
"Kenapa diam?" Rasa tidak percaya terus merasuki hati. Pertanyaaan dengan suara lembut ini benar-benar bukan khas suamiku.
Meski heran, aku berusaha menampakkan raut biasa-biasa saja. Entah bisa membuat Mas Farhan percaya atau tidak. "Enggak apa-apa, Mas."
"Suka?"
Aku mengangguk, kemudian tersenyum tipis.
“Alhamdulillah. Maaf karena baru bisa ajak kamu jalan-jalan seperti ini sekarang.” Aku menggaruk pelipis mendengar kalimat itu. Maksudnya apa coba? Aku malah merasa suasana yang tercipta di antara kami pagi ini aneh sekali. Kikuk sendiri jadinya.
“Jadi, Mas Farhan mau jelasin apa?”
Aku sudah tidak sabar. Jika memang itu kabar baik, aku tidak sabar ingin berbahagia. Namun jika itu kabar buruk, semoga aku dikuatkan dan bisa menerimanya.
Mas Farhan menatapku lekat-lekat dan cukup, membuat hatiku makin tidak keruan. “Saya mau bilang ... sebenarnya ....” Alisku menukik, debaran jantung terus berpacu lebih cepat dari biasanya. Menunggu hal-hal seperti ini membuat diri berkeringat dingin. “Bagaimana kalau kita makan dulu? Ini sudah agak siang.”
Aku mendesah pelan.
Berasa di-PHP-in aku tuh. Kesal kan jadinya. Udah siap menunggu jawabannya malah bilang begitu. Kayak iklan aja. Ya ampun. Sabar, Najwa.
Aku terdiam sebentar, kemudian meraih tangan Mas Farhan dan kulirik arloji di pergelangan tangannya. Ternyata memang sudah jam setengah tujuh lewat. Hampir jam tujuh malah.
Baiklah. Ada baiknya sarapan terlebih dahulu, agar nanti bisa tetap kuat menerima apa pun yang akan dijelaskan oleh suami tercintaku ini.
Ternyata Mas Farhan membawaku ke sebuah warung sederhana di pinggir jalan. Tadinya dia mengajakku makan di tempat yang lebih baguslah dari tempat ini. Namun, aku menolak.
"Jadinya mau makan di mana?" Itu pertanyaan Mas Farhan tadi sebelum kami tiba di sini.
"Di mana aja, deh, Mas. Yang penting dekat dan bisa cepat makan. Aku juga capek kalau tempatnya jauh."
Dan entah kerasukan setan apa, suami tercintaku itu menuruti apa mauku. Dia begitu sabar, tidak seperti biasanya. Serasa menjadi permaisuri raja aku tuh, yang apa-apa dituruti. Alhamdulillah.
Di sinilah kami berada. Kami sudah duduk bersisian di lantai beralas tikar kain yang tersedia di sana. Tempatnya sederhana, tetapi bikin nyaman.
"Mas Farhan kok tahu tempat ini?" tanyaku penasaran. Soalnya ini sudah di daerah Bangkalan.
"Apa sih yang saya tidak tahu?"
Aku memutar bola mata. "Sombong amat." Aku membekap lisan saat sadar kalimat apa yang kulontarkan barusan. Berani banget aku, ya. "Maaf, Mas. Enggak sengaja tadi tuh."
__ADS_1
Duh, jangan sampai Mas Farhan ngamuk di sini sekarang. Bisa gawat.
Namun, asumsiku salah besar. Bukan marah seperti biasanya, Mas Farhan malah tertawa pelan. Bola mataku membeliak. "Tidak apa-apa, Najwa. Santai saja." Jawaban itu terus membuatku merasa tidak percaya kalau laki-laki di hadapanku ini adalah Mas Farhan. "Biasa saja kali natapnya. Saya sering makan di sini kalau ke luar kota untuk perjalanan fotografi sama Kinan dan Reyhan."
Aku mengalihkan pandangan dari Mas Farhan, dan hanya mengangguk-anggukkan kepala pelan. Setelah itu keadaan tiba-tiba hening. Awkward, beneran deh.
Merasa kehabisan topik pembicaraan, aku mencari pengalihan kecanggungan. Juga sambil menunggu makanan pesanan datang, aku diam-diam menghidupkan kamera ponsel, kemudian mengambil gambar suamiku yang mulai fokus menatap layar ponselnya. Entah apa yang dia lihat, aku tidak tahu.
“Ini makanannya, Mbak, Mas.” Suara mbak-mbak penjaga warung yang menyuguhkan makanan di hadapan kami itu mengalihkan atensi. Saat aku menoleh untuk menyambut penjaga warung itu, Mas Farhan ikut menoleh.
“Terima kasih, Mbak,” kata Mas Farhan. Mbak penjaga warung itu mengangguk, kemudian pamit.
Kami pun mulai menyantap hidangan pagi ini dengan nikmat. Dari dahulu aku memang pemakan apa saja. Eh, jangan salah paham. Maksudnya tidak pilih-pilih makanan. Mau dari warung biasa atau depot, aku tidak masalah. Namun lebih enak makanan rumahan sih menurutku.
Sesekali aku menoleh ke arah Mas Farhan yang tidak bersuara sama sekali sejak memulai makan. Ada rasa bahagia yang menyelinap ke dalam hati saat aku bisa makan berdua lagi dengannya seperti ini. Melihatnya begitu lahap menyantap sarapan paginya, membuatku ikut merasa nikmat.
Seiring berjalannya waktu, makanan kami perlahan-lahan mulai habis. Cita rasa makanan di warung ini sangat enak. Aku sangat menyukainya. Namun ... sepertinya aku meluapakan sesuatu.
“Mbak,” panggilku kepada penjaga warung tadi dengan sedikit panik. Aku cepat-cepat meneguk air putih yang juga sudah tersuguh di hadapan. Sekali lagi kupanggil mbak penjaga warung itu. Tidak ada sahutan dari perempuan itu, aku lantas memanggilnya lagi dengan perasaan makin panik. Tenggorokan mulai terasa kering, sedangkan air sudah kutenggak habis; hidung juga seperti tersumbat sesuatu hingga sulit bernapas.
“M-mbak!” panggilku lagi dengan terengah-engah.
“Najwa, kamu kenapa?”
“Mbak!” Kali ini Mas Farhan yang memanggil dengan suara cukup lantang. “Sayang, kamu punya riwayat asma?" tanya Mas Farhan. Dalam kepanikan yang makin menjadi, serta dada yang terus merasa sesak, aku hanya mengibas-ngibaskan tangan untuk memberi isyarat tidak. Kupikir ini hanya alergiku kambuh lagi, memang cukup parah sih.
“Se-sak, Mas.” Mengabaikan sarapannya, Mas Farhan langsung merangkul tubuhku dengan tangan belum sempat dibasuh.
“Kamu alergi makanan?”
Aku hanya bisa menganggukkan kepala sebentar, kemudian kembali menadahkan kepala. “Mbak! Ke mana ini sih orangnya?” teriak Mas Farhan mulai terdengar frustrasi. "Kamu ngapain biasanya kalau alerginya kumat?"
“Ma-mas Re-za. Bi ... ay—”
“Kamu ngomong apa? Saya tidak paham.”
Ya Allah, Mas. Kamu enggak tahu saja kalau aku seperti mau mati.
Aku berusaha untuk mengambil napas banyak-banyak lewat mulut untuk membantu pernapasan, tetapi agak sulit. Tenggorokan makin tercekat, dada sesak, hidung tersumbat.
__ADS_1
“Ya Allah, Mas. Istrinya kenapa?” Mbak-mbak yang dipanggil sejak tadi itu baru menampakkan batang hidung.
“Ini menunya apa aja, Mbak? Istri saya sepertinya alergi.”
“Biasa kok, Mas. Sayur oseng dan ayam---”
“A—ku a ... gi ayam, Mas. Tel ... Mas Re ....”
Ya Allah, Mas Farhan lola amat, sih. Dia kayak orang linglung padal aku sudah bilang telepon Mas Reza.
Kugerakkan sebelah tangan, kemudian mendekatkan ke telinga untuk mengisyaratkan telepon. “Mas Reza.” Usai mengatakan itu, aku makin sesak.
Mungkin sudah paham dengan maksudku, dia lantas meminta mbak-mbak penjaga warung itu mengganti posisinya merangkulku.
“Mas, kalau Najwa alerginya kumat diapain?” Kudengar suara Mas Farhan sangat panik. “Ah, puskesmas. Iya.”
Mas Farhan sudah bersiap menggendongku ke mobil, tetapi tiba-tiba--entah sedang berada di mana--kakak keduaku datang dengan raut wajah panik. Dia langsung menyingkirkan Mas Farhan dengan menyuruhnya menjauh dariku, kemudian membopongku ke mobilnya.
***
Dunia yang tadi sudah seperti mau kiamat karena aku kesulitan bernapas, perlahan membaik. Aku yang seperti terjebak dalam kegelapan yang begitu pekat, perlahan menemukan secercah cahaya untuk keluar darinya. Napas yang terus memendek dan gusar, seperti akan berakhir, perlahan berembus ringan. Puluhan beban yang tadi menimpa dada hingga membuat sesak tidak terkira, kini enyah. Nikmat apa yang akan aku dustakan?
Beruntung Dia masih mengizinkanku untuk menghirup udara lebih lama lagi karena setelah mendapat penanganan dari dokter puskesmas terdekat dari warung tadi, aku sudah mulai bisa bernapas lega.
Ya Allah, jika ingat keadaan seperti tadi, rasanya aku sudah tidak bisa berharap apa-apa lagi. Yang tampak di depan mata adalah ajal. Bagaimana aku tidak akan bersyukur, setiap hari dapat dengan bebas bernapas tanpa harus menggunakan bantuan selang oksigen atau alat bantu apa pun.
Alhamdulillah, segala puji bagi-Mu, Ya Rabb. Terima kasih.
Kupandangi langit-langit ruang pemeriksaan di puskesmas ini sebentar, lalu menoleh ke sisi kiri dan kanan. Dokter yang menanganiku sudah pergi, dan beliau mengizinkanku untuk rehat sejenak di sini.
Merasa sudah cukup baik, aku berniat untuk pulang dan beristirahat di rumah saja. Namun, aku tidak menemukan keberadaan dua lelaki tercinta yang membawaku ke sini.
“Kenapa bisa begini?” Samar-samar kudengar suara Mas Reza di luar ruang pemeriksaan.
***
Enggak kuat nahan update sampai besok. Hiks. Baca komenan kalian, berasa digantung kek jemuran, buat aku geregetan untuk absen update. Ha-ha. Eh, enggak. Aku akan berusaha selesaikan naskah ini, kok. Doakan secepatnya.
Mau bilang apa sama Mas Farhan? Komen, kuy. Jangan lupa tinggalkan jejak. Maaf, ya. Belum bisa balas satu per satu komentar kalian. Tapi terima kasih banyak. Aku baca semua kok komentarnya. Cuma emang lagi lieur buat balas satu satu.🙈 Terima kasih banyak pokoknya.
__ADS_1
Salam manis dariku.
Minggu, 12 September 2021