
"Mas, hari ini aku izin ke Bangkalan, ya. Mas Reza juga sudah janji jemput tadi pagi."
Niatnya aku akan pergi tanpa pemberitahuan kepada Mas Farhan. Lagipula, dia tidak akan peduli kepadaku, 'kan? Namun, aku teringat kata-kata Ibu, 'Perempuan kalau sudah punya suami, mau ke mana-mana harus izin dan diizinkan oleh suaminya. Bukan hanya izin, lo, ya. Akan tetapi diizinkan juga. Kalau tidak diizinkan, maka setiap langkah istri yang tidak mendapat izin dari suaminya itu tercatat dosa.'. Meski dia memang tidak baik kepadaku selama ini, siapa tahu ada keajaiban seperti tadi pagi, 'kan? Setidaknya dia memberi izin walaupun tidak mengantar ataupun ikut. Tadi aku juga sudah bilang ke Mas Reza kalau Mas Farhan tidak mengizinkan, aku akan membatalkan rencana. Dan Mas Reza memahami itu.
Kulihat Mas Farhan menegakkan tubuh, lalu menatap ke arahku cukup lama. Heran, sih. Ada apa coba di wajahku? Kenapa Mas Farhan suka banget menatapku? Awas jatuh cinta, lo, Mas.
Ketika hal itu terlintas di pikiran, sisi lain dari diriku kemudian memperingati, bermimpilah, Najwa. Itu tidak akan terjadi. Bagaimana tidak? Tatapan yang dilayangkan Mas Farhan kepadaku itu tidak ada baik-baiknya sama sekali. Dia memakai perspektif benci. Bagaimana bisa jatuh cinta?
Baiklah, abaikan saja pemikiran-pemikiran yang suka melintas di kepala, yang pasti saling protes satu sama lain. Kembali ke Mas Farhan.
Suamiku itu bangkit, kemudian mendekat ke arahku yang masih berdiri di tangga teras. "Kenapa mendadak?"
Maksudnya apa, ya?
"Sudah dari kemarin aku bilang ke Mas Reza, Mas. Tapi dia bisanya jemput hari ini."
Mas Farhan mendengkus, membuatku menautkan alis. Ada yang salah?
"Yang suami kamu itu Mas Reza apa saya?"
Hah? Aku melongo mendengar pertanyaan Mas Farhan. Ini maksudnya bagaimana? Mas Farhan marah? Alasan dia marah apa? Karena dia yang berstatus suamiku baru tahu kalau aku mau ke Bangkalan? Atau merasa tidak dihargai jadi suami? Ini sudah kuberi tahu, 'kan?
Belum sempat aku menjawab, Mas Farhan sudah melanjutkan, "Kenapa malah bilang ke Mas Reza dulu?"
Benarkah Mas Farhan marah karena orang pertama yang tahu akan rencanaku adalah Mas Reza? Terus kenapa? Apa ini juga petunjuk kalau Mas Farhan akan memperbaiki sikap?
"Apa salahnya, Mas? Mas Reza kakakku. Yang mau dikunjungi juga keluargaku."
"Kalau kamu pulang dengan Mas Reza, mereka akan mikir apa tentang saya?"
Harapan yang kupikir akan terealisasi ternyata masih jauh, jauh sekali. Apa yang kulihat pagi ini bukan sebuah petunjuk akan terwujudnya harapanku. Ini sebatas fatamorgana di siang terik.
Mengembuskan napas lelah, aku menundukkan kepala dalam-dalam. Jujur aku lelah. Setelah aku berjuang, kemudian muncul tanda-tanda akan keberhasilan, tetapi pada kenyataannya hanya bayangan semu, itu menyakitkan. Lagi-lagi aku dikecewakan oleh harapanku sendiri.
Makanya berhenti berharap pada selain Dia, Najwa.
Mas Farhan bertanya begitu hanya demi nama baiknya di depan keluargaku. Dia tidak mau dapat stempel buruk dari mereka, 'kan? Ya Allah, Mas. Selain jaim di depan Bapak dan Bunda, ternyata kamu mau jaim di depan keluargaku juga? Sungguh, baru kali ini aku bertemu dengan manusia paling egois seperti ini. Apa sih yang ada dalam pikiranmu, Mas? Kalau kamu memang tidak mau menerimaku, kenapa menyetujui pernikahan ini?
__ADS_1
Ah, ujung-ujungnya kembali ke pertanyaan itu, 'kan? Pertanyaan yang sampai detik ini belum kutahu apa jawabannya. Dan, lama-lama aku bosan dengan pertanyaan itu.
Kuusap pelan air mata yang entah kapan menetes itu, sebelum mendongak dan menatap Mas Farhan. Setelah merasa cukup tenang, aku pun mengangkat kepala, kemudian memaksakan senyum ke arahnya. "Keluargaku akan mengerti kalau Mas Farhan sibuk. Aku juga enggak akan menjelek-jelekkan suamiku, kok. Kalau itu yang Mas Farhan pikirkan, tidak usah khawatir."
Karena tujuanku pulang adalah untuk merehatkan diri. Di samping itu aku juga sudah merindukan Ayah. Aku juga menelepon Mas Gibran, Weny dan Rifka untuk pulang ke rumah Ayah. Aku ingin mengalihkan tekanan di pikiran dengan berkumpul dengan mereka. Aku berencana untuk tidak menggiring topik pernikahanku kepada mereka. Murni ingin quality time dengan keluarga.
Mas Reza juga tadi sempat bertanya kenapa aku enggak minta antar ke Mas Farhan. Namun, aku berkelit dengan dalih quality time dengan keluarga itu. Tentunya dengan bumbu-bumbu negosiasi yang harus benar-benar mantap. Karena Mas Reza sensitif dan peka kalau menyangkut aku. Pada akhirnya kakak keduaku itu berjanji menjemput, asal dapat izin.
"Mas kasih izin, 'kan?" Aku menunggu keputusan Mas Farhan dengan harap-harap cemas.
"Sama saya ke sana."
Aku mengerjap sebentar, lalu menyanggah, "Mas, kalau Mas Farhan tidak bisa, enggak apa-apa, kok. Aku janji enggak akan ngomong apa-apa soal Mas Farhan, soal kita ke mereka." Aku mengacungkan jari telunjuk dan tengah ke arah Mas Farhan. Jangan lupakan ekspresi wajah yang kubuat semeyakinkan mungkin. "Aku ngasih tahu begini, cuma butuh izin Mas Farhan. Bukan nyuruh buat ikut. Serius, bukan modus, Mas."
"Astaga, Najwa. Kamu bawel sekali, ya?" tegur Mas Farhan. Lagi-lagi aku meringis saat dia menatap nyalang ke arahku. Aku sendiri pun heran kenapa bisa bawel seperti ini. Aku tuh bawel, katakanlah, hanya sama orang-orang yang dekat denganku, seperti Mas Reza. Sama Mas Gibran saja tidak. Seperti yang kubilang di awal. Dan untuk Mas Farhan, berkaca dari sikap dia sebelum-sebelumnya seharusnya aku takut untuk bersuara, 'kan? Karena salah sedikit, dia pasti marah. Namun, entah mengapa aku malah sebaliknya. Seperti bodo amatlah sama sikap Mas Farhan.
"Nurut apa kata saya bisa?" Mas Farhan mengeluarkan jurus andalannya. Menatap tajam dengan suara super datar.
Aku menarik napas panjang. "Mas, maaf nih sebelumnya. Tapi Mas Reza sudah janji jemput. Dia bisa, kok." Aku masih kekeh dengan pendirianku. Aku benar-benar malas melibatkan Mas Farhan, karena tidak akan luput dari sandiwara.
"Kan bisa bilang sama Mas Reza kalau kamu pulang sama saya? Saya suami kamu. Sudah sepantasnya pulang ke rumah mertuanya, 'kan?"
Krisis ketulusan, semuanya penuh kepalsuan. Ironis.
"Tapi, Mas--"
"Apa lagi, Najwa? Kenapa tidak langsung siap-siap saja, terus berangkat, biar kita cepat sampai ke Bangkalan? Kalau kamu bawel, sibuk protes terus, sampai kiamat tidak akan sampai ke rumah kamu."
Bagaimana tidak kicep kalau Mas Farhan sudah menampakkan sisi tempramennya? Aku juga, sih. Kenapa malah seperti hobi cari masalah? Dikasih alternatif yang lebih mudah, malah mempersulit.
"Pekerjaan Mas Farhan gimana? Aku tadi bilang Mas Farhan sibuk ke Mas Reza."
"Makanya jangan menyimpulkan terlebih dahulu kalau tidak tahu aslinya. Belum juga bicara sama saya."
Mas, aku terharu, lo, sama kata-katamu. Andai ... ah, mengenaskan sekali hidupku. Terlalu banyak andai. Pasti kalian bosan, 'kan? Sama. Aku saja yang menjalani, merasa sangat bosan. Apalagi kalian yang hanya asyik menyaksikan. Komentar-komentar pasti banjir, sama seperti netizen yang suka menghakimi tanpa tahu keadaan sebenarnya. Eh, maaf. Tidak ada maksud apa-apa. Ini refleks saja.
Mas Farhan sudah berbalik untuk masuk ke dalam rumah. Namun, entah mengapa bibirku ini malah mengeluarkan kalimat panggilan lagi. Mas Farhan berbalik cepat, dengan raut kesal yang terlihat jelas di wajahnya.
__ADS_1
"Apa lagi?"
"Beneran enggak apa-apa sama pekerjaan Mas?"
"Iya. Teman-teman saya bisa urus studio dan toko."
Aku mengangguk paham. "Tapi Mas Reza sudah bawa mobil--"
"Kamu sibuk protes cuma karena Mas Reza bawa mobil? Saya juga punya mobil, kalau cuma itu masalahnya. Kamu lupa saat pertama kita ke rumah ini naik apa?"
Kalau dipikir-pikir memang alasanku protes dari tadi tidak jelas. Bagaimana Mas Farhan akan mengerti kalau aku saja yang merasakan tidak paham? Kacau. Namun, satu hal yang baru kusadari adalah, Mas Farhan sabar banget, ya, hari ini? Dia membalas semua protesanku yang menyebalkan, meskipun masih dengan ciri khasnya yang formal dan dingin. Apa ... stop berharap jika tidak mau kecewa seperti tadi. Ingat, dia hanya tidak ingin nama baiknya buruk di mata keluargamu, Najwa.
"Sekarang telpon Mas Reza, terus bilang, 'Enggak usah dijemput. Aku pulang sama Mas Farhan', gitu."
Mengembuskan napas sejenak, aku pun meraih ponselku di saku rok dan menghubungi Mas Reza.
"Ya, kenapa, Dek?" Itu suara Mas Reza yang terdengar sesaat setelah panggilan terhubung.
"Mas Reza ada di mana?"
"Mas masih di rumah. Ini sudah siap-siap mau berangkat. Kenapa? Farhan enggak ngizinin, ya?"
Aku menghela napas lega mendengar jawaban Mas Reza. Aku kasihan saja kalau dia sudah berangkat, tetapi harus putar balik.
"Bukan gitu, Mas. Aku pulang sama Mas Farhan."
Begitu mendapat jawaban maklum dan akan menunggu di rumah dari Mas Reza, aku memutuskan panggilan.
"Sudah." Aku langsung masuk rumah dan bersiap-siap untuk berangkat.
......***......
Salam manis dari orang manis.
Jangan lupa like, vote dan komentar. Boleh direkomendasikan ke teman-teman atau familinya.
Sumenep, Madura, Jawa Timur
__ADS_1
Jumat, 18 Juni 2021