
Saat itu pun Suci segera meminta penjelasan ketua tim nya, tapi Zi hanya menjawab
“Nanti aku jelaskan ya, tidak sekarang. Tapi aku minta kamu tetap percaya padaku, karena aku tak sehina itu” Suci hanya mengangguk, dia cukup mengenal gadis baik yang saat ini, menjadi ketua timnya, hingga Suci tak begitu mudahnya percaya dengan cerita yang beredar.
Zi memutuskan, untuk naik ke ruangan Bos nya, untuk menyampaikan hal ini, tapi saat Zi masuk dia mendengar percakapan di dalam ruangan suaminya
“Kau kenapa?” Tanya Za, tapi wanita itu tak menjawabnya.
“Kenapa Pak Za mudah sekali tergoda dengan gadis sok alim itu?”
“Gadis sok alim siapa maksudmu?”
“Zi…., apa lebihnya dia dibanding aku Za” Silvi mulai merubah panggilannya.
“Aku yang setiap hari menemanimu, membantu semua pekerjaanmu, bahkan aku berusaha untuk tak menjadi wanita agresif seperti gadis lainnya yang selalu mengejar mu”
“Kau salah faham Silvi. Jadi karena ini, hari ini kamu memakai pakaian yang terlihat patut dikasihani”
“Apanya yang salah faham hah..?!” silvi membuka handphonenya, menunjukkan beberapa foto yang dengan sengaja ia ambil
“Kenapa kau tak memberikanku kesempatan sama sekali Za, aku melakukan ini untuk menarik perhatianmu”
“Aku mencintainya”
“Cih…, ternyata gadis seperti dia juga berpacaran, aku pikir dia gadis yang sama sekali tak ingin disentuh pria yang bukan suaminya, sungguh murahan”
“Kamu kelewatan Silvi, dia tak seperti yang kamu pikirkan”
“Beri aku kesempatan Za, Please!”
Dengan berani, Silvi memeluk Za tepat saat Zi sedang masuk ke ruangannya. Zi yang terkesiap karena melihat pemandangan tak diingankan itu, mencoba mengendalikan perasaannya.
“Maaf Kak Silvi jika kehadiran Zi di kantor ini, membuat Pak Za seolah menjauh dari Kak Silvi, sehingga Kakak merasa tak memiliki kesempatan sama sekali"
"Kakak perlu tahu bahwa aku tak seburuk itu, dan aku mencoba menahan diri tak menceritakan hal buruk yang kakak lakukan padaku tempo hari. Maaf mengganggu kalian, permisi”
Zi keluar dari ruangan suaminya, dengan air mata yang tak tertahan, sebelum memutuskan untuk turun ke bawah, Zi beranjak menuju toilet untuk menghilangkan sesak, mencuci wajahnya yang sudah banjir air mata.
“Kamu keterlaluan Silvi, bagaimana kamu berani memelukku?”
__ADS_1
“Wanita itu saja kau biarkan saat dia memelukmu”
“Bukan dia yang memelukku, tapi aku yang memeluknya”
Rio yang lebih banyak mengurus kepentingan di luar kantor, saat itu tanpa sengaja mencuri dengar apa yang sedang mereka bicarakan, meskipun masih tak begitu faham, siapa yang dimaksud dia.
“Hal buruk apa yang kau lakukan pada Zi hah?”
“Aku hanya mengerjainya sedikit”
“Apa yang kau lakukan Silvi?” Za mulai meninggikan suaranya.
“Kenapa sejak tadi kau selalu menyebut dia dia dan dia hah?” Silvi mulai tak bisa mengontrol emosinya, berteriak tak terkendali.
Rio yang mulai membaca situasi tak aman memutuskan untuk segera masuk. Za yang dengan sadar menyadari kehadiran pria itu pun berkata
“Zi istriku” Bagai tersambar petir Silvi terduduk lemas di lantai. Kembali mencerna kata-kata yang baru saja ia dengar. Rio pun yang sudah sangat mengenal Zi karena kecerdasannya kaget, mendengar pengakuan pria muda itu.
Dia mulai menyadari pantas saja, saat dia berkunjung ke Apartemen Za, pria itu dengan terburu-buru menahan pintunya, agar ia tak segera masuk. Padahal biasanya Rio bisa leluasa masuk ke sana tanpa pernah ditahan sekalipun.
“Kau bohong Za”
Dia sudah tak bisa berkonsentrasi bekerja, malah akan membuatnya menjadi kacau.
Apalagi saat ini ia mengenakan baju yang tak pernah ia pakai sebelumnya, ia malu sungguh malu, pria yang selama bertahun tahun ia cintai tak memandangnya sama sekali, pandangannya seolah jijik menatapnya.
Silvi baru tersadar bahwa ia benar-benar bodoh, selama ini klien-klien pria itu bahkan menggunakan pakaian yang sama, tapi Za sama sekali tak pernah goyah, tapi kenapa gadis itu hari ini melakukan kebodohan yang sama.
Dia merasa salah menggunakan taktik, karena Za tak akan menyukai wanita yang berpakaian minim dan agresif. Di tengah kekalutannya, saat sedang dalam perjalan pulang, dia masih memikirkan bagaimana besok ia akan bersikap pada atasannya, dan ia akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu belakangan ini.
Za memutuskan untuk mengirim pesan pada istrinya
Za 📩 Sayang..
Zi hanya membaca pesannya, tak berniat untuk memberikan balasan
Sepertinya dia marah, tapi itu bukan salahku kan, bahkan aku segera melepaskan pelukan itu
Zi takut suaminya salah faham, dia memutuskan membalasnya singkat
__ADS_1
Zi 📩 Ya..
Kenapa dia jadi tertular kebiasaanku, menjawab pesanku singkat. Za
Za 📩 Kamu marah?
Zi 📩 Tidak
Za mulai merasa gemas membaca jawaban dari istrinya itu, tapi ia bingung harus melakukan apa, mungkin lebih baik mereka bicarakan di apartemen saja, pikirnya.
Saat jam makan siang, Za memantau istrinya dari CCTV, terlihat gadis itu meninggalkan ruangannya sebentar lalu kembali.
Sepertinya tadi dia hanya sholat, tapi kenapa dia tidak makan wajahnya murung, dan dia terlihat lemas.
Za memutuskan untuk turun satu lantai karena saat itu lantai 14 sedang kosong karena jam istirahat, Za sungguh tak tega melihat wajah istrinya murung dan badan yang terlihat lemas.
“Zi”
“Astaghfirullohal’adzim” Zi yang sedang melamun, tak menyadari kehadiran pria di sampingnya, gadis itu celingak-celinguk melihat situasi
“Pak Za sedang apa di sini?”
“Menemui istriku, ini makanlah jika tak ingin terkena hukuman nanti malam” Wajah Zi memerah. Za hendak beranjak untuk meninggalkan meja Zi, tapi ia mengurungkan langkahnya untuk kembali menemui istrinya, mengecup bibirnya sekilas dan berkata
“Maafkan yang tadi ya”
Zi gelagapan, takut tindakan suaminya tadi dilihat karyawan lain, tapi syukurlah tak ada yang melihatnya, semoga saja mereka tak kecolongan seperti saat di puncak, di kolam renang dan saat Zi mengantarkan kopi.
Bagaimana pria itu tahu aku tak ikut makan siang ke kantin, dan berani-beraninya dia turun kemari tanpa merasa takut dilihat orang.
Zi menepuk dahinya, dia merasa bodoh masa perusahaan sebesar ini tak memiliki CCTV, dia mengedarkan pandangannya, ternyata CCTV itu tepat berada di samping meja kerjanya.
Dia tersenyum manis menghadap CCTV itu berharap prianya sedang memandangnya saat ini.
Zi 📩 Zi makan ya Kak, terimakasih banyak” Zi mengirimkan sebuah pesan pada suaminya
Za 📩 Sama-sama Zi sayang
Sore hari, mereka pulang sendiri-sendiri ke apartemen. Zi pulang lebih dulu lima belas menit, dia ragu akan kembali mengenakan kerudung di apartemen itu atau membukanya, dia benar-benar belum biasa dengan hal ini, meskipun pria itu sudah mengobrak-abrik dirinya sebanyak tiga kali.
__ADS_1