Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Mencoba Terus Menghindar


__ADS_3

Sebenarnya aku masih mengantuk dan rasanya sulit untuk membuka mata. Namun--


"Ya, Mas. Biar saya yang pindahkan Najwa ke kamar." Aku segera bangkit dari tempat tidur dan duduk tegak. Karena bangun tiba-tiba, aku merasa pusing hingga tanpa sadar aku hampir jatuh dari sofa. Beruntung ada seseorang yang tiba-tiba menopang tubuhku.


Bola mataku membelalak melihat siapa orang itu. “Aduh, maaf enggak sengaja.” Aku buru-buru menarik tubuh dari rangkulan Mas Farhan. Di samping kikuk, sisa kekesalan akan dirinya masih ada dalam hati. “Terima kasih udah bantuin.”


“Kamu kenapa tiba-tiba bangun, sih, Dek?” tanya Mas Reza.


Kugerak-gerakkan kepala ke kiri dan kanan sebentar seraya memijat-mijat kecil bagian belakang leher. Jelas, aku pusing karena belum nyenyak tidur tiba-tiba harus bangun lagi.  “Enggak apa-apa, Mas. Tidur di sofa enggak enak ternyata, leher sakit. Aku pindah ke kamar aja.”


“Baru aja suami kamu mau bawa ke kamar.” Aku menggeragap sebentar.


“Benar kata Mas Reza. Ya sudah sini, Mas bantuin.” Mas Farhan mengulurkan tangan ke arahku. Aku masih terdiam, menatap tangan Mas Farhan yang belum tersambut. Perlahan aku mengembuskan napas. Sesekali kutadahkan wajah untuk melihatnya. Heran sekali sama suamiku  ini. Dia lupa atau bagaimana, ya? Padahal sudah kubilang tidak usah sok peduli terhadapku, dia malah seperti sengaja cari-cari kesempatan. Pakai acara sandiwara di depan Mas Reza lagi. Mau cari perhatian?


“Ayo, katanya mau pindah ke kamar,” ulang Mas Farhan.


“Eh, enggak usah. Aku bisa sendiri.”


Aku buru-buru bangkit tadi memang niat mau menghindari Mas Farhan. Ya kali aku terima tawarannya. Mending pura-pura tidur saja tadi kan biar digendong ke kamar? Namun, egoku masih tinggi. Kekesalan akan perbuatannya yang plinplan itu membuatku tidak ingin dekat-dekat dengannya. Aku benar-benar lelah, ingin mengistirahatkan diri.


Aku langsung melangkah untuk pergi ke kamar, dan ternyata Mas Farhan malah membuntutiku. Aku lantas menoleh dan menatap cukup tajam ke arahnya. “Mas ngapain?”


“Ya mau nemenin kamulah.”


“Biar sekalian minta kerokin sama Farhan, Dek. Biar sakitmu enggak keterusan,” celetuk Mas Reza. Aku membulatkan mata mendengar usulan konyol Mas Reza. Bagaimana aku tidak mengatakannya konyol? Selama ini aku tidak pernah membuka diri—buka kerudung saja baru kemarin karena dia yang meminta, terus apa yang akan terjadi? Canggung lah.


“Aku hanya sedikit pusing, Mas. Nanti baikan kok. Enggak perlu dikerokin.”


“Tapi Mas Reza ada benarnya, Sayang. Ayo ke kamar, Mas bantu kerokin deh.”

__ADS_1


Ingin kuceburkan suamiku ini ke laut Antartika. Enteng sekali ya dia bicara begitu? Sepertinya dia memang benar-benar amnesia. Sikapnya itu bukan Mas Farhan sama sekali tahu. Beda, banget malah.


Melihat Weny yang baru keluar dari kamarnya yang berjalan beriringan dengan Wildan, aku langsung berkata, “Oke. Aku mau dikerokin, tapi sama Weny.”


Adikku yang asyik berbincang-bincang sepanjang langkahnya menuju ruang depan dengan suaminya itu lantas berhenti, dan menoleh ke arahku. Ekspresi yang tampak di wajahnya jelas menunjukkan kebingungan. Apalagi ketika muncul kerutan di keningnya, dan tatapannya erlihat agak kosong. Sudah seperti orang linglung saja adikku ini.


“Kenapa, Mbak?” tanyanya.


“Kamu mau ke mana? Kok sudah rapi?” tanyaku saat menyadari penampilan Weny dan Wildan yang seperti akan bepergian.


“Lo, tadi pagi aku sudah bilang kalau akan pulang sekarang, kan, Mbak? Ini aku sama Mas Wildan sudah mau pulang.” Dia menunjukkan ranselnya ke arahku. “Memang kenapa, Mbak? Oh, iya. Tadi Mbak bilang apa?”


“Enggak apa-apa, Wen. Kalau kamu mau pulang, silakan aja. Biar Mas yang ngerokin mbakmu,” sela Mas Farhan. Suamiku ini batu sekali ternyata. Sudah jelas-jelas dia ditolak, masih saja memaksa. Aku mendengkus keras.


“Ya udah kalau kamu mau pulang. Hati-hati. Mbak minta tolong Mas Reza aja.”


Aku sudah beranjak untuk menghampiri Mas Reza. Namun, Mas Farhan tiba-tiba menarik lenganku.


Kepalaku terasa makin nyeri tidak keruan. Mas Farhan benar-benar menyebalkan. Maunya apa? Kenapa dia seperti tidak rela sekali tubuhku dilihat orang lain. Padahal dia kakakku sendiri, lo.


“Ya udah terserah. Intinya aku enggak mau dikerokin sama Mas Farhan. Wen, Mbak pusing. Minta tolong kerokin bentar, ya.” Pokoknya aku harus menemukan alternatif untuk menghindari kontak fisik dengan Mas Farhan.


Weny membuka lisan. “Ta-tapi, Mbak—”


Menginterupsi ucapannya, aku langsung menarik tangan adik bungsuku ini. Aku menatap Wildan. “Wil, Mbak pinjam istrimu bentar, ya? Bentar, bentar aja. Enggak pakai lama."


Tanpa menunggu jawaban dari suami Weny, aku langsung menggiringnya ke kamar. Entah apa yang akan ketiga lelaki itu pikirkan tentangku sekarang. Aku tidak peduli.


Begitu tiba di kamar, aku langsung membuka pakaian dan tengkurap di tempat tidur, lantas meminta Weny untuk mengeroki punggung secara menyeluruh hingga ke leher.

__ADS_1


“Mbak Najwa kenapa, sih? Kok enggak mau dikerokin sama Mas Farhan? Mas Farhan kayaknya cemburu sama Mas Reza, lo, Mbak.”


Ini Weny niat buat aku makin pusing juga?


Aku menghela napas sejenak. “Dek, Mbak lagi pusing. Tolong deh, jangan bahas Mas Farhan.”


Weny terkekeh seraya terus mengeroki punggungku. Sesekali aku menggeliat karena sakit dan geli akibat kerokan itu. “Tadi pagi-pagi banget romantis sama Mas Farhan, sekarang ngambek. Kenapa? Mas Farhan enggak mau ngasih jatah, ya?”


Astaga, Weny. Aku sedikit berbalik dan memukul pelan lengan adikku itu. Yang menyebalkan, Weny malah tertawa terbahak-bahak. Dikira aku ini ondel-ondel apa? Apa yang lucu coba? Tidak tahu mbaknya lagi sangat sensitif.


“Ngomong tuh jangan asal, ya, Dek.”


“Enggak apa-apa kali, Mbak. Kita udah sama-sama dewasa juga. Lagian aku bilang gini tuh karena dari pengamatanku, Mas Farhan memang beneran cemburu sama Mas Reza.”


Aku terdiam sejenak, memikirkan kemungkinan yang Weny katakan. Jika dipikir-pikir, tingkah Mas Farhan itu mengindikasikan kalau dia cemburu. Namun, buat apa dia cemburu? Menganggap aku sebagai istrinya saja tidak, apalagi jatuh cinta? Cemburu itu menandakan kalau seseorang mulai jatuh cinta, kan?


“Mbak Najwa.” Aku terlonjak saat Weny menepuk pelan lenganku.


“Eh, apa, Dek?”


“Udah semua nih. Mbak malah ngelamun. Aku mau pulang, entar Mas Wildan marah-marah lagi kalau aku kelamaan di sini.”


Aku cepat-cepat memasang baju, kemudian duduk bersandar di sandaran dipan. “Makasih, ya, Dek. Udah sana, kalau mau pulang. Hati-hati, ya. Salamin aja ke Wildan, makasih dan maaf udah nyulik kamu.” Aku terkikik, dan adikku itu menanggapi dengan acungan jempol dan senyum manis. Dia pun keluar dari kamarku.


Setelah Weny benar-benar pergi dari kamar, aku langsung merebahkan tubuh di tempat tidur. Tidak lupa memakai selimut karena tiba-tiba merasa kedinginan, padahal cuaca sedang panas. Duh, jangan sampai aku sakit beneran. Baiklah. Kali ini aku harus benar-benar terlelap, biar tidak makin drop.


***


Entah kapan aku terlelap, dan entah sudah berapa lama aku tertidur, perlahan kubuka mata saat mendengar sayup-sayup suara anak kecil di sekitarku.

__ADS_1


***


Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. Terima kasih.


__ADS_2