Hanya Sekadar Ikatan

Hanya Sekadar Ikatan
Secuil Ingatan Masa Lalu


__ADS_3

Apakah ada orang lain di sana?


Mendadak, aku tercenung saat pertanyaan terakhir itu terlintas di benakku. Jika memang dia mempunyai kekasih sebelumnya, dia bisa menolak perjodohan itu, 'kan? Kenapa memaksa menerima jika akhirnya malah menyakiti salah satu? Dan pada akhirnya, kembali ke pertanyaan membosankan itu lagi. Melelahkan.


"Najwa? Hei." Aku tersentak saat mendengar panggilan itu tepat di samping kananku. Aku terkesiap dengan detak jantung yang kembali berpacu bak lari maraton, saat aku menoleh ke samping, wajah Mas Farhan berada tepat di depan wajah. Dia berdiri dengan sedikit menunduk ke arahku yang masih duduk di kursi mobilnya. Pipiku terasa panas, mungkin ia juga sudah bersemu merah karena kegugupan mulai melanda.


"Ke-kenapa, Mas?" tanyaku sambil menurunkan pandangan darinya. Jantungku juga tidak baik jika lama-lama bersitatap dengan Mas Farhan.


"Kita sudah sampai di rumah Ayah. Ayo turun."


Aku menggeragap sebentar. "Ah, iya. Maaf, tadi enggak sengaja melamun."


Kulihat Mas Farhan tersenyum ke arahku. Tangan kanannya pun bergerak mengelus kepalaku. Allah, senyum yang selama sebulan lebih kurindukan, ternyata hari ini bisa kunikmati lagi. Betapa bahagianya aku saat melihat senyumnya yang manis. Dia menggandeng lenganku untuk turun dari mobil, bak putri yang dijemput pangerannya.


"Hei, mau ke mana?" cegah Mas Farhan dengan suara lembut. Sama persis dengan nada suara saat pertama kali kami berangkat ke Surabaya.


Apa yang terjadi kepadamu, Mas? Kerasukan jin baikkah? Atau tadi pas di perjalanan kesambet setan Suramadu? Ih, apa sih.


Aku menautkan alis. "Mau ambil barang-barang kita, Mas. 'Kan ada di bagasi?"


"Semua barang-barang sudah Mas turunkan, Sayang."


Tubuhku tiba-tiba terasa seperti disirami tumpukan es batu, beku. Lidah terasa kelu, hingga tidak mampu berkata-kata. Tenggorokan rasanya kering tiba-tiba, bak gurun pasir yang gersang, kala mendengar kata-kata lembut dan penuh kasih sayang itu terucap dari bibir Mas Farhan. Bolehkah aku terharu hari ini? Bolehkah aku bahagia dengan perlakuan manis yang diberikan oleh suami pemarah dan dinginku ini?


"Tuh."


Aku mengikuti arah tunjuk Mas Farhan. Tubuh yang tadi terasa beku, kini makin terasa lebih daripada beku. Kali ini aku malah seperti mati rasa akibat kebekuan. Lidah terasa makin kelu, bibir bahkan bergetar hebat. Tenggorokan makin tercekat. Di samping itu, ada perasaan nyeri, perih, dan sakit, bercampur menjadi satu menambah peliknya rasaku hari ini. Bahkan, sesak di dada pun mulai terasa, hingga mendobrak pintu mata agar meluruhkan cairan beningnya. Perasaan haru dan bahagia tadi, seketika lenyap tanpa jejak bak ditelan bumi, berganti ironis.


Saat seharusnya aku bahagia ketika kembali tiba di tanah kelahiranku dan disambut oleh orang-orang tersayang, aku malah menangis sedih dalam diam. Cairan bening yang terus menggenang di pelupuk mata ini bukan karena bahagia bertemu dengan Mas Reza dan Ayah yang sudah berdiri di samping koper kami yang sudah bertengger manis di depan pintu rumah. Namun, saat kenyataan menyadarkanku bahwa perubahan sikap Mas Farhan hari ini karena ada keluargaku. Bunglon-ku sudah beraksi rupanya.


Kutundukkan kepala sejenak seraya menggigit bibir, mencoba menahan luapan emosi negatif yang mencoba menguasai. Aku tidak mau membuat ayah dan kakakku khawatir jika melihatku menangis hari ini. Terlebih, aku tidak mau mereka tahu apa alasanku menangis.


Rileks, Najwa. Jangan biarkan keluargamu menyadari kesedihanmu. Biarkan mereka menyangkamu bahagia dengan Farhan. Kamu bisa. Kamu kuat, Najwa. Ayo. Demi ayah dan kakakmu.


Perlahan, kuangkat kepala, kemudian memaksakan seutas senyum tersungging di sana. Meskipun, bibir ini terasa kaku dan berat untuk melakukannya.


"Terima kasih, Mas. Kamu memang baik," ucapku penuh penekanan.


Saking baiknya, secara tidak langsung kamu membuatku hancur di depan keluargaku sendiri.

__ADS_1


Kami pun melangkah bersama untuk menyapa dua lelaki berbeda usia yang telah menunggu kedatangan kami.


"Ayah." Aku langsung menghambur ke pelukan ayahku. Kali ini kubiarkan air mata menetes, membasahi dada ringkih pria idaman pertamaku ini. Luapan emosi negatif akan kesedihan yang tadi, sekaligus luapan rindu yang telah bersambut temu ini bercampur menjadi satu, mendorong air mata itu untuk mengalir deras. Apalagi saat Ayah mengelus punggung.


"Putri Ayah ini kok nangis, toh?"


Ayah memundurkan tubuhku, kemudian menangkup pipiku. Tatapannya masih sama, meneduhkan.


"Najwa kangen Ayah. Ayah baik-baik saja, 'kan, sama Mas Reza?"


Ayah menyunggingkan senyum terbaiknya kepadaku. Beliau mengusap lembut kepalaku yang tertutupi kerudung.


"Kamu tidak usah khawatir. Ayah baik, Nak." Aku menghela napas lega mendengar jawaban Ayah.


"Han, apa kabar?" Itu suara Mas Reza.


"Baik, Mas." Dasar orang pelit kata-kata. Singkat, padat dan jelas, tanpa basa-basi.


Mengabaikan sikap Mas Farhan yang benar-benar menyebalkan di mataku dengan sok jaim di hadapan Mas Reza dan Ayah, aku beranjak ke sisi kakak keduaku itu. Tanpa permisi, aku langsung memeluknya.


"Mas Reza! Najwa kangen banget sama Mas!" Persetan dengan kerisian Mas Farhan terhadap sikapku.


"Ya ampun, Dek. Kangen banget, ya, sama Mas? Sampai antusias begitu?" heran Mas Reza.


"Iya, dong. Mas Reza 'kan saudara the best buat Najwa."


"Ada-ada saja kamu, Dek." Mas Reza terkekeh. "Sudah, lebih baik kita masuk dulu, yuk." Dengan antusias aku menggandeng Ayah dan Mas Reza di kedua sisiku, kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.


Maaf, Mas. Tidak ada maksud mengabaikanmu. Namun, jika kupaksakan sok romantis denganmu di hadapan Ayah dan Mas Reza, aku takut malah kacau. Aku masih belum bisa mengontrol air mataku, Mas.


Saat kutolehkan kepala ke belakang, ternyata Mas Farhan mengekor dengan menggeret koper bawaan kami. Durhaka sekali aku, ya? Ha ha. Tadinya aku yang mau membawa, tetapi Mas Farhan tidak memperbolehkan. Jadi, sesekali harus kunikmati kesempatan langka seperti ini, 'kan?


Ya Allah, Mas, maafkan aku.


Tidak begitu menanggapi Mas Farhan, aku membawa Ayah untuk duduk di sofa ruang depan rumah. Ah, kembali duduk di sini, malah membuat secuil ingatan masa lalu sebelum pernikahanku dilaksanakan, kembali menyapa ruang otak.


...***...


“Najwa, Ayah telah menjodohkanmu dengan anak teman Ayah.”

__ADS_1


Aku yang sedari tadi sibuk membenahi pot-pot tanaman hias di meja pojok ruang depan rumah, mendadak membeku. Jodoh? Kabar ini benar-benar mengejutkanku. Bagaimana tidak? Sebelum-sebelumnya Ayah jarang membicarakan soal jodohku. Lalu sekarang, dengan tiba-tiba Ayah berkata sudah menyiapkan jodoh untukku.


Aku masih terdiam, dengan pot bunga terakhir yang sudah terlupakan. Kulihat Ayah mendekat ke arahku yang duduk di sofa panjang dekat meja tanaman hias itu.


“Bagaimana, Nak?”


Aku menengadahkan wajah, menatap lekat wajah Ayah.


“Bukannya kalimat Ayah tadi adalah pernyataan?” Ayah menundukkan wajah sejenak. Kulihat beliau menarik napasnya kuat-kuat dan mengembuskannya perlahan.


“Siapa?” tanyaku lagi. Kupikir respons Ayah yang hanya diam mewakili kata ‘iya’, makanya aku langsung mengalihkan topik pembicaraan.


“Farhan, anaknya Bu Rasti.”


Sejenak, kepalaku menunduk. Aku pernah bertemu dengan Bu Rasti sebelumnya. Dia wanita yang baik dan lemah lembut. Perhatian lagi. Apakah putranya akan memiliki sikap yang sama dengan ibunya?


Aku mendadak bimbang. Memang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Setiap karakter yang dimiliki seorang anak sedikit banyaknya karena dipengaruhi gen orang tuanya, ‘kan? Akan tetapi, juga tidak menutup kemungkinan jika ada tambahan karakter yang sedikit berbeda karena adanya perpaduan karakter antara ayah dan ibunya, bukan?


Banyak spekulasi yang mulai bermunculan dalam otakku mengingat aku belum pernah sekali pun bertemu dengan putra dari Bu Rasti tersebut.


“Ada apa, nih, Yah?” Aku dan Ayah langsung menoleh ke arah pintu. Di sana manampilkan sosok Mas Reza yang berdiri dengan raut heran.


“Ayah ingin menikahkan adikmu dengan anak relasi bisnis Ayah, Mas. Kamu enggak papa, ‘kan didahului adikmu?” kata Ayah langsung pada Mas Reza yang baru datang, entah dari mana itu.


Mas Reza melangkah masuk dan beranjak menuju tempat kami duduk. Mas Reza kemudian mengambil posisi untuk duduk di sebelahku. Sebelum menjawab pertanyaan Ayah, dia menatapku terlebih dahulu. Aku mengernyit bingung melihatnya.


“Bagaimana, Mas?” ulang Ayah.


“Kalau Adek setuju, kenapa enggak, Yah?” sahutnya. Dia kemudian melirik lagi ke arahku, lalu bertanya, “Adek gimana?”


Aku mengambil napas sejenak. “Insyaallah, Najwa siap, Mas.” Itu jawaban atas pertanyaan Ayah sekaligus Mas Reza. Meski sebenarnya aku masih ragu dengan keputusan itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Memang, Ayah mengatakannya hanya permintaan. Akan tetapi aku bisa menangkap sinyal harapan yang ada di balik kata itu. Dan satu-satunya yang bisa kulakukan adalah menerima jodoh dari Ayah itu.


"Dek? Najwa?"


...***...


Salam manis dari orang manis.


Jangan lupa like, vote dan komentar. Rekomendasikan ke teman, boleh.

__ADS_1


Sumenep, Madura, Jawa Timur


Senin, 21 Mei 2021


__ADS_2