Hanya Zi

Hanya Zi
Ia Yang Berubah


__ADS_3

Subuh itu di sebuah rumah sederhana milik Pa Rizal yang tinggal di desa nyaris terpencil, dengan udara sejuknya, dengan gemericik air sungainya, serta suara serangga nyaring yang muncul diantara pepohonan.


Tik Tok Tik Tok


Suara detik jam yang semakin jelas terdengar subuh itu, masih tak juga berhasil membuat seorang gadis terbangun. Bahkan setelah tangan kanan di bawah alam sadarnya mematikan alarm yg nyaring berbunyi 15 menit lalu, di nakas usang sebelah tempatnya menabur mimpi.


Pengeras suara masjid dekat rumahnya, mulai terdengar melantunkan iqomah, dan ternyata hal ini yang justru berhasil membangunkan gadis berparas cantik dengan tampilan sederhana, dan rambut indah panjang hitam legam warisan dari Sang Ibu.


“Huaaaaa!!! Ya ampuuuun.. aku kesiangan..”


Pekik Zi yang hari itu memiliki jadwal padat di hari terakhir sekolahnya. Jam sudah menunjukkan Pukul 04.45 subuh.


Dengan gerakan ekstra cepat dia langsung beranjak ke kamar mandi, mengambil air wudhu lalu menunaikan kewajibannya.


Pagi ini entah kenapa perasaannya sedikit berbeda, dia melakukan dzikir lebih lama dari biasanya, bahkan fokusnya tak juga terkumpul saat ia membantu Sang Ibu mencuci piring di dapur sederhana mereka di belakang rumah, yang berbatasan langsung dengan sawah milik juragan di kampungnya.


Setelah bergegas membersihkan diri, di tengah waktunya yang terbatas, akhirnya pergumulan batinnya berakhir di depan cermin.


Ternyata hal ini yang membuat hatinya sejak malam gelisah, isi kajian dari radio usang hadiah dari Ayah karena juara kelas, yang selalu terngiang-ngiang. Kegiatan kerohanian di sekolah 2 tahun terakhir yg sering gadis ini ikuti, meskipun ia bukan gadis yg berhijab, tapi semangatnya untuk menuntut ilmu agama tak membuatnya merasa tersisih hanya karena tampilan luar yg belum sama.


Apakah hari ini saatnya? apakah harus hari ini? tapi kenapa aku belum yakin..?


”Ziii..ayo cepat nak, tadi katanya kesiangan..” suara Ibu akhirnya membuyarkan lamunan Zi


“Iya Buuu.. Sebentar lagiiiii…, 5 menit bu 5 menit plus plus”


Plus "semedi" bentar ya Bu, anakmu ini lagi galau Bu


Zi akhirnya berpamitan dengan Ayah dan Ibunya untuk berangkat lebih dahulu.


Kepergian anaknya dengan tampilan yang tak seperti biasanya, membuat dua orang paruh baya itu mengerutkan kening, tanpa berani bertanya.


Mungkin belum saatnya fikir mereka, anak gadis mereka tampak tergesa-gesa, hasil dari bangun kesiangan dan "semedi" tadi.


Zi berangkat lebib dulu karena perlu ada yang disiapkan dengan teman-teman kelas Zi, pada acara perpisahan di sekolah hari in. Kedua orangtua Zi akan menyusul nanti sesuai jam kedatangan untuk tamu undangan.


*****


”Ta..Ta..itu lihat Zi…” Ina sedikit berteriak sambil memasang jepit pink kesayangannya


“Maaana..lihat apaan? , kenapa memangnya heboh banget” Shinta yang sedang membetulkan tali sepatunya mencoba mencari Zi yang membuat Ina heboh sendiri..


“Ya ampuun Zi ini bener kamu…?”Ina masih heboh

__ADS_1


“Ih kamu berlebihan Na..Orang bagus juga” Shinta menatap Zi dengan tatapan takjubnya


“Kenapa memangnya aneh ya, ngga pantas ya aku pakai ini?” Zi mulai menatap penampilannya sendiri, sambil memasang wajah bingung


“CANTIK ZIIII…!!!” Kompak kedua sahabatnya menjawab dengan lantang..


“Jadi kalian mau ikut seperti ini juga, ayuk..”


Hihi sok iyeh banget ya aku padahal tadi pagi saja masih ngga yakin dengan isi hati dan kepala sendiri


Ina dan Shinta saling tatap “hehe.. Kayaknya lain kali saja deh, belum siap kalau sekarang"


Ditengah obrolan ketiga sahabat ini.. Iqbal sang ketua angkatan muncul karena melihat kehebohan tiga sekawan itu, sambil memastikan apa yang dilihat oleh matanya saat ini.


“Zi.. Masya Allah akhirnya.. Selamat ya.. Semoga Istiqomah aku ikut senang”


“Aamiin.. Iya makasih banyak ya, ini teman-teman aku juga kayaknya mau dido’ain juga Bal” Zi mulai iseng


“Ih mau dikirim do’a apa dulu Zi, Please jangan dulu kirim do’a cepat-cepat nikah ya, mana kayaknya do’a anak soleh seperti Iqbal ajib lagi kan”


“Hah kok ajib, kenapa ajib*?” Shinta keheranan


“Itu loh yang kalau berdo’a gampang banget terkabulnya”


“Naaah ini nih yang harus dikirim do’a Bal, do’anya biar pintar saja deh Bal, masa mustajab* dibilang ajib, kamu itu makanya kalau pelajaran agama jangan pegang kaca melulu, centil banget siiih..” Shinta mulai emosi


Iqbal ikut tertawa dengan obrolan ketiga sahabat ini “Iya pokoknya semuanya dido’akan yang baik-baik terutama buat cepat-cepat bisa pakai hijab menyusul Zi ya..”


“AAMIIN..” Semua kompak mengaminkan, dan langsung membubarkan diri karena acara perpisahan angkatan mereka akan segera dimulai.


Satu persatu susunan acara lancar terlaksana, semua orang tua kelas XII hadir pada hari itu, menyaksikan penampilan anak-anak mereka di atas panggung, beserta penghargaan yang diberikan sekolah pada murid-murid berprestasi.


Saatnya pengumuman Juara Umum, semua mata tertuju pada gadis yang baru hari ini resmi berhijab, dibalik pakaiannya yang sederhana, tak bisa menutupi wajah cantik dan teduhnya.


Ya Zi, dia gadis cantik berprestasi, meskipun hidup diantara kesederhanaan keluarganya, selama tiga tahun berturut-turut gelar anak berprestasi selalu berhasil dipertahankan.


Bagaimana tidak diantara keterbatasan ekonomi keluarga serta fasilitas di SMA mereka yang seadanya, Zi bisa membuktikan bahwa sekolah di kampung bukan halangan untuk menjadikannya berprestasi, mampu menjuarai beberapa olimpiade, dan ya dia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya.


Satu sekolah, tak ada yang tak mengenal gadis ini cantik, ramah, cerdas memiliki rambut panjang yang indah, dan hari ini semua teman-temannya menatap dengan tatapan terkejut sekaligus takjub saat tau gadis itu memutuskan berhijab justru tepat di hari perpisahan mereka.


Tangis haru tak bisa dibendung oleh kedua orang tua Zi, saat Zi menyampaikan sambutannya sebagai perwakilan angkatan, menyebut nama kedua orangtuanya dari atas panggung dengan dengan sama-sama berderai air mata, mengingat perjuangan pahit mereka yang harus mengungsi dari kota, karena musibah yang mereka alami, tapi anak gadis mereka satu-satunya bisa tegar dan tumbuh dewasa.


Zi terpaksa harus pindah ke desa saat ia berusia 11 Tahun, karena musibah itu. Tapi kesulitan benar-benar akan membuat pribadi seseorang berkembang lebih dewasa.

__ADS_1


Satu Minggu Kemudian


Zi mulai merapikan pakaiannya ke dalam tas jinjing yang sedikut besar, dia akan mulai mempersiapkan perkuliahannya bersama dua sahabatnya dan juga Iqbal, meskipun Ina mengambil jurusan yang berbeda.


“Zi.. kamu yakin ngga perlu diantar Ayah dan Ibu” Ibu mulai menatap sedih anak semata wayangnya. Matanya mulai berkaca-kaca, karena untuk pertama kalinya Ibu hanya akan tinggal berdua saja bersama Ayah. Ditinggalkan anak satu-satunya untuk berjuang,


“Sudah Bu, ngga perlu Insya Allah Zi bisa, kan kemarin ayah sudah antar Zi mencari kosan yang aman hehe.. sekarang kalau ayah ikut Zi lagi, kasihan nanti ayah kelelahan terus nanti Ibu sendirian ngga ada yang nemenin”


Zi mulai mengelus-elus lengan ibunya, untuk meyakinkan bahwa anaknya ini sudah besar.


“Ibu jangan sedih ya, do’akan Zi terus ya Bu, nanti Zi pasti akan rajin memberi kabar pada Ibu”


“Ayah hanya titip pesan sama kamu Nak, jaga diri baik-baik, jangan mudah terbawa arus, ingat tujuan awal kamu ke sana untuk apa” Pesan Ayah sambil mengelus-elus kepala anak gadisnya..


Sejak subuh, gadis ini sudah berusaha sekuat tenaga agar tak menangis di depan kedua orang tuanya. Tapi apadaya hatinya ternyata tak sekuat itu.


“Aduuuh kan Zi jadi nangis.." Zi mulai mengibas-ngibaskan tangan disamping wajahnya, entah berpengaruh untuk apa, yang pasti ia tak ingin membuat orangtuanya berat melepas, menyetujui keputusannya untuk mengambil beasiswa di Jakarta.


"Insya Allah ya Ayah Ibu, Zi mohon do’anya, do’a yang selama ini selalu Ayah dan Ibu panjatkan buat Zi, karena Zi juga tak akan putus mendo’akan Ayah dan Ibu.”


“Kamu jadi berangkat dari stasiun dengan Shinta dan Ina?”Tanya Ayah


“Iya jadi Yah, nanti kita ketemu di sana”


Setelah drama tangis-tangisan, akhirnya Zi berangkat menjemput impiannya ke kota, diantar ojeg Mang Ujang tetangganya, untuk bertemu di stasiun bersama dua sahabatnya, sedangkan Iqbal sudah berangkat ke Jakarta terlebih dahulu satu hari lebih cepat


Ketiga sahabat itu berjanji tak akan terpisahkan, Ina sahabatnya yang hobi dandan mengambil jurusan Fashion Designer, alasannya sepele karena dia mau menunjukkan ke orang-orang di kampungnya, bahwa dia bisa jadi anak kampung yang berubah menjadi keren, dengan cara merubah penampilannya sedikit demi sedikit, haha riya sekali ya.


Diantara mereka bertiga Ina memang yang paling modis urusan pakaian, mengingat orang tuanya adalah juragan sayuran, Ya meskipun sekeren-kerennya baju di kampung tak bisa dibandingkan dengan kerennya baju anak-anak kota.


Percaya atau tidak, bagi sebagian orang masalah pakaian atau sesuatu apapun yang dikenakan akan menentukan tingkat kepercayaan diri, padahal di sisi lain banyak orang yang tak sadar bahwa isi kepala dan bagaimana kita bersikap akan membuat orang tak akan memperdulikan hal itu.


*


*


*


*


*


Iqomah atau ikamat adalah panggilan untuk memulai shalat

__ADS_1


Ajib berasal dari bahasa arab artinya mengagumkan, luar biasa, menakjubkan


Mustajab pun berasal dari bahasa arab, untuk do'a mustajab bisa berarti dijawab. Jadi do'a mustajab do'a yang terjawab atau dikabulkan. Bisa juga menggunakan kata maqbul untuk do'a yang terkabul.


__ADS_2