
"Mas, kamu apa-apaan, sih?" protes Najwa saat aku menggiringnya menuju taman samping rumah. Tanpa memedulikan hal itu, aku terus membawanya hingga berdiri di bawah pohon mangga yang cukup jauh dari rumah.
"Maaf atas kelancangan saya." Aku hanya tidak tahu harus bagaimana. Pikiranku menjadi makin kalut sejak Najwa mengajukan permintaannya. Untuk sesaat, kutatap wajahnya yang berpaling dariku. Dia tampak enggan menatap ke arahku. Sebegitu marahkah dia? "Tapi, kita harus bicara, Najwa," susulku dengan lirih.
Dia langsung menoleh ke arahku. "Apa lagi yang mau dibicarakan? Semuanya sudah jelas, dan aku sudah memutuskan."
Ke mana Najwa-ku yang lemah lembut? Kenapa aku merasa kalau yang tampak di depan mataku saat ini adalah orang lain?
"Tapi saya belum menerima keputusan kamu." Apa pun yang terjadi, aku enggak mau pisah dari Najwa.
"Buat apa, Mas? Kita sudah enggak sejalan dari awal. Aku enggak butuh persetujuan dari kamu karena—"
"Sejak kita terikat dalam satu hubungan bernama pernikahan, kita sudah menjadi satu kesatuan, Najwa. Setiap keputusan yang akan diambil harus berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak."
Najwa terdiam. Kugerakkan tangan untuk meraih pundaknya, dan menghadapkannya kepadaku. Dalam sesaat kutatap lekat dirinya, memindai setiap bagian wajahnya. Pipinya makin tirus, matanya tampak sayu, bahkan di sekitar kelopaknya itu muncul lingkaran-lingkaran hitam, raut wajahnya sayu.
"Saya ada di sini bukan karena siapa. Karena kamu, Najwa. Apa kamu tidak lihat bagaimana keadaan saya? Ini semua karena kamu."
Najwa tiba-tiba menghempas tanganku. "Terus aja salahin aku, Mas. Aku memang enggak pernah benar di mata kamu, kan?"
Ah, berhadapan dengan perempuan ternyata serumit ini. Padahal maksud aku bilang begitu bukan untuk menyalahkannya. Aku dibuat pusing sendiri jadinya. Tapi enggak. Aku harus kuat, dan memperjuangkan Najwa. Kalau tidak, aku bisa hancur perlahan kalau sampai Najwa benar-benar menggugat cerai aku.
Cepat, kutarik dirinya ke dalam dekapanku. Sungguh, keinginan itu datang secara tiba-tiba karena desakan rasa rindu yang kian membuncah dalam dada.
"Tidak, Najwa. Bukan begitu maksud saya." Aku menggeleng-gelengkan kepala meski tahu pasti kalau Najwa tidak akan melihat karena berada dalam dekapanku.
"Lepas, Mas." Najwa memberontak.
"Enggak, Najwa. Tolong dengarkan saya. Apa kamu tidak melihat betapa kacaunya saya saat ini? Saya minta maaf atas semua perlakuan saya sama kamu di masa lalu. Saya sadar, saya benar-benar keterlaluan sama kamu."
__ADS_1
"Cukup, Mas. Aku sudah capek dengan semua keadaan yang kita lewati selama ini."
"Tolong beri saya kesempatan untuk menjelaskan semua kesalahpahaman d antara kita, Sayang."
"Berhenti panggil aku dengan kata-kata bulshit itu!"
Apa? Dia pikir aku sedang membual? Hei, ... tahan, Farhan. Tahan, atau kamu akan kehilangan istrimu!
Aku menghela napas berat. Dalam beberapa saat hanya keheningan yang tercipta di antara kami. Aku dengan usahaku menenangkan diri, sementara Najwa ... entahlah.
"Izinkan saya bicara sebentar. Tolong."
Najwa membisu. Entah dia mengizinkan atau tidak, aku lantas memutuskan untuk berbicara.
"Mungkin di masa lalu saya pernah suka kepada adikmu." Sekilas kuperhatikan, Najwa memejamkan mata saat aku memulai pembicaraan dengan hal itu. "Bahkan sampai menikah, dengan tidak tahu dirinya saya menyeret dendam untuk perempuan yang sama sekali tidak tahu apa-apa."
"Tapi asal kamu tahu, dua minggu sejak kita tinggal bersama, saya mulai merasa terusik dengan kehadiran kamu. Bukan, bukan terusik dalam artian yang buruk. Karena kalau mau bicara hal itu, dari awal saya memang sudah sangat tidak suka sama kamu."
Tidak akan ada lagi hal yang aku tutupi dari Najwa. Akan kuceritakan semua kepadanya, walaupun mungkin dia tidak akan peduli. Namun, jika boleh naif, aku akan sedikit berharap kalau dia akan berubah pikiran akibat keterbukaanku hari ini.
"Saya mulai merasa ada yang berbeda ketika saya berada di dekat kamu maupun Rifka. Dia memang sering datang ke studio. Tapi, semenjak saya menyadari perasaan saya kepadamu sudah tak lagi sama, saya mulai menarik diri dari Rifka. Puncak dari semua itu adalah saat kita pergi ke rumah Ayah."
Aku ingat betul momen itu—momen ketika aku merasa tidak diinginkan oleh istriku sendiri. Aku merasa sangat marah saat dia selalu berdekatan dengan Mas Reza, padahal aku juga ingin dekat dengannya.
"Saya tidak tahu dengan pasti saya meyakini perasaan ini sebagai bentuk sayang—bahkan mungkin cinta—tapi sejak kita berjauhan beberapa hari belakangan ini, saya sadar kalau saya sudah mulai mencintai kamu, Najwa. Karena itulah saya memantapkan hati untuk mengakhiri hubungan yang tidak semestinya terjalin di antara saya dan adikmu."
Najwa masih bergeming dengan tatapan yang sama sekali tidak mau menatap ke arahku. Hatiku mulai ketar-ketir. Akankah kata-kataku hilang bersama angin yang terasa makin kencang pada pagi menjelang siang ini?
Tuhan, tolong bantu aku. Luluhkan hati hamba-Mu yang satu ini agar berubah pikiran dan menarik keputusannya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Najwa menoleh ke arahku. Dia menatapku cukup lama, dan aku menunggu responsnya dengan dada yang terus berdebar tidak menentu. Najwa mulai membuka mulut. Mari kita dengarkan apa yang akan dikatakannya.
"Aku akan tetap dengan keputusanku."
Boom!
Bagai diserbu bom atom, aku berjingkat. Lututku tiba-tiba terasa lemas, bahkan tulang-tulangnya seolah-olah patah dalam seketika. Ada perasaan yang tidak bisa kudeskripsikan saat ini. Tubuhku yang mulai bergetar, seketika ambruk ke tanah.
"Kamu bilang kamu cinta sama saya. Kamu bilang akan berjuang untuk pernikahan ini. Untuk apa kamu berjanji akan berjuang kalau akhirnya kamu akan memilih jalan ini, Najwa?"
Dia menatapku cukup lama. "Apa maksud kamu, Mas?"
Kutadahkan kepalaku untuk menatapnya. "Saya sudah membaca buku diari kamu di kamarmu. Saya sudah tahu dengan semuanya, termasuk perasaan kamu."
Sepintas, aku menangkap raut pias di wajah Najwa. Dia tertegun di posisinya. Dalam keadaan begitu, aku masih saja berharap kalau Najwa akan berubah pikirkan. Tapi sepertinya aku memang sudah sangat terlambat.
"Perasaan orang bisa berubah kapan saja, Mas." Dengar sendiri apa yang dia katakan? Kepalaku refleks menggeleng—mencoba menyangkal bahwa Najwa tidak benar-benar mengatakannya. "Sama halnya dengan kamu, mungkin aku memang pernah mencintai kamu bahkan mengharapkan kamu menjadi suami pertama dan terakhir dalam hidupku."
Ah, aku begitu terharu mendengarnya. Sepanjang menjalani hubungan dengan Rifka, tapi seingatku, aku tidak pernah merasa sebahagia ini saat tahu kehadiranku sangat diinginkan.
Tapi ....
"Tapi untuk apa terus memaksakan hubungan yang tidak membuat kedua orang yang menjalaninya bahagia?"
Aku mematung dalam beberapa waktu.
***
Hai, aku update. Maaf, ya, aku ngilang lagi beberapa hari ini. Aku kehabisan kuota, Teman-teman. 🙈
__ADS_1