
"Ibu ke Surabaya lagi hari ini?"
Aku yang semula duduk di sofa sambil asyik menonton televisi bersama Mas Reza, sontak menoleh.
"Hei, ada cucu Nenek rupanya," sapa Ibu kepada Nayla--anak Mas Gibran yang baru berusia sepuluh bulan lebih sedikit--seraya mengecup lembut keningnya. "Kamu ke sini sendirian, Gibran?"
"Iya, Bu. Diva lagi ngurus sesuatu di rumah."
"Hati-hati kalau bawa mobil bareng anak kamu."
"Iya, Bu. Pasti." Mas Gibran tersenyum, sementara anak yang ada di gendongannya hanya diam saja menyaksikan interaksi antara ayah dan neneknya itu. "Ibu ke Surabaya buat apa?"
"Oh, itu. Ada rekan kerja Ayah yang mau ketemu. Sekalian bicarakan bisnis mebel Ayah gitu. Katanya dia lagi butuh alat-alat RT yang khas Madura."
Mas Gibran hanya mengangguk-angguk, dan aku serta Mas Reza mengikuti jejak Nayla, yakni diam saja, hanya menjadi penonton pertunjukan interaksi mereka berdua.
"Ya sudah, Ibu mau berangkat. Ayahmu pasti sudah nungguin di luar."
"Iya, Bu. Tadi Gibran lihat Ayah sudah manasin pikepnya."
Ibu tersenyum. "Gibran, Ibu titip adik-adikmu, ya. Sesibuk apa pun kamu di rumah istrimu, sempatkan ke sini, tengok ayah dan saudara-saudaramu."
Keningku mengerut mendengar kalimat Ibu. Entah mengapa, rasanya ada yang janggal saat Ibu tiba-tiba berpesan begitu.
Mas Gibran memang sudah dua tahun yang lalu pindah dari rumah kami. Lebih tepatnya setelah menikah. Meski begitu, dia masih sering datang ke sini. Kadang hanya sendiri, bersama Nayla seperti saat ini, atau sama Mbak Diva sekaligus. Lalu apa maksud Ibu berpesan begitu kepada Mas Gibran? Biasanya juga beliau hanya berpesan, "Ibu ke luar kota. Jaga rumah."
Kulihat Mas Gibran sempat melirik ke arah kami sebelum menjawab kata-kata Ibu. Mungkin dia juga ikut bingung seperti kami karena raut wajahnya cukup jelas menyatakan itu.
"Gibran?" panggil Ibu lagi. Kakak pertamaku itu lantas menoleh ke arah Ibu, sementara kami masih bergeming.
"Iya, Bu. Insyaallah." Mas Gibran akhirnya menjawab dengan kalimat itu.
"Kalian enggak mau salim sama Ibu?" Wanita itu menoleh ke arah kami.
Ah, kenapa bisa sampai lupa, sih? Biasanya juga kalau Ibu pamit, aku langsung menyalaminya. Mas Reza juga kenapa? Malah ikut bengong.
Seperti ada instruksi dari ikatan batin antara aku dan Mas Reza, kami kompak bangkit dari tempat kami duduk tadi, kemudian melangkah mendekati Ibu.
"Salim itu penting. Misal kalian enggak ada kesempatan ketemu Ibu lagi gimana?"
__ADS_1
Langkah kami tiba-tiba terhenti saat mendengar kalimat lanjutan Ibu. Sejenak, aku saling tatap dengan Mas Reza dengan bibir masih mengatup.
Belum juga ada tanggapan dari aku maupun Mas Reza, Weny tiba-tiba menyerobot ucapan Ibu barusan.
"Ibu apaan, sih? Ngelantur gitu." Adik bungsuku itu sedikit mencebikkan bibir.
"Enggak ada yang ngelantur, Weny. Ibu benar, 'kan, Mas, Mbak?" Ibu melirik Mas Gibran, Mas Reza, kemudian aku secara bergantian. Namun, tetap tidak ada satu kalimat pun yang menjadi jawabannya. Ucapan Ibu benar-benar tidak biasa dan seolah-olah membuat otak kami tiba-tiba blank.
"Kamu enggak ngambek lagi sama Ibu, Wen?"
Tatapanku, Mas Reza dan Mas Gibran yang semula berfokus kepada Ibu, beralih menatap Weny.
"Weny ngambek kenapa lagi, Bu?" tanya Mas Reza.
"Tadi gara-gara disuruh beli gula ke tokonya Bu Ani. Dia marah-marah karena enggak nyuruh Mbak Najwa atau Mbak Rifka."
Weny memanyunkan bibir. Bukan kesal, kami malah mentertawakan sikap anak kelima Ayah dan Ibu itu. Maklum, sih, dia masih SD.
"Dek, Dek. Ada-ada saja kamu ini," ucap Mas Gibran menggeleng-gelengkan kepala.
"Terus, jadinya Ibu nyuruh siapa?" Mas Reza yang bertanya, dan aku hanya diam karena sudah tahu kejadian yang tadi.
"Ya Ibu enggak jadi nyuruh dia, Za. Ibu nyuruh Rifka karena Najwa bantu-bantu lipat baju. Tapi ya gitu. Weny dan Rifka 'kan sebelas dua belas. Dia ngambek juga awalnya."
"Eh, iya. Ngomong-ngomong kalian tidak melihat adik kalian itu?" Mas Gibran yang baru sampai di sini jelas tidak akan tahu keberadaan dia. Aku pun setelah membereskan lipatan baju dan memasukkan ke lemari, langsung menghampiri Mas Reza dan nonton bareng dia. Alhasil, kami bertiga pun menggeleng pelan.
"Weny enggak lihat Mbak Rifka ke mana?"
Gelengan kepala yang merupakan jawaban dari adik bungsuku itu seketika menciptakan raut sendu di wajah Ibu.
Ah, pasti Ibu kepikiran karena Rifka ngambek.
"Bu, ayo berangkat. Keburu siang, ini, lho." Suara Ayah terdengar dari luar rumah.
Wanita paruh baya berjubah putih dengan kerudung segi empat berwarna senada itu seketika menepuk kening. Raut sendu yang tercipta di wajahnya berganti kepanikan. Membuat kami hanya tersenyum-senyum kecil. Kebiasaan Ibu memang begini. Kalau sudah berkumpul dengan anak-anaknya, suka lupa mau apa.
"Iya, Yah. Bentar lagi." Meski menjawab begitu, Ibu masih bergeming di tempatnya berdiri. Ibu masih celingak-celinguk ke seluruh sisi rumah. Sepertinya ada yang Ibu cari. "Kamu di mana, sih, Ka?"
Benar saja. Ternyata Ibu mencari Rifka.
__ADS_1
"Mau Najwa carikan Rifka dulu, Bu?" tawarku. Ibu menoleh ke arahku. "Ibu kayaknya kepikiran gitu sama Rifka. Najwa carikan, ya?"
"Enggak usah, Wa. Ibu mau berangkat saja. Kasihan ayah kalian sudah menunggu di luar."
Mendengar jawaban Ibu, aku hanya mengangguk kecil. Kami pun bergantian menyalami Ibu. Namun entah mengapa, lagi-lagi aku merasakan hawa berbeda saat Ibu akan pergi kal ini, apalagi saat ibu kami itu memeluk kami satu per satu, dengan titipan pesan berbeda-beda.
Ibu mendekap Mas Gibran pertama kali. Em, memeluk dari samping, sih. Karena Mas Gibran menggendong Nayla.
"Kamu harus bisa berdiri di samping Ayah, mendampinginya dan menjadi anak yang bisa dia andalkan." Begitu kalimat Ibu kepada kakak pertamaku itu. Dan tanggapan yang diberikan Mas Gibran adalah anggukan kecil.
Beliau juga sempat mencium kening, pipi dan ubun-ubun Nayla, kemudian berpesan, "Jadi anak salihah, ya, Nak."
Lalu setelah itu, Ibu mendekap Mas Reza. Kakak keduaku yang paling tidak suka dipeluk-peluk oleh Ibu karena katanya malu itu, tidak menolak. Dia malah terlihat mengeratkan pelukan di tubuh Ibu. "Kamu juga harus bisa diandalkan oleh Ayah. Bantu Mas Gibran buat jagain adik-adik kalian."
"I-iya, Bu." Mas Reza gelagapan.
Ibu berpindah memeluk Weny. "Jangan bandel-bandel lagi. Kamu harus kayak Mbak Najwa. Anak cewek ngomongnya yang halus."
"Siap, Ibu Negara!" Weny menjawab antusias dengan meletakkan tangan kanan di dahi, bak orang lagi upacara bendera. Sepertinya adikku itu tidak merasakan apa yang kurasakan.
Terakhir, Ibu memelukku. Erat sekali. Akan tetapi sebelum itu, beliau masih menatapku cukup lama. Ada pesan yang tidak bisa kuartikan dari sorot matanya.
"Kalau ada apa-apa, bilang sama Mas Reza atau Mas Gibran. Jangan pernah marah kalau Rifka berulah, ya."
Tidak ada kata-kata yang mampu terucap dari lisan ini, aku hanya bisa mengangguk pelan. Ibu kemudian beranjak.
"Ibu titip salam buat Rifka, ya. Bilang, Ibu minta maaf."
...***...
Hai, aku update. Yeay. Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. Terima kasih banyak untuk yang sudah mau mengapresiasi karyaku ini. Baik dari dukungan like, vote, komentar mengharukan kalian, dan masukan-masukannya juga. Oh, iya. Terima kasih juga yang masih setia membaca karya ini. Jangan bosan menunggu, ya. Perjalananan Mas Farhan dan Najwa masih panjang sekali. He-he. Terima kasih banyak pokoknya. Love you.💙
Ah, iya. Tadi di notifikasi komentar, ada yang tanya akun Instagram dan Facebook aku, ya? Tapi entah kenapa komentarnya tidak tercantum di ceritanya. Apa komentarnya sudah terhapus, ya? Entahlah.
Kalau ada yang mau sambung silaturrahmi, terus saling follow akun Instagram atau Facebook, boleh kok. Nama akun Instagram aku @khairotinnajmah. Sedangkan Facebook @Ntin. Oke!
Terima kasih, Guys.
Salam manis dari author manis.
__ADS_1
Sumenep, Madura, Jawa Timur
Jumat, 30 Juli 2021