
“Idih Mama ngarang, siapa yang gonta ganti baju?”
“Laah… masih enggak ngaku juga, Bibi yang laporan lemari baju kamu sampai nampak seperti korban ****** beliung. Kamu sadar tidak hanger dan baju bergeletakan sembarangan, benar-benar ya kalau orang lagi kasmaran”
Sialan Bibi ember banget, pakai bilang-bilang Mama segala bikin malu saja
*****
Keesokan harinya, Zi yang sudah sangat rindu berjalan di area kiri kampus, pagi hari sudah mulai meninggalkan kamar tercintanya.
Seperti bernostalgia, saat pertama menginjakkan kakinya di kampus ini, juga tak ingin menyia-nyiakan waktu luangnya yang hanya sedikit itu, dia putuskan untuk berjalan ke area kiri kampus yang sudah lama tak ia kunjungi.
Menyapa Pa Rahmat, yang sifat ramahnya tak pernah luntur, sambil memberikan sedikit makanan kecil untuk menemani beliau bertugas.
Zi sedang menikmati kesendiriannya ini, menghirup udara yang masih segar, memandangi bunga-bunga di taman yang terawat rapi, berjalan di bawah pohon rindang, hingga sampailah ia di depan lapangan basket.
Terlihat beberapa pria sedang bertanding basket pagi itu. Dan tak lama terdengar suara memanggil Zi dari kejauhan
“Zi tunggu” Viko berlari mendekati Zi
“Tumben sekali kamu jalan ke daerah sini sendiri, biasanya sama teman-teman kamu”
Teman-teman Viko yang lain masih melanjutkan permainannya.
“Memang Kakak sering lihat?” Tanya Zi heran
“Ya iyalah sering, ini kan daerah kekuasaanku”
“Maaf Kak Zi pamit mau lanjut jalan lagi, nggak enak dilihat orang” Zi tahu dari teman-teman kampus lainnya jika Viko adalah salah satu pria yang sering mengganggu anak-anak perempuan di kampus itu.
Jadi Zi memilih untuk lebih berhati-hati dengan pria ini, terlepas dari benar tidaknya pemberitaan itu
“Zi tunggu” Viko mulai berani memegang tangan Zi
“Eh Kak apa-apaan ini, enggak perlu
pegang-pegang bisa kan?”
mendengar suara Zi yang agak tinggi, sontak membuat anak-anak basket yang ada disitu melihat ke sumber suara.
“Bikin ulah apa lagi itu anak, ganggu perempuan lagi?” tanya salah satu pria teman Viko, tapi tak ada yang menjawab mereka hanya kembali melihat pemandangan itu
__ADS_1
“Zi dengar aku dulu jangan dulu pergi, susah sekali untuk nyari waktu supaya bisa mengobrol berdua sama kamu seperti ini”
“Ya makanya Zi juga enggak nyaman, Zi mau pamit kak” Zi mulai merasa ada gelagat yang tak beres dengan kakak kelasnya ini
“Zi tunggu dulu sebentar” dan untuk kedua kalinya Viko memegang tangan Zi.
“Astaghfirulloh kak, cukup ya kak, Kak Viko sudah keterlaluan, kakak sadar kakak sudah bersikap tak sopan, tidak semua wanita suka diperlakukan seperti apa yang tadi kakak lakukan” Zi mulai emosi
“Aku suka sama kamu Zi?” Viko dengan polosnya mengatakan itu
“Maaf kak, Kakak sepertinya salah orang” Zi mulai beranjak meninggalkan Viko
“Ahhh… sudahlah Zi kamu enggak usah munafik, tak perlu sok suci, mana ada perempuan yang tak pernah pacaran, yang tak pernah sama sekali disentuh laki-laki, tidak mungkin, bullshit!!”
Suara Viko dengan lantangnya, hingga terdengar jelas oleh semua anak basket yang ada di sana, tak terkecuali seorang pria yang dari tadi telah menahan emosinya.
Mendengar kata-kata Viko barusan Zi kembali berbalik
“Kakak dengar baik-baik ya, Zi memang banyak dosa, Zi memang bukan manusia suci jadi kakak tidak perlu repot-repot lagi, menganggu perempuan yang banyak dosa dan sok suci ini lagi, ngerti? Maaf Assalaamu’alaikum”.
Zi tak bisa menahan emosinya, hingga akhirnya air mata itu tak bisa terbendung lagi.
Zi berjalan cepat dengan air mata berderai, untung pagi itu kondisi kampus masih terlihat cukup sepi.
“Gila Si Viko berani-beraninya dia ganggu anak Rohis mana sampai nangis begitu, disleding Bapak-Bapak DKM mesjid baru nyaho dia”
“Iya kan anak-anak rohis basecamp nya di mesjid kan, ya kali mereka ngadu sama Bapak Bapak di sana”
“Euuuh dasar ngaco lo, sebelum ngadu ke DKM mesjid, ngadu sama big bos rohisnya dulu kali
*****
Setengah jam berlalu, setelah kejadian di lapangan basket tadi
“Eh Za darimana lo, muka lo merah begitu?”
“Biasa ada urusan tadi” Ucap Za santai.
Za dan Rizky janji bertemu dosen untuk meminta ACC sidang skripsi pagi itu. Setelah Rizky selesai bertemu dosennya, tiba giliran Za masuk.
“Ki titip tas dulu ya, isinya cuma baju ko"
Rizky membuka hp nya sambil melirik ke arah kanan rombongan Viko dan kawan-kawannya. Terlihat Viko meninggalkan rombongan itu menuju tempat parkir.
“Hei itu si Viko kenapa mukanya bonyok Begitu?” Rizky bertanya saat melihat beberapa dari mereka berjalan di depan Rizky
__ADS_1
“Biasa masalah cewe” Jawab salah seorang pria tadi
“Kenapa Si Viko godain perempuan lagi?”
“Iya, hanya bodohnya dia yang diganggu itu anak Rohis, sampai nangis segala anaknya”
“Lah terus dia digebukin perempuan itu?”
Flashback On
Za terlihat emosi , saat di lapangan basket tadi Za adalah salah satu pria yang ada di sana ikut bermain basket bersama Viko, Za berniat mengisi waktu luangnya sebelum dia bertemu dosen untuk bimbingan skripsi.
Tapi tak disangka, dia melihat pemandangan yang tak pernah dia duga, playboy kampus mulai berani mengganggu anak sebaik Zi. Za berlari ke arah Viko yang sudah ditinggalkan Zi
“Heh Viko, memangnya enggak ada perempuan lain yang bisa lo ganggu, kenapa mesti dia?”
“Apa urusannya sama lo Za?” Tanya Viko heran
“Memang bukan urusan gue, tapi lo sudah ganggu anak baik-baik seperti dia, lo sudah mempermalukan dia di depan banyak orang sadar enggak?”
“Ahh banyak omong lo Za”
“Heeh lo dengar gue enggak?!” Za mulai mencengkram baju Viko
“Lo enggak usah ikut campur ya Za, jangan berlaga sok jagoan, gue sudah muak dengan sikap sok keren lo, berasa paling tenar di kampus, berasa paling digilai wanita”
“Kalau iya memang kenapa?” Za sengaja memancing Viko
BUKK!!!
Viko memukul perut Za, Za yang tak tinggal diam, mulai memberikan balasan karena sudah sedari tadi menahan emosinya, melihat gadis baik-baik itu merasa terhina hingga menangis.
Perkelahian tersebut tak bisa dihindari, bahkan oleh teman-teman mereka yang ada di sana.
“Sekali lagi lo dengar, berhenti lo ganggu dia, kalau enggak urusan ini akan gue buat panjang” Za beranjak setelah puas meluapkan emosinya.
Dia pun segera mandi untuk menghilangkan peluh, sebelum bertemu dengan dosen pembimbingnya.
Flashback Off
“Astaghfirulloh, waah si Viko benar-benar kelewatan, pantas saja tadi gue lihat muka Za merah seperti habis tanding tinju, ngomong-ngomong memang anak rohis yang diganggu Viko itu siapa?”
“Yee menurut lo yang paling bening di anak rohis siapa coba?”
“Siapa sih, Zi maksud lo?”
__ADS_1
“Lah tuh pinter, tahu saja kalau urusan perempuan cantik, ya sudah ya kita tinggal dulu Ki, mau ke kantin dulu lapar”