
Mobil Mas Farhan sudah memasuki pekarangan rumah. Dia lantas turun dari mobil tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Parahnya, dia membanting keras pintu mobil itu, hingga lagi-lagi aku terkesiap. Kupandangi tubuh suamiku itu dari belakang dengan tatapan nanar dan berkaca-kaca. Padahal baru saja aku merasa bahagia, sekarang sudah disuguhi 'makanan hati' yang sangat memedihkan. Aku jadi bingung sendiri dengan arah pernikahan ini. Aku bimbang antara melanjutkan perjuangan, atau malah berbalik haluan dan segera mengakhiri semuanya.
Ya Allah, kenapa malah diam di sini, sih?
Aku segera turun dari mobil dan mengejar Mas Farhan yang sudah masuk ke rumah.
“Mas Farhan," panggilku. Namun, orang yang kupanggil tidak merespons. Kupercepat langkah untuk mencegatnya yang sudah mau membuka pintu kamarnya. "Mas, kamu masih marah karena ucapan Mas Reza di puskesmas tadi?”
Di menghentikan langkah, lalu menoleh ke arahku. Tatapan tajamnya cukup membuatku merinding serta meneguk ludah diam-diam. Sirat kemarahan jelas terpancar dari raut wajah itu. Namun, aku berusaha menahan diri dan tidak menunjukkan ketakutan dalam diri ini. Kuneranikan diri mendekatinya.
“Tadi aku sudah bilang sama Mas Farhan, ‘kan, enggak usah diperpanjang urusannya. Kenapa masih marah? Aku tadi juga udah belain Mas Farhan di depan Mas Reza. Terus sekarang kenapa lagi? Selama kita di rumah, aku juga selalu berusaha menjaga nama baik kamu.”
Atmosfer rumah kami terasa pengap mendadak. Suasana yang tercipta dari tatapan Mas Farhan serta raut wajahnya yang merah padam dan kepalan tangan yang dia lakukan di kedua sisi tubuh yang sempat kulihat, menciptakan hawa menegangkan yang mampu memacu jantung berdetak lebih kencang berkali-kali lipat dari biasanya. Mustahil jika aku tidak gentar dengan sikap yang Mas Farhan tunjukkan kali ini. Meskipun selama ini dia sudah sering marah-marah, tatapan tajam dan kata-kata nyelekitnya sudah seperti makanan sehari-hari buat aku, kali ini rasanya ada hal yang berbeda. Tadinya aku sudah bilang berusaha untuk berani, kan? Akan tetapi ....
Melihat Mas Farhan melangkah maju dengan sorot emosi yang masih belum mau redup sedikit pun, tanpa diminta tubuhku perlahan mundur. Ketakutan dalam diri ini terus menghadirkan spekulasi-spekulasi.
“Sumber masalahnya adalah kamu, Najwa.”
Aku mengerjap saat Mas Farhan benar-benar berdiri di hadapanku. Ingin menghindar, tidak bisa. Aku sudah tersudut di dinding ruang depan rumah. Kupejamkan mata sejenak untuk menetralkan ketakutan yang terus hadir, kemudian membukanya dan berusaha untuk membalas tatapan tajam Mas Farhan.
“Dari awal saya tidak menerima pernikahan ini, tapi terus dipaksa untuk menerimanya.”
“Mas, pernikahan kita sudah terjadi dan ini sudah hampir dua bulan. Apa susahnya menerima pernikahan ini?”
“Kamu tidak tahu apa-apa.”
__ADS_1
“Iya. Aku memang enggak tahu apa-apa. Makanya jelasin. Jangan ngelampiasin kekesalan kamu sama orang yang enggak tahu apa-apa.”
Apa susahnya menjelaskan?
“Daripada terus-terusan berkubang dengan ketidakterimaan yang akan terus membuat kamu makin kacau, kenapa enggak mencoba menerima saja? Kamu tahu, orang kalau benci sama satu orang, makin berusaha benci, makin kacau hatinya, Mas.”
“Tidak sok bijak, Najwa.”
“Terserah.” Aku enggak peduli mau dibilang sok bijak atau apa. “Sekarang aku tanya, kenapa kamu enggak mau menerima pernikahan ini?”
“Kamu pikir gampang move on dari masa lalu?”
Mo-move on?
Hati ini seperti tercubit mendengar kata “move on” itu.
“Kalau saya bilang iya, apa yang akan kamu lakukan?”
Pernah enggak, sih, kalian merasakan kepala tanpa sengaja terbentur sesuatu dengan keras—dinding misalkan? Saking syok, ditambah rasa sakit yang tercipta akibat benturan itu, seolah-olah membuat pingsan, ‘kan? Itu yang aku rasakan saat mendengar kalimat yang Mas Farhan lontarkan barusan. Andai saja aku tidak berpegangan pada dinding, sudah pasti aku ambruk ke lantai.
Mas Farhan suka perempuan lain. Siapa? Apa yang dia miliki sehingga membuat suamiku ini sulit move on? Seberapa menarik dia daripadaku? Atau mungkin kecurigaanku kemarin benar?
Rasanya kepala ini mendidih seketika. Berbagai spekulasi yang muncul menciptakan emosi berbeda-beda dalam dada.
Masih berdiri dengan bibir mengatup di hadapan Mas Farhan, lalu tiba-tiba kudengar dia tertawa, tetapi tawa itu terdengar meremehkan. Kuangkat kepala untuk menatapnya.
__ADS_1
Dia tidak sedang kerasukan jin, ‘kan? Baru saja dia terlihat begitu marah kepadaku, dan sekarang ... bisa-bisanya dia tertawa selepas itu?
“Jangan jadi orang munafik, Najwa.” Kepalaku terasa makin pusing. “Bunda saya memutuskan kita menikah karena kamu menyetujuinya. Saya tidak pernah setuju karena anak Pak Ahmad yang ingin saya nikahi bukan perempuan yang sekarang berdiri di hadapan saya.”
“Dan orang itu adalah Rifka. Itu kan yang tadi pagi mau kamu jelaskan ke aku?”
Bola mata membeliak yang ditampakkan Mas Farhan di hadapan, membuatku yakin kalau jawabannya pasti iya. Kilas kejadian yang kusaksikan selama di rumah kembali melintasi otak, menciptakan sebuah konklusi tidak sesuai harapan. Kepala ini mulai bergerak—menggeleng—menyangkal pemikiran tersebut. Itu enggak mungkin, ‘kan?
“Kenapa? Tidak usah menyangkal, karena memang itu yang mau saya jelaskan ke kamu. Rifka jelas berbeda dengan kamu. Dia bisa membuat saya nyaman dan tidak menyebalkan seperti kamu.”
Apa-apaan ini? Tuhan, hilangkan saja aku dari muka bumi ini.
Hancur. Satu kata itu yang mewakili perasaanku sekarang. Pada saat semuanya sudah terungkap dan ... silakan bertepuk tangan bagi kalian yang sejak awal menyangka kisah tragis ini akan terjadi. Tebakan kalian benar. Adik pertamakulah orang yang Mas Farhan maksud. Dialah yang membuat Mas Farhan susah move on.
Ya Tuhan, ironis sekali nasibku.
Rasa-rasanya tulang-tulang di persendian patah seketika. Tubuh bergetar hingga ingin ambruk ke lantai, tetapi berusaha kutahan dengan terus menguatkan pegangan pada dinding. Kuusap setitik air mata yang melintasi pipi. Sampai kapan pun Najwa tetaplah Najwa. Pasti akan selalu ada air mata setiap kali kenyataan menghancurkan ekspektasinya, cengeng. Ribuan jarum tak kasat mata yang tiba-tiba menyerbu dada, menciptakan rasa sakit bertubi-tubi. Air mata yang sempat kuusap barusan, malah terus mengucur dengan deras, sulit dikontrol.
“Kenapa kamu enggak bilang aja dari awal kalau kamu enggak mau sama aku, Mas? Kenapa enggak perjelas sama Ayah kalau perempuan yang kamu maksud adalah Rifka?” Suaraku sudah bergetar.
Jelas, aku sangat kecewa.
“Kamu pikir saya bisa untuk menyakiti bunda saya yang sudah telanjur bahagia karena kamu menerima tawaran perjodohan kita? Kamu pikir saya laki-laki macam apa yang mau merebut istri orang, hah?”
***
__ADS_1
Hayo, siapa yang nungguin part ini? Komen kuy. Ramaikan! Wkwk. Aku nulis ini sambil nangis. 😢😢😢 Maafin update agak malam. Masih ada kesibukan tadi.
Sumenep, Selasa 14 September 2021