Hanya Zi

Hanya Zi
Dia Sangat Cantik


__ADS_3

“Sekretaris baru itu perempuan, kamu tahu kan semenjak Silvi berhenti aku sudah berniat untuk tak mempekerjakan seorang wanita menjadi sekretaris ku, tapi Mama justru tadi membawa sekretaris wanita, dan kamu tau siapa wanita itu sayang? Dia Kia teman lamaku saat SMA, wanita yang pernah aku ceritakan dulu.


“Sayang.. sayang.. kamu denger aku enggak?”


Ko dia enggak respon apa-apa, beneran enggak cemburu dia?


“Eeehhh.. dia malah tidur, berasa denger cerpen kali ya istriku ini.”


Keesokan harinya


Seperti biasa Zi yang turun beberapa meter sebelum mencapai kantor, menunjukkan wajah cerianya karena akan segera bertemu dengan sahabat dan klien yang kadang ajaib.


Rani dan Suci yang melihatnya di loby segera menghampiri gadis itu


“Zi, kamu apa kabar udah sehat?” Tanya Suci Riang


“Alhamdulillaah sehat dong”


“Zi hati-hati ya sekretaris suami kamu cantik loh Zi, lebih cantik dari Mba Silvi” Suci mulai ceplas ceplos


“Hussh, udah Zi jangan didengerin” Rani mulai mencubit lengan Suci “Kamu kenapa enggak bareng Pak Za?”


“Ya ampun Ran, kamu mau kantor gempar apa, kalau ngeliat aku jalan berdua Pak Za, aku tadi turun di jalan biar enggak mencurigakan” Ucap Zi berbisik


“Oh jadi selama ini gitu ya siasatnya pantesan bisa enggak terendus sama kita ya..” Suci mulai gemas


“Sudah ah nanti ada yang denger lagi” Zi mulai was was


“Tapi aku serius loh Zi, aku trauma sama kejadian Mba Silvi kemarin, kamu hati-hati ya, jaga suami ganteng kamu, emang repot ya punya suami ganteng”


Rani yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan Suci sedikit berfikir, bahwa apa yang dikatakan Suci bisa jadi ada benarnya.


Berjaga-jaga tak ada salahnya bukan, tetap waspada jangan lengah, ia jadi sedikit mengkhawatirkan Zi meskipun ia tahu Zi gadis kuat, cerdas, cantik tentu saja, pasti tak akan mudah menggeser posisi Zi di hati bos tampannya itu.


“Iya iya” mendengar perkataan Suci Zi jadi semakin bertambah penasaran dengan sekretaris suaminya itu, hingga ide jahilnya mulai muncul kembali


Ko tumben jam 10 suamiku tak meminta dibuatkan kopi


📤Tuan, apa Anda butuh aku buatkan kopi?


Za membuka ponsel seharga dua buah unit motor itu sambil tersenyum


Tumben banget istriku inisiatif saat di kantor, biasanya dia takut-takut masuk ke ruangan ini


📩 Boleh.. sini sayang

__ADS_1


Yess kesempatan… penyelidikan dimulai hihi, penyelidikan apaan sih, orang cuma penasaran aja mau lihat secantik apa sih mba nya itu yang bikin Suci ketar ketir


Saat Zi keluar dari lift, terlihat gadis itu sedang berdiri di mejanya sambil mengangkat telepon


Masya Alloh cantik sekali, badan tinggi semampai, rambut hitam legam sepunggung yang ditahan jepitan cantik disebelah kanan rambutnya, tampilan feminim cukup sopan dan terlihat elegan.


Setelah Kia menutup teleponnya Zi memberanikan diri untuk membuka suara terlebih dulu


“Permisi Mba, maaf mengganggu, saya boleh mengunjungi Pak Za?”


“Mba nya dari divisi apa?”


“Drafter Mba”


“Oh iya perkenalkan saya karyawan baru disini, nama saya Kia, nama kamu siapa?”


“Oh Mba Kia, saya Zi Mba, panggil Zi saja” Kia terlihat tersenyum lalu memijit telepon di sampingnya


“Hallo Pak ada yang ingin bertemu dengan Bapak, Nona Zi dari Drafter”


“Ya silakan masuk”


Gadis itu sekali lagi memandangi wajah Kia, sebelum ia masuk ke ruangan suaminya


Sesaat Zi memandangi wajah suaminya penuh selidik


“Kamu ko ngeliatin aku kaya gitu, serem amat”


“Kak Za pasti bakalan tambah betah deh di kantor” Zi berbicara sambil melangkahkan kakinya menuju coffee maker


“Maksudnya?”


“Sekretaris Kak Za cantik pake banget”


“Terus kenapa kalau dia cantik?” Za mulai mendekat pada posisi istrinya


“Jujur Zi minder Kak”


“Lah ko gitu, minder atau cemburu?”


“Kayaknya sih bukan cemburu atau mungkin belum, yang jelas Zi melihat Kak Kia malah terkagum-kagum sendiri sama ciptaan Alloh, cantik banget Kak Masya Alloh”


“Kamu kenapa sih malah muji-muji wanita lain cantik” Za mulai menangkup kedua pipi istrinya “Kamu yang paling cantik sayang, cantik sempurna, enggak ada tandingan”


“Ehhhhmmmm” terdengar suara di depan pintu masuk melihat keromantisan sepasang suami istri itu.

__ADS_1


Zi mencoba menjauhkan badan dari suaminya, dengan segera akan menuntaskan tugasnya membuat kopi


“Mama…, ada perlu apa Mama kesini lagi?”


“Kamu ko bicara enggak sopan banget Za, memangnya Mama enggak boleh apa ngunjungin anak Mama sendiri?”


“Masalahnya setiap Mama datang kesini selalu buat Za jantungan Ma, sekarang Mama mau apalagi?”


Zi terlihat mendekati Bu Lidya untuk mencium tangannya, tapi Lidya benar-benar mengacuhkannya.


Zi sedih, tapi ia tahu tak semudah itu meluluhkan hati mertuanya


“Tante mau minum apa, biar sekalian Zi buatkan”


“Enggak perlu repot-repot, oh iya sepuluh menit lagi ada yang mau saya bicarakan sama kamu, hanya berdua, di kantin saja” Zi hanya mengangguk lemah, setelah berpamitan dengan suaminya, Zi memutuskan untuk segera meninggalkan ruangan itu


“Mama kenapa enggak pernah berubah sih, Mama sama sekali enggak menghargai istri Za, beberapa kali Zi mengulurkan tangannya untuk mencium tangan Mama, Mama sama sekali tak menggubris, Za kesel Ma sama Mama”


“Gimana pekerjaan Kia, bagus kan?” Za memilih untuk diam


“Kamu mau Mama merestui hubungan kalian?” Za terlihat mendongakkan kepalanya


“Percepat proses mutasi Zi, kamu tinggal pilih Kalimantan atau Sulawesi”


“Ma, sudah cukup ya Za memenuhi keinginan Mama memasukkan Kia menjadi sekretaris Za, Za fikir setelah ini Mama enggak akan minta hal-hal aneh lagi. Itu enggak mungkin Ma, Za sama sekali enggak mau pisah sama istri Za”


“Kamu jangan lebay Za, setengah tahun atau maksimal setahun itu enggak lama kan, Mama Cuma mau nguji kalian berdua”


“Terus setelah itu terjadi, Mama yakin Mama akan memberikan restu Mama?”


“Tergantung, tergantung hasil akhirnya” Za mengusap wajahnya kasar


“Ya Alloh Ya Robb, Za betul-betul enggak habis pikir dengan pola pikir Mama. Mama tahu jika Za mau, besok bisa saja Za menggelar resepsi pernikahan kami, toh Papa sudah merestui kami, tapi Mama tahu apa yang Zi bilang?"


"Dia enggak akan pernah mau dipublikasikan sebagai istri sah Za sebelum dapat restu Mama, karena surganya aku ada di Mama dan Mama adalah orang yang harus Za hormati dan jaga sampai kapanpun, Mama sadar enggak sih?”


“Ya mungkin karena dia malu, minder karena merasa tak sepadan bukan karena restu Mama”


“Cukup Ma, Za capek melihat Mama keras kepala begini, terus maksud Mama mengajak Zi bertemu untuk apa?’


“Enggak usah kepo ya, ini urusan perempuan”


“Please Ma, jangan sakiti istri Za lagi” Lidya memilih untuk segera turun ke kantin, mengingat di sana masih terlihat sepi, karena jam makan siang belum dimulai.


Tadinya Za berfikir untuk menyusul kedua wanita penting dihidupnya itu, tapi apa daya klien sudah menunggunya di ruang meeting.

__ADS_1


__ADS_2