Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Najwa Hilang


__ADS_3

Ke mana Najwa? Pertanyaan itu yang pertama kali terlintas dalam benak begitu tiba di rumah dan mendapati tempat tinggalku dengan perempuan itu, kosong. Kuedarkan pandangan ke seluruh sisi ruang depan, sepi dan sunyi. Bahkan seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini.


Tanpa ke kamarku terlebih dahulu, aku langsung beranjak ke kamar Najwa. Lagi-lagi aku merasa khawatir karena pintu kamarnya tertutup rapat.


“Apa Najwa sedang istirahat?” Mengingat aku tidak pernah tahu aktivitasnya pada siang hari. Kalian tahulah apa alasannya.


Dengan jantung berdegup kencang, kugerakkan tangan untuk memegang knop pintu. Entah mengapa aku malah gugup seperti ini. Begitu pintu kamar yang akhir-akhir ini sering Najwa tempati sebagai kamar pribadinya, lagi-lagi aku dibuat heran sekaligus makin panik saat tidak mendapati perempuan itu di sana. Kulangkahkan kaki memasuki kamar yang terlihat sangat rapi itu dan menelisik setiap sudutnya, tetap tidak menemukan keberadaan Najwa.


Seraya mengacak-acak rambut, tidak peduli dengan penampilan yang sudah tidak keruan, aku bergumam, “Kamu ke mana, Najwa?”


Aku makin gelisah. Teringat masih ada empat tempat yang belum kudatangi, aku segera keluar dari kamar itu dan menutup kembali pintu itu. Satu kamar yang jarang sekali dipakai sudah kudatangi, Najwa tetap tidak ada. Kucari ke kamar mandi, siapa tahu dia sudah mau bersuci karena ternyata jam telah menunjukkan pukul setengah dua—yang artinya waktu zuhur sudah masuk—hasilnya nihil. Di setiap tempat yang kudatangi, batang hidung Najwa tetap tidak tampak.


Aku bersandar sejenak di dinding ruang depan seraya mendesah. “Najwa enggak kabur, ‘kan?”


Entah mengapa, dalam keadaan kalut begini, pemikiran-pemikiran negatif lebih banyak mendominasi. Pikiranku makin tidak keruan setelah itu. Segera kugelengkan kepala dengan cepat. “Enggak. Enggak mungkin Najwa kabur. Selama sebulan lebih dia tahan denganku meski kerap menderita. Aku yakin dia enggak selemah itu.”


Terkesan egois memang. Dasar dodol kamu, Farhan!


Tapi ... kalau sampai Najwa beneran kabur dan ternyata dia kabur ke rumah orang tuanya bagaimana? Jelas, aku makin kalut ketika ketakutan itu mulai menghantui.


“Kelar hidup kamu kalau sekarang, Farhan!” Satu tinju berhasil kulayangkan pada dinding yang semula kusandari. Tidak peduli dengan rasa sakit yang tercipta usai hal itu, yang terpenting sekarang aku harus menemukan keberadaan Najwa.


Berbekal penyangkalan bahwa Najwa adalah perempuan kuat dan tidak mungkin kabur, sekali lagi kukitari seluruh penjuru rumah. Perasaan lelah karena bolak-balik dari satu tempat ke tempat yang lain seolah-olah raib, berganti kepanikan yang terus menguasai hati. Dan hasil yang kudapatkan adalah ... Najwa hilang!


“Ah, kacau!” Entah sudah berapa banyak teriakan frustrasi dan kegiatan  mengacak rambut dengan kasar kulakukan. Keadaan seperti ini, ditambah rasa bersalah yang terus mencuat dalam dada dan menuntut permintaan maaf pada orang yang telah disakiti, terasa makin menyiksa diri. Sekian jam yang kuhabiskan untuk mencari Najwa di seluruh sisi rumah dengan hasil sia-sia, terpaksa harus kuakhiri karena ternyata qiroah menjelang azan Asar sudah terdengar dari kejauhan.

__ADS_1


Astaghfirullahal azim.


Mengusap seluruh sisi wajah sebentar, aku lantas menyucikan diri untuk menghadap-Nya. Aku baru sadar, ada yang lebih tersakiti dibanding Najwa di sini, yaitu Dia Sang Pemilik istriku yang berusaha kutentang takdir-Nya.


Ya Allah, ampuni hamba yang telah menyalahkan-Mu Yang Maha Mengetahui dengan tidak mau menerima apa yang seharusnya terjadi.


Dalam sujud yang lebih panjang dari biasanya, kutumpahkan semua kebimbangan dan kegalauan hati di hadapan-Nya. Permohonan ampun pun tidak lupa kupanjatkan. Masih beruntung Dia menegur perbuatanku yang salah melalui Najwa. Kalau tidak, selamanya aku pasti akan hidup dalam prasangka dan terus menzalimi orang yang tidak tahu apa-apa. Aku menangis tersedu-sedu di hadapan-Nya. Tersadar dengan semua kesalahan yang lambat laun pasti harus kupertanggungjawabkan di hadapan semua orang.


Aku terus meratap, hingga entah kapan pikiran yang saling berkecamuk ini berpindah ke alam lain, mungkin juga dipengaruhi rasa lelah dengan apa yang terjadi seharian ini, tahu-tahu aku terbangun saat magrib menjelang. Untung aku tertidur usai melaksanakan salat Asar.


***


Pertama kali berada di rumah dalam waktu magrib—pada saat biasanya jam sembilan baru pulang—serta dengan keadaan rumah masih sepi, membuatku lagi-lagi berpikir. Rumah yang kutinggali ini terbilang agak jauh dari keramaian. Memang sengaja, sih, waktu pertama bilang mau buat rumah ke Bapak dan Bunda, aku meminta lokasi yang cukup jauh dari rumah tetangga. Bukan pansos, kurang suka dengan keramaian, saja.


Kenapa Najwa bisa betah tinggal sendirian dengan keadaan rumah sepi begini?


Cepat, aku melangkah menuju kamarnya. Kepanikan kembali merasuki hati.


“Kamu di mana, Najwa?” Aku terduduk lemas di tepi tempat tidur kamar itu. Kuedarkan pandangan lagi ke seluruh sisi kamar, hingga tatapan ini berhenti pada sebuah buku yang tergeletak di nakas samping tempat tidur itu.


Aku dibuat tertegun saat membaca deretan kalimat yang tersusun menjadi paragraf rapi dengan tulisan tangan yang cukup bagus dan enak dibaca.


My Hot-Tempered and Cold Husband


Bibir ini tidak bisa menahan senyum miris begitu membaca judul tulisan itu. Ternyata aku mempunyai gelar khusus, ya, di mata Najwa. Sayang, gelar yang kudapat darinya begitu tidak nyaman didengar. Tapi mau apa lagi? Gelar itu dia berikan karena kelakuanku juga, ‘kan?

__ADS_1


Sebelum sempat membaca isi buku itu, terdengar dering ponsel yang cukup nyaring dari kamarku. Segera kuletakkan buku itu dan beranjak menuju kamar untuk mengangkat telepon.


“Iya, Nan. Kenapa?”


“Gimana Najwa? Udah minta maaf belum?” Aku mengesah mendengar pertanyaan itu.  “Farhan, jawab apa kek. Kebanyakan diam kamu dari tadi.”


Aku mendengkus pelan mendengar kata-kata menyebalkan dari Kinan. Tapi akhirnya aku pun menjawab dengan lirih, “Najwa hilang, Nan.”


“Hilang gimana? Kabur maksud kamu?” Bodohnya aku, padahal tidak sedang melakukan panggilan video, malah mengangguk. Mana mungkin Kinan bisa melihat? Payah!


“Pas sampai di rumah Najwa sudah enggak ada. Aku cari di semua sudut rumah, tetap enggak ada.”


“Terus kamu diam aja di rumah?” Suara Kinan terdengar seperti kesal. “Han, dari dulu-dulu kamu itu suka gercep, kenapa sekarang malah lola, sih? Kamu tahu Najwa kabur, tapi kamu malah diam aja. Enggak ada usaha nyari atau apa, kek. Gini yang katanya mau bertanggung jawab? Orang merespons kejadian krusial begini malah cosplay jadi orang linglung.”


Astaga. Aku memijit kepala mendengar rentetan omelan yang sangat panjang dari Kinan itu. Dia sudah seperti ibu-ibu tetangga yang rempong sampai suara teriakannya terdengar ke rumahku yang cukup jauh dari rumahnya.


“Nan, lebih santai dikit ngomongnya bisa, kan?” Tangan kiri masih terus memijit kepala.


Namun sepertinya Kinan sudah sangat geregetan terhadapku. Tetap saja dia menimpali dengan suara ngegas khas ibu-ibu rempong.


“Kamu kalau enggak digertak enggak bakal action, Han. Kebanyakan mikir itu bisa merugikan, lo. Ayo cari Najwa!”


***


Hei, senang enggak aku update lagi? Senang dong pasti. Wkwk. Ayo komen! Ramaikan, yuhu! Mas Farhan kebingungan tuh. Ha-ha.

__ADS_1


Sumenep, Madura, Jawa Timur


Jumat, 17 September 2021


__ADS_2