Hanya Zi

Hanya Zi
Dia Bisa Mengatasinya


__ADS_3

Itulah salah satu alasan Za mengajak Rizky bergabung dengannya, karena dia yakin jika dia bersama sahabatnya ini, dia bisa menjalankan perusahaan dengan progress yang cukup baik.


“Za.. Za.. tak disini tak di sana mata orang-orang senang sekali ya menatap seorang Zayn Lazuardi?”


“Lah terus itu semua salah gue?”


“Ya bukan salah lo juga sih, dan enggak ada yang salah, hanya saja gue semakin tak memungkiri pesona lo Za” Rizky tertawa puas, melihat Za yang sama sekali tak nyaman dengan tatapan wanita itu, sejak dulu ya sejak dulu, sejak wanita-wanita itu menyadari wajah Za yang semakin hari semakin rupawan.


*****


Setelah 4 Tahun berkutat dengan perkuliahannya, Zi mulai disibukkan dengan pelaksanaan praktek magang disertai penyusunan skripsi sebagai syarat dirinya dinyatakan lulus dari salah satu kampus bergengsi itu.


Kepengurusan Rohis serta BEM sudah diserahkan kepada adik-adik tingkat mereka.


Masalah, Kesulitan, hambatan, revisi di sana sini bisa Zi hadapi dengan bermodalkan fikiran tenang.


Zi sudah menyelesaikan praktek magangnya di salahsatu perusahaan arsitektur yang lumayan besar, sambil secara perlahan membuat laporan untuk skripsinya nanti, lumayan sudah rampung sekitar 70%.


Hari itu Zi bersama teman sekelasnya diminta untuk hadir di kampus membahas mengenai teknis sidang proposal dan skripsi.


Setelah acara di kelas selesai, beberapa kawan Zi ada yang memilih beranjak langsung keluar dari kelas. Sedangkan Zi, Shinta dan 5 orang lainnya yang masih terlihat mengobrol, masih setia di atas tempat duduk mereka di kelas, sambil membicarakan beberapa hal.


Shinta mengajak Zi untuk pergi ke toilet sebentar, tanpa membawa tas mereka. Setelah sebelumnya mereka menitipkan pada kawan-kawannya yang memang masih berada di kelas.


“Hei kawan, titip tas sama laptop sebentar ya, kita mau ke toilet dulu” Ujar Shinta pada 5 orang lainnya yang berada di sana, dijawab oleh teman-teman mereka dengan acungan jempol.


Setelah kembali dari toilet, Shinta dan Zi memutuskan untuk kembali ke kosan, untuk melanjutkan laporan skripsi mereka di kamar kos Zi.


Saat itu Zi dan Shinta memilih untuk berjalan kaki menuju kosan, mengingat jaraknya yang tak terlalu jauh, hitung-hitung olahraga, tapi tanpa disangka


Sreeettttt!

__ADS_1


“Jambreeett!!! ” Zi dan Shinta berteriak kencang.


Tas laptop Zi raib, tadi tas itu ia tenteng di sebelah kanan seperti biasanya, untung saja tas yang berisi dompet, hp dan beberapa buku masih selamat.


Zi terduduk lemas di bahu jalan. Laptop yang ia dapatkan dari menyisihkan uang beasiswa, berkorban dengan mengurangi jatah makannya sehari-hari, menahan untuk tak membeli barang-barang pribadi yang diperlukan. Lebih dari itu data skripsinya!!!


“Ta.. laptop aku Ta, skripsi aku” Zi mulai terisak di pelukan Shinta


“Maaf ya Zi, tadi motornya ngebut sekali aku enggak sempat menarik salah satu dari mereka” Shinta memeluk sahabatnya itu, yang dijawab dengan gelengan kepala Zi, seolah mengatakan bahwa itu bukan kesalahannya sama sekali, tapi benar-benar musibah.


“Ya ampun Dek lain kali lebih hati-hati ya. Tapi setahu Bapak di jalan sini sebelumnya aman-aman saja, karena terhitung ramai, tak pernah ada kasus penjambretan seperti ini”


Setelah Ibu kios di depan tempat kejadian, memberi air minum pada Zi, untuk membuatnya lebih tenang, dua gadis itu memutuskan untuk segera kembali ke kosan mereka.


“Masalah laptop, kamu bisa pakai laptop ku Zi untuk membuat skripsi, kita pakai berdua yah” Zi hanya menggeleng, air matanya sudah berhenti sejak tadi, tapi tidak dengan fikirannya.


“Kamu punya data cadangan skripsinya?”


“Nanti aku temani, meminta data mentah dari perusahaan tempat kamu praktek ya” Zi pun mengangguk lemas.


Hingga malam hari Zi masih merenungi kejadian tadi siang.


Beruntung dompet dan hp nya masih selamat, dan beruntung pula saat ini data skripsi yang berada di laptop masih belum rampung.


Zi membayangkan jika musibah tadi terjadi saat semuanya telah selesai Zi kerjakan, tanpa sempat membuat back up data, atau pun belum sempat di print, mungkin syok yang Zi terima akan jauh lebih parah dari hari ini.


Zi mengambil air wudhu untuk segera beranjak tidur, karena esok hari akan jadi hari panjang di hidupnya.


Meminta kembali data di tempat praktek yang hilang bersama laptop itu. Untung saja beberapa halaman dari skripsi Zi sebagian telah di print saat proses bimbingan.


Ya Robb, mungkin Engkau memang memberikanku jodoh dengan barang itu hanya sampai tadi siang. Dia sudah membersamaiku sejak aku menginjakkan kaki di tempatku mengejar mimpi. Tapi aku tahu Engkau memiliki rencana yang tak terjamah oleh manusia, tapi pasti yang terbaik untuk kami karena semua yang Engkau beri pasti yang kami butuhkan, bukan yang kami inginkan.

__ADS_1


Berikan selalu aku kekuatan untuk menjalani ujian-ujian darimu hingga aku jadi mahluk yang pandai bersyukur. Ampuni segala dosaku jika kejadian tadi adalah hukuman dari dosa-dosa yang telah aku perbuat selama ini.


Keesokan harinya Zi ditemani Shinta mengunjungi perusahaan tempat Zi magang. Meminta izin untuk kembali mengumpulkan data untuk skripsinya.


Untungnya pemilik perusahaan memberikan izin, karena selama magang Zi dinilai memiliki reputasi dan kinerja yang baik.


Satu masalah teratasi, masalah berikutnya Zi membuka file yang ada di flashdisk memastikan berapa banyak data yang terbackup di sana, membukanya dengan menggunakan laptop Shinta.


Zi tak mau berlama-lama meratapi kesedihannya, dia lebih memilih menghadapi ujian ini dangan stok sabar dan energi ekstra, sambil tetap berdzikir untuk selalu diberi kekuatan oleh pemilik segala skenario kehidupan.


“Zi untuk teori kamu bisa pakai punyaku, lumayan ada beberapa bagian yang sama”


"Makasih banyak ya Ta" Zi memeluk gadis itu sambil tersenyum


Syukurlah dia benar-benar gadis kuat, tak membiarkan kesedihannya menghantui terlalu lama. Batin Shinta


Butuh dua sampai tiga hari Zi menyelesaikan ketikan ulang skripsinya. Zi memilih mengerjakannya di rental komputer yang ada di dalam kampus, milik koperasi di sana.


Zi menolak tawaran sahabatnya, karena tak ingin karena musibah ini justru menghambat Shinta menyelesaikan skripsinya.


Berjaga-jaga jika hal buruk kembali terjadi gadis itu tak lupa membackup semua data di flash disk dan email-nya.


“Alhamdulillah Ya Robb selesai juga” Zi tersenyum senang sambil menatap tumpukan buku dan kertas yang ada di hadapannya saat ini.


Tinggal menyelesaikan sisa skripsinya yang 30%.


Perlahan tapi pasti, akhirnya Zi bisa merampungkan skripsinya tepat waktu sesuai target yang ia rencanakan di awal.


Zi ingin mengikuti sidang di kloter awal, karena keinginan untuk segera menggenggam surat keterangan lulus dan dimasukkan ke beberapa lowongan di perusahaan Arsitektur semakin menggebu


“Tenang Zi tenang.. ada Allah yang selalu bersamai, Robb mu penggenggam dan pemilik segala skenario hidup, mintalah pada Nya untuk memberikanmu kekuatan menghadapi ini semua”

__ADS_1


__ADS_2