Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Tidak Tahu Kondisi


__ADS_3

“Memang yang masak selama ini Mas Reza, Yah?” Tiba-tiba terdengar suara Mas Farhan. Aku yang semula sibuk menyendokkan nasi dan mengambilkan lauk untuk Ayah, lantas mendongak. Benar saja, yang datang itu adalah suami tercintaku. Dia beranjak, kemudian mengambil posisi duduk di sebelahku.


“Iya, Han. Sejak Najwa pindah, Reza yang masak,” jawab Ayah.


"Tapi sebelum itu, sudah lama belajar masak sama Najwa." Mas Reza juga ikut menimpali. Aku menghela napas lega, karena tatapan mas tersayangku itu kepada Mas Farhan sudah tampak biasa-biasa saja sekarang. Keduanya juga sudah mulai terlihat akrab.


Beberapa waktu kemudian, Rifka dan Rifki ikut memasuki ruang makan. Sepertinya putri mereka masih beristirahat. Baru setelahnya, Mas Gibran bersama tiga bidadarinya juga ikut bergabung. Suasana ruang makan menjadi ramai.


"Gara-gara dua adik cewek enggak ada yang mau tinggal sama Mas Reza, nih. Jadinya gitu, mesti belajar masak."


Weny dan Rifka yang menjadi target kalimat Mas Reza barusan, langsung mencibir dengan alasan-alasan yang mengharuskan mereka tidak tinggal bersama Ayah dan dirinya. Namun meski begitu, bukan tegang, suasana ruang makan malah makin ramai. Karena mereka sama-sama tahu kalau Mas Reza hanya bercanda. Lagipula, sebelum Weny dan Rifka memutuskan ikut ke rumah suaminya, mereka sudah berunding dengan Ayah dan dua masku.


Mas Gibran dan Mbak Diva tidak begitu menimpali obrolan pagi ini karena sibuk mengurus dua putri kecil mereka.


Sedangkan Mas Farhan tersenyum, lalu menimpali. “Wah, hebat dong. Daripada saya yang belum tahu apa-apa untuk urusan dapur, Mas.”


“Biasa saja kali. Aku masak itu, paling mentok nanak nasi sama goreng telur, tahu-tempe, atau ayam."


"Sudah, sudah. Kalian ini, bukannya makan, malah ngobrol," tegur Ayah. "Itu ambilkan makanan buat suamimu, Wa."


Astaghfirullahal azim. Keasyikan menikmati obrolan, aku sampai lupa untuk melayani suami tercintaku ini. Aku lantas menoleh ke arah Mas Farhan.


"Mas, maaf, ya. Sampai lupa enggak ambilin kamu makanannya."


"Tidak apa-apa. Ini sudah diambilkan sama Rifka tadi." Bibirku sempat mangap sebentar, tenggorokan tiba-tiba terasa kering. Untung sekali berkebetulan dengan aku haus. Jadi, bisa langsung minum tanpa menimbulkan kecurigaan keluargaku yang lain.


"Ya sudah, Mas. Diteruskan makannya."


Suasana ruang makan masih sama--ramai seperti tadi. Sepertinya memang tidak ada kecurigaan sedikit pun dari masing-masing anggota keluargaku.


Apa hanya aku saja yang terlalu berpikir negatif dengan kedekatan Rifka dan Mas Farhan?

__ADS_1


Selera makan yang seperti tiba-tiba ambyar, membuatku enggan meneruskan sarapan. Rasanya aku sangat menyesal telah mengisi piring ini dengan porsi yang bisa dibilang lebih banyak dari biasanya. Karena tadi aku memang sangat bersemangat untuk makan.


Bagaimana menghabiskannya, ya?


Kutatap sejenak makanan di piring itu. Aku sudah telanjur badmood begini. Namun ... tidak, aku tidak boleh menunjukkan ketidakenakanku ini di depan mereka. Biarlah nanti akan kutanyakan kepada Rifka perihal hubungannya dengan Mas Farhan. Baiklah. Perlahan, kumasukkan sesuap demi sesuap makanan itu ke dalam mulut agar bisa menghabiskan makanan itu.


Meski hati terus menekan diri agar fokus makan saja, tetapi pikiran selalu menentang. Pandangan yang sengaja difokuskan pada miring makanan, malah berkeliaran menatap sekitar ruang makan, terkhusus apa yang dilakukan Rifka.


"Kalau kurang, bisa tambah lagi kok, Mas." Suara Rifka kembali terdengar. Dia juga menyodorkan baskom berisi nasi ke hadapan Mas Farhan.


Mas Farhan menoleh. "Oh, iya, Rifka. Terima kasih."


Perasaan bahagia yang sejak tadi memenuhi hati karena bisa makan bareng keluarga, perlahan berganti kedongkolan. Tangan yang semula hendak menyuapkan makanan lagi ke dalam mulut mendadak berhenti.


Ya Allah, berhenti negatif thinking, Najwa!


"Najwa kapan pulang?" tanya Ayah di tengah-tengah sarapannya.


Setelah itu, Mas Farhan lantas menyahut, "Mungkin besok kami pulang, Yah. Kapan-kapan aku bakal jadwalkan pulang lagi ke sini."


Ayah manggut-manggut sebentar, kemudian melanjutkan sarapan.


"Wildan sama Weny jadi pulang sekarang?" Suara Ayah kembali terdengar.


"Iya, Ayah. Kasihan Ibu sama Ayah kalau ngurus sawah berdua aja." Wildan yang menjawab. Mereka berdua memang tinggal bersama kedua orang tua Wildan di pedesaan Malang. Maklum, mata pencaharian keluarga mereka memang bertani. Keduanya pun pamit untuk ke kamar dan membereskan barang-barang untuk kepulangan mereka.


"Sayang, aku ke kamar duluan, ya. Takut Rizqun bangun." Rifki lantas bangkit dari tempat duduknya usai mengatakan hal itu. Semua yang ada di ruang makan juga sudah selesai sarapan, termasuk aku. Meski sempat kesusahan tadi, takut tidak bisa menghabiskan makanannya, tanpa disangka bisa juga. Alhamdulillah.


"Iya, Mas," jawab Rifka. Entah apa yang masih ingin dilakukan oleh adikku ini di sini. Kalau Mas Gibran dan Mbak Diva, memang belum selesai menyuapi Nayla dan Syeila.


"Mas, ini ponselnya." Rifka tiba-tiba menyodorkan ponsel Mas Farhan. Aku menarik napas dalam. Diam-diam aku menggeram dalam hati melihat apa yang dia lakukan.

__ADS_1


Adikku tidak tahu situasi dan kondisi sekali, ya? Bisa-bisanya dia melakukan itu saat sebagian besar anggota keluarga masih ada di ruang makan. Maksudnya apa coba? Kupikir dia akan memberikan ponsel itu langsung kepada Mas Farhan tanpa ada yang tahu. Mengapa malah diberikan pada saat-saat seperti ini? Apa dia tidak tahu kalau Ayah, Mas Gibran dan Mas Reza, sudah menatap penuh intimidasi ke arahnya?


Aku hanya bisa diam seraya terus menarik napas dalam, terus berusaha menekan ego agar tidak lepas kendali.


Mas Farhan menerimanya. "Ah, iya. Te-terima kasih, Rifka."


"Kenapa HP Farhan bisa ada sama kamu, Ka?"


Lihatlah respons kakak pertamaku. Biasanya Mas Reza yang langsung menegur, kali ini Mas Gibran. Dia yang semula sibuk membujuk Syeila agar segera menghabiskan sarapannya, langsung menoleh saat Rifka bersuara tadi. Aku jadi mendadak panas dingin, takut-takut kalau Ayah, terlebih Mas Reza, juga ikutan curiga.


Rifka tampak menggeragap sebentar. "Itu ... ta-tadi aku nemuin HP Mas Farhan di taman samping rumah, Mas."


"Kok bisa tahu kalau itu ponselnya Farhan?" Kali ini Mas Reza yang bersuara. Suasana ruang makan yang semula tidak terlalu panas, mendadak sangat panas. Pengap rasanya.


"Tadi Mbak Najwa nelepon ke HP itu, makanya aku tahu kalau itu HP-nya Mas Farhan."


Benar, kan? Suara perempuan tadi adalah Rifka. Iya, adik pertamaku itu yang mengangkat teleponnya. Dengan begitu, apakah tidak patut kucurigai mereka?


"Oh, iya, Mas. Tadi nomornya Mbak Najwa kok nomor baru, ya? Mas Farhan enggak save nomor Mbak Najwa?"


...***...


Hai, aku datang membawa jawaban di part sebelumnya. He-he. Selamat bergereget ria dengan tingkah Rifka, ya. Ha-ha-ha.


Jangan lupa like, vote dan komentarnya. Share juga, biar makin banyak yang baca novelku. Hi-hi.


Salam manis dariku, author manis berdarah Madura asli.💙


Sumenep, Madura, Jawa Timur


Rabu, 11 Agustus 2021

__ADS_1


__ADS_2