
Ya ampun hari ini jantungku seperti naik roller coaster, tadi jantungku dibuat tak karuan karena ulah pria-pria tak tahu adab itu, sekarang suamiku yang melakukannya. Sungguh hari yang melelahkan
“Tapi Pak….” Belum sampai Zi melanjutkan ucapannya. Za mendaratkan bibirnya di bibir gadis itu lembut, hanya mengecupnya perlahan. Zi membulatkan matanya
“Pak..”
“Kenapa mau protes lagi hm..?” Ucap Za yang membuat bulu kuduk Zi semakin merinding dengan ucapan lembut itu.
“Kalau masih berani protes, aku akan mengulanginya sekali lagi” Za mengusap lembut bibir gadis itu.
Wajah Zi yang mulai memerah tak karuan segera menjauhkan wajahnya menghadap jendela. Za yang melihat pemandangan di sampingnya kini hanya tersenyum menang dan mulai melajukan mobilnya
Bagus Kamu menjadi penurut sekarang, gadis cantik
Malam itu perasaan mereka berdua tak bisa digambarkan, serba tak karuan. Bukan karena tragedi pria-pria tadi, tapi karena kejadian di dalam mobil tadi. Seperti biasa, Zi tidur membelakangi suaminya
Bagaimana bisa pria itu mencium ku, berani sekali dia mengambil ciuman pertamaku tanpa izin. Apakah pria kota terbiasa melakukan itu pada seorang gadis sesukanya.
Ahhh Zi sejak kapan seorang suami harus meminta izin seorang istri saat akan mencumbunya. Pria itu telah mengambilnya, dan rasanya hatiku pun telah ia curi.
Zi mengusap bibirnya pelan. Setelah dirasa keadaan telah aman, karena tak ada pergerakkan di samping ranjangnya, dia berani membalikkan badannya menghadap suaminya.
Menatap wajah tampannya lekat, Za yang saat itu sedang tidur terlentang, dimanfaatkan oleh Zi untuk menatapnya sambil menggunakan jarinya seolah membentuk sketsa wajah tampan itu, dari mulai dahi, hidung, bibir dan berakhir di dagunya.
Zi tak tahu bahwa sebenarnya sejak tadi pria itu hanya berpura-pura memejamkan matanya, sama nasibnya seperi Zi, pria itu sedang berusaha mengatur detak jantungnya sendiri.
Hingga saat Zi masih asyik dengan sketsanya, tiba-tiba matanya terbuka
“Astaghfirullohal’adzim” Zi segera membalikkan badannya.
__ADS_1
Malu setengah mati kepergok memandangi wajah tampan suaminya sendiri, sungguh lucu bukan, dan ini adalah kejadian kedua kalinya, setelah di trotoar kampus waktu itu haha..
“Kenapa, susah tidur ya?” Diluar dugaan Za melemparkan guling yang menjadi Zona Teritorial mereka
“Sini aku peluk” Za memeluk Zi dari belakang, sambil mengatur detak jantungnya yang tak karuan. Zi memberanikan diri untuk membalikkan badannya kembali, dia menenggelamkan wajahnya di dada pria itu.
Lalu mendongak sebentar dan mengatakan
“Apakah harus selalu ada kejadian buruk yang menimpaku baru Anda akan mengatakan aku kamu Pak?”
Za hanya tersenyum mendengar gadis itu kembali mengajaknya perang
Dasar bocah, lalu apa bedanya denganmu yang selalu memanggilku dengan sebutan Pak, bahkan saat diluar kantor sekalipun, berasa seperti menikah dengan bocah betulan kan.
“Tidurlah, sudah malam” Za mengecup kepala gadis itu yang tetap mengenakan hijabnya. Perasaan Zi tak bisa digambarkan, mendapatkan kasih sayang pria ini sungguh tak pernah ada dalam list mimpi seorang Zi. Karena mimpi itu seolah hal yang mustahil terjadi.
Mereka akhirnya tidur dengan lelap, tidur dengan irama jantung yang sama, saling mengalirkan rasa cinta yang tak pernah terucap.
Ya Allah rezeki di pagi hari, suamiku tampan sekali saat tersenyum, meleleh hati adek Bang.
Kebiasaan yang selalu ia lakukan dari awal menikah adalah menyiapkan makanan, pakaian kerjanya tapi satu hal yang ia lupakan, karena ia ragu untuk melakukannya, lebih tepatnya malu.
Mencium tangan suaminya, sungguh durhaka sekali kamu Zi pada suamimu. Dan pagi ini ia memutuskan untuk memberanikan diri melakukannya, karena pria itu pun terlihat berusaha untuk merubah sikap pada istrinya.
Saat Zi mengulurkan tangannya
“Kenapa, perlu uang? Tumben sekali, memangnya ATM yang aku berikan uangnya habis?” Zi menggeleng, lalu menarik paksa lengan suaminya yang saat itu sedang menghabiskan sarapannya.
Mengecupnya penuh takzim sambil tersenyum malu
__ADS_1
Yess berhasil kan, ternyata tak sulit. Tapi syaitan senang sekali menggodaku untuk tak pernah mencobanya
Za hanya tertegun melihat perlakuan istrinya, hatinya tiba-tiba menghangat, apakah seperti ini rumah tangga yang seharusnya.
“Zi izin pamit berangkat ke kantor ya Bapak Za yang terhormat” berbicara dengan menyunggingkan senyum riangnya. Saat Zi hendak pergi, Za menahan tangannya.
“Jika ingin lebih sering mendengar perkataan aku kamu, coba rubah caramu memanggilku” Zi hanya mengangguk sambil berlalu meninggalkan suaminya dengan wajah yang semakin memerah.
Za sangat senang dengan apa yang terjadi di apartemennya pagi itu, ia tak henti-hentinya menyunggingkan senyum bahkan saat ia berada di kantor sekalipun. Ingin tahu tanggapan karyawannya seperti apa?
“Tak salah Pak Za tersenyum pada kita?”
“Sepertinya Pak Za sedang dapat tender besar”
“Bukan-bukan, sepertinya Bos kita sedang jatuh cinta, karena bentuk senyumnya itu lain, lain sekali aku sangat bisa membedakannya, karena aku ahli soal urusan hati”
“Sama siapa ya? Apa mungkin salah satu dari karyawan disini? Atau kolega bisnisnya?”
“Waaah beruntung sekali gadis itu, meskipun Pak Za terlihat cool, tapi justru itu yang membuatnya semakin terlihat keren, dan semakin membuat penasaran wanita-wanita bukan”
Silvi yang mendengar obrolan gadis-gadis itu mendelik melihat mereka membicarakan pria yang masih mengisi hatinya hingga kini. Dia pun menyadari perubahan yang terjadi pada Bos nya hari itu, sedikit bertanya-tanya tapi nanti dia sendiri yang akan mencari tahu.
Hari itu, sikap jahil Za semakin menjadi-jadi. Pria itu memanggil Zi beberapa kali ke ruangannya, pertama Zi diminta untuk membuatkan kopi, karena tahu gadis itu akan meminta office Boy untuk mengantarkan, maka dua hari yang lalu Za sudah mempersiapkan membeli beberapa peralatan untuk membuat kopi dan teh khusus di ruangannya.
Zi yang sudah bersiap untuk meluncurkan protes saat panggilan pertamanya itu, melihat Bos nya menggerakkan kepala ke sisi kiri kantor CEO tersebut, yang mengisyaratkan bahwa Zi tak perlu menuju pantry untuk membuatkannya minuman, dan tak perlu takut untuk dilihat karyawan lain.
Anda sungguh berniat sekali Tuan, membuatku lelah dan mati kutu. Bahkan di saat aku dikejar deadline seperti ini.
Saat Zi hendak membuatkan kopi untuk pria itu, tiba-tiba dia berbalik mendekati meja bosnya, lalu menarik tangannya pelan. Za yang terkesiap kaget, menatap tangannya yang dipegang gadis itu dengan beraninya, hanya menurut mengekorinya dari belakang
__ADS_1
“Bapak Za yang Terhormat, karena anda Pria Cerdas selalu juara kelas, bahkan Lulus dari Universitas bergengsi dengan nilai cumlaude tentu rasanya tak akan sulit bukan untuk mengingat ini. Saya akan mengajarkan Anda bagaimana cara membuat kopi yang anda sukai oke” Za tampak mengangguk-anggukan kepala mengikuti permainan gadis itu.