
"Ayah!" teriakku saat melihat tubuhnya ambruk ke lantai. Cepat, aku merangkak mendekati Ayah. Matanya sudah terpejam, embusan napasnya terdengar gusar. Mas Gibran dan Mas Reza serempak menyusulku. Weny dan Rifka yang masih syok dengan kepergian Ibu, makin histeris melihat Ayah tiba-tiba ambruk. Keduanya juga ikut turun, mendekati Ayah.
"Ayah, Ayah bangun." Kutepuk-tepuk pipinya perlahan, tetapi matanya tidak kunjung terbuka.
Kudongakkan kepala. "Dokter, tolong ayah saya, Dokter," teriakku mulai heboh melihat Ayah belum sadarkan diri juga, padahal Mas Reza sudah sekuat tenaga mencubit lengan Ayah, agar cepat sadar.
"Ayo, Dokter! Bantu Ayah!" Rifka juga ikut berteriak.
"I-iya. Mari bantu bawa Pak Ahmad ke dalam, ya," kata dokter itu, tetapi beliau tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya berdiri. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
Melihat itu, aku bangkit, kemudian tanpa permisi menarik-narik lengan dokter itu.
"Ayo, Dokter. Bantu ayah saya." Kugiring langkah dokter itu. "Minggir. Kasih jalan buat dokternya."
"Iya, Dek. Tenang. Ayo bawa ke dalam, Mas," kata dokter itu.
Mas Reza dan Mas Gibran pun menggotong Ayah ke dalam ruangan itu. Setelah memasrahkan Ayah kepada dokter, Mas Reza dan Mas Gibran keluar.
Dua lelaki terkasihku selain Ayah itu berpencar untuk menenangkan kami. Mas Gibran mendekati Weny dan Rifka, Mas Reza mendekatiku. Begitu dia berdiri di sampingku, cepat, kulabuhkan tubuh ke dalam dekapannya.
"Mas, Ayah akan baik-baik saja, 'kan, Mas?"
Aku tidak akan sanggup jika harus kehilangan dua malaikatku dalam waktu yang bersamaan.
"Iya, Najwa. Ayah pasti baik-baik saja. Tenang, ya. Doakan Ayah."
"Tapi aku dari tadi doain Ibu, Ibu malah pergi, Mas."
"Jangan begini, Najwa. Ibu pergi karena memang sudah ajalnya sampai."
"Tapi ini terlalu mendadak, Mas. Aku enggak nyangka tadi pagi adalah pesan terakhir Ibu untuk kita."
Tangisku makin pecah. Ternyata, jawaban dari kejanggalan perasaanku saat Ibu akan berangkat tadi adalah hal ini.
Ya Tuhan, andai aku tahu akan seperti ini, sudah pasti aku melarang Ibu agar tidak pergi. Astaghfirullahal azim. Ampuni hamba, Ya Allah.
"Kamu tahu sendiri, ajal itu datangnya enggak disangka-sangka. Mau mendadak atau enggak, kalau sudah tiba, ya pasti mati. Sudah. Tenangkan diri kamu. Doakan Ayah, doakan Ibu juga."
"Mbak Najwa, pesan terakhir apa?" tanya Rifka dengan suara paraunya. Mungkin dia penasaran, karena satu-satunya orang yang tidak ada saat Ibu akan pergi tadi adalah dia.
"Sebelum pergi, Ibu cari kamu. Tapi kamu enggak tahu di mana," jawabku.
"Ibu juga titip salam, katanya Ibu minta maaf." Weny menambahi. Apa yang dikatakan Weny malah membuat Rifka kembali histeris.
"Kenapa kalian enggak ada yang panggil aku ke kamar? Padahal aku ada di kamar setelah disuruh-suruh sama Ibu."
__ADS_1
"Mbak Rifka tadi ngilang gitu aja, dan Ibu terburu-buru." Weny kembali menyahut.
"Ini semua gara-gara kamu. Coba kamu tadi langsung berangkat pas disuruh Ibu, aku 'kan enggak akan ngembek."
"Kenapa malah nyalahin Weny, Kak?"
"Kan kamu--"
"Sudah, berhenti!"
Bukan hanya Weny dan Rifka yang kicep mendengar teriakan itu. Aku pun ikut berjingkat kaget. Ini pertama kalinya aku melihat Mas Gibran berteriak. Dia terlihat begitu marah. Sorot sendu dari matanya yang digenangi cairan bening itu perlahan memerah, menyiratkan amarah yang memuncak.
"Keadaan panik dan sedih begini kalian masih sempat bertengkar! Enggak Weny, enggak Rifka, semuanya salah!" Kudekati kakak pertamaku itu, kemudian kuusap pundaknya agar dia tidak lepas kendali. Mbak Diva pun mendekat, dan berdiri di sampingnya.
"Mas, tenang," ucap Mbak Diva. Perempuan itu kemudian menoleh ke arah Rifka dan Weny yang masih saling tatap dengan sorot kekesalan yang masih terpancar di matanya. "Weny, Rifka. Sudah. Mari berdoa untuk keselamatan Ayah. Juga, kalau Ibu tahu kalian begini, beliau pasti sedih."
Keduanya pun diam setelah mendengar ucapan Mbak Diva. Meskipun aku yakin mereka masih belum mau mengalah.
Beberapa saat kemudian, dokter yang menangani Ayah pun keluar. Lagi-lagi Mas Gibran dan Mas Reza kompak mendekatinya.
"Kondisi jantung Pak Ahmad lemah sekali, Mas. Mungkin karena syok saat Ibu Aminah tertabrak, dan sekarang harus menerima kenyataan kalau Bu Aminah tidak terselamatkan," jelas dokter itu.
"Lalu apa yang harus kami lakukan, Dok?" tanya Mas Gibran.
"Sebaiknya, untuk sementara waktu Pak Ahmad dirawat di sini dulu, Mas. Saya yang akan membantu menanganinya."
"Oh, iya. Untuk jenazah Bu Aminah, mau di-tajhiz di sini apa mau dibawa pulang?"
"Saya telepon paman saya dulu, Dokter. Nanti saya akan kabari bagaimana jadinya," putus Mas Gibran. Dokter itu pun pamit untuk menangani pasien lain.
"Za, kamu di sini, ya. Jagain adik-adik sama mbakmu. Siapa tahu nanti Ayah juga bangun. Mas mau hubungi keluarga buat keperluan di rumah."
“Najwa?” Satu panggilan dan sentuhan pelan di pundak, mengalihkanku dari bayangan masa lalu itu. Sontak, aku mengangkat kepala dan menatap Mas Farhan yang juga menatapku.
Embusan napas kasar perlahan keluar dari hidung. Kuedarkan pandangan ke seluruh sisi pemakaman yang luas ini. Seketika lantunan istigfar terucap dari bibir ini. Kuusap pelan seluruh sisi wajah, juga air mata yang entah kapan jatuh membasahi pipi. Kembali kutolehkan wajah ke arah Mas Farhan. “Maaf, Mas. Aku jadi ngelamun gini.”
Mas Farhan mengangguk. “Tidak apa-apa.”
"Aku kangen sama Ibu, Mas." Kurasakan mataku kembali berkaca-kaca. Tidak lama kemudian, setetes air mata kembali melintas. Padahal lima tahun berlalu, luka karena kepergian Ibu masih sama sakitnya.
Tangan kanan Mas Farhan bergerak menyeka air mataku. Membuatku sempat tertegun sebentar.
"Saya memang tidak tahu seberapa sakitnya ditinggal orang tua, tapi sedikit banyak saya paham." Aku makin tertegun saat tangan Mas Farhan menangkup wajahku, kemudian dia tersenyum lembut seraya menatapku. "Kamu masih beruntung. Meski sudah tidak ada Ibu, kamu masih punya Ayah, ada Mas Reza yang selalu berada di samping kamu, ada saudara-saudara kamu yang lain juga. Jangan sampai sekali kehilangan membuat kamu lupa bahwa masih banyak kehidupan yang bisa kamu syukuri."
Ya Allah, ini suaminya siapa, sih? Bijak amat.
__ADS_1
"Dan sekarang, aku juga punya kamu, Mas. Terima kasih sudah mau ngertiin aku." Kusunggingkan senyum terbaikku untuk suami tercintaku ini. Namun, respons anggukan yang terlihat dipaksakan itu membuatku sedikit kecewa.
“Ayo pulang. Sudah setengah lima lewat.”
Cepat, kuraih tangan kiri Mas Farhan untuk melihat arlojinya. Bola mataku membulat saat melihat jarum kecil yang bertengger di pertengahan empat dan lima.
Aku mendongak, menatap Mas Farhan yang hanya diam saja saat kutarik-tarik tangannya tadi. "Mas, kenapa enggak buru-buru sadarin aku dari tadi, sih? Bayangkan, kita dari jam setengah empat tiba di sini, Mas. Mas enggak keburu pengin pulang apa?"
Menyebalkannya Mas Farhan, dia malah terkekeh pelan. Ini di kuburan, lo. Kalau sampai kemalaman di sini, bagaimana nasib aku?
"Kenapa? Takut?" tanya Mas Farhan di sela-sela kekehannya.
"Mas Farhan, ih. Udah tahu aku penakut."
"Kan ada saya."
Aku melongo mendengar kata-kata Mas Farhan, apalagi saat dia merangkul pundakku. Ini Mas Farhan kenapa, sih?
"Sudah, ayo pulang. Atau kamu memang mau di sini, biar sekalian jalin pertemanan sama anggota sini."
"Mas Farhaaan!"
"Iya makanya. Ayo bangun."
"Bantuin, Mas."
Mas Farhan berdecak pelan, tetapi cukup terdengar olehku. "Ya sudah, ayo." Mas Farhan sudah berdiri terlebih dahulu, kemudian mengulurkan tangan kanannya.
"Bentar, Mas."
Kutatap kembali kuburan Ibu lekat-lekat. “Bu, Najwa pamit, ya. Insyaallah Najwa balik lagi ke sini.”
“As-salamu ‘alaikum, Bu,” kata Mas Farhan. Kuterima uluran tangan Mas Farhan, kemudian bangkit. Saat aku akan melepaskan tangannya, dia malah mengeratkan pegangan, lalu menggandengku meninggalkan pemakaman.
Ya Allah, Mas, ternyata kamu bisa bertingkah manis juga, ya.
Kami melangkah beriringan menuju rumah kami.
“Di dalam ada siapa? Ramai sekali.” Mas Farhan menoleh ke arahku seraya mengerutkan kening.
...***...
Aku update. Jangan lupa tinggalkan jejak apresiasi kalian, ya.
Salam manis dari author manis.
__ADS_1
Sumenep, Madura, Jawa Timur
Sabtu, 31 Juli 2021