Hanya Zi

Hanya Zi
Mereka Sahabatku


__ADS_3

Shinta, anak yang cuek bebek perkara penampilan, berbeda 180 derajat dari Ina, dengan rambut sebahu yang selalu diikat, hobi menggunakan kemeja kotak serta kaos oblong didalamnya, lalu sepatu kets yang tak pernah mau bertukar posisi dengan jenis sepatu lainnya meskipun dia mengenakan kebaya sekalipun, tetaaaapp konsisten sepatu kets yang dipakai.


Dia mengambil jurusan Arsitektur seperti Zi, alasannya cukup masuk akal, karena orangtuanya juragan material, setidaknya hal-hal yang berbau bahan-bahan bangunan Shinta tak begitu buta, lumayan untuk modal pengetahuan yang tak seberapa.


Jika dibandingkan dengan kedua sahabatnya, ya Zi anak yang paling sederhana kondisi ekonominya, tapi alasan itu tak membuat ia patah semangat mengejar mimpi, mimpi untuk membahagiakan kedua orang tua dan orang-orang yang ada disekelilingnya.


Gadis berkulit kuning langsat, hidung tak terlalu mancung, tinggi 160 cm, dengan berat badan hanya 50 Kg ini sering menjadi buah bibir diantara teman-teman dan guru sekolahnya tak lain dan tak bukan karena kecerdasan, kecantikan dan sikap sopan nya.


Iqbal pemuda berwajah teduh, tampan, tak terlalu tinggi, berasal dari keluarga sederhana sama seperti Zi, Iqbal Pun kuliah di Jakarta mengambil jurusan Arsitektur dan mendapatkan beasiswa seperti Zi.


Memiliki seorang Kakak dan Adik perempuan, meskipun kedua orangtuanya hanya bekerja sebagai petani, tapi mereka bisa tumbuh dengan baik, ditengah kehangatan keluarga.


Jakarta


Mereka akhirnya sampai di kamar masing-masing, posisi kamar mereka sedikit berjauhan karena sisa kamar lainnya telah terisi penuh.


Hal ini yang membuat kedua orangtua Zi ketar ketir enggan melepaskan anak gadisnya, mengingat pergaulan anak muda zaman sekarang, apalagi pergaulan di kota besar yang membuat orangtua geleng-geleng kepala sampai bergidik ngeri, hingga akhirnya Ayah Zi terjun langsung mencari tempat kos yang dirasa paling aman untuk anak gadisnya itu.


Tempat kos ini khusus untuk wanita, dengan aturan jam malam yang harus diikuti oleh semua anak kos, atau jika tidak konsekuensinya adalah keluar dari tempat kos itu, karena sang pemilik tak mau menanggung beban dosa, jika anak kos mereka berbuat yang tidak-tidak di kamar-kamar yang disewakan itu, atau bergaul terlalu bebas saat berada di luar kosan, hingga menyebabkan mereka pulang seenaknya.


Zi terdiam sejenak menatap kamar kos yang 4-5 Tahun kedepan akan jadi saksi hidup perjuangannya meraih mimpi. Disana hanya ada 1 kasur single, lemari pakaian, dispenser air serta kamar mandi sederhana, tapi yang terpenting Zi merasa aman dan nyaman.


Kriiiiiiing… “Eh ibu telepon…”


“Assalaamu’alaikum Bu.."


“Wa’alaikumussalaam Wr.Wb”


“Bagaimana Nak, sudah sampai?” Ibu mulai memastikan keadaan anak semata wayangnya


“Alhamdulillaah Zi sudah sampai dengan selamat, tanpa ada lecet-lecet sedikitpun Bu hihi”


“Syukurlah..Alhamdulillah.. Ibu hanya titip pesan jangan sampai lupa makan,

__ADS_1


Kalau sholat dan tilawah* sudah tak perlu ibu ingatkan lagi kan, anak Ibu sudah besar juga”


“Iya Bu Insya Allah ya Bu.. kan Zi punya alarm otomatis Bu kalau sudah soal urusan perut


Bunyi perutnya suka tak tanggung-tanggung, suka bikin malu hihi..


“Ya syukurlah kalau begitu, masalahnya kalau kamu tak teratur makan, terus sakit,


nanti bagaimana mau belajar dengan baik, mana ibu tak bisa mendampingi kamu disana”


Ibu mulai terisak


“Udah ya Bu jangan sedih begitu, nanti Zi malah ikut nangis.


Zi janji sekuat tenaga akan menjaga kesehatan agar bisa cepat menyelesaikan kuliah Zi,


lalu bisa membahagiakan Ayah dan Ibu”


“Aamiin Nak..Ayah dan Ibu pasti do’akan kamu terus Nak,


baju kamu pasti tak banyak kan, mana modelnya model-model yang biasa begitu,


standar baju di kampung, kamu tak akan kenapa-napa Nak pakai baju seadanya dulu.


Kamu nanti tak akan malu Nak?


Meskipun ibu tukang jahit, maaf ya Nak Ibu belum bisa membuatkan


atau membelikan baju yang bagus buat kamu”


“Ya Ampun Bu.. kalau soal itu Ibu tak perlu khawatir, Zi kan di kampus bukan ingin pamer baju, dan Zi juga bukan tipe orang yang mudah minder hanya karena pakaian, pokoknya Ibu tenang saja ya.. Ibu percayakan masalah itu dengan Zi, toh baju yang Zi punya juga tak jelek-jelek amat Bu..”


“Ya sudah Ibu jadi tenang kalau begitu, Ibu tutup dulu ya teleponnya,

__ADS_1


pinter-pinter jaga diri Ya Nak.. Assalaamu’alaikum”


“Ya Bu.. Wa’alaikumussalaam Wr.Wb..


Zi menghela nafas, merasakan betapa kedua orangtuanya begitu menyayangi dan mengkhawatirkan anak semata wayangnya ini. Dia mulai beranjak ke kamar mandi karena sorenya dia sudah berjanji dengan kedua sahabatnya untuk mencari makan sekaligus mencari perlengkapan kamar yang belum tersedia.


Mereka pergi ke supermarket terdekat mencari perlengkapan kamar dan kebutuhan sehari-hari yang diperlukan, baru mencari makan malam yang bisa meredakan bunyi perut mereka.


“Mulai hari ini kita sepertinya harus membiasakan diri dengan udara panasnya disini ya, drastis sekali bedanya dengan di kampung” Shinta mulai mengibas-ibas tangan di depan wajahnya.


“Aduuuh iya benar, kamu coba bayangkan, tadi saja aku sudah mandi tiga kali, tak berasa habis mandi sama sekali” Ina mulai menimpali, sambil mengibas-ibas kan kipas pink-nya


“Sudah-sudah disyukuri saja ya, sebenarnya akupun paling tak biasa dengan udara panas, tapi tak apa ini bagian dari perjuangan kita, yang bisa kita ceritakan nanti ke anak cucu kita hehe..” Zi mulai menjawab sambil mengibas-Ibas kan hijabnya sedikit


“Iya ih Zi, mana kamu belum lama lagi pake hijabnya, terbayang pasti tambah gerah kan” Ina mulai sok tahu


“Insya Allah sama saja, panasnya sama seperti yang kalian rasakan, toh hijab aku juga bukan bahan yang membuat tambah panas, lumayan kan tambah-tambah pahala”


“Iya deh iya Bu haji do’akan kita cepat-cepat Insyaf juga ya..” Obrolan mereka terhenti saat makan malam mereka datang, yaitu pecel lele dengan sambal khasnya, dan makanan itu tandas seketika dimakan gadis-gadis yang baru menginjakkan kaki di kota besar ini.


*****


Hari ini Zi berencana ke kampus sedikit pagi, dia ingin mengetahui seluk beluk kampusnya terlebih dahulu agar bisa memaksimalkan semua fasilitas di kampusnya itu, dua sahabat lainnya rencananya akan menyusul, karena mereka masih ingin berkutat di alam mimpi katanya.


Zi mulai berada di halaman kampus, saat itu masih jam 7 Pagi, halaman kampus masih terlihat sepi karena ini hari Sabtu, tapi memang sedang ada beberapa kegiatan disana.


Zi menatap gedung tinggi itu kedua kalinya menatap dengan tatapan penuh arti setelah kunjungan pertama, saat dia mengurus pendaftaran ulang di kampusnya.


*


*


*

__ADS_1


Tilawah artinya membaca. Secara istilah berarti membaca Al-Quran dengan berhati-hati dalam melafadzkan agar lebih mudah memahami makna yang terkandung di dalamnya


__ADS_2