
Rasanya begitu menyakitkan. Membayangkan wajah renta Ayah diwarnai kekecewaaan saja membuatku tidak ingin berada dalam masa itu. Bagaimana jika apa yang kutakutkan benar-benar terjadi?
Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?
"Najwa."
Satu panggilan bernada lirih itu mengalihkanku dari memori masa lalu dan segala spekulasi-spekulasi yang saling berperang dalam benak, mencoba mengacaukan diri. Segera kuangkat kepala yang sempat menelungkup sambil menggenggam erat tangan Ayah. Saking tidak kuat menahan sesak dalam dada melihat wajah tenang Ayah tadi, aku menundukkan kepala.
Bola mataku membeliak saat melihat Ayah sudah membuka mata. Sadar kalau Ayah menatapku khawatir, cepat, kuusap air mata yang bertumpah ruah membasahi pipi.
"Kamu kenapa, Nak? Kenapa menangis?"
Sontak, aku menggeragap. Tangis dalam diam yang semula kupikir tidak mengusik istirahat Ayah, nyatanya ia yang menjadi perantara Ayah terbangun.
"Najwa ... Najwa enggak apa-apa, Yah." Aku menyahut dengan suara parau.
Kulihat Ayah bangkit. Segera, aku ikut bangkit dari tempat dudukku kemudian membantu beliau untuk bersandar di kepala dipan. Melihat wajah kuyu Ayah membuat hatiku serasa dicubit.
Ayahku tidak baik-baik saja.
Cukup lama menatap wajah pria yang menjadi salah satu perantara aku ada di dunia ini, aku lantas mendekapnya erat. Aku sangat merindukannya.
"Maaf, Ayah. Maaf sudah membangunkan Ayah dan baru tahu kalau Ayah sakit."
Aku benar-benar merasa bersalah sama Ayah. Jika saja Mas Reza tidak memberi tahu, mungkin aku masih beristirahat di kamar. Karena jujur, aku merasa lelah habis perjalanan.
"Tidak apa-apa. Ayah hanya kecapean saja."
Aku mengurai pelukan darinya. Beginilah ayahku. Padahal sudah jelas tubuhnya menunjukkan kalau beliau sakit, beliau malah berkata tidak apa-apa. Sudah begitu, Ayah malah tertawa pelan. Seperti memang sakitnya hanya sakit ringan.
Ya Allah, Yah ... kalau melihat Ayah begini, Najwa merasa malu. Najwa belum bisa setegar Ayah.
"Ayah ...."
Ayah tetap menampakkan raut ceria di hadapan. Beliau memamerkan senyum manis di bibirnya, seraya menatapku teduh. Walau guratan-guratan kecil mulai muncul di wajahnya karena penuaan usia, ayahku ternyata tetap tampil memikat dengan senyum itu.
Ah, Ayah. Aku malah jadi kangen saat-saat Ayah masih muda dan segar. Saat masih semangat-semangatnya bekerja keras untuk anak-anaknya. Sebelum akhirnya beliau tidak lagi diperbolehkan beraktivitas berat sejak stroke usai kepergian Ibu. Mas Gibran dan Mas Rezalah yang mengganti posisi Ayah.
Namun, beban dua kakakku kini sudah berkurang. Aku sudah sama Mas Farhan; Rifka dengan Rifki, suaminya; dan Weny ... adikku itu juga sudah menikah. Satu tahun sebelum aku menikah. Dia menikah muda karena desakan dari tunangannya. Alhamdulillahnya, suaminya baik dan bertanggung jawab sekali. Kehidupan Weny juga sejahtera. Meskipun tidak akan pernah absen dari masalah, sih. Yang membuatku salut saat mereka bisa melewati masalahnya. Padahal jika dinalar dengan logika, usia mereka masih dini. Jauh lebih muda dariku. Lah, aku? Yang kata orang sudah dewasa, malah seperti sangat sulit untuk menyelesaikan masalahku.
Ya Allah, kenapa malah membanding-bandingkan diri dengan orang lain, sih. Kumohon jangan tiru sikapku yang satu ini, ya. Setiap orang memiliki keistimewaan masing-masing. Kita jelas bukan mereka, mereka pun bukan kita. Porsi masalah yang ada dalam hidupnya pasti berbeda-beda, dan cara mereka menghadapinya pun berbeda-beda.
Baiklah, kembali kepada saudara-saudaraku.
Tinggal Mas Reza yang belum menikah memang. Entahlah. Saat ditanya kapan menikah, kakakku yang satu itu selalu menjawab, "Kamu bahagia dulu sama suamimu. Baru Mas Reza menikah."
Aku sempat protes kala dia mengatakan alasan itu. Aku tidak mau dijadikan alasan kakakku belum menikah. Yang ada aku dilabrak tunangannya lagi. Karena dianggap menjadi penghalang.
Kalian pasti pahamlah kenapa Mas Reza begitu. Dan entah mengapa, seperti ada ikatan batin yang kuat antara aku dan Mas Reza. Apa yang dia takutkan benar-benar terjadi. Orientasi pernikahanku seperti sulit dipahami. Apa ini bentuk teguran untukku agar tidak berspekulasi terlebih dahulu dan tidak berpikir negatif terlalu jauh dahulu? Pernah mendengar kata-kata, sesuatu yang kita takutkan, malah ia yang ada kemungkinan besar terjadi?
__ADS_1
Ah, kenapa malah membahas macam-macam, sih. Abaikan pikiranku yang akhir-akhir ini suka tidak keruan, ya. Kembali ke Ayah.
"Sejak kapan Ayah begini?"
Aku mencari posisi yang nyaman untuk menghabiskan waktu bersama Ayah. Kerinduan akan sosoknya mendorongku untuk lebih banyak bersamanya.
"Baru semingguan ini, kok." Ayah tersenyum. "Tidak usah khawatir. Masmu itu merawat Ayah dengan baik."
Aku mencebik samar. "Kenapa Mas Reza enggak bilang kalau Ayah sakit, sih? Kan Najwa bisa pulang lebih awal."
"Memang Ayah yang melarang masmu cerita."
Mataku sedikit membulat, tidak habis pikir mendengar jawaban Ayah. "Ya Allah, Ayah. Kenapa begitu? Najwa 'kan anak Ayah juga. Enggak boleh tahu gitu? Mas Gibran sama Rifka dan Weny tahu enggak kalau Ayah sakit?"
Keningku mengerut saat melihat Ayah malah terkekeh lagi. Bukan menjawab pertanyaanku.
Apa yang lucu coba?
Aku mendesah pelan melihat respons Ayah. "Ayah ... Najwa tanya ini, lho."
Dan Ayah malah tertawa terpingkal-pingkal. Rasa kepo dalam diriku makin menggelora. Apa yang Ayah tertawakan? Bahkan dua sudut mata pria itu sampai meneteskan cairan-cairan bening. Sebegitu kocakkah aku? Padahal aku tidak sedang berkomedi, lo.
Masih terpingkal-pingkal, Ayah kemudian memegangi perutnya. Baiklah, aku pasrah. Aku membisu, membiarkan Ayah meluapkan tawanya. Lagipula ada kebagiaan tersendiri yang kemudian menyelinap ke dalam hati saat aku bisa membuat Ayah tertawa selepas ini. Seperti tidak ada beban sama sekali. Raut wajahnya yang pucat dan kuyu perlahan berseri berkat senyum itu.
Alhamdulillah. Tetaplah bahagia, Ayah.
Aku melongo mendengar penuturan Ayah. Maksudnya bagaimana?
Duh, otakku loading, eh.
Kutatap serius wajah Ayah yang sudah bersiap memberi jawaban. "Dari kelima anak Ayah, kamu satu-satunya yang pendiam. Suka memendam apa-apa sendiri. Tapi lihatlah sekarang, kamu sangat cerewet, Nak. Berani protes juga sama Ayah."
Astaga, aku baru sadar dengan arah pembicaraan Ayah. Ya Tuhan, sepertinya hidup bersama Mas Farhan dengan segala masalah yang dia limpahkan kepadaku, membentuk karakter baru dalam diriku. Ayah saja sampai sebegitunya melihat perubahanku. Dan jika diingat-ingat, aku memang menjelma perempuan cerewet secara verbal sejak menikah dengan Mas Farhan, sih. Dahulu 'kan cerewetnya ke buku saja. Atau kalau tidak, ke Mas Reza.
Salut, sih. Ternyata menikah dengan lelaki dingin dan pemarah seperti Mas Farhan tidak sia-sia. Eh. Dengan sikapnya itu aku malah bisa lebih banyak berinteraksi secara verbal tanpa menulis lagi.
Aku menggeleng pelan, ikut tidak habis pikir dengan perubahanku ini.
"Beneran? Najwa beda banget, ya, Yah?" Mencoba memastikan saja, sih, sebenarnya. Karena aku menyadari begitu banyak perubahan dalam diriku.
Ayah terkikik. "Iya, Nak. Kamu beda sekali. Pasti Farhan mengajakmu ngomong terus, ya? Makanya kamu jadi cerewet begini?"
Hei, apa yang harus kujawabkan kepada Ayah?
"Tapi Ayah senang untuk itu. Berarti Farhan membawamu ke arah yang positif."
Aku hanya tersenyum, bingung harus menjawab apa.
Iya, Mas Farhan membawaku ke arah yang positif. Positif senewen bahkan hampir gila karena sikapnya.
__ADS_1
"Kamu bahagia sama Farhan, Nak?"
Pertanyaan itu .... Pertanyaan tiba-tiba yang dilontarkan Ayah membuatku tercenung sebentar. Bibir ini terbuka, tetapi tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Kupalingkan pandanganku saat Ayah tiba-tiba melayangkan tatapan intens, bak polisi mau menginterogasi pelaku kejahatan.
Apa aku bahagia? Jelas, aku bahagia memiliki suami seperti Mas Farhan, tapi ... itu sebelum semuanya terungkap. Sekarang? Em ...?
Ingin aku menjawab dengan opsi pertama. Akan tetapi lidahku terasa kelu.
Kenapa malah gugup begini sih? Jangan buat ayahmu curiga, Najwa. Ayo jawab!
Hingga beberapa waktu berlalu, tidak ada suara yang keluar dari mulut ini. Tenggorokanku seperti tiba-tiba kering, sehingga kesulitan untuk bicara.
"Najwa, kenapa diam?"
Kuhela napas panjang terlebih dahulu, kemudian kembali menghadap ke arah Ayah. Kupikir pertanyaan ini hanya akan diberikan oleh Mas Reza. Ternyata ....
"Apa masalah ini yang membuat Ayah drop?"
Entah mengapa, pikiranku tiba-tiba mengarah ke sana. Yang kutahu, seseorang yang mempunyai riwayat sakit jantung, sekali ada masalah pasti bakal drop. Karena mereka pasti berat pikiran, dan ketika pikiran tertekan, kerja jantung tidak normal.
"Jawab pertanyaan Ayah dulu, baru Ayah kasih tahu alasannya."
Aku menghela napas berat. Kenapa masalah ini tidak kunjung selesai? Kenapa selalu dibahas? Aku jadi teringat Mas Gibran. Beberapa waktu yang lalu, dia juga menanyakan pertanyaan yang sama. Namun, kakak pertamaku itu tidak seperti Mas Reza yang terus mengulik sampai ke akar-akarnya. Dia lebih pasrah, begitu.
Kenapa semua orang malah mengkhawatirkanku, sih? Padahal aku selalu berusaha untuk menampakkan keadaan baik-baik saja. Aku lelah selalu menyusahkan.
Karena seperti yang kukatakan beberapa waktu yang lalu, dari dahulu, aku yang paling dipikirkan sama Ayah dan Ibu.
"Ayah, ... Najwa bahagia, kok."
"Tapi tatapanmu berbeda, Wa."
Kutundukkan kepala dalam-dalam. Aku selalu tidak siap jika dihadapkan dengan masalah ini. Namun, keadaan selalu memaksa untuk ada dalam kondisi seperti ini. Saat aku memilih untuk memendam rapat-rapat urusan rumah tanggaku, selalu saja ada celah untuk orang lain menyadarinya. Mungkin ini salahku juga, sih. Aku yang tidak bisa mengontrol diri. Jam terbang sandiwaraku belum seberapa.
...***...
Senang enggak kisah Mas Farhan dan Najwa update lagi? Senang dong, masa enggak? Hehe. Bercanda.
Jangan lupa like, vote dan komentar, ya. Dukungan dari kalian tuh berharga banget, lo, buat aku. Aku jadi semangat buat update kalau kalian semangat mendukung aku. Hehe.
Oh, iya. Untuk vote, kalian harus punya koin, ya. Bukan poin. Kalau poin itu untuk like. Kalau vote, pakai koin. Kalian bisa beli koinnya dengan pulsa, atau dompet digital. Cukup murah, kok, top up koinnya.
Jangan bosan sama ceritanya Mas Farhan. Insyaallah aku usahakan lancar update-nya setiap hari.
Salam manis dari author manis.
Sumenep, Madura, Jawa Timur
Jumat, 25 Juni 2021
__ADS_1