
“Farhan!” Suara melengking yang terdengar dari luar rumah itu sudah bisa kupastikan siapa. Dan aku ... tanpa ada niat sama sekali untuk membukakan pintu. Kubiarkan bundaku itu berteriak-teriak. Toh pasti akan masuk sendiri kalau tahu panggilannya tidak disahuti.
Baru saja menelentangkan tubuh kembali, bersiap pura-pura tidur, Bunda sudah menyerang secara tiba-tiba.
“Aduh, Bunda! Ampun, Bun!” Bagaimana tidak akan berteriak kalau bundaku sudah menggebuki dengan bantal berulang kali. Mana kena sama wajah bekas bogeman Mas Reza lagi. Sakit akibat sentuhan maut dari kakak iparku itu awet banget sampai sekarang. Padahal sudah tiap pagi aku kompres. Hebat banget pukulannya, ya ampun. Seperti petinju saja.
“Bunda! Ya ampun, please. Bunda kenapa, sih? Kenapa malah ngamuk-ngamuk enggak jelas?” Aku yang sudah bangkit dari pembaringan, mengubah posisi menjadi berjongkok di tempat tidur seraya siaga meletakkan tangan di depan wajah, takut-takut kalau Bunda nanti tiba-tiba memukul kembali.
“Ini hari apa, Farhan?” Bunda melotot tajam. “Kinan dan Reyhan bilang kamu sudah tiga hari enggak ke studio, nomor enggak bisa dihubungi siapa pun. Ada apa? Kalau mau males-malesan, mending tutup aja usahanya! Tidur sepuasnya setelah itu!”
Aku meringis pelan. Bundaku ya Tuhan. Sadis banget kata-katanya. Nyindirnya sangat dalam, sampai menusuk-nusuk ke relung hati.
“Ma-maaf, Bun. Tapi aku sudah pasrahkan urusan toko dan studio ke anak-anak, kok.”
“Terus kamu ngapain aja tiga hari ini?” Tatapan Bunda makin tajam—sudah kayak Mbak Kunti saja—membuat tubuh bergidik. Dari dulu, aku enggan sekali membuat Bunda marah, ya karena ini. Membuat Bunda marah, sama saja dengan membangunkan singa di kandangnya. Pasti ngamuk. Hadeh!
Belum juga menjawab, Bunda kembali berceloteh, “Ini juga, penampilan urakan sudah kayak berandalan. Kulit makin hitam kayak pantat panci, berewok sana sini. Kamu ngapain aja di rumah selama tiga hari ini, Han?” Lagi, aku hanya bisa meringis dalam hati dan meratapi kalimat-kalimat cibiran Bunda yang pedasnya mengalahi bon cabe. Eh, tapi aku tidak tahu pasti rasanya bon cabe, sih. Tidak berani. Cuma kata orang, level pedasnya bon cabe itu sangat wow.
Bunda menelisik seluruh sisi kamar. “Najwa ke mana? Kenapa rumahnya kotor seperti ini? Kaca depan aja sampai tebal debunya, lantainya apalagi. Di depan juga banyak pakaian kotor kamu yang berserakan. Istrimu ngapain saja?”
Bunda ya Allah. Khas ibu-ibu rempong banget. Sekalinya ngomel panjang banget. Tidak hanya satu-dua pertanyaan. Aku menghela napas lelah, meskipun bibir ini diam-diam bergetar kala wanita yang melahirkanku ini menanyakan keberadaan Najwa. Kalau beberapa hari kemarin aku bisa kabur dari Bunda karena telepon dari Mas Gibran, kali ini aku harus apa?
“Ngomong sama kamu kayak ngomong sama patung, tahu, Han,” ucap Bunda lagi. Membuatku diam-diam terus meringis dan ngeri dengan beliau. Wanita paruh baya itu pun mengeluarkan ponsel dari tas jinjingnya, entah siapa yang akan beliau hubungi. Aku hanya bisa menatapnya dengan penuh tanya dalam posisi yang sama. Namun, beberapa waktu berlalu, tidak ada jawaban dari orang yang Bunda telepon. Lalu setelah itu, Bunda pergi, entah akan ke mana. Aku tidak peduli. Yang penting aman dari Bunda. Karena sudah lelah, aku memilih memejamkan mata.
__ADS_1
***
Entah kapan dan berapa lama aku tertidur, lagi-lagi suara Bunda yang berhasil membangunkanku. Dengan mata setengah terbuka, aku bangkit dan menatap Bunda. Jangan lupakan gerutuan yang sudah pasti keluar dengan enteng dari bibir ini.
“Kenapa lagi, sih, Bunda?” Aku mengucek-ngucek mata agar segera sadar. “Bunda dari kemarin suka ngomel sama aku, lo. Bunda enggak capek apa?”
Pukulan cukup keras yang Bunda layangkan ke lengan, membuat kantuk seolah-olah langsung hilang dalam sekejap. Lagi, aku melotot tak terima ke arah Bunda yang akhir-akhir ini suka menyerang dengan kekerasan fisik. Eh.
“Kamu ini manusia apa hewan, sih, Han? Istri menghilang malah enak-enakan tidur, bukannya cari.”
Aku menggaruk leher seraya meringis. Bagaimana caranya aku mengatakan kepada Bunda, ya? Duh, bahkan sampai detik ini pun aku belum cerita apa-apa lagi sama Bunda.
“Bun, aku ini anaknya Bunda, lo. Enak aja dibandingin sama hewan.”
“I-iya, Bunda. Tapi jangan gini juga kali.”
“Gimana Bunda enggak akan begini. Tadi Bunda ke rumahnya Mas Ahmad. Dia bilang Najwa enggak ada di sana. Terakhir ketemu ya pas kalian pulang dari rumahnya. Mas Ahmad malah ikutan heran pas tahu Najwa enggak ada di rumah.”
Seketika, aku menahan tangan Bunda, membuat wanita itu kembali menatap tajam. “Bunda bilang apa tadi? Bunda ke Bangkalan?”
Bunda berdecak keras. “Iya. Ini Bunda baru pulang dari rumahnya Mas Ahmad. Makanya Bunda langsung ke sini. Kamu ditelepon enggak bisa.”
Tubuh ini menegang seketika. Kenapa malah jadi rumit begini, sih? Apa Mas Reza dan Mas Farhan belum memberi tahu Ayah? Astaga, kemarin Mas Gibran bilang kalau aku yang harus datang menemui Ayah, kan? Aduh, gawat. Ayah tahu dari orang lain. Bisa makin kacau ini urusannya. Padahal aku masih belum siap untuk cerita.
__ADS_1
“Bu—” Ucapanku terinterupsi dengan ponsel Bunda yang berdering. Wanita itu lantas melepaskan genggamannya di tangan, kemudian beralih meraih ponsel di tas jinjingnya.
“Halo, kamu ke mana saja, Najwa? Bunda tanya Farhan, enggak tahu. Tanya Ayah kamu juga enggak tahu. Kamu mau jadi istri enggak becus? Rumahnya kotor sekali? Farhan enggak terurus gitu, sampai berpenampilan kayak gembel dan enggak keluar rumah.”
Aku mendesah berat mendengar rentetan omelan yang langsung ditodongkan Bunda setelah panggilannya terhubung. Tubuhku terasa lunglai dan langsung bersandar dengan sendirinya ke sandaran dipan. Ternyata orang yang menghubungi Bunda adalah Najwa. Kelar sudah hidupku. Semuanya makin kacau tanpa diduga. Sudah begitu, Bunda tidak pakai intro, salam, atau basa-basi apa kek. Main serobot saja.
Bunda, oh, Bunda.
Aku hanya bisa diam saja mengamati setiap ekspresi yang muncul di wajah Bunda. Lalu, raut kemarahan yang tercetak di wajah bundaku itu perlahan berganti, seperti keheranan. Kerutan yang muncul di kening dan alisnya yang menukik itu juga ikut membuatku makin bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Najwa sampai raut marah itu dengan cepat berganti?
“Ini Reza? Najwa di mana?”
Tubuh yang terasa lemas seketika menegak, bola mata membeliak. Cepat, kuusap kasar seluruh sisi wajah, deru napas pun kembali gusar.
Mati aku! Ternyata yang pegang ponselnya Najwa masih Mas Reza.
***
Hayo, siapa yang nungguin. Maaf, ya. Tadinya mau unggah kemarin. Tapi tiba-tiba hujan, jadi aku off dulu. Komen kuy. 😂
Sumenep, Madura, Jawa Timur
Ahad, 26 September 2021
__ADS_1