
Zi tampak tertunduk menahan kesedihannya. “Maafkan Mama ya” Za merengkuh bahu gadis itu memeluknya erat, faham dengan apa yang sedang berkecamuk di hatinya.
“Boleh minta tolong buatkan kopi?” pinta pria itu sambil mengusap pipi gadisnya. Zi hanya menjawab dengan senyuman yang terlihat dipaksakan.
Saat Zi masih membuat kopi favorit suaminya ia memberanikan diri bertanya “Kak Za mau ada yang dibicarakan dengan Zi? Kak Za sepertinya sedang bingung?”
Pria itu tak menjawab memilih untuk duduk bersandar di sofa panjang yang biasa di duduki kliennya.
Saat Zi hendak menyimpan kopi di dekat pria itu “Ini sudah ada kopi Kak”
“Aku tak mau kopi itu, rasanya pasti berbeda” Za menarik tangan istrinya agar duduk di sampingnya
“Maaf ya, Mama memang sedikit keras kepala, tapi Beliau itu sebenarnya wanita baik, hanya saja lingkungan sosialnya yang membuat ia berubah”
Zi bingung harus berkata apa, malah mengatakan “ini kopinya mubadzir, Zi minum saja ya?” tanpa menunggu jawaban suaminya, gadis itu meneguk kopi yang sudah mulai berubah suhu.
“Kamu mau kan bersabar sedikit lagi menunggu Mama?, tak usah khawatir dengan Papa karena beliau sangat senang menerimamu menjadi anggota keluarga nya”.
Zi masih menunduk, lagi-lagi tak menjawab perkataan suaminya, gadis itu kembali meneguk kopi dari cangkir yang sejak tadi di pegangnya, meneguknya hingga habis.
“Tapi kalau kamu mau, kita bisa secepatnya mengadakan resepsi toh Papa tak keberatan. Kamu mau?” Zi menggeleng,
“Zi tak mau durhaka Kak, Mama itu orangtua yang wajib kita hormati Kak, Zi mau pernikahan kita berkah dan diridhoi kedua orang tua kita”
“Jadi kamu masih mau bersabar kan?” Za kembali mengulang pertanyannya
“Zi bingung Kak, Zi tak tahu apa suatu saat Mama akan membuka hatinya atau tidak? Tapi seandainya itu sulit terjadi, mungkin Zi….”
Belum selesai Zi menyelesaikan pembicaraannya, pria disampingnya yang mulai menatapnya dengan tatapan penuh Tanya memotong kata-kata gadis itu
__ADS_1
“Kamu mau apa Zi?” Zi tak menjawab pertanyaan suaminya, ia justru malah memegang pelipisnya
“Kamu kenapa?”
“Zi pusing Kak”
“Hah, aku belikan obat ya, kamu kalau pusing biasa minum apa?” gadis itu menggeleng bingung
“Ya sudah kamu istirahat dulu, pintunya aku kunci agar tak ada yang masuk, aku carikan kamu obat dulu ya” Zi menuruti perkataan suaminya, dia meluruskan kakinya di sofa panjang itu, sambil masih memegang pelipisnya.
Setelah Za mengunci pintu kantornya dengan kunci otomatis, dia segera berjalan sedikit cepat menggapai lift untuk menuju apotik terdekat.
Lima menit setelah Za menghilang, Silvi kembali ke mejanya sambil menatap ke arah pintu ruangan CEO nya, telinganya memastikan bahwa sudah tak ada lagi pembicaraan di dalam sana antara Ibu dan Anak itu. Sedikit ragu ia membuka pintu itu, memastikan semuanya berjalan sesuai rencananya.
Flashback On
Silvi menguping pembicaraan Ibu dan anak itu dari balik pintu, samar-samar dia mendengar jika Zi akan dipindahkan ke kantor cabang di Sulawesi atau Kalimantan.
Tapi rasa senangnya tak bertahan lama, karena Bu Lidya meminta Za mengganti sekretarisnya dengan seorang gadis yang Bu Lidya kenal. Itu artinya Silvi akan pindah divisi atau bahkan dia sama-sama akan di mutasikan seperti Zi.
Silvi tampak terlihat geram, rencananya akan terancam jika keinginan Bu Lidya dikabulkan Za. Yang paling membuat Silvi marah adalah, Bu Lidya mengatakan bahwa ia tak menyukai SIlvi karena ia melihat gelagat yang mencurigakan dari gadis itu.
Za mungkin tak menyadarinya tapi Lidya mengatakan jika ia memiliki perasaan tak enak jika melihat gadis itu menjadi sekretaris anak sulungnya. Silvi mencoba menahan rasa amarahnya, tapi dia putuskan untuk mengetuk pintu ruangan atasannya itu
“Permisi, maaf mengganggu, Bu Lidya dan Pak Za mau saya buatkan minum apa?”
“Tak perlu, saya sudah mau pulang” Jawab Lidya ketus
“Baik, Pak Za saya buatkan kopi saja ya Pa” Pria itu masih menunduk tak menjawab apa yang Silvi sampaikan.
__ADS_1
Bukannya beralih ke pantry, Silvi malah kembali ke meja kerjanya, dia berfikir dia harus bertindak cepat karena posisinya saat ini sedang terancam, dia tak mau pindah divisi atau bahkan harus mutasi ke kantor cabang, itu akan semakin sulit membuatnya semakin dekat dengan pria yang selama ini selalu ia idam-idamkan.
Setelah cukup lama dia berkutat dengan fikirannya, dia memutuskan untuk beranjak menuju pantry membuatkan kopi untuk Bosnya.
Silvi tampak ragu untuk kembali memasuki pintu ruangan Za, mematung kembali di depan meja kerjanya sambil memikirkan sesuatu. Ia ingat ia menyimpan beberapa obat tidur serbuk di dalam tas kerjanya, karena beberapa hari belakangan ini ia sulit tidur semenjak kejadian Za mengakui bahwa ia telah menikahi bawahannya sendiri.
Wanita yang selama ini tak terpikirkan sama sekali di benak Silvi, bisa merebut hati pria yang ia cintai. Sungguh sangat-sangat di luar perhitungannya. Pria se eksklusif Za jatuh cinta pada gadis biasa itu.
Dengan yakinnya Silvi memasukkan obat tidur itu ke dalam cangkir kopi milik Za, dia yakin rencananya berhasil, karena Bu Lidya sudah akan beranjak pulang, dan tak ada meeting hari itu.
Akhirnya Silvi kembali memasuki ruangan itu, menaruh kopi di meja sofa yang sedang Za duduki. Terlihat Lidya senang sekali mengawasi gerak gerik Silvi, Nampak ada yang tak natural dari gadis itu, benar-benar seperti ada yang dibuat-buat.
Sayangnya, sifat jeli Bu Lidya tak berlaku pada Zi, karena ia dari awal sudah menolak mentah-mentah gadis itu hanya karena penampilan dan status sosialnya yang di bawah standar yang ia harapkan.
Flashback Off
Silvi mencoba membuka pintu ruangan Za, tapi anehnya ruangan itu terkunci. Hal yang selama ini tak pernah dilakukan atasannya, bahkan jika ia sedang meninggalkan ruangan untuk meeting di tempat lain.
“Sial, kenapa dikunci sih, apa ia sengaja tak ingin ada yang mengganggu karena efek obat itu?”
Saat Silvi baru saja hendak duduk kembali di kursinya, terlihat pintu lift terbuka dengan Za yang keluar sambil sedikit tergesa. Silvi tampak melongo
Hah, apa Za tak meminum kopinya? Kenapa dia tampak biasa-biasa saja
Za tak perduli dengan raut bingung Silvi, dia segera memasuki ruangannya lalu dengan segera kembali mengunci pintu itu. Silvi semakin dibuat bingung kenapa Za tumben sekali mengunci pintu kantornya.
Za yang kembali dan melihat Zi sedang tertidur lelap dengan wajah cantik polosnya, memilih untuk tak membangunkan gadis itu. Dia bahagia sekali memandang wajah gadis yang telah membuatnya merasakan rasa cinta yang semestinya.
Za mengecek ruangan istirahat CEO yang baru saja selesai dibuat, berniat untuk memindahkan gadis itu ke dalam sana, tapi bau cat masih cukup menyengat, sehingga Za mengurungkan niatnya, dia hanya membawa selimut tipis dari dalam sana.
__ADS_1
Za membenarkan posisi tidur Zi yang sungguh sangat terlihat lelap, menyelimutinya lalu mengecup kening gadis itu, mengelus pipinya sambil tersenyum