetap melangkah setelah mendengar kalimat itu? Lantunan istighfar pun terucap berulang kali dengan lirih dari mulut ini.


"Harusnya kamu tahu itu." Aku masih berdiam di tempatku berdiri tanpa membalik badan. “Balik, Najwa.”


Aku tidak punya pilihan, selain berbalik dan melangkah menuju sisi Mas Farhan lagi dengan pandangan yang sengaja tidak kuarahkan kepadanya. Lagi-lagi aku dibuat heran saat lirikan mata ini tidak sengaja menangkap pergerakan suamiku itu mengubah posisi menjadi bersila di tempat tidur. Yang lebih mengherankan lagi saat tiba-tiba dia menyuruhku untuk duduk di sampingnya.


“Duduk,” ulang Mas Farhan, dan aku masih bergeming. Mas Farhan berdecak pelan. “Mau saya bantu dudukkan?” Aku sontak menggeragap saat Mas Farhan tiba-tiba menurunkan kedua kaki ke lantai, lalu berdiri, meraih tubuhku, kemudian mendudukkanku di sisi tempat tidur.


“Ma-Mas Farhan mau apa?”


Dia meraih piring yang baru saja dia letakkan di nakas, kemudian menyodorkannya kepadaku. “Makan.”


“Mas, aku enggak mau makan.” Kudorong lagi piring di tangan Mas Farhan ke arahnya, dan Mas Farhan kembali menyodorkan piring itu lagi, aku juga kembali mendorongnya. Mas Farhan tidak paham bahasa Indonesia apa bagaimana, ya? Padahal sudah jelas aku bilang tidak mau, masih dipaksa.


Usai penolakan tanpa suara yang kulakukan kedua kalinya, tanpa banyak bicara, Mas Farhan lantas duduk di sampingku, kemudian meletakkan piring makanan di tengah-tengah kami, lalu mengambil sesendok nasi lengkap dengan lauknya. “Buka mulut,” ucapnya seraya mendekatkan sesendok nasi itu ke mulutku.


Ya Allah, seriusan Mas Farhan mau nyuapin aku? Aku enggak lagi mimpi, ‘kan? Atau Mas Farhan sedang kedatangan setan putih? Eh.

__ADS_1


“Hobi melamun kamu itu tidak akan membuat kenyang, Najwa.”


Pada saat mulutku mangap karena masih speechless dengan perlakuan manis dari Mas Farhan, tanpa aba-aba, dia langsung memasukkan sesendok nasi itu. Tahu apa yang terjadi? Tersedaklah. Siapa yang tidak kaget coba?


"A-air, Ma-mas."


Kupukul-pukul cukup keras dada yang terasa sakit akibat terlalu lama terbatuk-batuk. Kudongakkan kepala seraya membuka mulut untuk mengambil napas. Kelopak mataku sampai meneteskan cairan bening. Ya Allah, rasanya aku mau mati karena leher ini seperti tercekek hingga kesulitan bernapas. Untung Mas Farhan segera memberi air minum. Cepat, kutenggak air itu hingga tersisa separuh.


Mas Farhan meletakkan gelas itu kembali ke nakas. "Makanya jangan melamun. Disuruh makan, ya, makan."


Menyebalkan sekali sih suamiku ini. Istrinya hampir mati, itu pun karena ulahnya, dia masih sempat marah-marah.


"Mas juga yang salah. Kenapa enggak bilang-bilang dulu mau nyuapin?" Aku mulai bersungut-sungut.


"Tadi kan sudah buka mulut. Saya pikir sudah siap disuapin."


"Tahu, ah. Mas Farhan nyebelin."


Aku sudah telanjur badmood. Padahal ini kesempatan bagus sekali. Jarang-jarang, kan, Mas Farhan berinisiatif sendiri untuk menyuapiku? Apalagi makanan itu sisa makanan yang baru saja dimakannya. Kupalingkan wajah darinya. Sesekali kutarik napas panjang karena masih ngos-ngosan akibat tersedak tadi.


"Enggak."


Lagi dan lagi, Mas Farhan menarik tubuhku hingga kembali menghadap ke arahnya. "Saya minta maaf untuk yang barusan. Saya tidak sengaja. Ayo, sekarang makan. Saya suapi."


Boleh nangis enggak, sih? Eh, enggak jadi, deh. Entar dibilang cengeng sama Mas Farhan.


Apa yang harus tidak kusyukuri? Meski sikap Mas Farhan memang sering tidak baik selama ini, tetapi lihatlah ... di balik itu semua, dia punya sisi baik yang selalu berhasil membuatku terkagum-kagum dan kembali merasa jatuh cinta kepada lelaki ini. Kupikir dia akan meninggalkanku dan membiarkan aku tidak makan.


Namun ternyata ... dia begitu sabar, padahal jika melihat kejadian-kejadian yang sudah berlalu, tingkahku barusan sudah pasti membuatnya naik darah. Bahkan satu kalimat keramat--permintaan maaf--yang jarang sekali kudengar terlontar dari bibirnya, kali ini terucap. Ah, tidak. Mas Farhan pernah satu kali meminta maaf saat harus bersandiwara di hadapan Bunda waktu lalu.


Mataku berkaca-kaca menatapnya.


Kamu tahu, Mas? Aku begitu bahagia dengan perlakuan manismu kali ini.


Meskipun dia hanya diam saja, tidak ada pembicaraan yang mengisi sesi makanku, dia begitu telaten dan sabar menyuapi, menungguku menghabiskan makanan di setiap suapan, sesekali mengambil butir nasi di sekitar mulut atau mengusap bibir yang belepotan gara-gara sambal kacang, hingga separuh makanannya tadi habis, tidak bersisa.

__ADS_1


“Kalau kamu ke kamar Ayah, dan beliau tahu kamu masih belum makan juga sampai saat ini, beliau pasti akan lebih kepikiran,” ucap Mas Farhan setelah aku menenggak air putih, yang juga sisa dirinya.


Tadi dia sempat meminta maaf juga karena aku makan dan minum sisa dia, tetapi aku tidak masalah. Malah, ada kebahagiaan tersendiri dalam hati ini. Biarlah, aku tidak peduli kalian mengatakan aku bucin. Aku memang secinta itu sama Mas Farhan. Lagipula, makanan sisa Mas Farhan itu halal, dan masih layak dikonsumsi. Daripada mubazir, juga tidak ada yang makan, mending begitu, ‘kan?


Dan soal ucapan Mas Farhan barusan, ada benarnya juga, ya. Ya Tuhan, Mas Farhan bisa berpikir sejauh itu ternyata. Hal itu membuatku tidak bisa menahan senyuman di bibir ini.


“Terima kasih sudah perhatian sama aku, Mas.”


Aku benar-benar bahagia, Mas.


“Sudah, sana. Katanya mau ke kamar Ayah.” Seperti biasa, saat-saat begini, Mas Farhan selalu mengalihkan topik pembicaraan. Apakah Mas Farhan gengsi, ya, untuk terang-terangan mengatakan kalau dia sudah mulai peduli?


“Jadi ke kamar Ayah apa tidak, Najwa?”


“Ah, iya. Jadi, Mas.” Segera, aku bangkit dari sisi tempat tidur. “Oh, iya. Boleh ke kamar Mas Reza juga, ‘kan?”


Mas Farhan terlihat mengetatkan rahang, raut wajahnya kembali terlihat datar. “Tadi saya suruh ke kamar siapa?”


“Tapi, Mas?”


...***...


Hai, aku balik lagi dengan membawa kisah uwu Mas Farhan dan Najwa. Senang enggak? Senang dong. Ya kali enggak. Eh, bercanda. He-he.


Jangan lupa tinggalkan jejak apresiasi kalian buat aku, Najwa dan Mas Farhan, ya. 💙


Oh, iya. Boleh dong ya, kalian rekomendasikan novelku sebagai bacaan buat teman-teman, atau keluarga, kakak adik atau pacar, or suami/istri kalian. Biar novelku ini makin banyak yang baca, dan yang lebih utama dapat memetik hikmah dan manfaat dari tulisan ini.


Pokoknya, terima kasih untuk kalian semua. Love you all.💙


Salam manis dariku, author manis keturunan Madura.


Sumenep, Madura, Jawa Timur


Rabu, 4 Agustus 2021

__ADS_1


__ADS_2