
Zi bermonolog di depan cermin kamar kosan nya. Penyebabnya tak lain dan tak bukan karena esok ia akan menghadapi sidang skripsi, sedangkan Shinta mendapatkan jadwal pekan depan, Ina sedikit terhambat dengan skripsinya, sehingga dia akan terlambat lulus sekitar satu semester dibandingkan dua sahabatnya.
*****
Alhamdulillah Zi bisa menghadapi sidang skripsinya dengan lancar, setelah mempersiapan secara matang materi dan permasalahan yang dia angkat, menghadapi karakter dosen killer yang kadang tak bisa ditebak, Zi harus mempersiapkan mental ekstra, badan yang fit dan fikiran yang tetap tenang.
Saat Zi melangkah keluar dari ruang sidang, tak disangka adik tingkat di BEM, anak-anak Rohis, geng ulat, Shinta dan Ina, teman-teman arsitektur lainnya hadir memberikan selamat siang itu.
Diantara mereka ada yang mengalungkan selendang bertuliskan nama lengkap Zi beserta gelarnya, hadiah boneka, hadiah makanan yang sengaja disusun berbentuk kalung, bunga warna-warni dan hal-hal unik lainnya yang membuat Zi merasa sangat bahagia mendapatkan perhatian sedemikian besar dari orang-orang terdekatnya.
Dari semua pemandangan itu, ada satu pemandangan yang paling menarik pandangan mata, sesosok pria yang membawakan sebuket bunga besar.
“Selamat ya Zi” Pria itu menyerahkan sebuket bunga yang indah itu
“Ya Allah Kak Aldi, kenapa repot-repot begini” Zi menahan malu karena saat ini mereka dipandangi puluhan pasang mata
“Cieeeeeeee” Kompak tanpa komando
Ya Allah pria ini kenapa melakukan hal yang membuat perasaan Zi tak menentu
“Tidak merepotkan, tadi sekalian makan siang Kakak mampir kesini” Setelah mengobrol sebentar ditemani anak-anak heboh itu, Aldi pun pamit pulang.
Akhirnya tak lama satu persatu dari mereka pergi meninggalkan Zi, Shinta dan Ina.
“Hayo loh, perasaan seperti ada yang berbunga-bunga gitu” Goda Ina
“Ya iyalah berbunga-bunga kalian banyak sekali memberiku bunga, sebentar lagi bisa buka florist nih sepertinya” Elak Zi
“Iya berbunga-bunganya karena bunga yang paling besar itu kan?”Shinta ikut menggoda Zi"
__ADS_1
“Ah terserah deh, yang ada aku malu Ta bukannya berbunga-bunga” Ucap Zi sambil menyembunyikan kepalanya dibalik kado-kado itu.
“Sepertinya Bu Laila benar-benar niat Zi menjadikan kamu menantu” Ucap Shinta dengan penuh keyakinan
“Tapi meskipun Bu Laila niat, jika anaknya tak tertarik sama sekali, mana mungkin dia rela dengan sengaja datang kesini membawa bunga sebesar itu ya kan?” Ina mulai berargumentasi
“Sudah ih, kenapa jadi membicarakan orang, jadi tidak nih aku traktir, tapi karena uang aku tak banyak Please pesannya jangan yang mahal-mahal ya” Pinta Zi menangkupkan tangannya memohon
“Bereeesss” Jawab Shinta dan Ina berbarengan
Mereka sampai di sebuah café yang tak terlalu mewah, Ina berhutang cerita pada kedua sahabatnya itu.
“Na, selama ini sebenarnya kamu kemana saja, jarang kumpul sampai skripsi kamu molor begitu?” Tanya Zi menginterogasi
“Kamu kemana sering pulang malam, nyaris kena pentungan Bapa kos?” Giliran Shinta bersuara sedangkan Ina masih belum berani bicara.
“Sebenarnya, aku hampir terbawa pergaulan dan nyaris dipecat sebagai anak”
“Maksudnya?” Tanya Zi heran
“Kemarin ada teman kelasku yang aku sukai, aku pun sering pergi keluar bersama kawan-kawan kelasku yang lain, karena ada pria itu di sana"
"Awalnya kami berkumpul untuk mengerjakan tugas bersama, lalu semakin kesini mereka lebih sering mengajakku hang out keluar makan di restoran cukup mahal, belanja barang-barang branded, nonton"
"Semakin lama aku berniat menarik diri dari teman-temanku itu, melihat kehidupan mereka yang tak sesuai dengan kemampuan kantongku".
"Aku sering meminta uang saku lebih pada Bapak untuk makan atau nonton, kalau untuk belanja barang branded rasanya tak mungkin, karena aku kasihan pada orangtuaku”
“Hingga suatu hari mereka mengajakku ke club, tapi aku menolak karena aku tahu di dalam sana akan ada pemandangan seperti apa, seperti yang sering aku lihat di social media".
__ADS_1
"Hatiku semakin hancur karena di saat mereka mengajakku pergi ke club, pria yang aku sukai terlihat memeluk mesra seorang gadis disampingnya, gadis itu bukan teman sekelas kami sepertinya teman sekolahnya dulu. Makanya aku tak pernah sekalipun mendengar bahwa ia memiliki seorang kekasih”
Zi dan Shinta saling bertatapan, mengelus lengan gadis itu. Setelah mendengar cerita Ina, Zi dan Shinta hanya bisa memberinya nasihat.
Kedua gadis itu tak bisa selalu berada di samping Ina, untuk itu mereka berpesan untuk pintar-pintar memilih sahabat. Kita bisa berteman dengan siapapun, tapi untuk menjadikannya sahabat bijak-bijaklah memilih.
Dalam bersosialisasi, pilihannya hanya dua, kita yang mewarnai atau kita yang terwarnai. Jika kita merasa cukup kuat untuk memberi warna-warna positif pada teman-teman kita yang lain silahkan lanjutkan untuk memperluas pergaulan mu sekaligus menjadi jalan dakwah menebar kebaikan.
Tapi jika sebaliknya, jangan berani-berani untuk berlama-lama di lingkaran pergaulan itu, karena tak perlu waktu lama untuk membuat kepribadianmu berubah jadi lebih buruk. Tapi perlu usaha dan niat keras untuk memperbaiki diri dan menjadikannya menjadi pribadi yang semakin positif.
Ina mendengarkan dengan baik pesan kedua sahabatanya, selama ini sebenarnya Ina pun merasa bersalah pada kedua orangtuanya, karena ia sering meminta hak uang saku lebih dari yang seharusnya di terima. Bapak Ina memang sempat menceramahi nya, tapi tetap saja beliau mentransfer uang pada gadis itu, karena khawatir anaknya tak bisa makan dan hidup dengan layak saat jauh dari jangkauan mata kedua orangtuanya.
Kesalahan yang meskipun terlambat Ina sadari, tapi ia berjanji untuk tak mengulanginya. Dan semenjak hari itu dia menarik diri perlahan dari komunitas pergaulan sebelumnya, berkumpul benar-benar hanya untuk menyelesaikan tugas kampus.
Tak jauh dari tempat mereka makan, terdengar keributan
Plakk!
“Kamu brengsek ya, pria tak bertanggung jawab” Gadis itu menampar pria yang ada di hadapannya, meluapkan emosi dengan suara lantang.
Ina memastikan siapa yang ada dihadapannya saat ini. Benar, matanya memang tak salah, Ina mendengarkan dengan seksama, apa yang sedang pasangan muda mudi itu bicarakan, karena suaranya tak bisa dikatakan pelan, cukup terdengar jelas oleh beberapa meja yang berada di sana.
Gadis itu hamil, dan pria yang ada di hadapannya saat ini tak mau bertanggung jawab. Mata Ina mulai berkaca-kaca, melihat hal aneh pada sahabatnya, Zi dan Shinta pun bertanya.
“Kenapa Na?” Ina menahan diri untuk tak menangis. Dia sendiri pun bingung, tangisan ini untuk apa, untuk penyesalannya kah karena sudah mengecewakan kedua orang tua dan sahabatnya, atau kekecewaan karena pria yang ia sukai sama sekali tak menaruh hati padanya?
“Dia pria yang aku sukai Zi, Ta”
Zi dan Shinta refleks mengucapkan istighfar. Mereka membayangkan apa yang akan terjadi pada Ina, jika gadis itu benar-benar menjadi kekasih pria tadi. Ina bisa membaca jalan fikiran kedua sahabatnya ini, dan saat ini ia hanya bisa tersenyum, senyum yang nampak dipaksakan
__ADS_1