
Za yang melihat gadisnya itu sampai mengeluarkan air mata antara tega tak tega, tapi ia yakin setelah barusan ia mengurut kakinya, kondisinya akan segera membaik.
Kemampuan Za ini ia dapatkan saat dia menyalurkan hobinya bermain sepak bola dan futsal, selalu saja ada pemain yang cedera atau kram sehingga mau tak mau dia dan teman-temannya belajar cara mengatasi masalah itu dari teman main mereka yang berprofesi sebagai dokter.
Tanpa meminta izin, Za menggendong tubuh Zi memasuki kamar mereka. Zi yang sudah tak sempat untuk protes, mengikuti instingnya secara refleks mengalungkan kedua tangannya di leher Za. Jantungnya berdegup tak karuan, wajahnya mulai memerah menahan malu.
Jantung kamu kenapa sih, bisa tak kamu bersikap biasa saja, berdetak lah secara normal tak perlu berlebihan seperti ini
“Terimakasih Pa, maaf merepotkan”
“Tumben tak protes?”
“Bagaimana mau protes, nanti aku kualat lagi, melawan perintah orang seperti anda”
Zi POV
***Aku tak mengerti dengan perasaanku sendiri, semenjak aku tahu pria itu “menawarkan diri” untuk meminang ku, aku bingung, sangat bingung. Bagaimana tidak, skenario yang dibuat manusia memang seringkali meleset bahkan jauh dari apa yang direncanakan.
Tapi sebenarnya apa yang ada di dalam isi kepala pria itu, bagaimana mungkin dia sudi menggadaikan masa depannya hanya untuk menikahi gadis seperti diriku yang sama sekali tak layak bersanding dengannya.
Gadis yang sama sekali tak memenuhi kriterianya. Bagaimana bisa? Apa dia sangat kasihan padaku, apa aku begitu menyedihkan, karena sahabatnya sendiri yang sudah mengkhianati ku? Apakah benar karena itu?
__ADS_1
Jika ya sungguh malang sekali nasibnya, terikat dengan wanita biasa yang hanya akan menambah masalah di hidupnya.
Kak Rizky.. Sesungguhnya aku sudah tak ingin membiarkan nama itu terlintas di benakku. Aku memang belum mencintainya, tapi kecenderungan ini yang membuat hatiku terluka, merasa dikhianati, merasa disia-siakan.
Tidak aku tak menyesal menerima lamarannya kala itu, karena Allah yang menuntunku untuk memilihnya. Aku tak ingin tahu dan tak perlu tahu alasan pria itu meninggalkanku. Sungguh tak ingin, karena itu hanya akan membuat lukaku tertoreh kembali.
Hingga hari ini, sikap pria itu semakin membuatku bingung, apakah aku begitu menyedihkan Tuan, sehingga Kamu mulai menunjukkan sisi baikmu padaku, bahkan kedua orang tua ku pun mulai menyayangimu.
Jika waktunya tepat aku harus membicarakan hal ini, aku tak ingin menyiksa hidupnya, membuat dia terjebak dalam masalah yang aku buat. Tak apa jika perpisahan memang jalan terbaik, aku akan memilih itu daripada harus membuat hidup seseorang tersiksa karena keterpaksaan***.
Za POV
***Gadis itu, entah sejak kapan dia mengisi sebagian dari memory ku. Tak pernah sekalipun aku tertarik pada seorang gadis, kecuali saat aku SMA, bukan pacar tapi baru sebatas ketertarikan, karena sebelum kami berkomitmen perasaan itu perlahan hilang karena sesuatu yang menurutku fatal.
Tak mungkin kan aku tertarik padanya pada pandangan pertama? Karena saat itu aku justru malah memarahinya haha.. Atau saat dia tanpa sadar memandangiku, tentu tak mungkin, karena aku tak akan menyukai itu.
Sepertinya rasa itu muncul perlahan semenjak dia menunjukkan cahaya itu padaku, saat aku mulai menemukan kembali hakikat Penciptaku. Tak terkesan menggurui tapi kata-katanya begitu menohok pria sepertiku yang biasanya selalu dipuja Kaum hawa di luar sana.
Dia senang sekali membantahku, bahkan berani mengacuhkan ku saat aku berkata dingin padanya.
Hingga saat peristiwa kami makan malam bersama dan duduk bersandingan tanpa jarak, jantung ini sungguh tak terkendali, kontak fisik yang tak disengaja itu membuat seorang Za mati kutu, hingga akhirnya memilih untuk berpura-pura menelepon seseorang, daripada dia akan terlihat bodoh di hadapan gadis itu.
__ADS_1
Aku menyadari, gadis itu semakin membuat banyak pria terpesona, tak hanya pria bahkan wanita sekalipun. Hari itu aku melihat Bu Laila menghampirinya bersama seorang pria muda dan tampan. Hari dimana kampus kami mengadakan acara donasi sekaligus buka bersama.
Tampak menyalami Zi, dan terlihat tingkah kikuk nya di hadapan gadis itu. Sekilas aku menatap wajah Rizky yang tak jauh berada di sana. Tatapan apa itu? Apakah dia pun menyukai gadis berhijab itu?
Dan untuk pertama kalinya aku melihat dia menangis karena seorang pria yang bersikap tak layak padanya. Aku sungguh tak bisa menahan diri melihat air mata itu, hingga amarah itu sampai di ubun-ubun dan aku meluapkannya tak terkendali.
Setelah beberapa tahun nama itu mulai menghilang, dia hadir kembali di hadapanku, justru karena jasa seorang Rizky. Rizky yang sudah membawanya ke perusahaanku secara tidak langsung, Gadis itu tampak semakin matang dan cerdas dibalik sikap ramah dan penuh prinsipnya.
Hingga hari itu aku tahu, bahwa sahabatku sudah melamar gadis itu, entah apa yang terjadi dengan hatiku. Aku pun sulit untuk menafsirkannya.
Sahabatku sendiri ternyata memiliki rasa yang sama, tapi dia bertindak lebih cepat dariku. Tentu saja gadis itu akan menerimanya, karena yang aku tahu dia adalah pria yang baik, ilmu agamanya bahkan jauh lebih baik dariku.
Aku cukup sadar diri untuk mundur secara teratur, karena aku belum memiliki keberanian sebesar sahabatku ini.
Bahkan saat aku diminta menghadiri aqad mereka, hati ini masih terasa berat untuk melangkah ke rumah gadis itu, gadis yang telah membuatnya patah hati.
Sehingga aku memutuskan untuk menghilangkan kegelisahan ku di sebuah masjid di kotanya. Meyakinkan diri, bahwa yang terjadi di muka bumi ini tentu atas Kuasa-Nya dan aku harus berbesar hati untuk menerima itu semua, toh gadis baik itu akan dipinang oleh pria baik pula.
Kau tahu apa yang kurasakan saat aku membaca surat itu? Antara bingung dan lega, bingung tak percaya bagaimana mungkin Rizky berani menyia-nyiakan gadis mempesona ini, lega karena itu artinya gadis itu sudah tak ada yang mengikat.
Maka aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu, mungkin ini semua jawaban dari do’a dan kesabaranku. Aku tak ingin membiarkan gadis itu terluka. Biar aku yang akan menghapus luka itu perlahan meskipun tak akan mudah.
__ADS_1
Aku yakin gadis itu telah memiliki rasa pada sahabatku, dan tugasku sekarang adalah untuk mengambil hatinya. Awalnya aku tak yakin dia akan menerima pinanganku, karena sikapku yang tak pernah baik padanya, tapi rasa bahagia itu tak bisa kupungkiri saat Ayah menyampaikan bahwa dia menyetujuinya. gadis itu sedang sadar kan? Dia tidak sedang dalam pengaruh obat tidur lalu mengigau kan?
Aku bergetar melihat wajah itu, dia begitu cantik mengenakan pakaian aqadnya dengan riasan yang tampak natural, tapi sakit sekali melihatnya menangis saat itu, hingga aku tak kuasa menahan tanganku untuk tak menghapus air matanya***.